Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
BEDAH RUMAH dalam HUT GEREJA IGNATIUS KE 110  
Friday, July 23, 2010, 07:28 - BERITA Posted by Administrator
Penderitaan adalah obyek. Mungkin Anda tidak setuju dengan kalimat pertama saya ini. Tetapi kalau kita mau jujur, itulah realita yang ada. Betapa berhadapan dengan penderitaan (tentu dalam konteks yang luas) masyarakat kita menjadi termehek-mehek, mudah terharu lalu menitikkan air mata, dan kemudian (syukur) bersimpati. Karena karakter inilah, penderitaan lalu dijadikan sebagai obyek untuk meraih simpati. Penderitaan dijadikan obyek untuk mencapai sebuah tujuan tertentu. Lihatlah banyak reality show yang banyak menggunakan penderitaan sebagai bahan dasarnya. Bahkan reality show politik pun sering menggunakan jargon “dizolimi”, “korban”, dll. Apakah penderitaan harus menjadi obyek?


Rumah pertama yang dibedah tampak dari belakang.
photo by yswitopr


Dalam penderitaan, orang berada dalam ambang batas: kesadaran antara berdaya dan tak berdaya, antara keinginan untuk bangkit dan realitas ketidakmampuan. Tentu setiap orang tidak menginginkan penderitaan. Namun penderitaan bisa datang kapan dan dimanapun tanpa bisa dicegah. Menghadapi penderitaan tentu setiap orang ingin terlepas dari situasi yang tidak mengenakkan itu. Keinginan ini bisa muncul sebagai akibat dari penolakan dirinya atau karena motivasi yang lebih dalam. Ada kalanya, orang mampu keluar dari krisis penderitaan itu. Namun sering kali, karena keterbatasannya, orang sungguh tidak berdaya. Dalam ketidakmampuannya, ia tidak mampu lagi berbuat apa-apa untuk keluar dari penderitaan itu. Apakah situasi ini lalu membuat kita menyerah kalah?



Seperti Mbah Tukirah. Wanita berumur sekitar 70an tahun. Di masa tuanya, ia tinggal bersama kedua cucunya. Sepetak rumah di pojokan gang senggol menjadi teman setia mbah Tukirah. Bentuk rumahnya sama dengan bentuk rumah anggota masyarakat yang lain. Perbedaan baru terasa ketika kita masuk dan mengamati lebih detail kondisi rumah itu. Gentingnya tak lagi rapat. Ketika hujan datang, tak ada lagi tempat kering yang tersisa. Semua basah karena genting yang berlubang. Tembok rumah yang tambal sulam itu pun tak lagi merekat kuat. Rasanya seperti tinggal menunggu waktu untuk rubuh. Situasi ekonomi menjadikan mbah Tukirah tak kuasa merenovasi rumahnya sehingga menjadi tempat tinggal yang layak dan nyaman untuk dihuni.





Penderitaan menjadikan mbah Tukirah menjadi takberdaya dan tak kuasa untuk melawannya. Ketidakberdayaan mbah Tukirah inilah yang mengetuk hati banyak orang. Bukan karena ingin menjadikan penderitaan beliau sebagai obyek. Namun, justru ingin mengangkat mbah Tukirah dari penderitaannya menjadi berdaya. Bukan sekedar prihatin dan terharu setelah melihat penderitaan yang dialami mbah Tukirah, tetapi lebih dari itu. Banyak orang tergerakkan hatinya untuk mengangkat Mbah Tukirah dari ketidakberdayaannya. Kepedulian ini bukan pertama-tama merupakan simpati sesaat karena melihat penderitaan orang lain, melainkan sebuah cita-cita dan gerakan bersama: ikut serta terlibat dengan membedah rumah mbah Tukirah. Kepedulian ini muncul sebagai bentuk syukur dan keinginan untuk berbagi berkah dari Sang Khalik.



Untuk mengangkat sebuah ketidakberdayaan menjadi berdaya dibutuhkan gerakan bersama-sama. Cita-cita bersama yang didukung dan dikembangkan secara bersama-sama. Melalui gerakan bersama, akhirnya banyak orang yang mau terlibat untuk membantu membedah rumah Mbah Tukirah. Prinsip dasar dari gerakan ini adalah bukan aku punya apa, melainkan aku bisa menjadi siapa bagi orang lain. Dengan prinsip bisa menjadi siapa bagi orang lain, dimulailah sebuah gerakan berbagi berkat. Ketika seseorang tidak memiliki materi yang cukup namun memiliki waktu dan tenaga, ia menyumbangkan waktu dan tenaganya untuk ikut terlibat. Yang lain ikut menyumbang minum dan makanan untuk orang-orang yang sedang bekerja. Dari bantuan yang kecil itulah akhirnya terkumpul sebuah berkah yang memberdayakan. Gotong royong menjadi rangkuman dari gerakan ini.

“Matur nuwun nggih, Pak!” sepenggal kata keluar dari mulut mbah Tukirah yang bergetar. Ucapan terima kasih yang tulus. Sorot matanya mengisyaratkan kebahagiaan. Rupanya, ketidakberdayaan mbah Tukirah telah mulai terkikis dan tergantikan pengharapan. Menjadi nyata, bahwa penderitaan bukan sesuatu yang harus diratapi dan ditangisi. Dalam penderitaan yang membawa orang pada situasi ketidakberdayaan masih terdapat sebuah pengharapan. Pengharapan ini bisa muncul dari diri sendiri, maupun karena dorongan dan bantuan dari sesama. Ketika solidaritas berada pada jalurnya yang benar, maka pengharapan menjadi semakin nyata dan ada. Solidaritas tidak pernah menempatkan penderitaan sebagai obyek. Ketika penderitaan hanya ditempatkan sebagai obyek maka mentalitas yang muncul adalah hangat-hangat tai ayam. Tak bergema dan sifatnya demikian aksidental. Namun jika solidaraitas merupakan gerakan dari dalam diri dan dikembangkan secara bersama-sama, maka solidaritas akan menjadi sebuah way of life. Prinsip dasar solidaritas adalah jika kau luka, aku kan merasa luka, sementara ketika aku terluka, apakah kau juga merasa terluka?

Yang kita buat mungkin tidak seberapa besar, namun bisa berbuah besar. Yang kita lakukan mungkin sederhana dan biasa, tetapi hasilnya bisa luar biasa. Semuanya itu tergantung pada roh yang mendasari apa yang kita buat.



Sekilas refleksi dari aksi bedah rumah dalam rangka memperingati 110 tahun Gereja Ignatius. Ada 2 rumah umat yang dibedah. Tahap pertama: 18-25 Juli 2010. Tahap kedua: 25-31 Juli 2010. Dengan aksi bedah rumah ini, panitia ingin mengajak umat untuk mengembangkan gerakan bersyukur dan berbagi berkat. Moga-moga, aksi ini dapat menandai syukur umat dan sungguh-sungguh menjadi berkat untuk umat.

berikut foto-foto bedah rumah edisi 2:




IGNATIUS HEALTH EXPO 2010 
Wednesday, July 21, 2010, 18:17 - BERITA Posted by Administrator
Pameran dan konsultasi kesehatan bersama para dokter spesialis pada hari Minggu, 18 Juli 2010. Pameran ini dalam rangkaian Ulang Tahun Gereja St. Ignatius Magelang ke 110 tahun.

























ESTAFET KITAB SUCI OMK KEDU DI IGNATIUS 
Sunday, July 18, 2010, 23:01 - BERITA Posted by Administrator
Ignatius – Sabtu, 17 Juli 2010, OMK paroki Pancaarga datang ke Ignatius untuk mengantar Kitab Suci OMK Kedu. Kedatangan mereka ini diterima oleh OMK Paroki Ignatius Kedu. Acara sederhana diadakan untuk menyambut kirab Kitab Suci ini. Kitab Suci OMK Kedu ini merupakan Kitab Suci tulisan tangan dari para anggota OMK Kedu. Untuk sementara waktu, baru Injil Lukas yang tertulis lengkap.


Setelah acara serah terima dilakukan, diadakan acara ramah tamah untuk semakin mengakrabkan dan saling mengenal antara OMK Pancaarga dan OMK Ignatius. Nyanyian dan permainan sederhana dibuat.


Kemudian para hari Minggu 18 Juli 2010, OMK Ignatius mengadakan kegiatan untuk menyambut kedatangan Kitab Suci OMK Kedu ini. Dalam perayaan Ekaristi pukul 08.00, OMK Ignatius mengadakan renungan teatrikal untuk membantu umat dalam memaknai arti Kitab Suci. Bebragai bentuk keprihatinan dalam hidup menggereja maupun bermasyarakat ditampilkan. Di sisi lain, ada sekelompok orang yang menggotong Kitab Suci. Beban yang berat menjadikan mereka jatuh. Pada saat itulah, dibutuhkan kepekaan: pakah kita hendak terlibat untuk ikut mengusung Kitab Suci itu. Memanggulnya dan menempatkannya pada tempat yang semestinya?

Aksi teatrikal ini dibundeli oleh Romo Wito dalam kotbah singkatnya. “Mana yang penting dan terbaik dalam kehidupan kita? Itulah pertanyaan yang bisa kita renungkan. Maria memilih untuk mendengarkan Tuhan dan itulah yang terbaik. Kita mau memilih apa? Rasanya mendengarkan Tuhan tetap menjadi pilihan terbaik. Mendengarkan Tuhan pada masa kini berarti mau membaca Kitab Suci dan merenungkannya” jelas romo Wito.



Semoga kegiatan ini tidak hanya berhenti pada kegiatan seremoni semata. Namun bergerak ke tempat yang lebih dalam. Moga-moga kegiatan ini berdaya ubah untuk umat.

AKSI DONOR DARAH 110 ORANG 
Sunday, July 11, 2010, 19:14 - BERITA Posted by Administrator


Dalam memperingati hari jadi Gereja Ignatius ke 110, Panitia mengadakan banyak kegiatan. Kemarin telah diadakan kegiatan jalan sehat. Hari ini, Minggu 11 Juli 2010, diadakan aksi sosial donor darah 110 orang. Aksi donor darah ini diikuti tidak hanya umat Ignatius, tetapi juga dari paroki-paroki tetangga. Ada yang dari Paroki St. Fatima Magelang dan Pancaarga.




Kegiatan Aksi Donor Darah 110 orang ini dimaksudkan untuk menumbuhkan aksi kemanusiaan. Gereja tidak hanya inklusif, tapi perlu membuka diri demi semakin tampaknya wajah sosial gereja. Aksi donor darah hendak menunjukkan kepedulian Gereja kepada masyarakat yang sedang sakit dan membutuhkan bantuan donor darah. Aksi ini bekerja sama dengan PMI Magelang Kota.

Romo Krisno (kiri) ketika menunggu giliran

Romo Wito sedang diambil darahnya

Tidak hanya berbicara, tapi para romo pun ikut memberikan contoh. Romo Krisno dan Romo Wito juga ikut memnyumbangkan darahnya dalam aksi donor darah 110 orang ini. Hal ini dimaksudkan supaya umat semakin tergugah untuk berani berbagi berkah kepada sesama.


<<First <Back | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang