Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
Peringati hari arwah di Giriloyo. 
Monday, November 5, 2012, 16:30 - BERITA Posted by Administrator




Meskipun dalam kalender gereja, hari arwah ditetapkan setiap tanggal 2 November, namun umat katolik di Magelang memperingati hari arwah ini dengan mengadakan Misa Syukur di pemakaman umum Giriloyo Magelang pada hari Minggu kemarin (4 November 2012). Misa konselebrasi yang diikuti oleh sekitar 1000 umat dari Gereja St. Ignatius Magelang dan Gereja Paroki St. Maria Fatima, St. Mikael Panca Arga dan Paroki St. Yusup Pekerja Mertoyudan ini dipimpin oleh Vikep Kedu Romo FX. Krisno Handoyo, Pr bersama dengan Romo A. Hantoro Pr dari Paroki St. Maria Fatima Magelang dan Romo A. Heru Eka Murcahya SJ dari Seminari Mertoyudan.





Dalam homilinya (kotbah) Romo Heru mengatakan bahwa ; ‘Misa memperingati arwah ini merupakan perayaan syukur bahwa kita masih diberikan kesempatan untuk merayakan suka cita dan kegembiraan, baik untuk mengenang mereka yang telah mendahului kita, maupun sebagai pelatihan dan persiapan diri kita sendiri. Doa arwah menjadi refleksi diri bahwa sisa hidup kita adalah anugerah. Jika lalu disana ada penderitaan merupakan suluh bagi pemurnian. Hidup dan mati adalah misteri, maka menerima dengan kehendak bebas sebagai pemurnian arwah – arwah di api pensucian’.





Memperingati hari arwah merupakan tradisi dalam Gereja Katolik sehari setelah Gereja merayakan hari orang kudus. Hari arwah ditetapkan sejak jaman Paus Gregorius III tahun 741 yang dimaksudkan untuk mengenang dan mempersembahkan doa-doa atas nama semua orang beriman yang telah wafat. Perayaan hari arwah menjadi peringatan universal setelah pada awalnya hanya diperingati di kalangan terbatas, ordo Beneditin. Dalam peringatan hari arwah ini umat Katolik diajak untuk merenungkan makna kematian dengan mendoakan para saudara-saudari yang telah meninggal, juga mengingatkan tentang akhir hidup yang harus dipersiapkan dalam persekutuan Gereja semesta. Misa yang berlangsung selama lebih 2 jam dari jam 10 pagi ini dilanjutkan dengan ritual tabur bunga di makan pahlawan Giridarmoloyo oleh Prodiakon dan di makam keluarga masing-masing umat.







E. Yusuf Kusuma ( Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu )

KEVIKEPAN KEDU : Peringati Sumpah Pemuda, Museum Misi Muntilan gelar musik terbangan. 
Tuesday, October 30, 2012, 14:17 - BERITA Posted by Administrator


‘Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia’, demikian Sumpah Pemuda kembali diikrarkan oelh kelompok-kelompok pemuda dari berbagai komunitas lintas suku, agama dan golongan kemarin ( Minggu, 28 Oktober 2012 ) di lapangan Pemerintah Daerah Pastoran Muntilan. Ikrar yang dipimpin oleh Ketua GP. Ansor Kabupaten Magelang Muhammad Chabibulah ini mengawali pagelaran seni musik terbangan dalam rangkaian peringatan hari Sumpah Pemuda 2012 yang diselenggarakan oleh Museum Misi Muntilan. ‘Sumpah Pemuda tidak berhenti hanya sebatas memperingati atau sebagai nostalgia semata, namun lebih jauh mampu menumbuhkan semangat pluralitas dan mengkaitkan momentum Sumpah Pemuda ini dengan persoalan-persoalan faktual yang terjadi saat ini’, demikian dikatakan Chabib, yang adalah juga Ketua Penanggulangan Bencana Kabupaten Magelang.





Museum Misi Muntilan peringati hari Sumpah Pemuda dengan menyelenggarakan Pagelaran Budaya Seni Terbangan. Lewat pentas seni musik yang diikuti oleh 13 kelompok dari berbagai daerah di Kabupaten Magelang ini diawali dengan perarakan simbol-simbol peringatan Hari Sumpah Pemuda dari halaman SD.Marsudirini Muntilan menuju Lapangan Pemerintah Daerah Pastoran Muntilan. Seni musik terbangan merupakan salah satu kesenian yang tumbuh dan berkembang ditengah masyarakat, khususnya Kabupaten Magelang. Dalam realitasnya, seni musik terbangan yang dahulu merupakan media dakwah agama Islam, kini tumbuh dan berkembang menjadi bagian dari seni musik yang digunakan oleh aneka macam kelompok masyarakat sebagai sarana penanaman nilai-nilai keberagaman.





Pagelaran yang dimulai pada pukul 3 sore dan dibuka secara resmi oleh Camat Muntilan Ari Widinugroho dengan menabuh bedug ini dihadiri antara lain oleh jajaran Muspika Kecamatan Muntilan, Vikjen Keuskupan Agung Semarang Romo FX. Sukendar, para tokoh lintas agama dan lingkungan dimaksudkan sebagai peringatan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dengan menumbuh kembangkan kesenian musik terbangan sebagai media untuk menggali nilai-nilai keberagaman yang menjadi bentuk penghayatan setiap warga Negara Indonesia sebagai satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, demikian dikatakan Direktur Museum Misi Muntilan Romo M. Nur Widipranoto, Pr. Lebih lanjut dikatakan bahwa ; ’Pagelaran seni musik terbangan ini akan menjadi pesan kepada masyarakat akan pentingnya penanaman dan menumbuhkembangan karakter luhur anak-anak bangsa dalam realitas hidup keberagaman di Negara Kesatuan Republik Indonesia’.





Kelompok-kelompok seni musik terbangan yang mengikuti pagelaran ini diantaranya ; Seni Angguk Rame Ngargotantra Sumber, Terbangan Pemuda Masjid Pule, Terbangan Pemuda NU Ngadipuro, Terbangan Anak – anak Balong, Terbangan SDN Taman Agung Muntilan, Terbangan SMP Marganingsih Muntilan, Terbangan Jrakah Salam, Terbangan Juwono Sumber, Terbangan Kepuhan, Terbangan Gemer, Terbangan ibu-ibu dari Dusun Pepe dan Kelompok Seni Ndolalak Tanen Ngargomulyo.


KEVIKEPAN KEDU : Hari Pangan Sedunia 2012 : Tanam 15.000 pohon buah – buahan di lereng gunung Merapi 
Thursday, October 18, 2012, 18:54 - BERITA Posted by Administrator



Peringati Hari Pangan Sedunia ke 32, Rabu 16 Oktober 2012 yang lalu umat Katolik sekevikepan Kedu menandai dengan menanam 15.000 pohon buah-buahan di lereng Gunung Merapi. Penanaman pohon ini sebagai upaya reboisasi lahan seluas 20 hektar yang terletak di dusun Jamburejo, Kemiren Kecamatan Srumbung Kabupaten Magelang, yang beberapa waktu lalu rusak oleh erupsi Gunung Merapi. Peringatan yang mengangkat tema ; Merapiku Hijau Kembali’ ini dihadiri tidak saja umat Katolik, tetapi juga Muspika Srumbung, para penggiat lingkungan dari berbagai daerah di Jawa Tengah – DIY.





‘ Tujuan kegiatan ini adalah disamping merawat ciptaan Tuhan, juga hendak memberdayakan masyarakat sekitar lereng gunung Marapi. Pemberdayaan tersebut terlebih dalam hal perawatan dan penyulaman tanaman’, demikian dikatakan Ketua Penitia Hari Pangan Sedunia Saptandyo. Sementara itu Gatot Haryanto dari Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BP2KP) Kabupaten Magelang mengatakan ; ‘Kondisi lereng Merapi yang rusak akibat erupsi tahun 2010 yang lalu memang perlu mendapatkan reboisasi. Kegiatan ini perlu diupayakan oleh semua pihak. Harapan saya masyarakat dapat sejahtera dan lereng Merapi kembali hijau’.





Keprihatinan akan berbagai situasi menyangkut keberadaan pangan dewasa ini perlu menjadi perhatian khusus. Hampir semua kebutuhan bahan pokok pangan, termasuk beras saat ini hampir semua diperoleh dari impor semua. Sementara kita ketahui bahwa Tuhan telah menganugerahkan kepada kita bumi Indonesia yang memiliki tanah sangat subur, yang semestinya akan bisa mensejahterakan rakyatnya.





Vikep Kedu, Romo FX. Krisno Handoyo, Pr dalam sambutannya mengatakan inti dari peringatan Hari Pangan Sedunia adalah membangkitkan dan meningkatkan kesetiakawanan nasional dan dunia untuk mengatasi sejumlah permasalahan yang terkait dengan pangan, seperti gizi buruk dan pertanian. Dan Hari Pangan Sedunia ini diperingati khusus untuk memberikan penghargaan kepada Tuhan dan petani. ‘Semoga apa yang kita lakukan ini dapat menjadi bagian untuk mengurangi permasalahan pangan dan memelihara keutuhan ciptaan. Ini sekaligus menjadi tanda umat beriman yang tahu dan bersyukur atas rejeki dan pemberian Tuhan’, demikian pungkas Romo Krisno.



E. Yusuf Kusuma ( Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu )

Hari pangan Sedunia ke 21 : Sehari Tanpa Beras. 
Monday, October 15, 2012, 15:04 - BERITA Posted by Administrator


Keprihatinan akan berbagai situasi menyangkut keberadaan pangan dewasa ini perlu menjadi perhatian khusus. Hampir semua kebutuhan bahan pokok pangan, termasuk beras saat ini hampir semua diperoleh dari impor semua. Sementara kita ketahui bahwa Tuhan telah menganugerahkan kepada kita bumi Indonesia yang memiliki tanah sangat subur, yang semestinya akan bisa mensejahterakan rakyatnya.



Hari Pangan Sedunia ke 12 yang jatuh besuk (16 Oktober 2012), oleh umat Gereja St. Ignatius Magelang telah diperingati kemarin ( Minggu, 14 Oktober 2012 ). Peringatan dirayakan dengan Misa Syukur yang dihadiri oleh sekitar 2000 umat dipimpin oleh Romo Paroki Ar. Yudono Suwondo Pr. Dalam homilinya ( kotbah ) Romo Wondo mengajak kepada seluruh umat yang hadir untuk bersama-sama mengelola secara baik tentang kebutuhan akan pangan ini.



Dalam peringatan yang mengangkat tema ‘Gereja sebagai komunitas berbagi pangan’ ini mencanangkan gerakan sehari tanpa beras. Diharapkan pada hari itu seluruh umat Katolik se paroki St. Ignatius Magelang tidak memasak dan makan dari makanan yang berbahan dasar beras. Sedangkan beras yang tidak dimasak pada hari itu dikumpulkan untuk kemudian diberikan kepada orang yang kekurangan pangan dan membutuhkan.



Lebih lanjut dikatakan Romo Wondo, ‘ Allah telah menyediakan banyak anugerah bagi bangsa ini, tinggal bagaimanakah kita dapat mengelolanya dengan baik. Bagaimana kita mengembangkan kebijaksanaan dalam hidup dengan senantiasa menyertakan iman dan menyikapi anugerah yang melimpah ini, dan bukannya dengan keserakahan atau terikat pada kekayaan. Kita berdaulat dengan pangan, maka hendaknya selalu menjaga keberlangsungannya dengan cara-cara menjaga keutuhan dengan cara yang baik, seperti bertanam dengan cara pertanian organik’.



Peringatan Hari Pangan Sedunia ke 12 itu juga dimeriahkan dengan lomba tumpeng dengan bahan baku non beras. Lomba tumpeng ini diikuti oleh kelompok-kelompok umat di wilayah masing-masing. Disamping itu, setelah selesai Misa juga diadakan makan bersama seluruh umat di halaman depan gedung gereja dengan makanan yang dibuat tanpa beras. Ikut menyemarakan pesta Hari pangan Sedunia, kelompok kuda lumping ‘ Turonggo Mudo’ dari Magersari Kota Magelang juga menggelar pentas dengan berbagai formasi tarian kuda lumping.



Hari Pangan Sedunia ke 12 tingkat Kevikepan Kedu akan berlangsung besuk (16 Oktober 2012). Menandai peringatan tersebut akan diselenggarakan gerakan penanaman pohon di lereng gunung Merapi bersama – sama dengan para penggerak lingkungan hidup yang ada di eks. Karesidenan Kedu dan DIY. ‘Reboisasi di lereng gunung Merapi tersebut menjadi puncak peringatan Hari Pangan Sedunia ke 12 Kevikepan Kedu, tepatnya berlangsung di Desa Kemiren, Srumbung Kabupaten Magelang. Dalam peringatan tersebut mengambil tema ‘Merapiku Hijau Kembali’. Kegiatan ini selaras dengan Arah dasar Keuskupan Agung Semarang tentang menjaga keutuhan ciptaan’. E. Yusuf Kusuma ( Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu )


<<First <Back | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang