Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
LINGKUNGAN CAROLUS KYAI MOJO 
Saturday, August 14, 2010, 02:53 - Profile Lingkungan Posted by Administrator
Jumlah umat di lingkungan Carolus Kyai Mojo saat ini ada 91 orang dalam 28 KK. Dari ke 28 KK itu terdapat 25 KK Katolik, 1 KK nikah beda Gereja, dan 2 KK yang nikah beda agama dan terdapat 11 janda. Melihat profesi/ pekerjaannya terdapat Pelajar 13 orang, TNI/POLRI/PNS ada 8 orang, dan pesiunan 7 orang. Sementara sisanya tidak terdapat keterangan.

Perkembangan umat dan pemekaran wilayah

Lingkungan Carolus Kyai Mojo merupakan pemekaran lingkungan dari wilayah Cacaban yang pada awalnya, seiring dengan kehadiran umat Katolik di Magelang telah dirintis oleh para tokoh umat saat itu. Masih terlintas dalam ingatan umat yang saat ini berada di lingkungan ini, nama – nama diantaranya ; Bapak Pudjo Mulyono, Bapak Sunarno dan tentu saja masih banyak lagi keluarga – keluarga lain yang mempunyai peran dalam pengembangan umat di lingkungan ini.

Dinamis namun belum merata terlibat
Berbagai kegiatan di lingkungan ini berjalan dengan baik, seperti pendalaman iman, doa lingkungan dan ibadat sabda, meskipun pelaksanaannya masih belum bisa merata di keluarga – keluarga, dikarenakan masih banyak yang belum bersedia ketempatan. Regenerasi kepengurusan lingkungan juga cukup dinamis, saat ini orang – orang muda telah berperan dalam kepengurusan.

Di beberapa keluarga Katolik sesekali masih ada sedikit ‘singgungan’ dengan umat beragama lain, namun masih dalam batas yang bisa diselesaikan dengan selalu berbuat baik kepada mereka yang berbeda agama.


SYUKUR 110 TAHUN 
Friday, August 6, 2010, 18:52 - BERITA Posted by Administrator

ORANG MUDA KATOLIK TAWURAN? 
Wednesday, August 4, 2010, 03:56 - Inspirasi Posted by Administrator

foto by yswitopr

Berbagai kelompok yang terdiri dari orang-orang muda itu memadati alun-alun. Sebuah panggung berukuran 6 x 8 meter menjadi pusat perhatian. Dari panggung inilah terdengar alunan musik yang bisa membuat kepala bergoyang mengikuti iramanya. Seperti biasa, dalam sebulan selalu ada pentas musik di alun-alun. Malam Minggu selalu menjadi pilihan.

Tiba-tiba, kerumunan orang-orang muda itu membentuk lingkaran. Jika sudah seperti ini, pasti ada tawuran. Seorang polisi dengan sigap melompat dari pagar pengaman untuk mengamankan mereka yang sedang tawuran. Dari atas panggung segera terdengar suara: “Ndeso.. ndeso.. ndeso...” Suara ini segera diikuti koor dari massa yang memadati alun-alun. Teriakan ini hendak menunjukkan bahwa mereka yang tawuran berasal dari desa dan bemental orang desa, meskipun mereka sendiri tinggal di kota. Apakah orang desa identik dengan tawuran? Suatu topik yang bisa diperdebatkan.

Tawuran selalu ada ketika ada kerumunan orang-orang muda. Penyebabnya sendiri sepele: gesekan ketika sedang bergoyang, saling mengejek, atau persoalan terpendam antar kelompok. Rupanya, kelabilan orang muda dan pencarian jati diri dalam berkelompok sering memicu terjadinya tawuran. Masih ditambah lagi, ada unsur pengaruh minuman keras. Pengaruh minuman keras menjadikan mereka tidak bisa mengontrol diri. Jangankan terjadi gesekan fisik ketika sedang bergoyang, dilihat saja bisa memicu terjadinya tawuran.
Dalam konteks yang lebih luas, gesekan ini bisa dimaknai sebagai perbedaan kepentingan yang saling berbenturan. Yang satu ngotot mempertahankan pandangannya. Demikian juga pihak yang satunya. Karena sama-sama ngotot, jadilah tawuran. Hal ini bisa dilihat dan diamati dari tingkah polah para politikus di gedung rakyat. Atas nama rakyat (rakyat yang mana?) mereka saling serang, saling ejek, bahkan tak ada rasa malu saling beradu fisik. Rasanya, demi kepentingan yang terselubunglah semua itu dilakukan.

Nah, pertanyaannya mengapa?

“Ini lho aku atau kelompokku!” Ungkapan ini bisa menjadi alasan mengapa tawuran sering terjadi. Dengan ungkapan ini, orang hendak menunjukkan siapa dirinya atau kelompoknya. Maka tidak mengherankan jika solidaritas sebagai kelompok demikian besar. Ketika salah satu anggota kelompok diganggu, tanpa mempertimbangkan siapa salah siapa benar, anggota yang lain akan segera membantu. Eksistensi diri merupakan harga diri yang harus diraih dan dipertahankan. Ketika bisa mengalahkan orang lain atau kelompok lain, maka harga diri akan naik. Ia atau kelompoknya akan disegani. Kalau sudah begitu, lalu ia atau mereka akan menjadi penguasa-penguasa kecil yang tak tersentuh.

Haruskah begitu? Tentu jawabannya bisa macam-macam. Tergantung dari kita atau mereka sendiri yang memaknai. Kalau yang ditanya mereka, pasti mereka akan menjawab iya. Kalau yang ditanya saya, saya akan menunjuk pada sekelompok anak kecil yang sedang bermain. Ada tawa. Ada kebersamaan. Ada rasa persaudaraan. Semua itu bercampur menjadi satu dan tercipta sebentuk kebahagiaan yang menenteramkan. Meski pun di sana ada perbedaan, tapi itu tidak membuat mereka terkotak-kotak. Meski di sana ada ketidakcocokan, namun itu justru menjadi bahan untuk merekatkan persaudaraan. Meski pun di sana ada saling ejek, tapi itu justru membuat mereka tertawa lepas. Perbedaan itu perlu dan harus. Tapi perbedaan bukan alat untuk melegitimasi kekerasan demi mempertahankan kepentingan atau untuk meraih satu kata yang sama. Keindahan akan tercipta ketika perbedaan-perbedaan yang ada saling bertemu dan berinteraksi. Bergandengan tangan terasa indah dari pada saling mengepalkan jari tangan. Dalam bergandengan tangan, tertangkap rasa persaudaraan yang mendalam. Sebuah cita-cita yang patut diperjuangkan.


foto by yswitopr

Sampai kapankah teriakan, “nDeso... nDeso...!” akan terus terdengar?

Salam

ABORSI: HAK WANITA? 
Wednesday, August 4, 2010, 03:46 - Inspirasi Posted by Administrator
Ada banyak alasan yang muncul ketika melakukan aborsi. Ada yang beralasan karena tidak siap menjadi orang tua. Ada yang beralasan karena himpitan ekonomi. Ada yang beralasan karena kelahiran itu tidak dikehendaki. Terasa aneh di kuping saya. Aneh karena sebuah perbuatan pasti ada akibatnya. Kalau bermain api, ada kemungkinan terbakar. Kalau melakukan hubungan seksual, ada kemungkinan terjadi kehamilan. Kalau tidak mau hamil, ya jangan melakukan hubungan seksual. Gampang ya? Tapi nyatanya tidak segampang dikatakan. Lepas dari berbagai alasan yang diberikan. Aborsi adalah tindakan salah. Aborsi adalah kejahatan paling kejam karena dilakukan pada makhluk Tuhan paling tidak berdaya. Janin yang tidak bisa membela diri dikurbankan demi kepentingan ibu dan bapaknya.

Bagi para pembela ibu, mereka akan mengatakan bahwa tindakan aborsi itu sebuah pilihan. Ibu memilih untuk menggugurkan kandungannya. Jadi tidak ada yang keliru dari tindakan itu. Okelah jika begitu. Tetapi tindakan demi ibu ini hanya dibenarkan jika pengguguran hanya menjadi akibat. Atau dengan kata lain, aborsi hanya menjadi efek, bukan tujuan. Misalnya: seorang ibu yang sedang mengandung ternyata mengidap sakit kanker rahim. Demi keselamatan ibu, rahimnya diangkat. Maka secara otomatis terjadilah pengguguran. Tindakan ini masih dibenarkan karena pengguguran terjadi karena efek saja. Jika kemudian menjadi tujuan, apalagi dengan dalih demi ibu, kita pun boleh bertanya balik: apakah janin tidak punya hak untuk hidup?

Ini adalah proses yang sering terjadi dalam proses aborsi:
Pada kehamilan muda (dibawah 1 bulan):
Pada kehamilan muda, di mana usia janin masih sangat kecil, aborsi dilakukan dengan cara menggunakan alat penghisap (suction). Janin yang masih sangat lembut langsung terhisap dan hancur berantakan. Saat dikeluarkan, dapat dilihat cairan merah berupa gumpalan-gumpalan darah dari janin yang baru dibunuh tersebut. Janin yang tidak punya daya disedot begitu saja... Miris rasanya..

Pada kehamilan lebih lanjut (1-3 bulan):
Pada tahap ini, di mana janin baru berusia sekitar beberapa minggu, bagian-bagian tubuhnya mulai terbentuk. Aborsi dilakukan dengan cara menusuk anak tersebut kemudian bagian-bagian tubuhnya dipotong-potong dengan menggunakan semacam tang khusus untuk aborsi (cunam abortus). Anak dalam kandungan itu diraih dengan menggunakan tang tersebut dengan cara menusuk bagian manapun yang bisa tercapai. Bisa lambung, pinggang, bahu atau leher. Kemudian setelah
ditusuk, dihancurkan bagian-bagian tubuhnya. Tulang-tulangnya di remukkan dan seluruh bagian tubuhnya disobek-sobek menjadi bagian kecil-kecil agar mudah dikeluarkan dari kandungan. Aku pernah melihat sebuah video tentang aborsi pada sekitar usia ini. Tapak jelas bahwa janin berusa menolak. Ada gerak-gerak reaktif dari janin untuk menghindar dari alat yang ingin merobek-robek tubuhnya.

Aborsi pada kehamilan lanjutan (3 sampai 6 bulan):
Pada tahap ini, bayi sudah semakin besar dan bagian-bagian tubuhnya sudah terlihat jelas. Jantungnya sudah berdetak, tangannya sudah bisa menggenggam. Tubuhnya sudah bisa merasakan sakit, karena jaringan syarafnya sudah terbentuk dengan baik. Aborsi dilakukan dengan terlebih dahulu membunuh bayi ini sebelum dikeluarkan. Pertama, diberikan suntikan maut (saline) yang langsung dimasukkan kedalam ketuban bayi. Cairan ini akan membakar kulit bayi tersebut secara perlahan-lahan, menyesakkan pernafasannya dan akhirnya setelah menderita selama berjam-jam sampai satu hari bayi itu akhirnya meninggal. Selama proses ini dilakukan, bayi akan berontak, mencoba berteriak dan jantungnya berdetak keras. Teriakan ketidakberdayaan yang tidak ada seorang pun yang akan mendengarnya.

Aborsi pada kehamilan besar (6 sampai 9 bulan):
Pada tahap ini, bayi sudah sangat jelas terbentuk. Wajahnya sudah kelihatan, termasuk mata, hidung, bibir dan telinganya yang mungil. Jari-jarinya juga sudah menjadi lebih jelas dan otaknya sudah berfungsi baik. Untuk kasus seperti ini, proses aborsi dilakukan dengan cara mengeluarkan bayi tersebut hidup-hidup, kemudian dibunuh. Cara membunuhnya mudah saja, biasanya langsung dilemparkan ke tempat sampah, ditenggelamkan ke dalam air atau dipukul kepalanya hingga pecah. Sehingga tangisannya berhenti dan pekerjaan aborsi itu selesai. Selesai dengan tuntas. Hanya saja darah bayi itu yang akan mengingatkan orang-orang yang terlibat didalam aborsi ini bahwa pembunuhan keji telah terjadi.

Semua proses ini seringkali tidak disadari oleh para wanita calon ibu yang melakukan aborsi. Mereka merasa bahwa aborsi itu cepat dan tidak sakit. Mereka tidak sadar karena dibawah pengaruh obat bius. Mereka bisa segera pulang tidak lama setelah aborsi dilakukan. Itu jika aborsi berhasil dengan baik. Bagaimana jika ternyata aborsi tidak berjalan seperti yan gmereka inginkan. Akan lahirlah anak-anak yang cacat. Apakah ini tidak akan menambah penderitaan bagi anak tersebut?

Aborsi bukan hak wanita. Memang ada banyak diskusi mengenai kapan ada kehidupan pada janin. Dan ini yang sering memicu konflik mengenai boleh tidaknya tindakan aborsi. Menurut saya, setiap pertemuan sel telur dan zigot memiliki potensi untuk terjadinya kehidupan. Dan dari situlah awal kehidupan dimulai. Mereka ini juga punya hak untuk hidup. Jadi bukan haya wanita yang memiliki hak atas tubuhnya. Janin pun memiliki hak untuk hidup.


<<First <Back | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang