Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
Hari pangan Sedunia ke 21 : Sehari Tanpa Beras. 
Monday, October 15, 2012, 15:04 - BERITA Posted by Administrator


Keprihatinan akan berbagai situasi menyangkut keberadaan pangan dewasa ini perlu menjadi perhatian khusus. Hampir semua kebutuhan bahan pokok pangan, termasuk beras saat ini hampir semua diperoleh dari impor semua. Sementara kita ketahui bahwa Tuhan telah menganugerahkan kepada kita bumi Indonesia yang memiliki tanah sangat subur, yang semestinya akan bisa mensejahterakan rakyatnya.



Hari Pangan Sedunia ke 12 yang jatuh besuk (16 Oktober 2012), oleh umat Gereja St. Ignatius Magelang telah diperingati kemarin ( Minggu, 14 Oktober 2012 ). Peringatan dirayakan dengan Misa Syukur yang dihadiri oleh sekitar 2000 umat dipimpin oleh Romo Paroki Ar. Yudono Suwondo Pr. Dalam homilinya ( kotbah ) Romo Wondo mengajak kepada seluruh umat yang hadir untuk bersama-sama mengelola secara baik tentang kebutuhan akan pangan ini.



Dalam peringatan yang mengangkat tema ‘Gereja sebagai komunitas berbagi pangan’ ini mencanangkan gerakan sehari tanpa beras. Diharapkan pada hari itu seluruh umat Katolik se paroki St. Ignatius Magelang tidak memasak dan makan dari makanan yang berbahan dasar beras. Sedangkan beras yang tidak dimasak pada hari itu dikumpulkan untuk kemudian diberikan kepada orang yang kekurangan pangan dan membutuhkan.



Lebih lanjut dikatakan Romo Wondo, ‘ Allah telah menyediakan banyak anugerah bagi bangsa ini, tinggal bagaimanakah kita dapat mengelolanya dengan baik. Bagaimana kita mengembangkan kebijaksanaan dalam hidup dengan senantiasa menyertakan iman dan menyikapi anugerah yang melimpah ini, dan bukannya dengan keserakahan atau terikat pada kekayaan. Kita berdaulat dengan pangan, maka hendaknya selalu menjaga keberlangsungannya dengan cara-cara menjaga keutuhan dengan cara yang baik, seperti bertanam dengan cara pertanian organik’.



Peringatan Hari Pangan Sedunia ke 12 itu juga dimeriahkan dengan lomba tumpeng dengan bahan baku non beras. Lomba tumpeng ini diikuti oleh kelompok-kelompok umat di wilayah masing-masing. Disamping itu, setelah selesai Misa juga diadakan makan bersama seluruh umat di halaman depan gedung gereja dengan makanan yang dibuat tanpa beras. Ikut menyemarakan pesta Hari pangan Sedunia, kelompok kuda lumping ‘ Turonggo Mudo’ dari Magersari Kota Magelang juga menggelar pentas dengan berbagai formasi tarian kuda lumping.



Hari Pangan Sedunia ke 12 tingkat Kevikepan Kedu akan berlangsung besuk (16 Oktober 2012). Menandai peringatan tersebut akan diselenggarakan gerakan penanaman pohon di lereng gunung Merapi bersama – sama dengan para penggerak lingkungan hidup yang ada di eks. Karesidenan Kedu dan DIY. ‘Reboisasi di lereng gunung Merapi tersebut menjadi puncak peringatan Hari Pangan Sedunia ke 12 Kevikepan Kedu, tepatnya berlangsung di Desa Kemiren, Srumbung Kabupaten Magelang. Dalam peringatan tersebut mengambil tema ‘Merapiku Hijau Kembali’. Kegiatan ini selaras dengan Arah dasar Keuskupan Agung Semarang tentang menjaga keutuhan ciptaan’. E. Yusuf Kusuma ( Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu )

KEVIKEPAN KEDU : 56 tahun Gereja St. Yusup Pekerja Mertoyudan: Romo Vikep hadiahi lagu ‘Gundul-gundul Pacul’. 
Monday, October 1, 2012, 17:24 - BERITA Posted by Administrator


Menandai puncak acara HUT ke 56 Paroki Gereja St. Yusup Pekerja Mertoyudan, Minggu kemarin (30 September 2012) menyelenggarakan Misa Syukur konselebran Romo Vikep Kedu FX.Krisno Handoyo Pr, bersama Romo Paroki FX.Sumantara Siswoyo Pr dan Romo J. Maryono Pr. Paroki yang berada di Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang ini secara resmi berdiri pada tanggal 29 September 1956 dengan pemberkatan oleh Uskup Mgr. Alb. Soegiyo Pranata. Seiring perjalanan waktu Paroki ini terus berkembang dengan 2 stasi, yakni Borobudur dan Deyangan.



Dalam Misa meriah yang bertajuk ‘Beriman tangguh, berbuah dan berbagi berkat’ ini diikuti oleh lebih 1000 umat baik dari Gereja St. Yusuf Pekerja sendiri maupun dari paroki-paroki sekitar. Mengawali Misa yang juga dihadiri oleh para seminaris St. Petrus Canisius Mertoyudan, Romo Sumantara menyampaikan beberapa hal sehubungan dengan tema ulang tahun. ‘Menjadikan tema sebagai mantera yang tertanam dalam diri kita merupakan langkah penting. Namun berikutnya adalah mencoba mengolahnya dalam tanda-tanda jaman. Dari sekian tanda-tanda itu dapat kita sebutkan misalnya pluralitas umat dari segi kesejahteraan sosial, usia, latar belakang budaya, pertumbuhan dan migrasi umat dan masyarakat entah harian, musiman maupun semi permanen karena pengaruh budaya semesta (global) baik dari sisi yang baik maupun yang kurang baik’, demikian Romo Sumantara yang juga Romo Moderator Komisi Komunikasi Kevikepan Kedu ini.



Sementara itu dalam homilinya Vikep Kedu, Romo Krisno menyanyikan sebuah lagu Jawa anak-anak ‘Gundul-gundul pacul’. ‘Lagu dolanan ini memiliki filosofi yang sangat dalam. Mari kita simak syairnya’, demikian ajak Romo Krisno. ‘Gundul adalah kepala plontos tanpa rambut. Kepala lambang kehormatan, kemuliaan seseorang. Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala. Maka gundul artinya kehormatan tanpa mahkota’, begitu terangnya.

Lebih lanjut dikatakan, ‘Pacul adalah alat para petani dan lambang kawula rendah. Seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi ia adalah pembawa pacul untuk bekerja mengupayakan kesejahteraan bagi rakyat. Orang Jawa mengatakan pacul adalah papat kang ucul. Artinya bahwa kemuliaan seseorang akan sangat tergantung kepada empat hal, bagaimana kita menggunakan mata, hidung, telinga dan mulut dengan baik. Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya’.

‘Gembelengan artinya besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya. Banyak pemimpin yang lupa bahwa dirinya sesungguhnya mengemban amanah rakyat, tetapi malah menggunakan kekuasaannya untuk kemuliannya sendiri, membangga-banggakan kedudukannya dan menganggap kekuasaan itu karena kepandaiannya sendiri. Nyunggi wakul, gembelengan artinya membawa bakul di kepalanya. Banyak pemimpin yang lupa bahwa dia mengemban amanah penting membawa bakul di kepalanya. Wakul merupakan simbul kesejahteraan rakyat. Wakul ngglimpang segane dadi sak latar. Bakul terguling dan nasinya tumpah kemana-mana. Jika pemimpin gembelengan, maka sumber daya akan tumpah kemana-mana dan tidak terdistribusikan dengan baik, kesenjangan ada dimana-mana. Maka gagallah tugasnya mengemban amanah rakyat’, demikian lanjut Romo Vikep Kedu.

Menutup puncak acara perayaan ulang tahun yang berlangsung pagi hingga tengah hari, usai Misa Syukur dilanjutkan dengan ramah tamah dalam pesta umat dengan makan bersama di halaman sekitar gedung gereja. Sajian bukan saja makanan, namun juga digelar berbagai pentas kesenian dipanggung pelataran depan Gereja oleh anak-anak dan para remaja.

E. Yusuf Kusuma - Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu.


Mensyukuri Perutusan Romo Marto 
Saturday, September 29, 2012, 15:36 - BERITA Posted by Administrator


Paroki St. Maria Lourdes Sumber terletak di lereng gunung Merapi, tepatnya di Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Di Paroki pedesaan yang berbukit-bukit ini jumlah umat Katoliknya ada sekitar 3000 orang dengan sebagian besar hidup sebagai petani. Disinilah Romo Al. Martoyoto Wiyono, Pr mulai tanggal 10 Oktober 2012 menetap dan akan berkarya sebagai Pastor Kepala Paroki setelah selama 2 tahun berkarya di Paroki Gereja St. Ignatius Magelang.





Malam itu ( Jum’at, 28 September 2012 ) di halaman belakang pastoran Gereja St. Ignatius Magelang ramai dikunjungi oleh lebih 100 umat paroki yang mengadakan syukuran atas perutusan baru bagi Romo Martoyoto ke Sumber. Di atas panggung kecil yang dirancang dari bambu dan bernuansa Bali ini acara demi acara digelar secara sederhana. Tidak ada yang khusus menjadi tontonan kecuali tampilan dari ReKat ( Remaja Katolik ) St. Ignatius Magelang yang membawakan 3 buah lagu.



Diawali dengan makan malam bersama sambil ramah tamah, kemudian penuturan pesan – kesan dari umat seputar penggembalan Romo Marto selama di Gereja St. Ignatius Magelang, dan acara yang berlangsung sekitar 2 jam ini ditutup dengan penyampaian perubahan agenda kerja di Paroki St. Ignatius Magelang oleh Romo FX. Krisno Handoyo, Pr sebagai Pastor Paroki St. Ignatius Magelang sehubungan dengan kepindahan Romo Martoyoto.



Dibawah langit Magelang yang bersih dan bulan penuh. Semilir angin malam terasa cukup dingin sampai ketulang. Lagu D’Masiv mengalun lewat suara lirih para remaja Katolik……., hidup adalah anugerah, maka syukuri apa yang ada, lakukanlah yang terbaik ……….

Dari Kolasi Sosial Kemasyarakatan Kevikepan Kedu bersama Wawali kota Solo : Pemimpin yang Melayani. 
Friday, September 28, 2012, 16:47 - BERITA Posted by Administrator


Mengawali kolasi Kevikepan Kedu, Rabu 26 September 2012 lalu di Panti Bina Bakti kompleks Gereja St. Ignatius Magelang, Romo Vikep Kedu – FX. Krisno Handoyo, Pr menyampaikan penjelasan sehubungan dengan tahun Iman yang dimulai tanggal 11 Oktober 2012. Disamping ‘Surat Apostolik’ Paus Benediktus XIV ‘Pintu Kepada Iman’ , Bapa Uskup Agung Semarang juga akan mengeluarkan ‘Surat Gembala’ sehubungan dengan tahun Iman tersebut.





Kolasi yang diikuti oleh sekitar 200 peserta dari Paroki-paroki se Kevikepan Kedu ini terdiri dari para Romo Paroki, tokoh umat dan para tim kerja kemasyarakatan sosial . Sementara pertemuan kolasi tersebut menghadirkan pembicara tunggal FX. Rudy Hadi Rudyatmo, Wakil Walikota Solo yang menyampaikan seputar peran serta umat Katolik dalam kehidupan sosial kemasyarakatan dan politik. Lebih lanjut dikatakan bahwa berpolitik itu adalah juga panggilan, maka konsep yang ia jalani sebagai Wakil Walikota Solo selama lebih 7 tahun berdampingan dengan Jokowi adalah melayani, bukan dilayani.






Bagi Wakil Walikota yang juga Prodiakon ini, politik adalah seni mengolah aspirasi. Politik juga berarti usaha masyarakat mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan sesuai aturan yang berpihak pada rakyat. ‘Politik itu baik. Hanya saja terkadang ada oknum-oknum manusianya yang busuk. Karena itu, jangan takut berpolitik’, ajak Rudy, panggilan akrab Wawali kota Solo ini. Menurutnya, keberhasilan ‘momong’ Jokowi’ itu karena dirinya menempatkan filosofi pemimpin layaknya kegiatan pelayanan bagi umat.





Menjadi pemimpin yang berjiwa pelayan, ia mengibaratkan sebagai akar yang gigih mencari air, menembus tanah yang keras demi sebatang pohon. Ketika pohon tumbuh berdaun rimbun, berbunga indah, tampil elok dan mendapat pujian …., akar tak pernah mengeluh dan tetap bersembunyi dalam tanah. Itulah makna dari sebuah ketulusan dalam berjuang demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

E. Yusuf Kusuma ( Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu )


<<First <Back | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang