Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
CATATAN AWAL SEJARAH GEREJA ST IGNATIUS 
Saturday, August 14, 2010, 03:12 - Sejarah Posted by Administrator
ROMO VOOGEL SJ

Dalam sejarah misi Katolik di Jawa, sejak tahun 1865 tercatat dua orang anak bernama Yoseph dan Sanisa dipermandikan di Magelang. Namun jangan dibayangkan kalau permandian itu dilakukan di sebuah gereja yang megah seperti gereja Ignatius sekarang ini. Sebab, baru pada tahun 1890 tanah yang kemudian menjadi komplek gereja ini dibeli oleh Romo F.VOOGEL, SJ. Kebetulan di atas tanah itu sudah ada suatu bangunan yang untuk sementara dijadikan tempat peribadatan.

Pembangunan gerejanya sendiri baru tercatat dilakukan pada tanggal 31 Juli 1899. Setahun kemudian, pada 22 Agustus 1890, sudah dapat digunakan untuk mempersembahkan misa kudus. Sedangkan pemberkatan gedung secara meriah pada 30 September 1900, dalam misa konselebrasi yang dipimpin Romo Mgr.LUYPEN,SJ dari Batavia, denagn didampingi oleh Romo MUTZAER SJ dari Cirebon, Romo ASSELBERGS,SJ dari Jogya, Romo FISHER dan ROMO HEUVEL dari Magelang. Sedangkan Romo F. VOOGEL, SJ justru tidak bisa hadir, karena sakit dan harus kembali ke Belanda.

Selain itu juga hadir Residen Kedu, petinggi militer Belanda di antaranya Kolonel Van der DUSSEN, tokoh-tokoh masyarakat Cina, dan tokoh-tokoh pribumi lainnya. Sedemikian meriahnya untuk ukuran saat itu, sehingga pemberkatan itu memancing kekaguman masyarakat Magelang tidak terbatas pada umat Katholik saja.

Saat bersejarah terjadi pada 27 Juni 1913, ketika seorang anak Jawa bernama Soewini (14) dipermandikan dengan nama Margaretha. Kemudian menyusul Maria Moerjati, dan selanjutnya disusul lagi oleh 12 siswa HIS (kini SDK Pendowo). salah satunya bapak Sangkrip dari Juritan/ Wilayah Paulus. Bertambahnya masyarakat Jawa memeluk agama Katholik ini merupakan buah kerja keras para misionaris yang namanya pantas ditorehkan dengan tinta emas, di antaranya Romo VAN LITH, SJ dan Romo J. HOVENAARS, SJ.

Perkembangan yang menggembirakan itu memunculkan pemikiran untuk memperluas gereja. Pada tanggal 15 Agustus 1926, perluasan dimulai dengan menambah dua sayap di kanan kiri induk bangunan, masing-masing selebar 3,5 meter. Keluarga ORIE yang kala itu tinggal di Belanda, menyumbang permadani untuk memperindah tampilan gereja.

Mulai tahun 1933, setiap hari minggu seusai misa siang, ada khotbah dan pelajaran agama yang disampaikan dalam bahasa Jawa oleh para Katekis. Sebagian besar para Katekis itu adalah siswa - siswa Perguruan Muntilan, hasil didikan Romo VAN LITH, SJ.



BENTURAN-BENTURAN PADA MASA REVOLUSI FISIK.


Perang Asia Timur Raya yang disulut oleh Jepang berdampak pilu bagi kehidupan Gereja, khususnya di Magelang. Pastur-pastur berkebangsaan Belanda banyak yang ditangkap dan dijebloskan ke dalam kamp interniran. Penggunaan bahasa Belanda dilarang. Kehidupan gereja semakin dirundung sendu dengan meninggalnya Rama SONDAAL SJ.

Walaupun Jepang tidak lama berkuasa di Indonesia, dan Republik Indonesia yang merdeka pada 1945 diakui kedaulatannya, namun nasib baik belum berpihak kepada Gereja. Pada 30 Oktober 1945, tentara Gurkha datang dan menduduki gedung Susteran Fransiskan, dan digunakan sebagai markas mereka. Keesokkan harinya, 1 Nopember 1945, sebuah drama berdarah berbau fitnah menimpa seluruh keluarga Pasturan Magelang. Lima orang Romo, dua Frater, dua Bruder, dan seorang koster diculik oleh segerombolan orang yang memancing di air keruh. Sepuluh orang ini dibawa dan dibunuh di kuburan Giriloyo Magelang. Tiga tahun kemudian peristiwa pembunuhan kembali terjadi. Romo SANDJAJA, Pr , yang saat itu dipercaya menggembala umat di Magelang, bersama Romo H. BOUWENS, SJ. diculik dan dibunuh di desa Patosan, Sedan, Muntilan.


LANGKAH MENUJU HARI CERAH

Warna kehidupan umat Katolik dalam berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan masyarakat sekitar juga menunjukkan perkembangan yang baik. Khusus di Magelang, hal ini tak lepas dari upaya gigih Romo TH HARDJOWASITO, Pr. dan Romo VAN HEUSDEN, SJ, yang berhasil menjalin hubungan yang baik antara gereja dengan masyarakat. Saat itu masyarakat Kampung Kauman dan sekitarnya, tak seorang pun yang tidak mengenal kedua Romo ini. Mereka menganggap dan merasa Gereja Ignatius Magelang merupakan salah satu bagian kehidupan mereka.

Nuansa keterbukaan dan keakraban ini semakin mekar berkembang setelah era Konsili Vatikan II. Justru ketika suasana panas melanda kehidupan masyarakat Indonesia menjelang dan setelah peristiwa Pengkhianatan G-30-S/PKI meletus (1965), rasa persatuan umat Katolik dengan orang-orang Kampung Kauman semakin mengkristal. Dalam suasana kehidupan yang diwarnai saling curiga terhadap pihak-pihak yang tak sealiran, umat Islam dan Katolik, yang terwakili oleh Pemuda Kauman dan Angkatan Muda Katolik Magelang, lebih mengencangkan hubungan dengan baik. Demi menjaga keamanan, gedung AMKRI Magelang dijadikan "posko" bersama. Dalam suasana yang semakin kondusif, umat Katolik Magelang bersama hirarki mulai memikirkan sarana peribadatan agar semakin memadai, salah satunya adalah renovasi gedung Gereja. Pada tanggal 1 Agustus 1962, dimulailah renovasi gereja dengan perencana dan pelaksananya dari kota Semarang.

Gedung yang semula bergaya Gothik dirombak total menjadi gaya yang sama sekali baru. Beberapa dari bagian gedung lama masih difungsikan sampai sekarang, di antaranya : jendela-jendela mozaik, tangga melingkar untuk naik ke balkon, dan lonceng gereja. Dana pembangunan diperoleh dari Keuskupan Agung Semarang, dari para donatur dan partisipasi umat melalui kolekte, dan juga uang saku pribadi Romo VAN HEUSDEN, SJ. Pembangunan renovasi gereja selesai dalam waktu sekitar tiga tahun.


KEMBANG MEKAR DI TANGAN TUHAN

Renovasi gereja sejalan dengan munculnya keinginan dari banyak orang yang menyatakan diri ingin dibaptis. Menyikapi hal ini, diadakan kursus katekis untuk mempersiapkan guru-guru agama dan karya pewartaan lainnya. Demikian pula pelayanan dalam pendidikan formal dengan mendirikan SDK Prontakan ( kini sudah tidak ada lagi ), serta sekolah-sekolah yang dikelola oleh suster-suster Tarekat Santa Perawan Maria di Dekil Magelang Utara.

Upaya ini semakin menambah jumlah umat yang untuk sementara berkembang secara kuantitatif. Perlu pemikiran untuk lebih memberi warna kualitatif lewat penggembalaan yang lebih baik. Pemikiran ini membuahkan keputusan untuk memecah Paroki St. Ignatius menjadi dua wilayah besar. Ini terjadi pada 1 Oktober 1971, dimana umat di wilayah Kecamatan Magelang Utara mandiri sebagai paroki dengan nama Paroki Santa Maria Fatima. Romo A. MARTADIHARDJA, SJ, yang saat itu menjadi pastur Paroki St. Ignatius Magelang, sangat berperan dalam upaya pemekaran ini.

Kembang mekar selanjutnya juga terjadi di Paroki St. Ignatius sendiri, yang sampai dengan tahun 1983 dibagi menjadi tujuh wilayah penggembalaan : Magelang, Panjang, Rejowinangun, Tidar, Jurangombo, Kemirirejo, dan Cacaban. Semakin kecil dan sempitnya wilayah pastoral ini bukannya berarti juga memperkecil nyali dan mempersempit pola pandang umat dalam pengembangan iman. Justru semakin banyak umat yang tersapa lewat pelayanan dalam segala aspek. Demikian pula semakin banyak tumbuh benih-benih unggul yang sebetulnya berpotensi, namun belum sempat unjuk diri dalam partisipasi menggereja.

Upaya pemekaran ini semakin menyeruak seiring pemekaran wilayah pemerintahan dengan munculnya kelurahan-kelurahan baru. Kini Paroki St. Ignatius Magelang terbagi menjadi 13 wilayah penggembalaan. Penggembalaan semakin diefektifkan dengan membagi 13 Wilayah dalam 36 Lingkungan. Pembagian tersebut di luar stasi-stasi yang ada di lereng Gunung Sumbing, yang terdiri dari Dampit, Kajoran dan Kaliangkrik.



E. Yusuf Kusuma ( dari berbagai sumber )


KARISMATIK KATOLIK ST IGNATIUS MAGELANG 
Saturday, August 14, 2010, 03:10 - Profile Kelompok Kategorial Posted by Administrator
Kelompok Karismatik paroki St. Ignatius Magelang berdiri pada bulan Juli 1983 yang diprakarsai oleh almarhum bapak Ong Liang Siang dengan bimbingan romo Setiawan Gani, SJ. dan direstui oleh romo FX. Wiyono, Pr., yang saat itu sebagai romo paroki. Pertemuan – pertemuan dalam Kelompok Karismatik ini diadakan setiap hari Kamis minggu ke 2 dan ke 4 yang dimulai jam 16.00 dengan tempat berpindah – pindah. Dua bulan kemudian, tepatnya 12 September 1983 di paroki St. Ignatius Magelang mulai berdiri Persekutuan Doa Karismatik Katolik ( PDKK ) yang diprakarsai oleh almarhumah ibu Erna bersama teman – teman.

Awal tahun 1984 PDKK mulai diadakan di aula SMKK ( kini SMK ) Pius X Magelang pada setiap hari Senin sore dengan bimbingan Bruder Wiryo, SJ dan tim dari PD. Elisabeth Muntilan. Kemudian pada bulan Agustus 1984 berubah nama menjadi Persekutuan Doa Karismatik St. Agustinus yang dikoordinir oleh Almarhum bapak Ong Liang Siang.
Pada tanggal 13 Februari 1998 berdiri Persekutuan Doa Karismatik Katolik Santa Katarina yang diprakarsai oleh bapak Aedy Suyanto dan direstui oleh romo J. Sukardi,Pr yang ketika itu sebagai romo Paroki St. Ignatius Magelang. Kemudian pada awal tahun 2000, PD. Santa Katarina bergabung dengan PD. St. Ignatius.

Empat tahun kemudian PD. Ignatius dan PD. Agustinus mengadakan pertemuan bersama dan sepakat bergabung menjadi satu dengan nama PD. Agustinus dan Ignatius, dan pada kesempatan itu sekaligus dibentuk Badan Pelayanan Karismatik Katolik Paroki St. Ignatius Magelang.

Dengan bergabungnya dua PD Karismatik ini, maka sebagai Koordinator Badan Pelayanan Pembaharuan Karismatik Katolik Paroki St. Ignatius Magelang adalah bapak S. Pranawa Kasudarman dan koordinator Persekutuan Doa Karismatik Katolik Paroki St. Ignatius Magelang adalah bapak St. Aedy Suyanto.

PAGUYUBAN FKPPKM 
Saturday, August 14, 2010, 02:58 - Profile Kelompok Kategorial Posted by Administrator

Di Magelang ada suatu paguyuban yang bernama Forum Komunikasi Pengusaha dan Profesional Katolik Magelang, yang sering disingkat FKPPKM. Dalam buku Visi Misi Paroki St. Ignatius Magelang halaman 35-36, FKPPKM termasuk salah satu kelompok kategorial, meskipun beberapa anggotanya ada yang dari luar Paroki St. Ignatius Magelang.

Dilihat dari jumlah anggotanya, FKPPKM merupakan paguyuban yang relatif kecil. Namun demikian, paguyuban ini dapat berbuat yang cukup signifikan dalam memfasilitasi kelancaran warna-warni kegiatan umat/paguyuban di beberapa paroki di wilayah Kevikepan Kedu, khususnya Rayon Tengah, yakni Paroki St. Yusup Pekerja Mertoyudan, St. Mikael Panca Arga, St. Ignatius Magelang dan St. Maria Fatima Magelang.

Berikut adalah wawancara tertulis dengan beberapa pegiat FKPPKM, yakni Bapak C. Hino Chandra Seputra, L.B. Heri Listiono dan A. Handoyo. Diharapkan informasi sekilas tentang FKPPKM ini dapat menyuburkan semangat kebersamaan yang sinergis-mencerahkan-memberdayakan di antara kita semua dalam menjawab tantangan perubahan kehidupan gerejawi maupun kemasyarakatan.

Mohon bisa disampaikan secara singkat sejarah kelahiran FKPPKM, gagasan pokok yang melandasi kelahirannya dan dinamika berkeguyuban internal maupun eksternal serta kegiatan yang dilaksanakan.
FKPPKM terbentuk pada tanggal 27 April 1998 dengan restu Romo J. Sukardi, Pr Romo Kepala Paroki St. Ignatius Magelang dan diketuai oleh Bapak Y. Johny Pramoedito. Terbentuknya paguyuban FKPPKM berawal dari kerinduan para pengusaha, dokter, guru Katolik di Paroki St. Ignatius Magelang dan paroki di sekitarnya untuk melaksanakan pengembangan kehidupan rohani bersama sehingga dapat terbentuk religiositas yang menyemangati karya sehari-hari sebagai pengusaha dan profesional. Pada awalnya, kegiatan bersama tersebut berupa retret/rekoleksi di Malang dan berlanjut secara rutin dengan penyelenggaraan Kebangunan Rohani Katolik dengan nara sumber/ pembicara yang berasal dari beragam kota seperti Jakarta, Salatiga,Yogyakarta dan lain-lain. Menjawab kebutuhan peribadatan yang bersifat inkulturatif, FKPPKM menyelenggarakan Misa Syukur Tahun Baru Imlek, dan Misa Arwah untuk kedamaian para leluhur yang sudah dipanggil Tuhan. Semua kegiatan FKPPKM dibiayai terutama dari pengembangan Tabungan Cinta Kasih Anggota FKPPKM dan kedermawanan dari berbagai pihak.

FKPPKM banyak berbuat untuk kelompok Adiyuswa lintas paroki. Adakah program untuk membantu kaum muda kita (mungkin bersifat selektif) dalam upaya mereka membekali diri menjadi umat yang berkompetensi, tangguh dan berintegritas?
Dengan kelompok Adiyuswa dilaksanakan perayaan Natal bersama yang tempatnya bergiliran. Ini merupakan upaya untuk memberikan perhatian/ sentuhan kepada umat yang memerlukan perhatian khusus, berkaitan dengan keberadaan mereka yang perlu pendekatan psikologis yang tepat, sehingga mereka tetap termotivasi untuk memuliakan Tuhan dengan hati yang damai. Sedangkan untuk kaum muda, FKPPKM memfasilitasi terselenggaranya retret/pembekalan tematis yang dilaksanakan secara bergiliran di Paroki St. Ignatius, St. Maria Fatima dan St. Yusup Pekerja Mertoyudan. Untuk beberapa kali di waktu yang lalu dan juga ke depan, FKPPKM juga membiayai kaum muda yang mengikuti pembekalan/ rekoleksi/ retret di tempat lain berdasarkan rekomendasi pastor paroki/ Dewan Paroki .

Seturut dengan fokus pastoral Keuskupan dan Paroki St. Ignatius, mungkinkah FKPPKM juga menjelenggarakan kegiatan-kegiatan UNGGULAN , terlebih yang bisa menampilkan wajah sosial gereja?
FKPPKM ikut berperan aktif dalam upaya pemberdayaan kelompok kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel. Setiap tahun FKPPKM memberikan bantuan kepada Panti Asuhan/ Panti Wreda dan penderita cacat ganda. Dengan kegiatan ini diharapkan semua orang yang kurang beruntung mendapatkan sapaan yang menggugah mereka untuk dapat menjalani hidup dengan rasa syukur kepada Allah.

Kita merasakan kurangnya daya kritis dan sikap tanggap sebagian besar umat menghadapi tantangan perkembangan internal gerejawi dan eksternal kemasyarakatan. Belajar dari pengalaman sebagai pengusaha/ profesional, kiat-kiat apakah yang dapat dibagikan kepada umat agar mereka dapat menjadi pribadi-pribadi tangguh dan partisipan aktif dalam karya gerejawi dan sosial kemasyarakatan?
Yang pertama, kita harus senantiasa mensyukuri yang kita terima pada hari ini. Dengan melihat sekeliling, kita pasti punya alasan untuk bersyukur atas rahmat yang kita terima. Hendaknya kita selalu ingat sabda Allah pada Tes 5:18 yang berbunyi “Mengucap syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu”. Yang kedua, kita harus terus berupaya untuk dapat meraih kemajuan dan tidak mudah menyerah atas satu kegagalan. Kita meyakini bahwa keberhasilan dan kegagalan adalah dua sisi keping kehidupan. Dengan pertolonagn Allah disertai kerja keras kita akan dapat memperkecil kegagalan. (Bdk. Mat 6:34, Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari”)

Apakah FKPPKM mempunyai usulan kegiatan yang dapat mendorong pengembangan/perubahan sesuai MOTTO Paroki St. Ignatius BERUBAH UNTUK BERBUAH?
Perubahan/kemajuan perlu terus kita upayakan tanpa henti. FKPPKM senantiasa membuka diri untuk duduk bersama dengan semua pihak untuk merencanakan, melaksanakan , memonitor dan mengevaluasi program untuk memajukan Paroki. Pada dasarnya, harus menjadi kesadaran kita bersama bahwa dengan bertindak kita dapat mengadakan perubahan yang semakin memerdekakan-memberdayakan-mengarahkan kehidupan umat Allah dan setiap perubahan hendaknya menghasilkan buah yang berkenan pada Allah.
Akhirnya, perlu disampaikan bahwa FKPPKM merupakan paguyuban terbuka – inklusif – yang terbuka bagi siapapun. Label pengusaha dan profesional hendaknya dipahami sebagai siapapun juga yang melalui karyanya sebagai pengusaha/pebisnis/ profesional akan dengan segala ketulusan membantu dan melayani sesama serta mendorong terwujudnya kemajuan yang memberdayakan banyak orang.

LINGKUNGAN CAROLUS CACABAN BARAT 
Saturday, August 14, 2010, 02:56 - Profile Lingkungan Posted by Administrator
Lingkungan paling barat
Lingkungan Carolus Cacaban Barat merupakan lingkungan paling barat dari wilayah Carolus. Dengan jumlah umat 90 orang dalam 30 KK. Yang menikah Katolik ada 23 KK, 2 KK beda Gereja, dan 5 KK menikah beda agama. Dilingkungan ini terdapat 8 orang janda dan 5 orang duda. Berdasarkan profesi/ pekerjaan di lingkungan ini terdapat 11 orang pelajar, 3 orang mahasiswa, TNI/POLRI/PNS ada 4 orang, wiraswasta 32 orang, dan 36 orang lainnya tidak terdata. Keberadaan umat di lingkungan ini tentu saja perkembangannya juga karena adanya peran para pendahulu, seperti ; Bapak Wariso, Bapak Priharto, dan masih banyak lagi keluarga – keluarga lain.

Lingkungan guyub
Lingkungan ini termasuk lingkungan yang guyub. Dilihat dari keadaan ekonomi umat termasuk dalam golongan menengah ke bawah. Dengan realita tingkat perekonomian yang berimbang inilah maka kebersamaan dan keguyuban itu terasa sangat kuat. Hal yang menggembirakan, di lingkungan ini juga dirasakan dengan peran orang muda dalam berbagai kegiatan lingkungan.


<<First <Back | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang