Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
JALAN SEHAT PAROKI IGNATIUS 2010 
Sunday, July 11, 2010, 18:45 - BERITA Posted by Administrator

Sudah sejak pukul 06.00, para peserta jalan sehat 2010 mulai berdatangan. Dari berbagai Lingkungan, datang ke halaman Gereja untuk mengikuti kegiatan jalan sehat dalam rangka menyambut peringatan 110 tahun Gereja Ignatius. Mulai dari anak-anak sampai orang tua datang dan berpartisipasi dalam kegiatan jalan sehat ini. selain itu, ada juga tamu undangan dari masyarakat sekitar dan tokoh-tokoh relasi.




Tanggapan dari umat sangat luar biasa. target peserta yang dibuat oleh Panitia adalah 1110 peserta. faktanya, ada sekitar 1200 lebih peserta yang mengikuti kegiatan jalan sehat ini.Selain gratis, Panitia menyediakan kaos gratis untuk 1110 pendaftar pertama. selain itu, Panitia juga menyediakan aneka door prize. Hadiah utamanya adalah sebuah televisi 21 inch. Hal ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi umat. Sabtu, 10 Juli 2010, pukul 07.00 bendera start dikibarkan oleh Romo Krisno, pastur paroki St Ignatius. Pengibaran bendera ini menjadi tanda dimulainya jalan sehat.



Wajah-wajah gembira terpancar dari para peserta yang mengikuti kegiatan jalan sehat ini. Hal ini menunjukkan kegembiraan umat dalam menyambut hari jadi paroki yang ke 110. HUT paroki yang mengambil tema Berubah dengan Bernyukur dan Berbagi Berkat ini moga-moga menjadi konkret. tidak hanya berhenti pada sebuah perayaan seremonial semata, namun sungguh berbuah berkat bagi umat dan masyarakat. Semoga.


AGENDA KEGIATAN 110 TAHUN GEREJA IGNATIUS 
Friday, July 9, 2010, 23:56 - BERITA Posted by Administrator
Dalam rangka memperingati 110 tahun Gereja Ignatius, inilah agenda yang yang telah dipersiapkan oleh Panitia Syukur 110 tahun Gereja Ignatius:



1. 1-25 Juli 2010: Lomba Lingkungan
2. 10 Juli 2010: Jalan Sehat Keluarga; Route: Jl Yos Sudarso - Jln Pahlawan - Taman Badaan belok ke kiri ke arah kampung Tulung - Jl Sultan Agung - belok ke Jaln Kartini - Gereja
3. 11 Juli 2010: Aksi donor darah 110 orang.
4. 18 Juli 2010: Pameran kesehatan dan Konsultasi kesehatan; Lomba Homili
5. 25 Juli 2010: Lomba mewarnai gambar untuk PIA
6. 27-29 Juli 2010: Triduum di lingkungan
7. 29 Juli 2010: Kebangunan Rohani Katolik
8. 31 Juli 2010: Bedah rumah
9. 30 Juli 2010: Pembukaan Bazaar dan atraksi kesenian
10. 31 Juli 2010: Malam Tirakatan dan Dagelan mataraman(bintang tamu Den Baguse Dalijo dkk)
11. 1 Agustus 2010: Ekaristi Syukur 110 tahun gereja Ignatius; pentas seni; pesta umat



Kilas ingatan 
Friday, July 9, 2010, 15:10 - Sejarah Posted by Administrator
1957 – Prapatan Bogeman Kulon.

Dipojok timur – utara perempatan antara jalan Rama yang membentang dari utara ke selatan dan gang Subali – Jatayu dari arah timur ke barat hingga ujung jalan tepi sungai Manggis. Persis didepan gardu jaga malam yang biasa disiang hari digunakan untuk usaha gunting rambut, disitu berderet sekitar belasan anak usia SR ( sekarang SD ) dengan kekaguman mengamati motor pit ( sepeda motor ) besar yang diparkir.
Dari antara anak – anak itu sebagian sudah bisa mengeja tulisan yang tertera dibagian depan tangki ; ‘be-em-we‘. Sambil bergurau mereka menghitung kembang gula asem yang didapat dari orang yang memarkir motor pit buatan Jerman itu. Ada yang dapat tiga, ada yang empat, dua dan seterusnya.

Dari arah timur gang Subali muncul seorang lelaki remaja ikut nimbrung bareng anak – anak. ‘Romone nang endi le ? ( Romonya dimana nak ? )‘. Yang dimaksud Romo adalah Romo W. Van Heusden pemilik pit motor BMW. ‘ Wau kadhose nembe ngetan ‘, sahut salah seorang anak. Memang sering sekali romo Jesuit ini setiap kali kunjungannya ke kampung Bogeman selalu memarkir kendaraannya di depan gardu jaga malam.

Matahari saat itu mulai condong ke barat. Cuaca cerah dan udara dingin mulai terasa menyusup ke dalam pori – pori kulit. Beberapa ibu – ibu mulai muncul berjalan dari arah timur, sebagian membawa keranjang bakul berisi pakaian kotor yang akan mereka cuci di kali Manggis. Sampai di perempatan, persisnya dipojok selatan – barat mereka berhenti di warung pak Ali. Disitu mereka memesan gorengan tahu, tempe dan juga sayur sambal goreng tahu. Tak ketinggalan juga bacam saren untuk makan malam keluarga mereka.

Dibawah tangga semen yang digunakan untuk turun ke sungai sudah ada dua orang ibu yang sedang mencuci. Dengan sabun batangan warna hijau buram yang masih sedikit terlihat bergambar angsa sebagai merek, dua ibu itu menggosok – gosok kain jarit. Cahaya senja masih cukup kuat menerobos lewat celah – celah rimbun daun ‘wora – wari’ yang ditanam sepanjang tepian sungai.

Air sungai yang mengalir cukup deras digunakan anak – anak untuk bermain. Dengan ‘debog (batang pohon pisang)’ mereka terjun dari tangga sebelah barat sungai yang berada di kampung Juritan. Ditengah canda ria, anak – anak naik diatas ‘debog’ lalu mengapung mengikuti aliran sungai hingga sampai ke ‘buk selen (pagar jembatan yang kanan kirinya tidak sama)

E. YF K.
MERANGKAI BUNGA ALTAR 
Tuesday, June 8, 2010, 20:56 - Pastoral Posted by Administrator
Merangkai bunga altar merupakan salah satu tugas liturgi, yaitu menjadikan tempat dirayakannya liturgi menjadi lebih indah sehingga mendukung kemeriahan perayaan liturgi. Agar rangkaian bunga altar tidak sekedar indah, seorang perangkai perlu memahami kaidah-kaidah liturgi. Dengan demikian, rangkaian bunga altar juga turut memperjelas misteri iman yang dirayakan.

1. Pengertian liturgi
Dalam SC 2, 7, 10, disebutkan bahwa liturgi adalah suatu perayaan misteri keselamatan Allah. Liturgi dilaksanakan oleh Yesus Kristus, Sang Imam Agung bersama Gereja-Nya di dalam ikatan Roh Kudus. Karenanya liturgi dapat disebut sebagai perayaan Tuhan dan perayaan iman. Disebut perayaan Tuhan karena Allah yang berinisiatif menjumpai manusia. Allah yang mencari dan mengundang; bukan manusia yang mencari Allah. Dan disebut perayaan iman, karena dalam liturgi manusia menanggapi undangan Tuhan untuk terlibat dalam perjamuan-Nya. Dengan demikian, dalam liturgi terjadilah sebuah perjumpaan, yaitu perjumpaan antara Allah dan manusia. Perjumpaan itu membawa anugerah keselamatan bagi manusia, baik yang yang merayakan dan yang didoakannya.
Dilihat dari isinya, liturgi mengandung unsur dialogis, epiklesis, anamnesis dan simbolik. Unsur dialogis menegaskan aspek perjumpaan atau komunikasi antar dua belah pihak secara dialogal, yaitu komunikasi antara Allah dan manusia. Komunikasi itu dari pihak Allah mendatangkan keselamatan, pengudusan dan penebusan untuk manusia (katabatis), sedangkan dari pihak manusia mengungkapkan pujian dan kemuliaan kepada Allah (anabatis). Unsur anamnesis menegaskan aspek kenangan, yaitu kenangan akan karya penyelamatan Tuhan yang terjadi pada masa lalu dan berlangsung sampai sekarang. Dalam liturgi, apa yang dikenang itu dihadirkan kembali dalam kehidupan jemaat yang merayakan dan bergerak menuju kepenuhan eskatoligis. Unsur epiklesis menegaskan peranan Roh Kudus dalam liturgi. Roh Kudus itulah yang menguduskan suatu pribadi atau barang/benda tertentu. Dengan aspek ini, liturgi dibebaskan dari bahaya magis, karena setiap pengudusan terjadi karena campur tangan Tuhan dalam Roh Kudus. Sedangkan unsur simbolik menegaskan suatu keyakinan bahwa kehadiran Kristus dan karya penyelamatanNya dalam liturgi selalu merupakan kehadiran dalam bentuk tanda atau simbol. Melalui dan dalam simbol itu, tersembunyi dan terungkap apa yang disimbolkan yaitu realitas kehadiran Kristus yang menyelamatkan. Dalam liturgi cukup banyak simbol, dari simbol yang berupa diri manusia sendiri yaitu para pelayan dan jemaat liturgi sendiri, tindakan dan gerak geriknya hingga seluruh dunia simbol yang bukan manusia yaitu sarana-sarana liturgi baik yang berupa alat maupun bahan yang dipakai. Ada yang alami seperti api, air, dupa, tanaman, bunga dan ada pula yang buatan (busana dan perabot lainnya). Sarana-sarana itu menyatakan misteri iman yang dirayakan.
Dilihat dari kegiatannya, liturgi memiliki unsur kebersamaan dan keresmian. Unsur kebersamaan liturgi nampak dalam kehadiran umat. Setiap perayaan merupakan perayaan jemaat/umat. Jemaat yang hadir bukan penonton tetapi dipanggil berpartisipasi secara sadar, dan penuh yakni berpartisipasi dengan jiwa dan raganya serta dikobarkan dengan iman, harapan dan kasih. Unsur keresmian liturgi nampak dari adanya ketentuan-ketentuan, aturan-aturan atau pedoman yang ada. Ada unsur-unsur baku yang harus ditaati dan ada unsur-unsur penyesuaian yang bisa dikembangkan sesuai dengan situasi dan kemampuan. Secara umum pedoman liturgi mengacu pada Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR). Di dalamnya ada petunjuk umum untuk menata perayaan Ekaristi secara tepat dan menyediakan pedoman untuk mengatur masing-masing bentuk perayaan.
Dengan demikian liturgi bukan sembarang kegiatan, juga bukan sembarang perayaan. Suatu kegiatan atau perayaan disebut liturgi, kegiatan dan perayaan itu mengandung unsur dialogis, anamnesis, epiklesis, simbolik sebagai isinya dan mengandung unsur kebersamaan dan keresmian sebagai kegiatannya. Hal ini perlu diketahui oleh semua umat yang merayakannya, terutama para petugas liturgi, sehingga mereka tidak bertindak menurut kehendak sendiri, tetapi bertindak menurut kaidah dan ketentuan yang berlaku.

2. Merangkai Bunga Altar
Merangkai bunga altar merupakan salah satu kegiatan liturgis yaitu kegiatan untuk menciptakan agar liturgi menjadi indah dan meriah. Telah lama bunga dikenal bernilai simbolis. Kalau seseorang memberi bunga kepada orang lain, dengan cepat tindakan itu dilihat sebagai sebuah ungkapan, yaitu ungkapan cinta dan perhatian. Kalau bunga yang diterima itu disimpan dan dicium artinya cinta itu diterima. Tetapi kalau bunga itu dibuang, ini menjadi sebuah pertanda bahwa cintanya ditolak. Kecuali itu masing-masing bunga juga memiliki nilai dan maknanya sendiri. Orang akan berbunga-bunga ketika diberi bunga mawar, tetapi orang mungkin akan marah kalau diberi bunga kamboja.
Hal yang sama juga terjadi dalam liturgi. Bunga altar tidak hanya melambangkan keindahan, tetapi juga mengandung makna rohani yang lebih dalam. Di satu sisi bunga melambangkan tanggapan yang penuh sukacita atas karya penyelamatan Tuhan yang berlangsung secara liturgis. Dan disisi lain bunga juga turut menghadirkan secara simbolik misteri iman yang dirayakan. Oleh karena itu dalam merangkai bunga, orang perlu memperhatikan aspek-aspek liturgi. Dalam Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) disebut beberapa nomor yang membahas tentang bunga altar.
- Rumah ibadat, tempat Ekaristi dirayakan dan segala perlengkapannya hendaknya sungguh pantas, indah serta merupakan tanda dan lambang alam surgawi (PUMR 288).
- Dari sebab itu Gereja selalu mengharapkan sumbangan para seniman dan memberikan keleluasaan kepada kesenian segala bangsa serta daerah. Memang, Gereja berusaha memelihara karya seni dari abad-abad yang lalu dan menyesuaikan seperlunya dengan tuntutan zaman, namun ia berusaha juga memajukan bentuk-bentuk baru yang serasi dengan semangat zamannya. Oleh karena itu dalam mendidik para seniman dan dalam memilih karya-karya seni untuk gereja, hendaknya dituntut yang sungguh bermutu. Sebab seni itu harus membantu memperdalam iman dan kesucian, harus selaras dengan kebenaran yang mau diungkapkan dan mencapai tujuan yang dimaksud (PMUR 289).
- Hiasan Gereja hendaknya bermutu, anggun tetapi tetap sederhana. Bahan untuk hiasan hendaknya asli. Seluruh perlengkapan gereja hendaknya mendukung pendidikan iman umat serta martabat ruang ibadat (PUMR 292)
- Panti imam adalah tempat di mana altar dibangun, sabda Allah dimaklumkan dan imam, diakon, serta pelayan-pelayan lai melaksanakan tugasnya. Panti imam hendaknya sungguh berbeda dari bagian gereja lainya, entah karena lebih tinggi sedikit, entah karena rancangan dan hiasannya (PUMR 295)
- Altar merupakan tempat untuk menghadirkan kurban salib dengan menggunakan tanda-tanda sakramental. Sekaligus altar merupakan meja perjamuan Tuhan, dan dalam Misa umat Allah dihimpun di sekeliling altar untuk mengambil bagian dalam perjamuan itu. Kecuali itu altar juga pusat ucapan syukur yang diselenggarakan dalam Perayaan Ekaristi (PUMR 296).
- Untuk menghormati perayaan-perayaan akan Tuhan serta perjamuan Tubuh dan Darah Kristus, pantaslah altar ditutup dengan sehelai kain altar berwarna putih (PUMR 304).
- Dalam menghias altar hendaknya tidak berlebihan. Selama masa adven penghiasan altar dengan bunga hendaknya mencerminkan ciri khas ini (masa penantian penuh sukacita), tetapi tidak boleh menggunakan sepenuhnya sukacita kelahiran Tuhan. Selama masa prapaskah altar tidak dihias dengan bunga, kecuali pada hari minggu prapaskah IV, hari raya dan pesta yang terjadi pada masa ini. Hiasan bunga hendaknya tidak berlebihan dan ditempatkan di sekitar altar, bukan di atasnya. Di altar hendaknya ditempatkan hanya barang-barang yang diperlukan untuk perayaan misa (PUMR 306).
- Lilin diperlukan dalam setiap perayaan liturgi untuk menciptakan suasana khidmat dan untuk menunjukkan tingkat kemeriahan perayaan. Lilin seyogyanya ditempatkan di atas atau di sekitar altar, sesuai dengan bentuk altar dan tata ruang panti imam ( PUMR 307).

Dari PUMR itu kita dapat melihat bahwa merangkai bunga tidak sekedar merangkai menurut kehendaknya sendiri, tetapi ada ketentuan-ketentuan yang harus diperhatikan.
1. Keindahan, kepantasan dan mutu rangkaian. Rangkaian bunga bukan syarat mutlak dalam liturgi. Artinya dalam situasi tertentu seandainya tidak ada rangkaian bunga, tidak mempengaruhi keabsahan liturgi. Tetapi adanya rangkaian bunga untuk mendukung suasana perayaan liturgi. Diharapkan adanya rangkaian bunga menambah keindahan dan kemeriahan liturgi. Yang menjadi ukuran kemeriahan dan keindahan liturgi bukan karena bunga-bunga yang dirangkai harganya mahal tetapi karena turut membantu memperdalam iman dan kesucian serta turut mengungkapkan misteri iman yang dirayakan. Oleh karena itu para petugas perangkai bunga, hendaknya tidak sekedar relawan, tetapi betul-betul dituntut kemampuan dan ketrampilannya dalam merangkai bunga serta dibutuhkan pengetahuan yang cukup mengenai liturgi, khususnya terkait dengan tata ruang liturgi.
2. Keaslian dan kesederhanaan. Hiasan altar hendaknya tetap memperhatikan keaslian dan kesederhanaan. Asli artinya bunga yang dirangkai bukan bunga imitasi, tetapi asli dari tanaman yang hidup, sebab bunga berperan tidak sekedar sebagai hiasan tetapi juga mengungkapkan suatu keyakinan bahwa semua makhluk hidup dan semua ciptaan Tuhan turut berbakti dan memuji Allah. Sedangkan sederhana artinya memanfaatkan apa yang ada, tidak berlebihan dalam mengusahakan dan proporsional dalam mengusahakannya. Jangan sampai ada kesan bahwa bunga altar mewah berlebihan baik dari sisi harga maupun banyaknya rangkaian sehingga mengaburkan yang utama yaitu altar sebagai tempat perjamuan Tuhan. Namun juga tidak terkesan sederhana murahan. Idealnya, meskipun rancangan tampak sederhana, namun tetap mencitrakan keindahan yang anggun, penuh makna.
3. Liturgis. Perangkai bunga hendaknya menyadari bahwa dirinya adalah pelayan liturgis. Ia tidak bisa bekerja sesuka dan seselera pribadi. Apapun yang dilakukan hendaknya sesuai dengan makna dan norma liturgis yang dirayakan sehingga antara rangkaian bunga dan liturgi ada keutuhan dan kesesuaian. Salah satu hal yang perlu diketahui adalah pesan misa sesuai dengan bacaan Kitab Suci, masa-masa liturgi, warna dan semangatnya. Masa adven tentu berbeda dengan masa natal, masa prapaskah tentu berbeda dengan masa paskah, masa biasa berbeda dengan masa-masa khusus. Prinsip umum, pada Masa Adven dan Prapaskah, bunga altar hendaknya sederhana, tanpa warna-warni, untuk menampakkan keprihatinan dan sekaligus harapan. Pada masa prapaskah, bunga bisa ditiadakan. Pada Masa Biasa, bunga altar tidak ada ketentuan khusus tetapi memperlihatkan aspek pengharapan dan sukacita. Akan lebih baik kalau sebelum merangkai melihat kalender liturgi sehingga Sedangkan pada hari-hari raya besar seperti Natal, Paskah bunga altar hendaknya memperlihatkan kemeriahan, suasana sukacita.
4. Dekoratif. Bunga altar berperan sebagai dekorasi, yaitu sebagai pendukung untuk menciptakan suasana liturgi. Adanya bunga altar diharapkan membantu umat untuk semakin memahami dan menghayati liturgi dan segala simbol yang ada. Altar sebagai pusat dari perayaan dihias sedemikian rupa sehingga memungkinkan orang untuk memahami perjamuan ekaristi sebagai perjamuan Tuhan. Oleh karena itu, sebagai dekorasi, fungsi bunga altar tidak boleh mengganggu arti penting altar atau segala simbol yang lain yang lebih utama, apalagi sampai menggeser perhatian umat dari altar dan simbol-simbol itu ke bunga altar.
5. Inkulturatif. Setiap orang yang merangkai bunga untuk gereja hendaknya ia mengenal unsur-unsur budaya setempat. Apa yang dibuat dengan rangkaian itu hendaknya mewakili rasa perasaan umat setempat dan sejauh mungkin menggunakan sarana yang ada di tengah umat. Dengan lain kata umat dengan segala kehidupan dan perasaannya dihargai lewat rangkaian bunga sehingga bunga merupakan representasi diri umat. Maka idealnya, perangkai bunga mengenal terlebih dahulu karakter, keadaan, harapan umat yang turut serta dalam perayaan tersebut.
6. Koordinatif. Perangkai bunga hendaknya jangan bekerja sendiri, tetapi bekerja dalam satu koordinasi baik koordinasi antar mereka sebagai tim kerja tata altar maupun koordinasi dengan tim kerja lain yang terkait dengan tugas perangkai bunga altar. Kerap terjadi benturan kepentingan antar tim kerja tata altar dengan tim lain ketika koordinasi dan kerjasama tidak ada.
7. Pelayanan. Semangat yang hendaknya menjiwai para petugas perangkai bunga altar adalah semangat pelayanan. Maka keakuan dalam ide dan karya hendaknya dihindari dan diganti dengan kerjasama dengan semangat pelayanan. Hendaknya dihindari gereja sebagai tempat untuk mencari keuntungan dari setiap karya yang dijalankan. Semangat tim kerja adalah semangat pelayanan maka, siapapun yang meminta pelayanan, hendaknya dilayani dengan murah hati.

3. Membangun liturgi yang hidup
Semua umat dipanggil untuk berpartisipasi secara sadar dan aktif dalam liturgi. Menurut Pius XII dalam ensiklik Mediator Dei (1947) partisipasi umat dalam liturgi meliputi tiga hal, yaitu partisipasi batin atau penghayatan pribadi, partisipasi lahir yaitu keikutsertaan dalam berbagai tugas dan partisipasi sakramental yang terwujud dalam penerimaan komuni.
Partisipasi umat itu memungkinkan terciptanya liturgi yang hidup. Ada tiga ciri khas liturgi yang hidup: pertama, mampu mengantar semua umat untuk mengalami kehadiran dan perjumpaan dengan Tuhan. Umat semakin sadar bahwa dalam liturgi bukan sekedar perayaan ritual formal, tetapi perayaan Tuhan. Tuhan hadir dan memberikan diri seutuhnya. Kedua, melibatkan semua umat yang hadir untuk berpartisipasi dalam aneka tugas liturgi. Liturgi bukan perayaan seorang atau sekelompok orang, tetapi perayaan umat artinya perayaan yang mengikutsertakan semua umat untuk berpartisipasi di dalamnya. Umat bukan penonton atau penilai, tetapi umat adalah pemain dan pelaksana dalam seluruh liturgi. Sebagai pemain, umat diharapkan terlibat dengan sepenuh hati sebagai wujud persembahan diri, sehingga yang ia berikan tidak asal-asalan tetapi yang terbaik. Kalau koor bernyanyi ya bernyanyi sebaik mungkin, kalau misdinar tugas ya tugas dengan sepenuh hati, kalau perangkai bunga menata bunga ya ditata dengan sebaik mungkin. Dengan demikian apapun yang dilakukan semuanya dilakukan dengan sungguh-sungguh dan apapun yang dipersembahkan, yang dipersembahakan adalah yang terbaik.
Ketiga, dilakukan secara benar, menarik dan kontekstual. Benar artinya memperhatikan ketentuan-ketentuan liturgis. Kreasi umat tentu sangat didukung, asalkan tetap memperhatikan unsur liturgi yang benar. Menarik artinya apapun yang disajikan memberi kepuasan hati pada semua umat yang merayakannya. Umat tidak hanya melihat, mendengarkan tetapi merasakan makna yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian kalau umat pulang ada sesuatu yang dibawa dan akhirnya mendorong lagi untuk mengikuti perayaan di waktu-waktu berikutnya. Kontekstual artinya perayaan dirayakan sesuai dengan konteks dan situasi setempat sehingga segala rasa perasaan, harapan dan keprihatinan umat dapat terangkat dalam liturgi.
Kalau dikaitkan dengan rangkaian bunga altar, seorang perangkai bunga juga dituntut suatu idealitas bahwa apapun yang dilakukan, semuanya dilakukan dengan sepenuh hati untuk kemuliaan Tuhan. Melalui tugasnya ia dipanggil untuk ikut memperindah liturgi dan menciptakan suasana sukacita. Namun liturgi yang indah tidak berarti liturgi yang dihiasi dengan bunga yang mahal atau tempat didominasi dengan aneka macam bunga melainkan dihiasi dengan bunga yang sesuai dengan situasi liturgis. Atau sekarang ini dilakukan oleh beberapa paroki, bunga altar diganti dengan aneka macam tanaman hias atau tanaman hidup yang lain. Pada prinsipnya, tidak hanya umat beriman, tetapi semua makhluk ciptaanNya juga turut memuji dan memuliakan Allah dengan caranya masing-masing.

Sebuah harapan

Semoga rangkaian bunga altar atau tanaman yang ditata di sekitar altar tidak hanya memperindah liturgi, tetapi juga menjadi sebuah simbolisasi pujian semua makhluk ciptaan Tuhan.






<<First <Back | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang