Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
FESTIVAL BAND PELAJAR 2010 
Wednesday, August 4, 2010, 03:27 - BERITA Posted by Administrator
Kaum Muda tak mau ketinggalan. Digelarlah Festival Band Pelajar 2010 untuk menyemarakkan ulang tahun Gereja ke 110.









KENDURI 110 ORANG DALAM RANGKA HUT GEREJA IGNATIUS KE 110 
Saturday, July 31, 2010, 05:11 - BERITA Posted by Administrator

Romo Krisno sedang memberikan sambutan dan pengantar dalam Kenduri peringatan 110 tahun Gereja Ignatiusa tahun 2010


Kenduri adalah sebuah tradisi yang sudah berjalan sekian puluh tahun, mungkin malah sudah ratusan tahun. Tradisi ini masih banyak berlangsung terutama di desa-desa. Hakekatnya sama, hanya istilahnya saja yang mungkin berbeda. Pada intinya kenduri merupakan mekanisme sosial untuk merawat dan menjga kebersamaan sehingga cita-cita yang sejak semua dibuat diteguhkan kembali. Kenduri juga menjadi alat kontrol sosial untuk menjaga gerak dan arah dari cita-cita yang telah diperjuangkan bersama itu. Dalam kerangka mekanisme sosial itulah, kenduri menampung dan mepresentasikan banyak kepentingan. Dari sekian banyak kepentingan itu, semua dilebur menjadi satu tujuan. Kenduri mampu mempersatukan, bahkan semakin mempererat kesatuan itu. Bukan hanya kesatuan kepentingan, kesatuan cita-cita, namun juga kesatuan masing-masing individu yang terlibat didalamnya. Dalam kenduri akan terlihat jelas bagaimana kebersamaan dan keutuhan tercipta: suasana penuh kerukunan, sendau gurau antar sesama, bagi-bagi berkat dari nasi tumpeng yang baru didoakan, atau ketika bersalam-salaman dengan tulus.


sebagian masyarakt yang mengikuti kenduri


Kenduri adalah sebuah tradisi berkumpul yang dilakukan secara bersama-sama oleh beberapa orang, biasanya laki-laki, dengan tujuan meminta kelancaran atas segala sesuatu yang dihajatkan dari sang penyelenggara yang mengundang orang-orang sekitar untuk datang genduren. Bisa berujud selamatan syukuran, bisa juga bisa berujud selamatan peringatan, atau anek intensi lainnya. Dalam kenduri itu dipanjatkan aneka doa. Siapakah yang bisa memanjatkan doa? Biasanya ada satu orang yang dituakan berfungsi sebagai pemimpin do’a sekaligus yang mengikrarkan hajat dari sang tuan rumah. Seorang pemimpin itu biasa juga disebut sebagai Ro’is, Modin, atau Kaum. Pemimpin ini bisa diundang sendiri karena orang itu memang sudah biasa menjalankan peran dan fungsi sebagai pemimpin doa dalam kenduri. Tetapi jika tidak ada, kenduri bisa juga dipimpin oleh orang yang dianggap tua dan mampu untuk memimpin kenduri tersebut.

Persoalan akan muncul ketika kenduri yang berangkat dari sebuah tradisi dibenturkan dengan penghayatan agama. Bukan soal apakah menurut agama, kenduri itu boleh atau tidak. Bagaimana jika seorang pemeluk agama yang satu mengundang pemeluk agama yang lain? Apakah itu boleh atau tidak? Apakah ketika mau datang ke acara kenduri itu, yang beragama lain itu berdosa? Ada sekian banyak pertanyaan. Dan pertanyaan-pertanyaan inilah yang menghantui Panitia Syukur HUT Gereja Ignatius Magelang ke-110. Sebagai bentuk syukur dan sekaligus permohonan, panitia merencanakan mengundang masyarakat sekitar untuk datang kendurenan. Ketika gagasan mengadakan kenduri sudah digulirkan. Ada banyak tanggapan yang muncul, baik itu tanggapan mendukung maupun tanggapan bertanya. “Orang Katolik kok pakai acara kenduri tho?” Pertanyaan seperti ini bisa menjadi benang merah dari persoalan yang bisa didiskusikan panjang lebar. Setidaknya semakin meneguhkan bahwa sebuah tradisi budaya telah dibawa dalam sebuah kerangka penghayatan agama.


Masyarakat yang antusias memenuhi undangan memaksa Panitia bekerja ekstra untuk mempersiapkan tambahan kursi


Ada banyak alasan dan pendapat yang bisa diberikan. Masing-masing tentu dengan sudut pandangnya sendiri-sendiri. Oleh karena itu, masing-masing pendapat itu tentu benar. Persoalan itu tidak akan membesar ketika masing-masing dengan legawa menempatkan kenduri dalam kerangka sebuah tradisi budaya masyarakat Jawa. Sebuah tradisi budaya adalah sebuah tradisi yang melintasi agama. Dalam budaya, semua dilebur menjadi satu bagian sebagai human yang berinteraksi dengan yang lain. Kenduri adalah sebuah permintaan doa. Siapa pun dia, apa pun agamanya meminta doa dari orang lain. Tidak tepat benar, tetapi bisa dipertimbangkan, kita juga sering meminta didoakan sahabat kita tanpa melihat dia agamanya apa. Kita juga tidak memaksa oran gitu untuk mendoakan kita menurut keyakinan kita. Dengan keyakinannya sendiri, orang itu dengan tulus akan mendoakan permintaan kita. Rasanya, hakekat kenduri juga demikian adanya. Seseorang mengundang orang lain untuk mendoakan hajatnya. Tentu bukan menurut orang yang mengundang, melainkan menurut apa yang diyakini oleh orang-orang yang diundang.

Selain itu, kesadaran sebagai bagian dari masyarakat juga menjadi alasan utama diadakannya acara kenduri untuk memperingati HUT Gereja Ignatius. Gereja adalah bagian dari masyarakat, bukan di luar masyarakat. Kesadaran sebagai anggota masyarakat ini membawa konsekuensi bagi Gereja untuk juga mengikuti gerak dinamika yang terjadi dalam masyarakat. Ketika dalam kehidupan bermasyarakat ada kenduri, maka Gereja pun ikut menggunakan media kenduri itu untuk menjalin rasa persaudaran sebagai satu keluarga, yaitu masyarakat. Dengan mengadakan, tepatnya mengundang, kenduri maka Gereja menjalankan peran dan fungsinya sebagai bagian dari masyarakat. Gereja ingin mempererat rasa persaudaraan sehingga tidak ada sapa sira sapa ingsun (siapa aku siapa kamu), tetapi masing-masing berdiri sejajar dalam suasana kebersamaan. Dan persaudaraan itu tidak pernah memandang kamu dari mana atau kamu agamanya apa. Namun dalam persaudaraan sejati, semua ditempatkan pada posisinya, yaitu sebagai manusia.

Refleksi atas Kenduri dalam rangka HUT Gereja Ignatius ke 110 tahun yang diadakan pada tanggai 30 Juli 2010.
PEMBUKAAN BAZAAR 2010 
Saturday, July 31, 2010, 04:24 - BERITA Posted by Administrator
Ada banyak kisah.. ada banyak cerita.

Beberapa Panita sedang sibuk mempersiapkan pembukaan

hmmm... demi lancarnya pameran bazaar, selalu kontak-kontakan. HT selalu onfire, selain media SMS atau langsung telpon

Tarian Gambyong ikut memeriahkan pembukaan bazaar

Romo Krisno memotong pita dan 110 balon pun terbanglah..

Salah satu murid SMP Tarakanita

Drum band SMP Tarakanita yang ikut memeriahkan pembukaan bazaar

Romo Krisno dan rombongan meninjau stand-stand bazaar

lagi-lagi butuh koordinasi

suasana bazaar di halaman pasturan


BEDAH RUMAH dalam HUT GEREJA IGNATIUS KE 110  
Friday, July 23, 2010, 07:28 - BERITA Posted by Administrator
Penderitaan adalah obyek. Mungkin Anda tidak setuju dengan kalimat pertama saya ini. Tetapi kalau kita mau jujur, itulah realita yang ada. Betapa berhadapan dengan penderitaan (tentu dalam konteks yang luas) masyarakat kita menjadi termehek-mehek, mudah terharu lalu menitikkan air mata, dan kemudian (syukur) bersimpati. Karena karakter inilah, penderitaan lalu dijadikan sebagai obyek untuk meraih simpati. Penderitaan dijadikan obyek untuk mencapai sebuah tujuan tertentu. Lihatlah banyak reality show yang banyak menggunakan penderitaan sebagai bahan dasarnya. Bahkan reality show politik pun sering menggunakan jargon “dizolimi”, “korban”, dll. Apakah penderitaan harus menjadi obyek?


Rumah pertama yang dibedah tampak dari belakang.
photo by yswitopr


Dalam penderitaan, orang berada dalam ambang batas: kesadaran antara berdaya dan tak berdaya, antara keinginan untuk bangkit dan realitas ketidakmampuan. Tentu setiap orang tidak menginginkan penderitaan. Namun penderitaan bisa datang kapan dan dimanapun tanpa bisa dicegah. Menghadapi penderitaan tentu setiap orang ingin terlepas dari situasi yang tidak mengenakkan itu. Keinginan ini bisa muncul sebagai akibat dari penolakan dirinya atau karena motivasi yang lebih dalam. Ada kalanya, orang mampu keluar dari krisis penderitaan itu. Namun sering kali, karena keterbatasannya, orang sungguh tidak berdaya. Dalam ketidakmampuannya, ia tidak mampu lagi berbuat apa-apa untuk keluar dari penderitaan itu. Apakah situasi ini lalu membuat kita menyerah kalah?



Seperti Mbah Tukirah. Wanita berumur sekitar 70an tahun. Di masa tuanya, ia tinggal bersama kedua cucunya. Sepetak rumah di pojokan gang senggol menjadi teman setia mbah Tukirah. Bentuk rumahnya sama dengan bentuk rumah anggota masyarakat yang lain. Perbedaan baru terasa ketika kita masuk dan mengamati lebih detail kondisi rumah itu. Gentingnya tak lagi rapat. Ketika hujan datang, tak ada lagi tempat kering yang tersisa. Semua basah karena genting yang berlubang. Tembok rumah yang tambal sulam itu pun tak lagi merekat kuat. Rasanya seperti tinggal menunggu waktu untuk rubuh. Situasi ekonomi menjadikan mbah Tukirah tak kuasa merenovasi rumahnya sehingga menjadi tempat tinggal yang layak dan nyaman untuk dihuni.





Penderitaan menjadikan mbah Tukirah menjadi takberdaya dan tak kuasa untuk melawannya. Ketidakberdayaan mbah Tukirah inilah yang mengetuk hati banyak orang. Bukan karena ingin menjadikan penderitaan beliau sebagai obyek. Namun, justru ingin mengangkat mbah Tukirah dari penderitaannya menjadi berdaya. Bukan sekedar prihatin dan terharu setelah melihat penderitaan yang dialami mbah Tukirah, tetapi lebih dari itu. Banyak orang tergerakkan hatinya untuk mengangkat Mbah Tukirah dari ketidakberdayaannya. Kepedulian ini bukan pertama-tama merupakan simpati sesaat karena melihat penderitaan orang lain, melainkan sebuah cita-cita dan gerakan bersama: ikut serta terlibat dengan membedah rumah mbah Tukirah. Kepedulian ini muncul sebagai bentuk syukur dan keinginan untuk berbagi berkah dari Sang Khalik.



Untuk mengangkat sebuah ketidakberdayaan menjadi berdaya dibutuhkan gerakan bersama-sama. Cita-cita bersama yang didukung dan dikembangkan secara bersama-sama. Melalui gerakan bersama, akhirnya banyak orang yang mau terlibat untuk membantu membedah rumah Mbah Tukirah. Prinsip dasar dari gerakan ini adalah bukan aku punya apa, melainkan aku bisa menjadi siapa bagi orang lain. Dengan prinsip bisa menjadi siapa bagi orang lain, dimulailah sebuah gerakan berbagi berkat. Ketika seseorang tidak memiliki materi yang cukup namun memiliki waktu dan tenaga, ia menyumbangkan waktu dan tenaganya untuk ikut terlibat. Yang lain ikut menyumbang minum dan makanan untuk orang-orang yang sedang bekerja. Dari bantuan yang kecil itulah akhirnya terkumpul sebuah berkah yang memberdayakan. Gotong royong menjadi rangkuman dari gerakan ini.

“Matur nuwun nggih, Pak!” sepenggal kata keluar dari mulut mbah Tukirah yang bergetar. Ucapan terima kasih yang tulus. Sorot matanya mengisyaratkan kebahagiaan. Rupanya, ketidakberdayaan mbah Tukirah telah mulai terkikis dan tergantikan pengharapan. Menjadi nyata, bahwa penderitaan bukan sesuatu yang harus diratapi dan ditangisi. Dalam penderitaan yang membawa orang pada situasi ketidakberdayaan masih terdapat sebuah pengharapan. Pengharapan ini bisa muncul dari diri sendiri, maupun karena dorongan dan bantuan dari sesama. Ketika solidaritas berada pada jalurnya yang benar, maka pengharapan menjadi semakin nyata dan ada. Solidaritas tidak pernah menempatkan penderitaan sebagai obyek. Ketika penderitaan hanya ditempatkan sebagai obyek maka mentalitas yang muncul adalah hangat-hangat tai ayam. Tak bergema dan sifatnya demikian aksidental. Namun jika solidaraitas merupakan gerakan dari dalam diri dan dikembangkan secara bersama-sama, maka solidaritas akan menjadi sebuah way of life. Prinsip dasar solidaritas adalah jika kau luka, aku kan merasa luka, sementara ketika aku terluka, apakah kau juga merasa terluka?

Yang kita buat mungkin tidak seberapa besar, namun bisa berbuah besar. Yang kita lakukan mungkin sederhana dan biasa, tetapi hasilnya bisa luar biasa. Semuanya itu tergantung pada roh yang mendasari apa yang kita buat.



Sekilas refleksi dari aksi bedah rumah dalam rangka memperingati 110 tahun Gereja Ignatius. Ada 2 rumah umat yang dibedah. Tahap pertama: 18-25 Juli 2010. Tahap kedua: 25-31 Juli 2010. Dengan aksi bedah rumah ini, panitia ingin mengajak umat untuk mengembangkan gerakan bersyukur dan berbagi berkat. Moga-moga, aksi ini dapat menandai syukur umat dan sungguh-sungguh menjadi berkat untuk umat.

berikut foto-foto bedah rumah edisi 2:





<<First <Back | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang