Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
KILAS INGATAN 2 
Thursday, July 15, 2010, 13:24 - Sejarah Posted by Administrator
1968 – 1970 - Juritan , Bogeman

Senja menjelang malam mulai berkumpul sejumlah orang – orang di pelataran sebuah rumah diujung gang menghadap kali Manggis sebelah timur, atau persis disebelah selatan pabrik payung yang berderetan dengan rumah Pak Sutejo, lurah Panjang saat itu. Sebagian para bapak – bapak muda dan sebagian lagi masih lajang. Mereka memang tidak semua beragama katolik, hanya sebagian saja yang telah dibaptis sekitar tahun 1964 - 1966, entah oleh Romo Dahler, Romo Thiel atau Romo Van Weert.
Dari sebuah radio transistor buatan Jepang yang kanon dibeli dari Jakarta, mengalun keroncong ‘si baju biru’ dalam irama stambul dua. Lagu itu dipesan oleh salah seorang pemuda yang berkumpul melalui kartu pilihan pendengar radio RAM ( Radio Angkatan Muda ). Setiap hari kamis malam mas Warto penyiar RAM yang tinggal di gang Raharjo sebelah barat kali Manggis selalu siaran jam 21.00 sampai jam 23.00 dengan acara lagu – lagu keroncong. Sebelum siaran biasa mas Warto selalu mampir dulu untuk mengambil pesanan lagu – lagu dengan menyeberang kali lewat jembatan kayu yang berada disebelah selatan.
Mas Warto, juga orang – orang muda yang sering kumpul – kumpul di tepian kali Manggis adalah para mahasiswa UGM cabang Magelang yang berkampus di kompleks Karesidenan. Mereka sebagian tergabung dalam AMKRI ( Angkatan Muda Katolik Republik Indonesia ).
Menjelang jam 22.00 terdengar suara lantang ‘ Kiuk …kiuk…..kiuk.. ! ‘ seorang penjual bakmi goreng menawarkan dagangannya. Malam makin pekat digilas sepi dan suara – suara binatang malam mulai riuh memenuhi gelap rimbun pohon ketela yang tumbuh di antara belakang rumah pak lurah dan pabrik payung.
Dari sebelah utara menyusuri jalan sebelah barat kali, pak Sangkrip berjalan mendatangi penjual bakmi yang berhenti di sebelah barat jembatan. Pak Sangkrip tinggal di gang paling utara Juritan. Ia menjadi katolik tahun 1923 dibaptis oleh Romo Hagdorn bersama 11 orang temannya yang bersekolah di HIS.



1987 – Bogeman, Pasar Telo, Ngentak

Usai Misa malam Natal, lepas tengah malam Desember 1987 bergerombol MUDIKA (Muda Mudi Katolik) berjalan rame – rame mulai dari pelataran depan gedung Gereja St. Ignatius Magelang. Sisa hujan sore masih membekas jelas.di jalan – jalan yang berlubang. Lewat jalan Kawatan ( kini jalan Majapahit ) yang berawal dari pertigaan kantor pos menuju ke timur.sampai di ujung jalan kemudian kekiri dan ke timur lagi hingga kali Manggis. Jalanan sepi hanya suara gemericik air kali yang membentur pondasi jembatan terdengar cukup jelas. Di tengah – tengah gang yang menghubungkan antara jalan Juritan dan kampung Bogeman masih ada dua bapak dan satu ibu berdiri di depan sebuah rumah sebelah gudang kayu. Pak Syahil ( yang dikemudian hari pernah sebagai Ketua Wilayah Paulus, telah meninggal pada tahun 2009 lalu ) dan Pak serta bu Waridi ( orang tua romo Jayeng Siswanto ). Mereka juga baru saja mengikuti Perayaan Ekaristi malam Natal.
Mudika yang semula akan menuju arah timur kembali berbalik arah dan menghampiri untuk memberikan ucapan ‘selamat Natal’. Malam itu memang merencanakan untuk berjalan – jalan menyusuri seluruh wilayah Panjang, yang sekarang meliputi wilayah Paulus, Gregorius, dan Geovani.
Perjalanan dilanjutkan menuju ke timur sampai di perempatan jalan Rama yang bersimpangan dengan gang Jatayu dan Subali. Ke utara menuju Samban lalu turun menuju Ngentak Kwayuhan. Melewati depan rumah pak Hari Wijayanto ( dulu pernah sebagai Ketua Dewan Paroki, saat romo E. Rusgiharto, Pr sebagai romo paroki, sekarang tinggal di Sanggrahan ).
Menjelang pagi perjalanan sampai di kampung Gelangan sebelah barat Pasar Telo. Pak Mardi almarhum ( dulu mengajar katekis ) duduk diatas tanggul kali Manggis dekat pintu air sebelah timur asrama SKKA Pius X ( sekarang SMKK Pius X ). ‘Sugeng enjang pak, sugeng Natal …’ , sapa MUDIKA sambil menyalami pak Mardi satu persatu.
‘Ubyang – ubyung’ MUDIKA dari waktu kewaktu menjadi catatan tersendiri perjalanan Gereja ke depan. Wilayah Paulus tidak saja menjadi bagian bagi Paroki St. Ignatius Magelang, namun peristiwa demi peristiwa yang terjadi di wilayah ini menjadi pewartaan yang sungguh – sungguh khas.

E. YF. K
AKSI DONOR DARAH 110 ORANG 
Sunday, July 11, 2010, 19:14 - BERITA Posted by Administrator


Dalam memperingati hari jadi Gereja Ignatius ke 110, Panitia mengadakan banyak kegiatan. Kemarin telah diadakan kegiatan jalan sehat. Hari ini, Minggu 11 Juli 2010, diadakan aksi sosial donor darah 110 orang. Aksi donor darah ini diikuti tidak hanya umat Ignatius, tetapi juga dari paroki-paroki tetangga. Ada yang dari Paroki St. Fatima Magelang dan Pancaarga.




Kegiatan Aksi Donor Darah 110 orang ini dimaksudkan untuk menumbuhkan aksi kemanusiaan. Gereja tidak hanya inklusif, tapi perlu membuka diri demi semakin tampaknya wajah sosial gereja. Aksi donor darah hendak menunjukkan kepedulian Gereja kepada masyarakat yang sedang sakit dan membutuhkan bantuan donor darah. Aksi ini bekerja sama dengan PMI Magelang Kota.

Romo Krisno (kiri) ketika menunggu giliran

Romo Wito sedang diambil darahnya

Tidak hanya berbicara, tapi para romo pun ikut memberikan contoh. Romo Krisno dan Romo Wito juga ikut memnyumbangkan darahnya dalam aksi donor darah 110 orang ini. Hal ini dimaksudkan supaya umat semakin tergugah untuk berani berbagi berkah kepada sesama.

JALAN SEHAT PAROKI IGNATIUS 2010 
Sunday, July 11, 2010, 18:45 - BERITA Posted by Administrator

Sudah sejak pukul 06.00, para peserta jalan sehat 2010 mulai berdatangan. Dari berbagai Lingkungan, datang ke halaman Gereja untuk mengikuti kegiatan jalan sehat dalam rangka menyambut peringatan 110 tahun Gereja Ignatius. Mulai dari anak-anak sampai orang tua datang dan berpartisipasi dalam kegiatan jalan sehat ini. selain itu, ada juga tamu undangan dari masyarakat sekitar dan tokoh-tokoh relasi.




Tanggapan dari umat sangat luar biasa. target peserta yang dibuat oleh Panitia adalah 1110 peserta. faktanya, ada sekitar 1200 lebih peserta yang mengikuti kegiatan jalan sehat ini.Selain gratis, Panitia menyediakan kaos gratis untuk 1110 pendaftar pertama. selain itu, Panitia juga menyediakan aneka door prize. Hadiah utamanya adalah sebuah televisi 21 inch. Hal ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi umat. Sabtu, 10 Juli 2010, pukul 07.00 bendera start dikibarkan oleh Romo Krisno, pastur paroki St Ignatius. Pengibaran bendera ini menjadi tanda dimulainya jalan sehat.



Wajah-wajah gembira terpancar dari para peserta yang mengikuti kegiatan jalan sehat ini. Hal ini menunjukkan kegembiraan umat dalam menyambut hari jadi paroki yang ke 110. HUT paroki yang mengambil tema Berubah dengan Bernyukur dan Berbagi Berkat ini moga-moga menjadi konkret. tidak hanya berhenti pada sebuah perayaan seremonial semata, namun sungguh berbuah berkat bagi umat dan masyarakat. Semoga.


AGENDA KEGIATAN 110 TAHUN GEREJA IGNATIUS 
Friday, July 9, 2010, 23:56 - BERITA Posted by Administrator
Dalam rangka memperingati 110 tahun Gereja Ignatius, inilah agenda yang yang telah dipersiapkan oleh Panitia Syukur 110 tahun Gereja Ignatius:



1. 1-25 Juli 2010: Lomba Lingkungan
2. 10 Juli 2010: Jalan Sehat Keluarga; Route: Jl Yos Sudarso - Jln Pahlawan - Taman Badaan belok ke kiri ke arah kampung Tulung - Jl Sultan Agung - belok ke Jaln Kartini - Gereja
3. 11 Juli 2010: Aksi donor darah 110 orang.
4. 18 Juli 2010: Pameran kesehatan dan Konsultasi kesehatan; Lomba Homili
5. 25 Juli 2010: Lomba mewarnai gambar untuk PIA
6. 27-29 Juli 2010: Triduum di lingkungan
7. 29 Juli 2010: Kebangunan Rohani Katolik
8. 31 Juli 2010: Bedah rumah
9. 30 Juli 2010: Pembukaan Bazaar dan atraksi kesenian
10. 31 Juli 2010: Malam Tirakatan dan Dagelan mataraman(bintang tamu Den Baguse Dalijo dkk)
11. 1 Agustus 2010: Ekaristi Syukur 110 tahun gereja Ignatius; pentas seni; pesta umat




<<First <Back | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang