Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
Peringatan Kemerdekaan RI ke 68 Gereja St. Ignatius Magelang 
Sunday, August 18, 2013, 22:10 - BERITA Posted by Administrator


Kumandang lagu ‘Indonesia Raya’ bergema memenuhi gedung gereja St.Ignatius Magelang Sabtu sore kemarin (17 Agustus 2013) mengawali Perayaan Misa Syukur peringatan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia ke 68. Misa yang diikuti oleh lebih 700 umat Katolik kota Magelang ini dipimpin oleh AR.Yudono Suwondo Pr Pastor Gereja setempat dan berlangsung dalam suasana meriah dengan iringan lagu-lagu perjuangan yang dinyanyikan oleh paduan suara OMK (Orang Muda Katolik).



Dalam homilinya (kotbah) AR.Yudono Suwondo menyampaikan ajakan Uskup Agung Semarang Monsinyur Johannes Pujasumarta untuk mengisi kemerdekaan dengan peradaban kasih. Dalam ‘Surat Gembala’nya Monsinyur Puja menuliskan antara lain : ‘Sepanjang perjalanan 68 tahun, negeri ini memang telah mengalami banyak kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan. Kita saksikan kemajuan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdampak dalam kehidupan masyarakat kita. Fasilitas-fasilitas kehidupan modern bagi kehidupan dewasa ini tersedia dan tidak ketinggalan dari negara-negara sekitarnya. Namun kita bisa bertanya, untuk siapa kemajuan itu? Bila kesejahteraan tidak merata bagi seluruh rakyat Indonesia, berarti nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 belum terwujud semestinya. Apa yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan cinta kita kepada tanah air kita? ‘.



Lebih lanjut dikatakan : ‘Ketika Negara ini membutuhkan keterlibatan warganya untuk mengisi kemerdekaan, apakah kita peduli pada negeri ini? Jangan sampai kita ikut merusak negeri ini, tanpa malu melanggar hukum dengan terang-terangan, memperparah sakit masyarakat sehingga mati rasa terhadap nilai-nilai moral dan etika. Kita berprihatin dari waktu kewaktu semakin lemah tenggang rasa antar warga, bahkan agama pun bisa dijadikan alasan untuk membenci dan dengan kekerasan melukai kerukunan hidup bertetangga warga masyarakat. Ternyata kita belum merdeka dari kuasa dosa yang merajalela di negeri ini. Kita sadari,bahwa kita masih belum terlibat tuntas mengelola kemerdekaan karena belum sungguh-sungguh mewujudkan cinta kepada tanah air kita’.



Pada bagian lain juga dikatakan : ‘Menuju PEMILU 2014 marilah kita belajar terus agar mampu memaknai peristiwa-peristiwa bangsa sebagai tanda-tanda zaman dalam terang Ajaran Sosial Gereja. Dengan bimbingan hati nurani yang terdidik secara benar kita akan menjadi pemilih yang cerdas dan kritis dalam menentukan pemimpin negeri ini. Dengan demikian kita akan mampu memilih pemimpin yang arif dan bijaksana, rendah hati namun sigap, tegas dan kreatif mengupayakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat’.

Sementara itu pada Sabtu paginya umat Katolik juga melaksanakan upacara bendera dihalaman depan gereja yang telah berusia lebih seabad itu. Bertindak sebagai inspektur upacara AR. Yudono Suwondo Pr. Dalam amanatnya ia katakan : ‘Sebagai warga gereja sekaligus warga negara Indonesia kita tidak saja sekedar memiliki sehingga dengan mudahnya bisa menjual, tetapi semestinya menjadi bagian dari bangsa ini sehingga memiliki tanggung jawab. Rasa aku adalah bagian dari bangsa Indonesia. Mari kita tumbuhkan dalam diri kita masing-masing untuk menjadi 100 persen bagian dari gereja dan 100 persen bagian dari negeri ini. Jangan biarkan negeri ini gagal. Kita bantu negara ini. Mendidik masyarakat menjadi bagian dari Indonesia ‘.

E. Yusuf Kusuma ( Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu ).

SURAT GEMBALA HARI RAYA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA Ke-68 
Friday, August 16, 2013, 15:45 - Pastoral Posted by Administrator


dibacakan pada Sabtu-Minggu, 17-18 Agustus 2013)

“Mengisi Kemerdekaan Dengan Peradaban Kasih”

Saudari dan saudaraku terkasih dalam Tuhan,

1. Pada tanggal 17 Agustus 2013 kita rayakan Hari Raya Kemerdekaan Indonesia yangke-68. Kita bersyukur karena kemerdekaan telah dikaruniakan kepada bangsaIndonesia atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa. Kemerdekaan sebagai rahmat Allah diakui pula oleh pejuang kemerdekaan negeri ini dengan menyatakannya dalam naskah Pembukaan UUD 1945 “Atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Pada Hari Raya Kemerdekaan ini kita ingin menegaskan lagi, bahwa kemerdekaan bangsa ini terjadi berkat rahmat Allah yang Maha kuasa. Dengan demikian, sejarah bangsa kita pun menjadi bagian dari sejarah keselamatan Allah. Cinta kepada tanah air merupakan tanggungjawab sejarah untuk mengisi kemerdekaan dengan peradaban kasih.

2. Kita juga bersyukur, bahwa pendiri negeri ini membangun suatu sikap yang arif dan bijaksana dalam memperjuangkan dan melestarikan kemerdekaan Indonesia. Sungguh arif dan bijaksanalah, bila para pemimpin negeri ini mengemban kekuasaan negara untuk melindungi seluruh bangsa dan tumpah darah Indonesia, yakni dengan memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan,perdamaian abadi dan keadilan sosial sebagaimana dituangkan dalam prinsip dasar kehidupan negara ini, yakni dalam sila-sila Pancasila.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

3. Sepanjang perjalanan 68 tahun, negeri ini memang telah mengalami banyak kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan. Kita saksikan kemajuan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdampak dalam kehidupan masyarakat kita. Fasilitas-fasilitas kehidupan modern bagi kehidupan dewasa ini tersedia, dan tidak ketinggalan dari negara-negara sekitarnya. Namun, kita bisa bertanya, untuk siapa kemajuan itu ? Bila kesejahteraan tidak merata bagi seluruh rakyat Indonesia, berarti nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 belum terwujud semestinya. Apa yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan cinta kita kepada tanah air kita?

Ketika negara ini membutuhkan keterlibatan warganya untuk mengisi kemerdekaan, apakah kita peduli pada negeri ini? Jangan sampai kita ikut merusak negeri ini, tanpa malu melanggar hukum dengan terang-terangan, memperparah sakit masyarakat sehingga mati rasa terhadap nilai-nilai moral dan etika. Kita berprihatin, dari waktu kewaktu semakin lemah tenggang rasa antar warga, bahkan agama pun bisa dijadikan alasan untuk membenci, dan dengan kekerasan melukai kerukunan hidup bertetangga warga masyarakat. Ternyata kita belum merdeka dari kuasa dosa yang merajaleladi negeri ini.

Kita sadari bahwa kita masih belum terlibat tuntas mengelola kemerdekaan karena belum sungguh-sungguh mewujudkan cinta kepada tanah air kita.

Mengisi Kemerdekaan dengan Mempertahankan Pancasila

4. Bagi kita para murid Kristus, keteladanan Tuhan Yesus Kristus sebagai penegak kebenaran dan pengajar kebajikan menjadi pegangan utama untuk mewujudkan cinta kepada tanah air dan setia mengisi kemerdekaan Indonesia. Cinta kepada tanah air terwujud dalam kesungguhan kita untuk mempertahakan Pancasila dan UUD 1945. Kesungguhan kita teruji karena dewasa ini kita sadari pula ada usaha-usaha untuk merongrong dasar Negara itu. Kalau dasar Negara rapuh, akan tumbanglah bangunan Negara Republik Indonesia ini.

Dengan cinta kepada tanah air, umat Katolik memilih untuk mengisi kemerdekaan dengan rela melakukan apa yang baik (bdk. 1Ptr 2:13-17), yaitu dengan: membangun persaudaraan - bukan mencerai beraikan; menghormati sesama - bukan merendahkan; mengasihi sesama -bukan menyingkirkan orang lain karena berbeda suku, agama, ras dan golongan. Umat Katolik sebagai warga Negara yang bertanggungjawab memberikan apa yang wajib diberikan kepada Negara, dan kepada Allah apa yang wajib diberikan kepada Allah (bdk. Mat 22:21).

Agustus Bulan Ajaran Sosial Gereja

5. Saudara-saudariku terkasih,

Untuk merawat kesadaran kita, bahwa sejarah bangsa kita pun menjadi bagian dari sejarah keselamatan Allah, kita jadikan bulan Agustus sebagai Bulan Ajaran Sosial Gereja. Pesan pokok Ajaran Sosial Gereja adalah pesan bagi kita semua untuk membangun peradaban kasih.

Pada kesempatan ini, saya juga ingin menyampaikan ajaran penting dari Bapa Suci Paus Fransiskus yang ditulisnya dalam Ensiklik “ LumenFidei ”, Terang Iman, 29 Juni 2013. Bapa Suci menyatakan, bahwa iman adalah terang yang khas, yang mampu menyalakan setiap aspek kehidupan manusia. Bapa Suci menyadarkan kita, semakin kita beriman secara benar, semakin kita tidak melupakan penderitaan dunia, tetapi semakin kita membuka diri pada kenyataan kegelapan dengan kehadiran yang selalu mendampingi, membangun sebuah sejarah kebaikan yang menyentuh setiap kisah penderitaan manusia pada zaman kita.

Kita harus berani menyatakan, bahwa iman akan Kristus adalah sungguh-sungguh baik untuk pembangunan negara ini karena akan menghadirkan terang bagi kebaikan bersama. Iman Katolik justru akan membantu membangun masyarakat kita sedemikian rupa, sehingga bangsa ini dapat melakukan perjalanan menuju masa depan penuh pengharapan. Bapa Suci mengingatkan kita, agar kita mewujudkan iman kita semakin menjadi berkat bagi seluruh bangsa.

Demikian pula sebagaimana diungkapkan dalam semangat ARDAS KAS 2011-2015, bahwa iman yang mendalam dan tangguh akan semakin signifikan dan relevan dalam kehidupan kita sebagai warga Gereja dan masyarakat.Tanggungjawab kita mengisi kemerdekaan dan mewujudkan pembaruan dalam tindakan keterlibatan yang nyata sebagaimana dirumuskan dalam 4 pilar ARDAS KAS, merupakan perwujudan iman akan Allah yang Mahakuasa dan cinta kepada tanah air.

MembangunPeradaban Kasih

6. Saudara-saudariku terkasih,

Saya mengajak Anda sekalian, umat Allah di Keuskupan Agung Semarang agar mengisi kemerdekaan dengan membangun peradaban kasih. Untuk itu hendaknya (1) sejak dalam keluarga perlu ditumbuh-kembangkan rasa cinta kepada sesama dan lingkungan kehidupan di mana Anda berada, agar anak-anak yang kita cintai hidup dalam “peradaban kasih” , memiliki rasa handarbeni (rasa memiliki) dan dimiliki negeri ini. Selanjutnya (2) lembaga-lembaga pendidikan formal perlu mengajarkan pendidikan kebangsaan dan “pendidikan peradaban kasih” yang terencana sebagai isi dari ”Sekolah Cinta Kasih”, agarmemahami nilai-nilai dasar Pancasila dan Ajaran Sosial Gereja. Melalui pendidikan formal yang baik, saya berharap, generasi muda makin memiliki pegangan moral untuk terlibat membangun “peradaban kasih” di negeri tercinta ini. (3) Sangat penting pula bidang-bidang pelayanan dalam Dewan Paroki memberikan ruang dan perhatian khusus bagi kaderisasi agar umat Katolik siap sedia menjadi patriot sejati. Dan tentu saja(4) masyarakat sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya pribadi perlu menghembuskan atmosfir yang mendukung suasana kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik dan benar, Hendaknya kita berani berpegang pada prinsip hidup yang mengutamakan kesejahteraan umum, dengan menghidupi Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, sebagai perwujudan cinta kita kepada tanah air secara kritis dan bertanggungjawab.

7. Menuju PEMILU 2014 marilah kita belajar terus agar mampu memaknai peristiwa-peristiwa bangsa sebagai tanda-tanda zaman dalam terang Ajaran Sosial Gereja. Dengan bimbingan hati nurani yang terdidik secara benar kita akan menjadi pemilih yang cerdas dan kritis dalam menentukan pemimpin negeri ini. Dengan demikian kita akan mampu memilih pemimpin yang arif dan bijaksana, rendah hati namun sigap, tegas dan kreatif mengupayakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

8. Akhirnya, marilah kita yang tinggal di negeri ini, yang memiliki tanggungjawab sejarah pada negeri ini, yang dihidupi Tuhan dalam negeri ini, mencintainya, mengisinya dengan kemerdekaan sejati, dengan melakukan segala perbuatan baik yang menghasilkan kebaikan bagi semua.

Selamat dan proficiat atas kemerdekaanyang dikaruniakan Allah kepada kita. Selamat mengisi kemerdekaan dengan peradaban kasih. Dirgahayu, Indonesia! Salam, doa dan Berkah Dalem.

Semarang, 15 Agustus 2013

+Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang
Siapakah aku ini Tuhan … ? Sebentuk refleksi di 113 tahun Gereja St. Ignatius Magelang. 
Thursday, August 1, 2013, 20:11 - BERITA Posted by Administrator




Malam itu ( Selasa, 30 Juli 2013 ) bangunan tua pastoran Gereja St. Ignatius Magelang menjadi salah satu saksi peradaban umat Katolik yang berkembang lebih seabad di tanah Jawa, khususnya di kota dan kabupaten Magelang. Udara dingin dan angin yang ‘semribit’ membawa ingatan ratusan umat Katolik kedalam romantisme kesejukan hunian di lereng bukit Tidar yang pernah dikenal sebagai kota militer. Rm. FX. Krisno Handoyo Pr Pastor Kepala Gereja St. Ignatius Magelang sesaat sebelum membuka rangkaian acara mengatakan : ‘Hari jadi gereja ini tepatnya tanggal 31 Juli. Saat itu pada tahun 1899 dilakukan peletakan batu pertama pembangunan gereja oleh Pastor Belanda F. Voogel SJ yang sekaligus menandai dimulainya pelayanan umat Katolik di kota ini. Di tahun 2013 ini adalah peringatan yang ke 113. Tema yang diambil ‘Menjadi Semakin Beriman, Bersyukur Dan Berbudaya Dalam Pelayanan’. Adalah tugas Gereja untuk memberi tempat bagi tumbuh kembangnya budaya’. Lebih lanjut di katakan Krisno yang juga Vikep Kedu ini : ‘ Budaya yang terungkap dalam bidang seni, terutama seni kerakyatan akan mampu menjadi daya perekat yang ampuh didalam kehidupan bermasyarakat. Melalui budaya ini akan tercipta pluralitas kebersamaan dan Gereja memberi tempat budaya di dalamnya. Gereja Katolik terbuka bagi budaya setempat dalam upaya membangkitkan semangat beriman’.





‘Membangun ruang publik menjadi salah satu cara menumbuh-kembangkan budaya yang baik dan benar. Disana ada kesempatan berdialog, ada interaksi, ada pendidikan sehingga tidak lagi ada rasa saling curiga. Pasar adalah juga ruang publik, dari sana lahir berbagai budaya diantaranya tawar menawar dan saling menyapa. Begitu juga dengan budaya ‘sonjo’/ saling berkunjung dan kenduri yang telah berkembang lama di tanah Jawa ini. Dalam Gereja Katolik menekankan sebagai komunitas pengharapan, maka budaya dengan paguyuban menjadi khas, yang berarti sebagai makluk sosial tidak bisa berdiri sendiri – sendiri, sebagai paguyuban yang memiliki pengharapan’. Demikian diungkapkan Rm. AR. Yudono Suwondo Pr Pastor Gereja St. Ignatius Magelang dalam saresehan budaya malam itu.





Saresehan yang bertajuk ‘Budaya dan Gereja’ ini adalah rangkaian peringatan 113 tahun Gereja St. Ignatius Magelang. Hadir di acara yang berlangsung lebih 2 jam itu antara lain Pastor Kepala Paroki FX. Krisno Handoyo Pr, Dewan Paroki dan sejumlah tokoh umat Gereja St. Ignatius Magelang. Disela-sela berlangsungnya dialog juga dilantunkan lagu-lagu berirama keroncong dan tembang-tembang ‘macapatan’. Suara lirih mendayu yang berdendang lembut dari seorang biarawati cantik dari tarekat Carolus Boromeus, Suster Irene, CB. seolah mempertanyakan jatidiri keberadaan umat Katolik di tanah Jawa ini. ‘…..siapakah aku ini Tuhan ? ’.





Romo Bernadus Dirgaprimawan SJ. Putera Gereja St. Ignatius Magelang. 
Tuesday, July 30, 2013, 18:20 - BERITA Posted by Administrator


Minggu pagi itu 28 Juli 2013 umat gereja St. Ignatius Magelang merasa sangat bersyukur dan berbangga dapat mempersembahkan seorang putranya menjadi imam. Rasa syukur dari ribuan umat itu diwujudkan dengan merayakan Misa Perdana Romo Bernadus Dirgaprimawan SJ. putera asli dari sebuah Paroki yang menjadi sentral Kevikepan Kedu dan telah berusia lebih dari 113 tahun ini. Romo Dirga, begitu biasa dipanggil ditahbiskan sebagai Pastor Jesuit pada tanggal 25 Juli 2013 di gereja St. Antonius Kota Baru Yogyakarta oleh Uskup Agung Semarang Mgr. Johannes Pujasumarta. Masa Papial ( Putera – Puteri Altar) Romo Dirga yang langsung mendapat tugas belajar kitab suci ke Roma Italia ini dihabiskan bersekolah di SD. Pendowo dan SMP Tarakanita Magelang.





‘Terjawab sudah apa yang selama ini diidam-idamkan umat untuk mempersembahkan putra-putera terbaik gereja untuk menjadi imam. Sebulan yang lalu kita telah bersyukur dapat mempersembahkan cucu gereja St. Ignatius Magelang Pastor Edwin Bernard Timothy OP. yang ditahbiskan menjadi imam 24 Mei 2013 lalu di Gereja St.Dominic, Washington DC, USA oleh Uskup Christopher Cardone OP. Dan pagi ini bukan cucu tetapi putera. Romo Bernadus Dirgaprimawan SJ. Paroki ini memang hebat, karena hebatnya barangkali lalu proses seleksinyapun jadi sangat sulit dan lama.’, demikian pengantar yang disampaikan Rm. FX. Krisno Handoyo Pr Vikep Kedu yang menjadi salah satu konselebran pagi itu. Lebih lanjut dikatakan :’ Melalui perayaan syukur ini semoga akan mampu memberi dorongan kepada anak-anak akan panggilannya sebagai imam, bruder atau suster’.





Misa konselebran yang berlangsung ditengah-tengah rangkaian kegiatan hari jadi Gereja St.Ignatius Magelang ke 113 ini di pimpin bersama Rm. FX. Krisno Handaya Pr, Vikep Kedu, Rm.AR.Yudono Suwondo Pr Pastor Paroki St. Ignatius Magelang, Rm.Y.Yupilustanaji Aprianto, Pr. Pamong Seminari Menengah Mertoyudan dan 3 pastor lainnya serta 2 frater seminaris St. Petrus Mertoyudan dengan konselebran utama Rm. Bernadus Dirgaprimawan SJ. Dalam homilinya Romo yang gemar memasak ini mengatakan ; ’ Gedung gereja ini menjadi saksi panggilan saya. 21 tahun yang lalu saat menjadi Papial ( Putera – Puteri Altar ) saya punya keinginan menjadi Pastor Paroki. Saat itu Kepala Parokinya Romo E. Rusgiharto Pr. yang seringkali berbagi memberikan makanan, terutama buah-buahan kepada anak – anak. Ingat betul saya sering diberi apel dengan label Washington. Pemberian itu sering saya pamerkan kepada ibu. Semangat memberi inilah yang membuat saya semakin terpanggil. Senang sekali bisa memberikan yang terbaik bagi orang lain’.





Sementara itu Rob. Jumadi orang tua Rm. Dirga yang Prodiakon ini , saat ditanya soal panggilan puteranya mengatakan : ‘Semua mengalir begitu saja meskipun tanda – tanda panggilan itu tetap ada. Keinginannya masuk seminari sangat kuat, dan saat berada di sekolah itu setiap kali saya berkunjung selalu saya tanyakan ; kalau tidak kerasan ya keluar saja, saya takut jangan- jangan terpaksa karena seolah-olah kehendak orang tua. Tapi saya lihat dia sangat ‘enjoy’ dalam menjalaninya dan ternyata sekarang telah menjadi Imam. Banyak hal yang saya belajar dari anak. Jadi bukan saja anak yang harus belajar dari orang tua, tapi jaman sekarang orang tuapun juga harus banyak belajar dari anak’.



E. Yusuf Kusuma ( Komisi Komsos Kevikepan Kedu ).


| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang