Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
LINGKUNGAN CAROLUS CACABAN TIMUR 
Saturday, August 14, 2010, 02:55 - Profile Lingkungan Posted by Administrator
Lingkungan Carolus Cacaban ini berdiri sejak tahun 1987. Jumlah umat di Lingkungan ini sebanyak 58 orang dengan jumlah KK yang dimiliki sebanyak 21 KK. Dari jumlah KK yang dimiliki itu, terdapat 8 orang janda dan 2 orang duda. Berdasarkan usia umat mayoritas usia dewasa. Berdasarkan profesi atau pekerjaan, data umat di lingkungan ini cukup beragam ; guru, wiraswasta, dan pegawai baik negeri maupun swasta,

Bagian dari wilayah Cacaban
Lingkungan Carolus Cacaban Timur pada awal sejarahnya memang tidak bisa lepas dari wilayah Cacaban secara keseluruhan. Ada nama – nama yang meskipun tidak secara langsung sangat berpengaruh terhadap perkembangan umat di lingkungan ini, seperti ; Bapak J.Sujari, Bapak Prapto, Bapak Bernard Sumarto, Bapak Yuwono, Bapak Bambang Sutejo, Bapak Suwito, Bapak Suwarto, Bapak Subandi dan tentu saja masih banyak tokoh yang kemudian tidak lagi tercatat dalam benak umat saat ini, karena sebagian besar putra – putrinya tidak lagi berada di Magelang.

Menurut data, lingkungan saat ini dipimpin oleh Bapak Ign. Teguh Hartono yang dibantu oleh sekretaris Ibu Martina Suprapti dan bendahara Ibu Seravica Martini. Disamping seksi – seksi yang membantu jalannya kegiatan pelayanan di lingkungan.

Kegiatan rutin Gereja dan lingkungan

Kegiatan – kegiatan di lingkungan ini memang berjalan cukup baik, terutama yang lebih bersifat rutin ; sembahyangan, doa Rosario, meskipun dalam hal regenerasi kepengurusan berjalan kurang baik. Umat Katolik di lingkungan ini memiliki hubungan sangat baik dengan masyarakat setempat, terlebih dalam kegiatan untuk kepentingan bersama; dalam kepengurusan RT, RW. Juga dalam kegiatan – kegiatan lain seperti kerja bakti, kumpulan ibu – ibu Darwis dsb.

LINGKUNGAN CAROLUS KYAI MOJO 
Saturday, August 14, 2010, 02:53 - Profile Lingkungan Posted by Administrator
Jumlah umat di lingkungan Carolus Kyai Mojo saat ini ada 91 orang dalam 28 KK. Dari ke 28 KK itu terdapat 25 KK Katolik, 1 KK nikah beda Gereja, dan 2 KK yang nikah beda agama dan terdapat 11 janda. Melihat profesi/ pekerjaannya terdapat Pelajar 13 orang, TNI/POLRI/PNS ada 8 orang, dan pesiunan 7 orang. Sementara sisanya tidak terdapat keterangan.

Perkembangan umat dan pemekaran wilayah

Lingkungan Carolus Kyai Mojo merupakan pemekaran lingkungan dari wilayah Cacaban yang pada awalnya, seiring dengan kehadiran umat Katolik di Magelang telah dirintis oleh para tokoh umat saat itu. Masih terlintas dalam ingatan umat yang saat ini berada di lingkungan ini, nama – nama diantaranya ; Bapak Pudjo Mulyono, Bapak Sunarno dan tentu saja masih banyak lagi keluarga – keluarga lain yang mempunyai peran dalam pengembangan umat di lingkungan ini.

Dinamis namun belum merata terlibat
Berbagai kegiatan di lingkungan ini berjalan dengan baik, seperti pendalaman iman, doa lingkungan dan ibadat sabda, meskipun pelaksanaannya masih belum bisa merata di keluarga – keluarga, dikarenakan masih banyak yang belum bersedia ketempatan. Regenerasi kepengurusan lingkungan juga cukup dinamis, saat ini orang – orang muda telah berperan dalam kepengurusan.

Di beberapa keluarga Katolik sesekali masih ada sedikit ‘singgungan’ dengan umat beragama lain, namun masih dalam batas yang bisa diselesaikan dengan selalu berbuat baik kepada mereka yang berbeda agama.


SYUKUR 110 TAHUN 
Friday, August 6, 2010, 18:52 - BERITA Posted by Administrator

ORANG MUDA KATOLIK TAWURAN? 
Wednesday, August 4, 2010, 03:56 - Inspirasi Posted by Administrator

foto by yswitopr

Berbagai kelompok yang terdiri dari orang-orang muda itu memadati alun-alun. Sebuah panggung berukuran 6 x 8 meter menjadi pusat perhatian. Dari panggung inilah terdengar alunan musik yang bisa membuat kepala bergoyang mengikuti iramanya. Seperti biasa, dalam sebulan selalu ada pentas musik di alun-alun. Malam Minggu selalu menjadi pilihan.

Tiba-tiba, kerumunan orang-orang muda itu membentuk lingkaran. Jika sudah seperti ini, pasti ada tawuran. Seorang polisi dengan sigap melompat dari pagar pengaman untuk mengamankan mereka yang sedang tawuran. Dari atas panggung segera terdengar suara: “Ndeso.. ndeso.. ndeso...” Suara ini segera diikuti koor dari massa yang memadati alun-alun. Teriakan ini hendak menunjukkan bahwa mereka yang tawuran berasal dari desa dan bemental orang desa, meskipun mereka sendiri tinggal di kota. Apakah orang desa identik dengan tawuran? Suatu topik yang bisa diperdebatkan.

Tawuran selalu ada ketika ada kerumunan orang-orang muda. Penyebabnya sendiri sepele: gesekan ketika sedang bergoyang, saling mengejek, atau persoalan terpendam antar kelompok. Rupanya, kelabilan orang muda dan pencarian jati diri dalam berkelompok sering memicu terjadinya tawuran. Masih ditambah lagi, ada unsur pengaruh minuman keras. Pengaruh minuman keras menjadikan mereka tidak bisa mengontrol diri. Jangankan terjadi gesekan fisik ketika sedang bergoyang, dilihat saja bisa memicu terjadinya tawuran.
Dalam konteks yang lebih luas, gesekan ini bisa dimaknai sebagai perbedaan kepentingan yang saling berbenturan. Yang satu ngotot mempertahankan pandangannya. Demikian juga pihak yang satunya. Karena sama-sama ngotot, jadilah tawuran. Hal ini bisa dilihat dan diamati dari tingkah polah para politikus di gedung rakyat. Atas nama rakyat (rakyat yang mana?) mereka saling serang, saling ejek, bahkan tak ada rasa malu saling beradu fisik. Rasanya, demi kepentingan yang terselubunglah semua itu dilakukan.

Nah, pertanyaannya mengapa?

“Ini lho aku atau kelompokku!” Ungkapan ini bisa menjadi alasan mengapa tawuran sering terjadi. Dengan ungkapan ini, orang hendak menunjukkan siapa dirinya atau kelompoknya. Maka tidak mengherankan jika solidaritas sebagai kelompok demikian besar. Ketika salah satu anggota kelompok diganggu, tanpa mempertimbangkan siapa salah siapa benar, anggota yang lain akan segera membantu. Eksistensi diri merupakan harga diri yang harus diraih dan dipertahankan. Ketika bisa mengalahkan orang lain atau kelompok lain, maka harga diri akan naik. Ia atau kelompoknya akan disegani. Kalau sudah begitu, lalu ia atau mereka akan menjadi penguasa-penguasa kecil yang tak tersentuh.

Haruskah begitu? Tentu jawabannya bisa macam-macam. Tergantung dari kita atau mereka sendiri yang memaknai. Kalau yang ditanya mereka, pasti mereka akan menjawab iya. Kalau yang ditanya saya, saya akan menunjuk pada sekelompok anak kecil yang sedang bermain. Ada tawa. Ada kebersamaan. Ada rasa persaudaraan. Semua itu bercampur menjadi satu dan tercipta sebentuk kebahagiaan yang menenteramkan. Meski pun di sana ada perbedaan, tapi itu tidak membuat mereka terkotak-kotak. Meski di sana ada ketidakcocokan, namun itu justru menjadi bahan untuk merekatkan persaudaraan. Meski pun di sana ada saling ejek, tapi itu justru membuat mereka tertawa lepas. Perbedaan itu perlu dan harus. Tapi perbedaan bukan alat untuk melegitimasi kekerasan demi mempertahankan kepentingan atau untuk meraih satu kata yang sama. Keindahan akan tercipta ketika perbedaan-perbedaan yang ada saling bertemu dan berinteraksi. Bergandengan tangan terasa indah dari pada saling mengepalkan jari tangan. Dalam bergandengan tangan, tertangkap rasa persaudaraan yang mendalam. Sebuah cita-cita yang patut diperjuangkan.


foto by yswitopr

Sampai kapankah teriakan, “nDeso... nDeso...!” akan terus terdengar?

Salam


<<First <Back | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang