Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
Saresehan Budaya Sura 1946 
Monday, November 19, 2012, 16:59 - BERITA Posted by Administrator


Catatan peradaban budaya di tanah Jawa ‘Jaman Edan’ yang ditulis oleh Ki Ronggowarsito sekitar tahun 1800 menjadi pembuka paparan AR. Yudono Suwondo Pr Romo Paroki St. Ignatius Magelang dalam saresehan budaya Sabtu malam ( 17 November 2012 ) kemarin di Panti Bina Bakti kompleks Gereja St. Ignatius Magelang setelah sebelumnya diadakan Misa Syukur. ‘Kebudayaan itu bukan sekedar seni, bahasa, busana, atau bahkan unggah-ungguh, namun lebih pada sikap, rasa dan pengalaman batin bersama dengan Sang Pencipta’, demikian dikatakan Romo Wondo.







Saresehan yang bertajuk ‘Manembah ing Pangeran, Ngrambakake Pasamuan, nguri-uri kabudayan’ ini diadakan menyambut tahun baru 1 Sura 1946 yang diikuti oleh sekitar 150 peserta dan dibuka oleh FX. Krisno Handoyo Pr Romo Kepala Paroki St. Ignatius Magelang. Dalam pengantarnya Romo Krisno yang adalah Vikep Kedu ini mengatakan ; ‘Setiap peringatan tahun baru kita diajak untuk instropeksi diri, entah tahun baru Masehi, tahun baru Imlek ataupun tahun baru Jawa. Eling lan waspada, eling berarti ingat pada tujuan hidup kita adalah kepada Sang Pencipta semesta ini dan selalu waspada terhadap perubahan peradaban yang terjadi sebagai bagian dari alam semesta ini’.





Lebih lanjut dikatakan Romo Wondo, ‘Dalam soal pendidikan misalnya, dewasa ini budaya yang berkembang seringkali sebatas pencapaian secara kuantitatif seperti jumlah siswa, nilai ujian, akreditasi dan sebagainya, maka anak didikpun lalu dilupakan dan diabaikan sebagai manusia yang harus dipahami dan difasilitasi untuk mengembangkan karakter kemanusiaannya. Siswa tidak lagi diperlakukan sebagai anak didik namun sebagai obyek, terutama oleh kekuasaan politik dan ekonomi, sebagai mesin perang atau mesin pencetak uang’.





Kehidupan masyarakat modern dewasa ini seringkali mengartikan kebudayaan sebatas ilmu, bagaimana manusia bisa hidup enak tanpa bersusah payah, tanpa proses, segalanya bisa ditempuh secara instan. Perubahan sosial dan budaya ini telah dirasakan sebagai krisis kebudayaan selama ini. Krisis ini lalu membuat banyak kelompok merindukan semacam identitas kebudayaan yang mampu mengisi kekosongan batin dan hidup mereka dengan simbol-simbol budaya yang dapat memberi makna. Seorang filsuf pada jaman Yunani kuno, Plato berpendapat bahwa manusia itu bagian dari alam semesta dan kebudayaan itu menjadikan pembelajaran bagi kehidupan manusia. Begitu juga pada abad pertengahan St. Ireneus, St. Fransiskus Asisi, St. Bonaventura juga menyetujui pendapat Plato. Demikian pendapat tentang budaya yang mengemuka dalam saresehan yang berlangsung sekitar 2 jam.





Pimpinan tertinggi Gereja Katolik Paus Benediktus XVI tahun ini mencanangkan sebagai ‘Tahun Iman’ yang telah dimulai pada tanggal 11 Oktober 2012 yang lalu hingga 24 November 2012. Dalam Surat Apostoliknya ‘ Pintu Kepada Iman’ mengajak kepada umat katolik untuk bukan saja memahami secara lebih dalam iman kepercayaannya, melainkan juga tindakan untuk mempercayakan diri sepenuhnya kepada Allah dengan cara yang sebebas-bebasnya. Salah satu cara dengan belajar dan mengingat kembali para orang-orang suci yang memiliki petuah tentang kebudayaan sejati, budaya yang membawa manusia selalu memiliki harapan akan hidup yang kekal. ‘ Kebudayaan adalah kelengkapan hidup manusia yang selalu berusaha mengerti siapa jatidirinya, hidup bersama dalam paguyuban-paguyuban dan menyatu dengan alam semesta.’, demikian Romo Wondo mengakhiri paparannya.

Ajak Umat Katolik Peduli Politik 
Tuesday, November 6, 2012, 18:25 - BERITA Posted by Administrator


Perkembangan masalah politik sekarang ini menuntut semua warga Negara untuk terlibat, termasuk umat Katolik. Keterlibatan masyarakat akan memberi makna dan isi pada politik secara amat luas, bukan saja sebatas merebut kekuasaan atau jabatan. Politik adalah seni menata kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga semua warga memiliki kesempatan dan peluang yang sama untuk ambil bagian dalam proses pembangunan. Politik merupakan tanggung jawab bersama dan bukan saja menjadi tanggung jawab aktivis partai politik atau para legislatif. Seluruh masyarakat harus tahu dan mau ambil bagian dalam proses penataan hidup bersama sebagai bangsa. Demikian dosen pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang DR. Tukiman Taruna Sayoga mengungkapkan hal ini dalam sarasehan yang bertajuk ‘Peningkatan Peran serta Umat dalam Mewujudkan 100% warga Indonesia 100% warga Gereja‘ di gedung Panti Bina Bakti kompleks Gereja St. Ignatius Magelang Minggu kemarin ( 4 November 2012 ).



‘Menghadapi Pemilihan Umum Gubernur Jawa Tengah 2013 dan Pemilihan umum Presiden 2014 mendatang keterlibatan seluruh warga Negara, termasuk umat katolik akan sangat memberi makna bagi pembangunan politik di Indonesia yang demokratis. Keterlibatan tidak berarti lalu harus masuk dalam partai politik atau jabatan dalam pemerintahan, namun paling tidak ikut berperan dalam pemilihan umum, syukur-syukur mau menjadi PPK ( Panitia Pemilihan Kecamatan ) yang pendaftarannya hingga 7 November 2012 ini atau PPS ( Panitia Pemungutan Suara ) yang pendaftarannya hingga 16 November 2012 mendatang’, demikian dikatakan Taruna yang juga Tim Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan Keuskupan Agung Semarang.



Sarasehan yang berlangsung selama 2 jam dan diikuti oleh lebih 70 orang yang terdiri dari perwakilan dari paroki-paroki se Kevikepan Kedu, diantaranya dari kota dan kabupaten Magelang serta Kabupaten Temanggung ini diselenggarakan oleh Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan Kevikepan Kedu.

Peringati hari arwah di Giriloyo. 
Monday, November 5, 2012, 16:30 - BERITA Posted by Administrator




Meskipun dalam kalender gereja, hari arwah ditetapkan setiap tanggal 2 November, namun umat katolik di Magelang memperingati hari arwah ini dengan mengadakan Misa Syukur di pemakaman umum Giriloyo Magelang pada hari Minggu kemarin (4 November 2012). Misa konselebrasi yang diikuti oleh sekitar 1000 umat dari Gereja St. Ignatius Magelang dan Gereja Paroki St. Maria Fatima, St. Mikael Panca Arga dan Paroki St. Yusup Pekerja Mertoyudan ini dipimpin oleh Vikep Kedu Romo FX. Krisno Handoyo, Pr bersama dengan Romo A. Hantoro Pr dari Paroki St. Maria Fatima Magelang dan Romo A. Heru Eka Murcahya SJ dari Seminari Mertoyudan.





Dalam homilinya (kotbah) Romo Heru mengatakan bahwa ; ‘Misa memperingati arwah ini merupakan perayaan syukur bahwa kita masih diberikan kesempatan untuk merayakan suka cita dan kegembiraan, baik untuk mengenang mereka yang telah mendahului kita, maupun sebagai pelatihan dan persiapan diri kita sendiri. Doa arwah menjadi refleksi diri bahwa sisa hidup kita adalah anugerah. Jika lalu disana ada penderitaan merupakan suluh bagi pemurnian. Hidup dan mati adalah misteri, maka menerima dengan kehendak bebas sebagai pemurnian arwah – arwah di api pensucian’.





Memperingati hari arwah merupakan tradisi dalam Gereja Katolik sehari setelah Gereja merayakan hari orang kudus. Hari arwah ditetapkan sejak jaman Paus Gregorius III tahun 741 yang dimaksudkan untuk mengenang dan mempersembahkan doa-doa atas nama semua orang beriman yang telah wafat. Perayaan hari arwah menjadi peringatan universal setelah pada awalnya hanya diperingati di kalangan terbatas, ordo Beneditin. Dalam peringatan hari arwah ini umat Katolik diajak untuk merenungkan makna kematian dengan mendoakan para saudara-saudari yang telah meninggal, juga mengingatkan tentang akhir hidup yang harus dipersiapkan dalam persekutuan Gereja semesta. Misa yang berlangsung selama lebih 2 jam dari jam 10 pagi ini dilanjutkan dengan ritual tabur bunga di makan pahlawan Giridarmoloyo oleh Prodiakon dan di makam keluarga masing-masing umat.







E. Yusuf Kusuma ( Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu )

KEVIKEPAN KEDU : Peringati Sumpah Pemuda, Museum Misi Muntilan gelar musik terbangan. 
Tuesday, October 30, 2012, 14:17 - BERITA Posted by Administrator


‘Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia’, demikian Sumpah Pemuda kembali diikrarkan oelh kelompok-kelompok pemuda dari berbagai komunitas lintas suku, agama dan golongan kemarin ( Minggu, 28 Oktober 2012 ) di lapangan Pemerintah Daerah Pastoran Muntilan. Ikrar yang dipimpin oleh Ketua GP. Ansor Kabupaten Magelang Muhammad Chabibulah ini mengawali pagelaran seni musik terbangan dalam rangkaian peringatan hari Sumpah Pemuda 2012 yang diselenggarakan oleh Museum Misi Muntilan. ‘Sumpah Pemuda tidak berhenti hanya sebatas memperingati atau sebagai nostalgia semata, namun lebih jauh mampu menumbuhkan semangat pluralitas dan mengkaitkan momentum Sumpah Pemuda ini dengan persoalan-persoalan faktual yang terjadi saat ini’, demikian dikatakan Chabib, yang adalah juga Ketua Penanggulangan Bencana Kabupaten Magelang.





Museum Misi Muntilan peringati hari Sumpah Pemuda dengan menyelenggarakan Pagelaran Budaya Seni Terbangan. Lewat pentas seni musik yang diikuti oleh 13 kelompok dari berbagai daerah di Kabupaten Magelang ini diawali dengan perarakan simbol-simbol peringatan Hari Sumpah Pemuda dari halaman SD.Marsudirini Muntilan menuju Lapangan Pemerintah Daerah Pastoran Muntilan. Seni musik terbangan merupakan salah satu kesenian yang tumbuh dan berkembang ditengah masyarakat, khususnya Kabupaten Magelang. Dalam realitasnya, seni musik terbangan yang dahulu merupakan media dakwah agama Islam, kini tumbuh dan berkembang menjadi bagian dari seni musik yang digunakan oleh aneka macam kelompok masyarakat sebagai sarana penanaman nilai-nilai keberagaman.





Pagelaran yang dimulai pada pukul 3 sore dan dibuka secara resmi oleh Camat Muntilan Ari Widinugroho dengan menabuh bedug ini dihadiri antara lain oleh jajaran Muspika Kecamatan Muntilan, Vikjen Keuskupan Agung Semarang Romo FX. Sukendar, para tokoh lintas agama dan lingkungan dimaksudkan sebagai peringatan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dengan menumbuh kembangkan kesenian musik terbangan sebagai media untuk menggali nilai-nilai keberagaman yang menjadi bentuk penghayatan setiap warga Negara Indonesia sebagai satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, demikian dikatakan Direktur Museum Misi Muntilan Romo M. Nur Widipranoto, Pr. Lebih lanjut dikatakan bahwa ; ’Pagelaran seni musik terbangan ini akan menjadi pesan kepada masyarakat akan pentingnya penanaman dan menumbuhkembangan karakter luhur anak-anak bangsa dalam realitas hidup keberagaman di Negara Kesatuan Republik Indonesia’.





Kelompok-kelompok seni musik terbangan yang mengikuti pagelaran ini diantaranya ; Seni Angguk Rame Ngargotantra Sumber, Terbangan Pemuda Masjid Pule, Terbangan Pemuda NU Ngadipuro, Terbangan Anak – anak Balong, Terbangan SDN Taman Agung Muntilan, Terbangan SMP Marganingsih Muntilan, Terbangan Jrakah Salam, Terbangan Juwono Sumber, Terbangan Kepuhan, Terbangan Gemer, Terbangan ibu-ibu dari Dusun Pepe dan Kelompok Seni Ndolalak Tanen Ngargomulyo.



<<First <Back | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang