Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
Dari Kolasi Sosial Kemasyarakatan Kevikepan Kedu bersama Wawali kota Solo : Pemimpin yang Melayani. 
Friday, September 28, 2012, 16:47 - BERITA Posted by Administrator


Mengawali kolasi Kevikepan Kedu, Rabu 26 September 2012 lalu di Panti Bina Bakti kompleks Gereja St. Ignatius Magelang, Romo Vikep Kedu – FX. Krisno Handoyo, Pr menyampaikan penjelasan sehubungan dengan tahun Iman yang dimulai tanggal 11 Oktober 2012. Disamping ‘Surat Apostolik’ Paus Benediktus XIV ‘Pintu Kepada Iman’ , Bapa Uskup Agung Semarang juga akan mengeluarkan ‘Surat Gembala’ sehubungan dengan tahun Iman tersebut.





Kolasi yang diikuti oleh sekitar 200 peserta dari Paroki-paroki se Kevikepan Kedu ini terdiri dari para Romo Paroki, tokoh umat dan para tim kerja kemasyarakatan sosial . Sementara pertemuan kolasi tersebut menghadirkan pembicara tunggal FX. Rudy Hadi Rudyatmo, Wakil Walikota Solo yang menyampaikan seputar peran serta umat Katolik dalam kehidupan sosial kemasyarakatan dan politik. Lebih lanjut dikatakan bahwa berpolitik itu adalah juga panggilan, maka konsep yang ia jalani sebagai Wakil Walikota Solo selama lebih 7 tahun berdampingan dengan Jokowi adalah melayani, bukan dilayani.






Bagi Wakil Walikota yang juga Prodiakon ini, politik adalah seni mengolah aspirasi. Politik juga berarti usaha masyarakat mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan sesuai aturan yang berpihak pada rakyat. ‘Politik itu baik. Hanya saja terkadang ada oknum-oknum manusianya yang busuk. Karena itu, jangan takut berpolitik’, ajak Rudy, panggilan akrab Wawali kota Solo ini. Menurutnya, keberhasilan ‘momong’ Jokowi’ itu karena dirinya menempatkan filosofi pemimpin layaknya kegiatan pelayanan bagi umat.





Menjadi pemimpin yang berjiwa pelayan, ia mengibaratkan sebagai akar yang gigih mencari air, menembus tanah yang keras demi sebatang pohon. Ketika pohon tumbuh berdaun rimbun, berbunga indah, tampil elok dan mendapat pujian …., akar tak pernah mengeluh dan tetap bersembunyi dalam tanah. Itulah makna dari sebuah ketulusan dalam berjuang demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

E. Yusuf Kusuma ( Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu )

\\\'Morning Tea\\\' di halaman belakang pastoran Ignatius Magelang. 
Saturday, September 8, 2012, 19:33 - BERITA Posted by Administrator




Sabtu 8 September 2012 udara pagi kota Magelang tidak begitu dingin, malah cenderung banyak yang merasakan agak panas dari hari-hari sebelumnya. Halaman pelataran belakang pastoran St. Ignatius Magelang akhir pekan ini menjadi tempat santap pagi sekitar 300 umat yang mengikuti Misa pagi.







Memang tidak biasa, seusai Misa pagi lalu dilanjutkan makan pagi bersama, namun hari itu, hari kelahiran bunda Maria menandai hari ulang tahun imamat Romo FX. Krisno Handoyo, Pr , romo Paroki St. Ignatius Magelang yang adalah juga Vikep Kedu.







Acara perjamuan sederhana 19 tahun Imamat Romo Krisno ini diawali dengan Misa Syukur konselebrasi yang dipimpin oleh Romo Yudono Suwondo,Pr. bersama Romo FX. Krisno Handoyo, Pr dan Romo Martoyoto Wiyono, Pr. Dalam homilinya, Romo Krisno menyampaikan bahwa dalam imamat, sebagaimana juga dialami bunda Maria adalah merupakan pilihan dan panggilan.



Lebih lanjut dikatakan Romo Krisno : ‘ Pilihan dan panggilan bukan saja dari hal-hal yang baik, sehingga seringkali begitu banyak percobaan-percobaan yang dialami, namun karena Tuhan yang memilih, maka Tuhan akan selalu menyertai setiap pilihan dan panggilan.



Seringkali begitu banyak percobaan-percobaan yang dialami, dan percobaan bukanlah masalah, sehingga dengan penyertaan Tuhan ‘Immanuel’ akan bisa dijernihkan, karena percobaan lebih diakibatan oleh faktor luar. Kita dipilih karena kebaikan Allah, dipanggil untuk menjadi baik dan berguna bagi orang lain, menjadi jembatan berkat Tuhan ‘.



Kali Kedua tahun 2012 Pesta Perak Imamat di Gereja St. Ignatius Magelang. 
Monday, August 27, 2012, 14:55 - BERITA Posted by Administrator


‘…… menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga, bersyukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia, selamanya……,cinta kepada hidup, memberikan senyuman abadi, walau ini kadang tak adil, tapi cinta lengkapi kita ………, menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga, bersyukurlah pada yang kuasa, cinta kita di dunia, selamanya….. ‘, lagu ‘Laskar Pelangi’ mengalun ceria lewat paduan suara Rekat Stigma ( Remaja Katolik St. Ignatius Magelang ) mengiringi santap malam pesta perak imamat di gedung Mandala, Sabtu 25 Agustus 2012. Santap malam dan ramah tamah yang dihadiri oleh lebih 500 umat paroki St. Ignatius Magelang, juga sebagian para tamu undangan dari Jogya, Solo, Semarang dan Jakarta ini diawali dengan Misa konselebrasi yang dipimpin Romo FX. Krisno Handoyo, Pr bersama keempat Romo jubelirian, yang semestinya berlima dikarenakan Romo Tri Wahyono berhalangan hadir.







Perayaan syukur kali yang kedua diselenggarakan di Gereja St. Ignatius Magelang ini dilaksanakan oleh umat Gereja St. Ignatius Magelang setelah sebelumnya, pada tanggal 8 Agustus 2012 lalu juga telah diadakan Perayaan Syukur oleh Unio KAS dengan Misa Konselebrasi yang dipimpin Uskup Agung Semarang, Mgr. Johannes Pujasumarta. Para romo yang hari itu berpesta 25 tahun imamat adalah Romo Aloysius Martoyoto Wiyono, Pr bersama rekan seangkatan, Romo Agustinus Joko Sistiyanto, Pr , Romo Yakobus Sudarmadi, Pr , Romo Antonius Tri Wahyono, Pr dan Romo Estaphanus Gerardus Willem Pau, Pr.







Kelima imam yang memperingati 25 tahun imamat itu ditahbiskan pada tanggal 19 Agustus 1987 oleh Mgr. Yulius Darmaatmaja, SJ. Uskup Agung Semarang di Kapel St. Paulus Kentungan Jogyakarta, sedangkan Romo Jayasewaya yang merayakan 50 tahun imamat ditahbiskan pada tanggal 8 Desember 1962 di Gereja Katedral Randusari Semarang oleh Mgr. Adrianus Djajaseputra, SJ. Uskup Agung Jakarta saat itu, karena Uskup Agung Semarang Mgr. Alb. Soegijapranata sedang sakit dan dirawat di Belanda. Jamuan santap malam yang berlangsung sekitar 2 jam ini, disamping dimeriahkan oleh Rekat Stigma juga OMK ( Orang Muda Katolik ) dengan membawakan beberapa lagu campursari dan juga nostalgia.








“Memerdekakan dan membebaskan yang miskin” - tasyakuran umat Kristen Kota Magelang , 16 Agustus 2012 
Friday, August 17, 2012, 14:45 - BERITA Posted by Administrator


‘Sekali merdeka, semakin merdeka !’, demikian disampaikan Pastor Paroki St. Ignatius Magelang FX. Krisno Handoyo, Pr mengakhiri renungan malam tasyakuran umat Kristen Kota Magelang dalam Peringatan Hari Ulang Tahun ke 67 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2012 di Aula Bapeda Kota Magelang, Kamis 16 Agustus 2012.



Dalam Tasyakuran yang diikuti sekitar 300 umat Kristiani Kota Magelang dan dipimpin oleh Romo Krisno yang juga Vikep Kedu ini juga disampaikan sambutan Walikota Magelang, Ir.H.Sigit Widyonindito, MT. yang dibacakan oleh Kejari Kota Magelang. Disamping itu juga diisi dengan puji-pujian yang dipandu oleh paduan suara dari Gereja St. Maria Fatima Magelang serta pemotong tumpeng oleh Kajari Kota Magelang.



SURAT GEMBALA
HARI RAYA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA
17 Agustus 2012

(dibacakan pada hari menjelang atau pada Hari Raya Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 2012)



“Memerdekakan dan membebaskan yang miskin”

Saudari dan saudaraku terkasih dalam Tuhan, salam kasih Tuhan yang memerdekakan dan membebaskan kita.

Pada tanggal 17 Agustus 2012 kita bersyukur atas Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia ke 67. Saya mengajak seluruh umat Katolik Keuskupan Agung Semarang untuk bersyukur atas rahmat kemerdekaan dan keselamatan yang diberikan oleh Tuhan bagi kita semua di negeri ini.



Banyak pribadi atau kelompok masyarakat, dan instansi pemerintah yang merayakan hari syukur ini dengan memasang hiasan-hiasan manis di dalam rumah maupun di luar rumah, di kantor-kantor, dalam kendaraan maupun di dalam alat-alat komunikasi elektronik. Sebagian sungguh menghayati syukur atas kemerdekaan ini, sedangkan sebagian lagi masih sangat mempertanyakan arti perayaan kemerdekaan ini.



67 tahun yang lalu, pada 17 Agustus 1945, para pendiri Republik ini memang telah berhasil memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Merdeka berarti bebas atau lepas dari berbagai ikatan atau belenggu. Mulai saat itu Indonesia telah menjadi bangsa yang berdaulat, semartabat serta setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia.



Secara yuridis, kita memang bangsa berdaulat yang bebas dari tekanan kolonialisme dan imperialisme bangsa lain. Namun tak bisa dipungkiri, bahwa setelah 67 tahun merdeka, tidak sedikit dari kalangan generasi sekarang yang bertanya “Sungguhkah seperti ini kemerdekaan yang kita rayakan?” Kehidupan bangsa ini masih diwarnai banyak hal yang memprihatinkan. Bangsa kita masih terjajah oleh kebodohan dan kemiskinan. Negeri yang merdeka ini sesungguhnya negeri yang kaya raya, subur, makmur, berlimpah tambang dan hasil bumi. Namun negeri ini masih begitu miskin dalam kesejahteraan rakyatnya.

Dalam tahun yang ke 67 ini Indonesia masih mengalami krisis kemiskinan yang multi-dimensional.



1. Kemiskinan dan pengangguran di masyarakat.

Saat ini masih banyak orang yang semakin susah mencari pekerjaan. Bahkan orang yang sebelumnya sudah bekerja, tak sedikit mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK). Akibatnya tidak sedikit yang terpaksa menjadi gelandangan, pengemis, pengamen, pencuri, pemulung dan lain-lain. Di beberapa kota besar, paradigma dan praktik pembangunan bercorak neo-liberalisme yang ditempuh pemerintah ternyata membuahkan kondisi peminggiran dalam masyarakat. Karena itu, tidak mengherankan kalau peminggiran dan penindasan ekonomi juga menyebabkan konflik di masyarakat serta menimbulkan problem-problem sosial-ekonomi lainnya.



Sementara upaya pemerintah belum optimal untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan, korban yang telah menjadi miskin bahkan dianggap mengotori wajah kota. Tak mengherankan jika pemerintah melalui aparatnya seringkali "menertibkan" mereka, bukan hanya gelandangan dan pengemis, tapi juga pengamen dan kadang juga pedagang kaki lima. Di beberapa daerah, operasi penertiban ini telah dilakukan semena-mena dan kurang berperikemanusiaan.

Mengenai hal ini, pemerintah dan para pengusaha di zaman kemerdekaan ini perlu mengembangkan pola membangun tanpa menggusur, dan mengembangkan solidaritas cinta untuk mengentaskan kemiskinan dan pengangguran di masyarakat.



2. Kemiskinan dan kejahatan

Tindakan kejahatan merupakan suguhan bagi kita sehari-hari, yang bisa dilihat secara tak langsung dari berita di berbagai media. Setiap hari kita mendapatkan sajian berita tentang tindakan kejahatan, bahkan disertai kekerasan, yang tidak makin berkurang tetapi bahkan semakin bertambah. Kejahatan saat ini telah merusak seluruh dimensi, bukan saja milik kaum tua dan dewasa, namun sudah merambah dalam dunia anak-anak. Bukan hanya kaum laki-laki, namun juga kaum perempuan. Bukan hanya di dalam dunia hitam, bahkan dalam diri kelompok yang memandang diri orang benar. Bukan saja mereka yang tak ber-relasi SARA, melainkan juga yang satu saudara, satu suku dan satu iman. Sementara itu pembiaran kekerasan oleh pihak aparat dan pemerintah terus melambung jumlah kasusnya.



Kemiskinan tentu tidak diharapkan oleh setiap orang, bahkan dianggap sebagai ”musibah”. Bukan hanya sekedar "musibah" biasa, tetapi kalau kemiskinan tidak digarap secara benar, maka akan menimbulkan dampak buruk, dan menambah banyaknya kekerasan di masyarakat, sehingga menjadi ”musibah” berikutnya. Kita mengamati bahwa kejahatan tidak semata-mata disebabkan oleh kurangnya penghayatan agama atau moral masyarakat, karena tidak sedikit tindakan kejahatan yang disebabkan oleh kondisi ekonomi yang tidak aman.

Mengenai hal ini, pihak aparat dan pemerintahan di zaman merdeka perlu semakin tegas dan bijaksana untuk mengatasi kejahatan dan kekerasan, baik fisik maupun teror mental.



3. Kemiskinan dan premanisme politik.

Kemiskinan sering dimanfaatkan oleh kekuatan politik tertentu untuk membela kepentingannya sendiri. Banyaknya orang miskin, para penganggur dan semaraknya preman-preman, kadangkala dimobilisasi oleh kekuatan politik, baik pemerintah daerah maupun kelompok politik lain. Mereka dilembagakan untuk mobilisasi kekuatan politik. Kaum miskin menjadi komoditi murahan untuk iklan menjelang pemilu, dengan menebar janji-janji kosong yang tak terbukti dan menyesatkan.

Tindakan-tindakan anarkis politis yang diwarnai sentimen-sentimen rasialisme yang semarak akhir-akhir ini, harus dipahami sebagai akibat dari ketidakmampuan masyarakat terpinggirkan dalam menerjemahkan kondisi ketertindasan ekonomi politik mereka. Dengan demikian, tak jarang kalau mereka digunakan oleh kekuatan rezim dan kekuatan politik tertentu sebagai alat represi dan mobilisasi massa demi kepentingan elitis.

Mengenai hal ini, masyakarakat yang merdeka perlu belajar menjadi anak bangsa yang cerdas, agar dalam setiap pemilu mampu memilih pemimpin yang benar dan berkualitas sejati.

4. Kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi global.

Di era globalisasi ini, banyak bermunculan lembaga-lembaga konsumsi yang menawarkan rayuan-rayuan kepada masyarakat untuk membelinya. Gaya hidup yang semakin hedonis membuat masyarakat juga semakin tergoda untuk mengkonsumsi dan mengadopsinya. Sementara pemerintah kelihatan tergopoh-gopoh untuk mengatasi dan menyelamatkan masyarakat.

Mengenai hal ini, masyarakat di era merdeka dan zaman modern ini perlu bijak dan pandai dalam menjalani kehidupan dalam persaingan global, agar tidak terseret arus dan hanyut tertelan samodera kesesatan.

Saudari dan saudaraku terkasih,

Melihat situasi bangsa yang memprihatinkan ini, tentu saja tidak perlu membuat kita patah semangat, melainkan marilah kita membangun harapan akan masa depan bangsa yang baik dengan memerdekakan dan membebaskan yang miskin. Kemiskinan dan akibat yang ditimbulkannya bukan batu yang menghalangi kita untuk melangkah menuju kemerdekaan yang sesungguhnya, melainkan suatu panggilan untuk membuat sesuatu dalam pelayanan yang terprogram di mana kita dipanggil dan diutus.

Bacaan-bacaan firman Tuhan pada Hari Raya Kemerdekaan, mengajak kita sebagai anak Tuhan dan anak dari negeri Indonesia ini untuk bertindak selalu dalam kebajikan.
1. Pemerintah diajak, agar bijak menjamin ketertiban dalam masyarakat (bdk. Sirakh 10:1-8).
2. Rakyat semuanya diajak, agar hidup sebagai orang-orang merdeka (bdk. 1Petrus 2:13-17), dan mengabdi satu sama lain dalam cinta kasih (ulangan Mazmur Tanggapan)
3. Semua pihak yang hidup di negeri ini diajak, agar melaksanakan tugas dan tanggungjawab panggilannya secara benar (bdk. Matius 22:15-21)

Jika pada zaman kita gejala sektarianisme dan radikalisme semakin meningkat, maka semua pihak harus menjaga dan mencintai seluruh isi negeri ini dengan segala kemajemukan dan keberagamannya dengan hidup bersaudara dengan damai serta saling mengembangkan cinta kasih.

Kondisi kemiskinan akibat globalisasi barangkali adalah landasan sosial yang menyebabkan radikalisme dan sektarianisme tumbuh secara cepat. Kesulitan hidup membuat masyarakat tidak lagi mampu berpikir objektif dan demokratis. Tak mengherankan jika sebab-sebab terancamnya kerukunan tentunya juga telah terbukti muncul dalam sejarah, ketika pertikaian dalam masyarakat tidak dapat diselesaikan.

Ketimpangan ekonomi sering memunculkan sentimen-sentimen rasial, keberagamaan, dan kesukuan. Dari sini jelas bahwa masing-masing komunitas kultural akan dapat hidup rukun, jika dalam hubungan materialnya, pengalaman-pengalaman interaksi konkretnya diwarnai dengan hubungan saling menghargai dan mengembangkan. Dalam arti ada kerja sama dalam memenuhi kebutuhan hidup dan bersama-sama mewujudkan kemasyarakatan yang lebih baik, sehingga kita tidak terjebak dalam kemerdekaan yang cenderung semu. Kemerdekaan sejati adalah kemerdekaan dari rasa takut sehingga kita dapat merasa bahwa Indonesia adalah milik kita bersama.

Kalau kembali kita mengikuti tirakatan, doa di taman makam pahlawan, upacara bendera dan kegiatan-kegiatan kenegaraan pada hari syukur ini, marilah kita hayati rasa cinta kita pada bangsa Indonesia, dan keberadaan kita sebagai pelaku sejarah saat ini. Marilah kita rawat anugerah Allah ini sehingga semakin membawa makna yang signifikan dan relevan pada zaman ini.

Umat Katolik Indonesia harus menjadi pelopor yang mencintai negeri ini, seluruh pulaunya agar tidak rusak dan memiskinkan masa depan anak-anak kita. Jiwa Pancasila perlu kita pertahankan agar kehidupan yang benar, adil dan damai sejahtera melingkupi bangsa ini. Dan ”Bhinneka Tunggal Ika” perlu diwujudnyatakan untuk mengembangkan persaudaraan dengan semangat saling mengasihi dan menghormati.

Kita dilahirkan di negeri ini.
Kita dihidupi di negeri ini.
Kita dibesarkan di negeri ini.
Mari kita cintai.
Mari kita rawat.
Mari kita jaga keutuhannya.
Mari kita lestarikan kekayaannya.
Mari kita kembangkan keindahannya.

Sekali merdeka, tetap merdeka. Salam, doa dan Berkah Dalem.

Semarang, 10 Agustus 2012

+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang


<<First <Back | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang