Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
ABORSI: HAK WANITA? 
Wednesday, August 4, 2010, 03:46 - Inspirasi Posted by Administrator
Ada banyak alasan yang muncul ketika melakukan aborsi. Ada yang beralasan karena tidak siap menjadi orang tua. Ada yang beralasan karena himpitan ekonomi. Ada yang beralasan karena kelahiran itu tidak dikehendaki. Terasa aneh di kuping saya. Aneh karena sebuah perbuatan pasti ada akibatnya. Kalau bermain api, ada kemungkinan terbakar. Kalau melakukan hubungan seksual, ada kemungkinan terjadi kehamilan. Kalau tidak mau hamil, ya jangan melakukan hubungan seksual. Gampang ya? Tapi nyatanya tidak segampang dikatakan. Lepas dari berbagai alasan yang diberikan. Aborsi adalah tindakan salah. Aborsi adalah kejahatan paling kejam karena dilakukan pada makhluk Tuhan paling tidak berdaya. Janin yang tidak bisa membela diri dikurbankan demi kepentingan ibu dan bapaknya.

Bagi para pembela ibu, mereka akan mengatakan bahwa tindakan aborsi itu sebuah pilihan. Ibu memilih untuk menggugurkan kandungannya. Jadi tidak ada yang keliru dari tindakan itu. Okelah jika begitu. Tetapi tindakan demi ibu ini hanya dibenarkan jika pengguguran hanya menjadi akibat. Atau dengan kata lain, aborsi hanya menjadi efek, bukan tujuan. Misalnya: seorang ibu yang sedang mengandung ternyata mengidap sakit kanker rahim. Demi keselamatan ibu, rahimnya diangkat. Maka secara otomatis terjadilah pengguguran. Tindakan ini masih dibenarkan karena pengguguran terjadi karena efek saja. Jika kemudian menjadi tujuan, apalagi dengan dalih demi ibu, kita pun boleh bertanya balik: apakah janin tidak punya hak untuk hidup?

Ini adalah proses yang sering terjadi dalam proses aborsi:
Pada kehamilan muda (dibawah 1 bulan):
Pada kehamilan muda, di mana usia janin masih sangat kecil, aborsi dilakukan dengan cara menggunakan alat penghisap (suction). Janin yang masih sangat lembut langsung terhisap dan hancur berantakan. Saat dikeluarkan, dapat dilihat cairan merah berupa gumpalan-gumpalan darah dari janin yang baru dibunuh tersebut. Janin yang tidak punya daya disedot begitu saja... Miris rasanya..

Pada kehamilan lebih lanjut (1-3 bulan):
Pada tahap ini, di mana janin baru berusia sekitar beberapa minggu, bagian-bagian tubuhnya mulai terbentuk. Aborsi dilakukan dengan cara menusuk anak tersebut kemudian bagian-bagian tubuhnya dipotong-potong dengan menggunakan semacam tang khusus untuk aborsi (cunam abortus). Anak dalam kandungan itu diraih dengan menggunakan tang tersebut dengan cara menusuk bagian manapun yang bisa tercapai. Bisa lambung, pinggang, bahu atau leher. Kemudian setelah
ditusuk, dihancurkan bagian-bagian tubuhnya. Tulang-tulangnya di remukkan dan seluruh bagian tubuhnya disobek-sobek menjadi bagian kecil-kecil agar mudah dikeluarkan dari kandungan. Aku pernah melihat sebuah video tentang aborsi pada sekitar usia ini. Tapak jelas bahwa janin berusa menolak. Ada gerak-gerak reaktif dari janin untuk menghindar dari alat yang ingin merobek-robek tubuhnya.

Aborsi pada kehamilan lanjutan (3 sampai 6 bulan):
Pada tahap ini, bayi sudah semakin besar dan bagian-bagian tubuhnya sudah terlihat jelas. Jantungnya sudah berdetak, tangannya sudah bisa menggenggam. Tubuhnya sudah bisa merasakan sakit, karena jaringan syarafnya sudah terbentuk dengan baik. Aborsi dilakukan dengan terlebih dahulu membunuh bayi ini sebelum dikeluarkan. Pertama, diberikan suntikan maut (saline) yang langsung dimasukkan kedalam ketuban bayi. Cairan ini akan membakar kulit bayi tersebut secara perlahan-lahan, menyesakkan pernafasannya dan akhirnya setelah menderita selama berjam-jam sampai satu hari bayi itu akhirnya meninggal. Selama proses ini dilakukan, bayi akan berontak, mencoba berteriak dan jantungnya berdetak keras. Teriakan ketidakberdayaan yang tidak ada seorang pun yang akan mendengarnya.

Aborsi pada kehamilan besar (6 sampai 9 bulan):
Pada tahap ini, bayi sudah sangat jelas terbentuk. Wajahnya sudah kelihatan, termasuk mata, hidung, bibir dan telinganya yang mungil. Jari-jarinya juga sudah menjadi lebih jelas dan otaknya sudah berfungsi baik. Untuk kasus seperti ini, proses aborsi dilakukan dengan cara mengeluarkan bayi tersebut hidup-hidup, kemudian dibunuh. Cara membunuhnya mudah saja, biasanya langsung dilemparkan ke tempat sampah, ditenggelamkan ke dalam air atau dipukul kepalanya hingga pecah. Sehingga tangisannya berhenti dan pekerjaan aborsi itu selesai. Selesai dengan tuntas. Hanya saja darah bayi itu yang akan mengingatkan orang-orang yang terlibat didalam aborsi ini bahwa pembunuhan keji telah terjadi.

Semua proses ini seringkali tidak disadari oleh para wanita calon ibu yang melakukan aborsi. Mereka merasa bahwa aborsi itu cepat dan tidak sakit. Mereka tidak sadar karena dibawah pengaruh obat bius. Mereka bisa segera pulang tidak lama setelah aborsi dilakukan. Itu jika aborsi berhasil dengan baik. Bagaimana jika ternyata aborsi tidak berjalan seperti yan gmereka inginkan. Akan lahirlah anak-anak yang cacat. Apakah ini tidak akan menambah penderitaan bagi anak tersebut?

Aborsi bukan hak wanita. Memang ada banyak diskusi mengenai kapan ada kehidupan pada janin. Dan ini yang sering memicu konflik mengenai boleh tidaknya tindakan aborsi. Menurut saya, setiap pertemuan sel telur dan zigot memiliki potensi untuk terjadinya kehidupan. Dan dari situlah awal kehidupan dimulai. Mereka ini juga punya hak untuk hidup. Jadi bukan haya wanita yang memiliki hak atas tubuhnya. Janin pun memiliki hak untuk hidup.

FESTIVAL BAND PELAJAR 2010 
Wednesday, August 4, 2010, 03:27 - BERITA Posted by Administrator
Kaum Muda tak mau ketinggalan. Digelarlah Festival Band Pelajar 2010 untuk menyemarakkan ulang tahun Gereja ke 110.









KENDURI 110 ORANG DALAM RANGKA HUT GEREJA IGNATIUS KE 110 
Saturday, July 31, 2010, 05:11 - BERITA Posted by Administrator

Romo Krisno sedang memberikan sambutan dan pengantar dalam Kenduri peringatan 110 tahun Gereja Ignatiusa tahun 2010


Kenduri adalah sebuah tradisi yang sudah berjalan sekian puluh tahun, mungkin malah sudah ratusan tahun. Tradisi ini masih banyak berlangsung terutama di desa-desa. Hakekatnya sama, hanya istilahnya saja yang mungkin berbeda. Pada intinya kenduri merupakan mekanisme sosial untuk merawat dan menjga kebersamaan sehingga cita-cita yang sejak semua dibuat diteguhkan kembali. Kenduri juga menjadi alat kontrol sosial untuk menjaga gerak dan arah dari cita-cita yang telah diperjuangkan bersama itu. Dalam kerangka mekanisme sosial itulah, kenduri menampung dan mepresentasikan banyak kepentingan. Dari sekian banyak kepentingan itu, semua dilebur menjadi satu tujuan. Kenduri mampu mempersatukan, bahkan semakin mempererat kesatuan itu. Bukan hanya kesatuan kepentingan, kesatuan cita-cita, namun juga kesatuan masing-masing individu yang terlibat didalamnya. Dalam kenduri akan terlihat jelas bagaimana kebersamaan dan keutuhan tercipta: suasana penuh kerukunan, sendau gurau antar sesama, bagi-bagi berkat dari nasi tumpeng yang baru didoakan, atau ketika bersalam-salaman dengan tulus.


sebagian masyarakt yang mengikuti kenduri


Kenduri adalah sebuah tradisi berkumpul yang dilakukan secara bersama-sama oleh beberapa orang, biasanya laki-laki, dengan tujuan meminta kelancaran atas segala sesuatu yang dihajatkan dari sang penyelenggara yang mengundang orang-orang sekitar untuk datang genduren. Bisa berujud selamatan syukuran, bisa juga bisa berujud selamatan peringatan, atau anek intensi lainnya. Dalam kenduri itu dipanjatkan aneka doa. Siapakah yang bisa memanjatkan doa? Biasanya ada satu orang yang dituakan berfungsi sebagai pemimpin do’a sekaligus yang mengikrarkan hajat dari sang tuan rumah. Seorang pemimpin itu biasa juga disebut sebagai Ro’is, Modin, atau Kaum. Pemimpin ini bisa diundang sendiri karena orang itu memang sudah biasa menjalankan peran dan fungsi sebagai pemimpin doa dalam kenduri. Tetapi jika tidak ada, kenduri bisa juga dipimpin oleh orang yang dianggap tua dan mampu untuk memimpin kenduri tersebut.

Persoalan akan muncul ketika kenduri yang berangkat dari sebuah tradisi dibenturkan dengan penghayatan agama. Bukan soal apakah menurut agama, kenduri itu boleh atau tidak. Bagaimana jika seorang pemeluk agama yang satu mengundang pemeluk agama yang lain? Apakah itu boleh atau tidak? Apakah ketika mau datang ke acara kenduri itu, yang beragama lain itu berdosa? Ada sekian banyak pertanyaan. Dan pertanyaan-pertanyaan inilah yang menghantui Panitia Syukur HUT Gereja Ignatius Magelang ke-110. Sebagai bentuk syukur dan sekaligus permohonan, panitia merencanakan mengundang masyarakat sekitar untuk datang kendurenan. Ketika gagasan mengadakan kenduri sudah digulirkan. Ada banyak tanggapan yang muncul, baik itu tanggapan mendukung maupun tanggapan bertanya. “Orang Katolik kok pakai acara kenduri tho?” Pertanyaan seperti ini bisa menjadi benang merah dari persoalan yang bisa didiskusikan panjang lebar. Setidaknya semakin meneguhkan bahwa sebuah tradisi budaya telah dibawa dalam sebuah kerangka penghayatan agama.


Masyarakat yang antusias memenuhi undangan memaksa Panitia bekerja ekstra untuk mempersiapkan tambahan kursi


Ada banyak alasan dan pendapat yang bisa diberikan. Masing-masing tentu dengan sudut pandangnya sendiri-sendiri. Oleh karena itu, masing-masing pendapat itu tentu benar. Persoalan itu tidak akan membesar ketika masing-masing dengan legawa menempatkan kenduri dalam kerangka sebuah tradisi budaya masyarakat Jawa. Sebuah tradisi budaya adalah sebuah tradisi yang melintasi agama. Dalam budaya, semua dilebur menjadi satu bagian sebagai human yang berinteraksi dengan yang lain. Kenduri adalah sebuah permintaan doa. Siapa pun dia, apa pun agamanya meminta doa dari orang lain. Tidak tepat benar, tetapi bisa dipertimbangkan, kita juga sering meminta didoakan sahabat kita tanpa melihat dia agamanya apa. Kita juga tidak memaksa oran gitu untuk mendoakan kita menurut keyakinan kita. Dengan keyakinannya sendiri, orang itu dengan tulus akan mendoakan permintaan kita. Rasanya, hakekat kenduri juga demikian adanya. Seseorang mengundang orang lain untuk mendoakan hajatnya. Tentu bukan menurut orang yang mengundang, melainkan menurut apa yang diyakini oleh orang-orang yang diundang.

Selain itu, kesadaran sebagai bagian dari masyarakat juga menjadi alasan utama diadakannya acara kenduri untuk memperingati HUT Gereja Ignatius. Gereja adalah bagian dari masyarakat, bukan di luar masyarakat. Kesadaran sebagai anggota masyarakat ini membawa konsekuensi bagi Gereja untuk juga mengikuti gerak dinamika yang terjadi dalam masyarakat. Ketika dalam kehidupan bermasyarakat ada kenduri, maka Gereja pun ikut menggunakan media kenduri itu untuk menjalin rasa persaudaran sebagai satu keluarga, yaitu masyarakat. Dengan mengadakan, tepatnya mengundang, kenduri maka Gereja menjalankan peran dan fungsinya sebagai bagian dari masyarakat. Gereja ingin mempererat rasa persaudaraan sehingga tidak ada sapa sira sapa ingsun (siapa aku siapa kamu), tetapi masing-masing berdiri sejajar dalam suasana kebersamaan. Dan persaudaraan itu tidak pernah memandang kamu dari mana atau kamu agamanya apa. Namun dalam persaudaraan sejati, semua ditempatkan pada posisinya, yaitu sebagai manusia.

Refleksi atas Kenduri dalam rangka HUT Gereja Ignatius ke 110 tahun yang diadakan pada tanggai 30 Juli 2010.
PEMBUKAAN BAZAAR 2010 
Saturday, July 31, 2010, 04:24 - BERITA Posted by Administrator
Ada banyak kisah.. ada banyak cerita.

Beberapa Panita sedang sibuk mempersiapkan pembukaan

hmmm... demi lancarnya pameran bazaar, selalu kontak-kontakan. HT selalu onfire, selain media SMS atau langsung telpon

Tarian Gambyong ikut memeriahkan pembukaan bazaar

Romo Krisno memotong pita dan 110 balon pun terbanglah..

Salah satu murid SMP Tarakanita

Drum band SMP Tarakanita yang ikut memeriahkan pembukaan bazaar

Romo Krisno dan rombongan meninjau stand-stand bazaar

lagi-lagi butuh koordinasi

suasana bazaar di halaman pasturan



<<First <Back | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang