Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
BERITA DUKA DI PENGUNGSIAN 
Friday, November 12, 2010, 15:50 - BERITA Posted by Administrator

Pagi ini, suasana pengungsian di Posko St Ignatius terasa berbeda. Salah seorang pengungsi meninggal dunia. Beliau adalah Ibu Ikem Ahmad Pawiro. Meninggal dalam usia 90 tahun di RSU Tidar Magelang. Beliau meninggal sekitar pukul 03.00 WIB.

Setelah disucikan, jenasah disemayamkan di Panti Bina Bhakti Gereja Ignatius dan dilanjutkan dengan pemberangkatan jenasah ke nDiwak, Sumber, Dukun,, Magelang.

Kami, segenap relawan Posko St Ignatius, mengucapkan bela sungkawa yang dalam kepada keluarga yang ditinggalkan. Semoga arwah ibu Ikem di terima Allah dan dipersatukan dengan para kudus-Nya dalam keabadian di Surga. Selamat jalan ibu.

dan semoga segenap rombongan yang mengantar dianugerahi kelancaran dan tidak ada halangan suatu apa pun.
ADA SARA DI PENGUNGSIAN 
Thursday, November 11, 2010, 20:30 - BERITA Posted by Administrator

Ketika Gunung Merapi meletus, ada banyak korban. Tidak hanya korban nyawa, tapi juga ternak dan alam. Atas peristiwa itu, banyak orang mengulurkan tangan dan memberikan simpati dalam bentuk apa pun, baik dalam ukuran besar atau pun bantuan dalam ukuran kecil. Bantuan-bantuan itu diberikan dengan tulus. Tak ada paksaan.

Hingga kini bencana belum kelar. Hingga hari ini pun masih banyak para pengungsi yang kesulitan mendapatkan logisktik untuk memenuhi kebutuhan mereka. Bahkan tidak hanya para pengungsi, tetapi masyarakat sekitar pengungsian pun mulai menjadi “pengungsi”. Lumpuhnya pasar Muntilan menjadikan masyarakat ikut kelabakan. Korban-korban baru bermunculan.



Hebatnya, muncul bencana baru lagi di pengungsian: ISU SARA. Beberapa orang datang ke pos pengungsian dan mendesak para relawan untuk memindahkan para pengungsi dengan alasan SARA. Yang ini bukan hanya isu, tetapi sudah terjadi di Yogya. Situasi ini pun membayangi posko pengungsian di Gereja Ignatius Magelang. Tadi malam, Tim Relawan, anggota keamanan, dan perangkat desa yang berasal dari para pengungsi berkumpul untuk membicarakan isu ini.
Dari pertemuan itu disepakati jika sekelompok itu datang ke Gereja Ignatius, maka yang akan menghadapi adalah para pengungsi sendiri. Merekalah yang akan memutuskan apakah akan meninggalkan posko Gereja Ignatius atau tetap tinggal. “Kami merasa aman dan nyaman di sini. Bahkan kami diberi fasilitas lebih untuk menunaikan ibadah kami. Tempat untuk sholat disediakan. Kami tidak merasa bahwa kami dipaksa untuk menjadi katolik. Aneh-aneh saja orang-orang itu. Waktu kemarin terjadi bencana, orang-orang itu kemana? Kok sekarang mereka baru muncul”, komentar salah seorang prangkat desa yang beragama Muslim.



Posko Gereja Ignatius memang memberikan fasilitas kepada berbagai agama yang ingin memberikan bantuan, baik berupa barang maupun moril. Jika kita datang ke posko tersebut, kita akan menjumpai sekelompok anak-anak muda yang berjilbab. Mereka menjadi relawan di posko itu. Ada yang menjadi relawan kesehatan. Ada yang memberikan pembelajaran untuk anak-anak dengan outbound. Tanpa canggung mereka membantu para pengungsi, tanpa memandang agama mereka apa. Pada hari-hari tertentu, posko ini juga mendatangkan Kyai untuk memberikan siraman rohani. Semua diberi tempat dan ruang.



“Misi kami adalah misi kemanusiaan, bukan agama. Kebetulan saja tempatnya ada di Gereja. Kami berusaha sekuat tenaga untuk membantu mereka. Ketika ada saudara kita yang menderita, apakah kita akan bertanya dahulu agama mereka apa? Jika seagama kita turun menolong. Jika tidak seagama, kita biarkan orang itu. Apakah demikian? Para pengungsi itu sudah menderita. Apakah kita masih akan menambahi penderitaan mereka dengan isu murahan seperti itu?” ungkap salah seorang romo selaku penanggung jawab posko tersebut.



Bencana Gunung Merapi masih panjang. Tak tahu kapan bencana ini akan berakhir. Tidak hanya kebutuhan jangka pendek, tapi ada kebutuhan jangka panjang yang masih harus dipikirkan. Bukannya turun untuk membantu para pengungsi, malah ada yang memanas-manasi situasi dengan aksi bernuansa SARA. Haruskah dibuat pembedaan: POSKO PENGUNGSI MUSLIM, POSKO PENGUNGSI KATOLIK, POSKO PENGUNGSI KRISTEN, POSKO PENGUNGSI HINDU, POSKO PENGUNGSI BUDHA, POSKO PENGUNGSI KONGHUCU, atau yang sejenisnya? Jika ya, sanggup ga ngurusinya?

WALIKOTA MAGELANG MENGUNJUNGI POSKO IGNATIUS 
Wednesday, November 10, 2010, 22:32 - BERITA Posted by Administrator

Romo Krisno (topi putih) dan Bapak FX Suyanto sedang memberikan gambaran mengenai pengungsi kepada Bapak Walikota


Selasa siang, 9 november 2010, Walikota Magelang datang meninjau Posko Ignatius. Rombongan diterima di posko oleh TIM RELAWAN yang dikomandoi oleh Rm Krisno.Dalam dialog singkat dengan TIM Relawan, Walikota mengucapkan terima kasih atas keterlibatan Gereja dalam turut ambil bagian menanggulangi para pangungsi. Atas nama Pemerintah Kota Magelang, Bapak Walikota yang didampingi Ibu dan Ibu Wakil Walikota mengungkapkan rasa syukurnya atas misi kemanusian tanpa memandang ras yang telah dilakukan oleh Gereja Ignatius.


Bapak Walikota berjalan kaki menuju Posko Pengungsian didampingi Romo Krisno


Setelah berdialog dengan Tim, Bapak Walikota berkenan mengunjungi Posko Pengungsian dan memberikan dorongan dan semangat kepada para pengungsi. Para pengungsi sendiri merasa senang karena dikunjungi dan diperhatikan oleh Pemerintah.


Bapak Walikota sedang menyapa salah satu pengunjung didampingi Bapak Cyrilus Agung


"Cuma sayangnya, tidak ada dialog dengan kami",ungkap salah seorangsi. "kami kan pingin berkeluh kesah dengan nasib kami nantinya", lanjutnya.


para pengungsi mendengarkan sambutan dan peneguhan dari bapak Walikota

Setelah memberikan sambutan, Bapak Walikota meninggalkan posko pengungsian menuju ke posko lain.
DILEMA PENGUNGSI 
Tuesday, November 9, 2010, 17:24 - BERITA Posted by Administrator


Merapi takkunjung beristirahat. Setiap saat, merapi terus menyemburkan isi perutnya. Uniknya, semburan ini sangat berbeda karakteristiknya dengan semburan-semburan terdahulu. Kali ini, merapi menyembur ke atas. Yang membuat sulit memprediksi kondisi merapi adalah cuaca. Setiap kali meletus, merapi selalu tertutup awan. Oleh karena itu, petugas pun tidak bisa memperkirakan awah luncuran dan sebarapa jauh efeknya. Sementara luncuran wedhus gembel pun semakin menjauh sehingga zona merah pun makin luas. Akibatnya, jumlah pengungsi semakin hari semakin bertambah.



Penambahan jumlah pengungsi tentu menimbulkan persoalan tersendiri. Selain logistik, tempat penampungan pun menimbulkan persoalan. Sampai saat ini, masih ada pengungsi yang belum tertangani dengan baik. Medan yang sulit merupakan faktor yang sangat berpengaruh. Ada banyak pengungsi yang tetap bertahan di poskonya meskipun posko itu berada di zona merah. Padahal akses ke tempat itu semakin hari semakin sulit. Debu yang tebal yang menutupi jalan semakin tebal dan licin pada saat terguyur air hujan. Debu-debu ini tidak begitu saja terbawa air, tapi justru mengeras. Jika tidak hati-hati, armada bisa tergelincir. Relawan kami pun merasakan sulitnya memberikan bantuan logistik untuk daerah-daerah tersebut. Armada mobil yang menjemput logistik tergelincir dan hampir saja nyawa menjadi taruhannya.



Karena zona merah yang terus meluas [20 km], maka banyak posko pengungsian yang harus dipindah turun. Ada banyak pengungsi yang direlokasi ke posko pengungsian yang baru. Namun, masih ada banyak pengungsi yang tidak mendapat tempat. Mereka ini mencari tempat sendiri untuk bertahan hidup. Kebutuhan logistik pun mereka cari sendiri. Mereka ini ada yang dalam kelompok kecil [puluhan orang], namun ada juga yang berada dalam kelompok besar [ratusan]. Akibat lain adalah adanya korban baru. Ketika para pengungsi ini masuk ke sebuah kampung, otomatis mereka ini akan menyerap logistik di kampung tersebut. Akibatnya, sumber resources di kampung itu pun akan terus berkurang sehingga penduduk kampung pun menjadi korban tidak langsung.



Persoalan lain yang perlu diantisipasi adalah kejenuhan para pengungsi. Tinggal di tempat pengungsian tentu tidak mengenakkan. Kejenuhan ini bisa berujung pada situasi stress dan ketertekanan mental. Situasi ini semakin bertambah ketika para pengungsi juga masih memikirkan kondisi rumah dengan ternaknya. Tidak jarang, para pengungsi ini mencuri-curi kesempatan pulang ke rumah untuk memberi makan ternak dan mengurus rumah. Tindakan ini tentu memiliki resiko besar. Namun, tetap tidak mudah memberikan kesadaran kepada para pengungsi.

<<First <Back | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang