Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
Tahun Baru Jawa: Menjaga Harmoni Kosmos 
Thursday, December 9, 2010, 21:48 - Inspirasi Posted by Administrator

foto oleh yswitopr


7 Desember 2010 adalah awal bulan Sura dalam penanggalan Jawa. Tanggal ini sekaligus menandai tahun baru dalam tradisi tersebut. Bagi pemegang tradisi Jawa bulan Sura merupakan bulan sakral. Keyakinan semacam ini masih banyak diyakini dan dianut oleh sebagian masyarakat Jawa. Mungkin kita akan tertawa atau mentertawakan keyakinan seperti ini. “Hari gini masih percaya hal-hal yang tidak masuk nalar?” Pertanyaan ini bisa mewakili pikiran dan perasaan kita.

Bagi yang memiliki talenta sensitifitas indera keenam bulan Sura memiliki makna tersendiri. Aura mistis dari alam gaib begitu kental. Rasa perasaan inilah yang seringkali ditangkap dan dimaknasi secara berbeda. Masyarakat modern sering memandang secara negatif: Sura dikaitkan dengan paham syirik dan kemusrikan. Anggapan seperti itu timbul karena disebabkan kurangnya pemahaman sebagian masyarakat akan makna yang mendalam di baliknya. Rasa saya, soal musrik atau syirik sangat berkaitan dengan cara pandang batiniah dan suara hati. Dalam kerangka inilah, teramat sulit untuk memberikan penilaian. Apakah sah jika penilaian ini hanya dilandasi dengan melihat manifestasi perbuatannya saja?

Memang menjadi persoalan ketika melihat manifestasi dari perbuatan. Pada bulan Sura banyak orang melakukan ritual-ritual tertentu: siraman atau mandi pada malam sura, tapa mbisu atau tidak berbicara, melakukan sesaji bunga setaman, dan jamasan pusaka. Dari sudut pandang agama, ritual ini jelas sebentuk sinkretisme. Namun, apakah kita pernah melihat ritual-ritual ini dalam makna yang terkandung di dalamnya?

Masyarakat Jawa mempunyai kesadaran makrokosmos. Dalam kesadaran ini diamini bahwa Tuhan menciptakan kehidupan di alam semesta ini mencakup berbagai dimensi yang fisik (wadag) maupun metafisik (gaib). Kedua dunia ini saling berinteraksi. Interaksi antara dimensi alam fisik dengan dimensi metafisik merupakan interaksi yang saling mengisi mewujudkan keselarasan dan keharmonisan alam semesta.

Selain kesadaran makrokosmos, sebaliknya di sisi lain kesadaran mikrokosmos. Manusia merupakan bagian dari mikrokosmos itu. Manusia sebagai bagian dari mikrokosmos memiliki peranan besar dalam menjaga keseimbangan makrokosmos karena manusia dikarunia akal budi. Kesadaran akan makrokosmos membawa kesadaran lain bahwa manusia bukanlah segalanya di hadapan Yang Maha Tinggi, dan dibanding mahluk lainnya. Manusia tidak seyogyanya mentang-mentang mengklaim dirinya sendiri sebagai mahluk paling sempurna dan mulia, hanya karena akal-budinya. Akal budi adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, manusia dapat mencapai kepenuhan karena akal budinya. Di sisi lain, manusia bisa terpuruk dan tersesat juga karena akal budinya.

Berdasarkan dua dimensi kesadaran itu, tradisi Jawa memiliki prinsip hidup yakni pentingnya untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian alam semesta agar supaya kelestarian alam tetap terjaga sepanjang masa. Menjaga kelestarian alam merupakan perwujudan syukur tertinggi umat manusia kepada Sang Hyang Murbeng Dumadi. Cara pandang tersebut membuat masyarakat Jawa memiliki tradisi yang unik dibanding dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Sebagai bagian makrokosmos, manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan kosmos. Keseimbangan kosmos itu tidak hanya sebatas apa yang dapat dilihat dilihat menurut mata telanjang manusia. Kosmos memiliki dua dimensi, yakni fana/wadag atau fisik, dan lingkungan dimensi gaib atau metafisik. Kepekaan batin adalah kunci untuk mengerti dan memahami dimensi metafisik.

Harmoni alam merupakan cita-cita manusia. Untuk menggapai harmoni alam itulah, sebagian masyarakat Jawa melakukan ritual-ritual tertentu. Seringkali orang salah memberikan penilaian karena hanya melihat sebatas yang terlihat dan memberikan penilaian seturut norma atau nilai yang dianutnya. Padahal jika kita mau masuk ke dalamnya, kita akan menemukan nilai yang melebihi dan melampaui keimanan kita sendiri. Ritual yang dibuat merupakan kristalisasi dari kesadaran manusia akan keseimbangan kosmos. Dalam ritual-ritual yang dibuat, terkandung nilai-nilai yang luar biasa mendalam. Pertama, keyakinan dasar akan Sang Hyang Murbeng Jagad. Dalam melaksanakan ritual, hati manusia tetap teguh pada keyakinan bahwa Tuhan adalah Maha Tunggal, dan tetap mengimani bahwa Tuhan Maha Kuasa menjadi satu-satunya penentu kodrat. Persoalan utama adalah soal bahasa. Masyarakat Jawa kuno yang mewariskan nilai-nilai itu hingga sekarang tentu memiliki kosakata tersendiri untuk menyebut Tuhan. Meskipun masyarakat Jawa kuno tidak memiliki kata Tuhan, namun mereka memiliki keyakinan akan kekuatan dari luar diri mereka yang memiliki kuasa mutlak atas hidup manusia.

Kedua, nilai filosofi. Ritual-ritual yang dibuat selama bulan Sura merupakan simbol kesadaran makrokosmos yang bersifat horisontal, yakni penghargaan manusia terhadap alam. Disadari bahwa alam semesta merupakan sumber penghidupan manusia. Oleh karena itu, kosmos harus dijaga demi kelangsungan kehidupan generasi penerus atau anak turun kita. Kelestarian alam merupakan warisan paling berharga untuk generasi penerus. Nilai inilah yang makin hari makin luntur. Alam dieksploitasi sedemikian rupa sehingga kesimbangan alam terganggu: banjir bandang, tanah longsor, dan aneka peristiwa alam yang menunjukkan terganggunya harmoni kosmos. Aneka ritual bulan Sura merupakan bentuk interaksi harmonis antara manusia dengan seluruh unsur alam semesta. Disadari pula bahwa manusia hidup di dunia berada di tengah-tengah lingkungan jagad fisik maupun jagad metafisik. Kedua dimensi jagad tersebut saling bertetanggaan, dan keadaannya pun sangat kompleks. Manusia dan seluruh makhluk ciptaan Tuhan seyogyanya menjaga keharmonisan dalam bertetangga, sama-sama menjalani kehidupan sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Sebaliknya, bilamana dalam hubungan bertetangga (dengan alam) tidak harmonis, akan mengakibatkan situasi dan kondisi yang destruktif dan merugikan semua pihak. Maka seyogyanya jalinan keharmonisan sampai kapanpun tetap harus dijaga.

Ada nilai luhur dan agung dalam aneka bentuk ritual yang dibuat selama bulan Sura. Tahun baru Jawa mengajak kita bermenung tentang peran manusia mengemban titah Sang Hyang Murbeng Jagad untuk menjaga keseimbangan alam. Tatanan alam perlu dijaga demi keberlangsungan hidup manusia itu sendiri.

KEMERDEKAAN ITU .... 
Thursday, August 19, 2010, 04:45 - Inspirasi Posted by Administrator
17 Agustus 2010 pagi. Sang mentari bersinar lembut. Sinarnya menghangatkan badan. “Merdeka!” pekik kemenangan dalam batin untuk memberikan ucapan selamat pada negeri tercinta ini. Ucapan selamat atas kemerdekaan juga aku rasakan dari seluruh alam. Embun pagi pun seolah mengucapkan selamat. “MERDEKA...” kata ini akan terucap andai alam bisa ngomong. Atau malah sebaliknya? Alam memekikkan selamat atas kemerdekaan namun alam berada dalam penjajahan. Alam Indonesia yang kaya dijajah oleh bangsanya sendiri. Alam dikoyak demi nafsu-nafsu serakah. Andai alam bisa ngomong...


Sembari menikmati kesejukan embun pagi, anganku terbang jauh entah kemana. Anganku mengajak ku bermenung tentang kemerdekaan. Para pejuang kemerdekaan bangsa ini berani mati demi sejengkal tanah kelahirannya. Para pejuang takrela tanah airnya diinjak-injka oleh penjajah. Meski darah harus tertumpah di tanah, perjuangan mereka terus berlanjut. Perjuangan yang tulus demi sebuah kemerdekaan. Menjadi bangsa yang merdeka adalah cita-cita para pejuang. Meski hanya berbekal bambu runcing, para pejuang tak gentar menghadapi mesiu senapan dan tank-tank lawan. Ketika tekad sudah bulat, semboyan “rawe-rawe rantas, malang-malang putung” menjadi bukti keberanian para pejuang. Kemanakah semangat dan mentalitas para pejuang itu?

Adakah pejuang-pejuang itu kini masih hidup? Bukan orang, tapi semangatnya? Kita bisa bertanya kepada para petinggi negeri ini. Dan aku yakin, semua akan menjawab masih. Para petinggi negeri ini telah berjuang demi bangsa ini. Bekerja keras untuk negeri ini. Ah.. itu kan yang ada di bibir. Cobalah tanya apa yang di hati! Bagaimana mungkin berjuang untuk negeri ini ketika alam Indonesia dikoyak dan dibawa ke negeri antah berantah? Kalau berjuang demi negeri tercinta ini, mengapa ada korupsi?
Pejuang-pejuang itu masih ada. Tapi pejuang sejati tidak berada di gedung DPR. Para pejuang sejati ada di tempat yang tersembunyi. Jauh dari keramaian kota. Para pejuang ada ketika kita melihat para pekerja yang sedang bergulat dengan alam demi sesuap nasi. Merekalah para pejuang sejati yang mengais asa di bumi ini. Bukan untuk mengeksploitasi, tapi untuk mengolahnya. Ketika para petinggi negeri ini berebut untuk mencari popularitas dengan membagi-bagi buku dan ngoceh sekenanya, para pejuang masa kini berebut untuk terus hidup. Senjata mereka bukan bambu runcing. Senjata mereka adalah pikiran, otot dan hati. Bukan darah yang tertumpah, tapi peluh yang membasahi sekujur tubuh. Ketika para pejuang kemerdekaan berjuang demi kemerdekaan dari penjajah, para pejuang masa kini berjuang demi hidup yang harus terus digulirkan. Demi masa depan anak-anak mereka. Bisa hidup untuk hari ini cukuplah membuat mereka tertawa lepas sambari mensyukuri rahmat dan nikmat dari Sang Khalik.


Para pejuang masa kini berjuang dalam himpitan dengan senjata ala kadarnya. Dalam ketidakberdayaan, mereka merajut asa. Meski dalam penjajahan kemiskinan, mereka masih bisa tersenyum. Mereka masih bisa merayakan kemerdekaan bangsa Indonesia dengan sederhana. Bukan dengan hingar-bingar memperdengarkan lagu ciptaan sendiri dalampesta akbar negeri ini, tapi dengan diam dan merenungi makna kemerdekaan. Memejamkan mata untuk mengambil makna. Membuka mata dan kemudian meneruskan perjuangan. Bagi mereka, kemerdekaan adalah perjuangan. Tak pernah berhenti pada satu titik dan selesai. Karena mereka sadar, selama masih ada kemiskinan di negeri yang kaya raya ini, perjuangan untuk mendapatkan kemerdekaan tak akan pernah berhenti.


Kemerdekaan itu adalah perjuangan untuk mendapatkan hak dan melakukan kewajiban. Selama masih ada alam yang kaya raya, perjuangan untuk mendapatkan hak atas penghidupan yang layak akan terus dikumandangkan. Para pejuang masa kini akan terus menumpahkan peluh mereka untuk berjuang mendapatkan hak mereka sebagai warga negara di negeri tercinta ini. “Jangan eksploitasi alam ku, biar kami raih kemerdekaan kami!” itulah teriakan mereka yang terbungkam oleh kapitalis-kapitalis berperut buncit. Jangan tanyakan loyalitas mereka dalam menjalankan kewajiban untuk negeri ini sebab merekalah jagonya.



Bersama alam yang indah pagi ini, kuhentikan lamunanku. Alamku, Indonesiaku, cintaku... Dalam rahimmu,kuperjuangkan kemerdekaan.

MERDEKA!!!

ORANG MUDA KATOLIK TAWURAN? 
Wednesday, August 4, 2010, 03:56 - Inspirasi Posted by Administrator

foto by yswitopr

Berbagai kelompok yang terdiri dari orang-orang muda itu memadati alun-alun. Sebuah panggung berukuran 6 x 8 meter menjadi pusat perhatian. Dari panggung inilah terdengar alunan musik yang bisa membuat kepala bergoyang mengikuti iramanya. Seperti biasa, dalam sebulan selalu ada pentas musik di alun-alun. Malam Minggu selalu menjadi pilihan.

Tiba-tiba, kerumunan orang-orang muda itu membentuk lingkaran. Jika sudah seperti ini, pasti ada tawuran. Seorang polisi dengan sigap melompat dari pagar pengaman untuk mengamankan mereka yang sedang tawuran. Dari atas panggung segera terdengar suara: “Ndeso.. ndeso.. ndeso...” Suara ini segera diikuti koor dari massa yang memadati alun-alun. Teriakan ini hendak menunjukkan bahwa mereka yang tawuran berasal dari desa dan bemental orang desa, meskipun mereka sendiri tinggal di kota. Apakah orang desa identik dengan tawuran? Suatu topik yang bisa diperdebatkan.

Tawuran selalu ada ketika ada kerumunan orang-orang muda. Penyebabnya sendiri sepele: gesekan ketika sedang bergoyang, saling mengejek, atau persoalan terpendam antar kelompok. Rupanya, kelabilan orang muda dan pencarian jati diri dalam berkelompok sering memicu terjadinya tawuran. Masih ditambah lagi, ada unsur pengaruh minuman keras. Pengaruh minuman keras menjadikan mereka tidak bisa mengontrol diri. Jangankan terjadi gesekan fisik ketika sedang bergoyang, dilihat saja bisa memicu terjadinya tawuran.
Dalam konteks yang lebih luas, gesekan ini bisa dimaknai sebagai perbedaan kepentingan yang saling berbenturan. Yang satu ngotot mempertahankan pandangannya. Demikian juga pihak yang satunya. Karena sama-sama ngotot, jadilah tawuran. Hal ini bisa dilihat dan diamati dari tingkah polah para politikus di gedung rakyat. Atas nama rakyat (rakyat yang mana?) mereka saling serang, saling ejek, bahkan tak ada rasa malu saling beradu fisik. Rasanya, demi kepentingan yang terselubunglah semua itu dilakukan.

Nah, pertanyaannya mengapa?

“Ini lho aku atau kelompokku!” Ungkapan ini bisa menjadi alasan mengapa tawuran sering terjadi. Dengan ungkapan ini, orang hendak menunjukkan siapa dirinya atau kelompoknya. Maka tidak mengherankan jika solidaritas sebagai kelompok demikian besar. Ketika salah satu anggota kelompok diganggu, tanpa mempertimbangkan siapa salah siapa benar, anggota yang lain akan segera membantu. Eksistensi diri merupakan harga diri yang harus diraih dan dipertahankan. Ketika bisa mengalahkan orang lain atau kelompok lain, maka harga diri akan naik. Ia atau kelompoknya akan disegani. Kalau sudah begitu, lalu ia atau mereka akan menjadi penguasa-penguasa kecil yang tak tersentuh.

Haruskah begitu? Tentu jawabannya bisa macam-macam. Tergantung dari kita atau mereka sendiri yang memaknai. Kalau yang ditanya mereka, pasti mereka akan menjawab iya. Kalau yang ditanya saya, saya akan menunjuk pada sekelompok anak kecil yang sedang bermain. Ada tawa. Ada kebersamaan. Ada rasa persaudaraan. Semua itu bercampur menjadi satu dan tercipta sebentuk kebahagiaan yang menenteramkan. Meski pun di sana ada perbedaan, tapi itu tidak membuat mereka terkotak-kotak. Meski di sana ada ketidakcocokan, namun itu justru menjadi bahan untuk merekatkan persaudaraan. Meski pun di sana ada saling ejek, tapi itu justru membuat mereka tertawa lepas. Perbedaan itu perlu dan harus. Tapi perbedaan bukan alat untuk melegitimasi kekerasan demi mempertahankan kepentingan atau untuk meraih satu kata yang sama. Keindahan akan tercipta ketika perbedaan-perbedaan yang ada saling bertemu dan berinteraksi. Bergandengan tangan terasa indah dari pada saling mengepalkan jari tangan. Dalam bergandengan tangan, tertangkap rasa persaudaraan yang mendalam. Sebuah cita-cita yang patut diperjuangkan.


foto by yswitopr

Sampai kapankah teriakan, “nDeso... nDeso...!” akan terus terdengar?

Salam

ABORSI: HAK WANITA? 
Wednesday, August 4, 2010, 03:46 - Inspirasi Posted by Administrator
Ada banyak alasan yang muncul ketika melakukan aborsi. Ada yang beralasan karena tidak siap menjadi orang tua. Ada yang beralasan karena himpitan ekonomi. Ada yang beralasan karena kelahiran itu tidak dikehendaki. Terasa aneh di kuping saya. Aneh karena sebuah perbuatan pasti ada akibatnya. Kalau bermain api, ada kemungkinan terbakar. Kalau melakukan hubungan seksual, ada kemungkinan terjadi kehamilan. Kalau tidak mau hamil, ya jangan melakukan hubungan seksual. Gampang ya? Tapi nyatanya tidak segampang dikatakan. Lepas dari berbagai alasan yang diberikan. Aborsi adalah tindakan salah. Aborsi adalah kejahatan paling kejam karena dilakukan pada makhluk Tuhan paling tidak berdaya. Janin yang tidak bisa membela diri dikurbankan demi kepentingan ibu dan bapaknya.

Bagi para pembela ibu, mereka akan mengatakan bahwa tindakan aborsi itu sebuah pilihan. Ibu memilih untuk menggugurkan kandungannya. Jadi tidak ada yang keliru dari tindakan itu. Okelah jika begitu. Tetapi tindakan demi ibu ini hanya dibenarkan jika pengguguran hanya menjadi akibat. Atau dengan kata lain, aborsi hanya menjadi efek, bukan tujuan. Misalnya: seorang ibu yang sedang mengandung ternyata mengidap sakit kanker rahim. Demi keselamatan ibu, rahimnya diangkat. Maka secara otomatis terjadilah pengguguran. Tindakan ini masih dibenarkan karena pengguguran terjadi karena efek saja. Jika kemudian menjadi tujuan, apalagi dengan dalih demi ibu, kita pun boleh bertanya balik: apakah janin tidak punya hak untuk hidup?

Ini adalah proses yang sering terjadi dalam proses aborsi:
Pada kehamilan muda (dibawah 1 bulan):
Pada kehamilan muda, di mana usia janin masih sangat kecil, aborsi dilakukan dengan cara menggunakan alat penghisap (suction). Janin yang masih sangat lembut langsung terhisap dan hancur berantakan. Saat dikeluarkan, dapat dilihat cairan merah berupa gumpalan-gumpalan darah dari janin yang baru dibunuh tersebut. Janin yang tidak punya daya disedot begitu saja... Miris rasanya..

Pada kehamilan lebih lanjut (1-3 bulan):
Pada tahap ini, di mana janin baru berusia sekitar beberapa minggu, bagian-bagian tubuhnya mulai terbentuk. Aborsi dilakukan dengan cara menusuk anak tersebut kemudian bagian-bagian tubuhnya dipotong-potong dengan menggunakan semacam tang khusus untuk aborsi (cunam abortus). Anak dalam kandungan itu diraih dengan menggunakan tang tersebut dengan cara menusuk bagian manapun yang bisa tercapai. Bisa lambung, pinggang, bahu atau leher. Kemudian setelah
ditusuk, dihancurkan bagian-bagian tubuhnya. Tulang-tulangnya di remukkan dan seluruh bagian tubuhnya disobek-sobek menjadi bagian kecil-kecil agar mudah dikeluarkan dari kandungan. Aku pernah melihat sebuah video tentang aborsi pada sekitar usia ini. Tapak jelas bahwa janin berusa menolak. Ada gerak-gerak reaktif dari janin untuk menghindar dari alat yang ingin merobek-robek tubuhnya.

Aborsi pada kehamilan lanjutan (3 sampai 6 bulan):
Pada tahap ini, bayi sudah semakin besar dan bagian-bagian tubuhnya sudah terlihat jelas. Jantungnya sudah berdetak, tangannya sudah bisa menggenggam. Tubuhnya sudah bisa merasakan sakit, karena jaringan syarafnya sudah terbentuk dengan baik. Aborsi dilakukan dengan terlebih dahulu membunuh bayi ini sebelum dikeluarkan. Pertama, diberikan suntikan maut (saline) yang langsung dimasukkan kedalam ketuban bayi. Cairan ini akan membakar kulit bayi tersebut secara perlahan-lahan, menyesakkan pernafasannya dan akhirnya setelah menderita selama berjam-jam sampai satu hari bayi itu akhirnya meninggal. Selama proses ini dilakukan, bayi akan berontak, mencoba berteriak dan jantungnya berdetak keras. Teriakan ketidakberdayaan yang tidak ada seorang pun yang akan mendengarnya.

Aborsi pada kehamilan besar (6 sampai 9 bulan):
Pada tahap ini, bayi sudah sangat jelas terbentuk. Wajahnya sudah kelihatan, termasuk mata, hidung, bibir dan telinganya yang mungil. Jari-jarinya juga sudah menjadi lebih jelas dan otaknya sudah berfungsi baik. Untuk kasus seperti ini, proses aborsi dilakukan dengan cara mengeluarkan bayi tersebut hidup-hidup, kemudian dibunuh. Cara membunuhnya mudah saja, biasanya langsung dilemparkan ke tempat sampah, ditenggelamkan ke dalam air atau dipukul kepalanya hingga pecah. Sehingga tangisannya berhenti dan pekerjaan aborsi itu selesai. Selesai dengan tuntas. Hanya saja darah bayi itu yang akan mengingatkan orang-orang yang terlibat didalam aborsi ini bahwa pembunuhan keji telah terjadi.

Semua proses ini seringkali tidak disadari oleh para wanita calon ibu yang melakukan aborsi. Mereka merasa bahwa aborsi itu cepat dan tidak sakit. Mereka tidak sadar karena dibawah pengaruh obat bius. Mereka bisa segera pulang tidak lama setelah aborsi dilakukan. Itu jika aborsi berhasil dengan baik. Bagaimana jika ternyata aborsi tidak berjalan seperti yan gmereka inginkan. Akan lahirlah anak-anak yang cacat. Apakah ini tidak akan menambah penderitaan bagi anak tersebut?

Aborsi bukan hak wanita. Memang ada banyak diskusi mengenai kapan ada kehidupan pada janin. Dan ini yang sering memicu konflik mengenai boleh tidaknya tindakan aborsi. Menurut saya, setiap pertemuan sel telur dan zigot memiliki potensi untuk terjadinya kehidupan. Dan dari situlah awal kehidupan dimulai. Mereka ini juga punya hak untuk hidup. Jadi bukan haya wanita yang memiliki hak atas tubuhnya. Janin pun memiliki hak untuk hidup.



 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang