Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
KEVIKEPAN KEDU : Gua Maria Bunda Penolong Abadi Secang 
Thursday, June 28, 2012, 19:21 - BERITA Posted by Administrator


Menandai bulan Mei 2012, bulan yang dipersembahkan khusus oleh umat Katolik bagi Bunda Maria, umat di wilayah St. Maria Regina Pacis Secang, Kabupaten Magelang Jum’at, 18 Mei 2012 meresmikan Gua Maria Bunda Penolong Abadi. Gua Maria yang berada di salah satu stasi dari Paroki St. Maria Fatima Magelang ini terletak di sebelah timur Kapel. Peresmian yang diawali pada pukul 17.00 dengan Misa Syukur yang dipimpin konselebran Romo Vikep Kedu, FX. Krisno Handoyo, Pr. dan Romo R. Sapto Raharja, Pr., Romo Paroki St. Maria Fatimah Magelang dan diikuti oleh sekitar 300 umat di wilayah dan para undangan dari paroki – paroki sekitar.



Dalam homilinya Romo Vikep Kedu mengatakan ; Kehadiran Gua Maria ini hendaknya membawa umat di wilayah ini secara lebih signifikan dan relevan memiliki kepedulian bukan saja kepada Gereja, namun juga lingkungan dan masyarakat yang ada disekitarnya. Lebih lanjut dikatakan ; jika malah membawa persoalan tentu ini tidak sesuai dengan misi apa yang dibawa oleh Bunda Maria.



Gua Maria Bunda Penolong Abadi Secang ini terletak di km.10 jalan raya Magelang – Semarang, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. Lokasi tempat peziarahan ini berbentuk persegi dengan panel jalan salib melingkar. Pada kesempatan itu juga diberkati sumber mata air yang terletak disebelah kanan belakang pelataran yang berbatasan dengan kapel. Sebagaimana dituturkan oleh panitia, bahwa patung yang disemayamkan di gua adalah pemberian dari Uskup Agung Semarang, Mrg. Johanes Pujasumarta.



KEVIKEPAN KEDU : 65 TAHUN TARAKANITA 
Thursday, June 28, 2012, 18:48 - Inspirasi Posted by Administrator


Lebih 4000 penonton hadir memadati gedung pertemuan Tribakti Magelang (Kamis , 21 Juni 2012). Malam itu siswa-siswi SD,SMP,SMA,SMKK yang bernaung di bawah Yayasan Tarakanita Magelang menggelar pertunjukan seni yang bertajuk ‘Serviam In Caritate’ – Pengabdian Cinta. Drama kolosal yang melibatkan 600 siswa-siswi ini dipersembahkan dalam memperingati Jubelium 175 tahun Kongregasi Suster – suster Carolus Borromeus, pendiri lembaga pendidikan Tarakanita dan 60 tahun berdirinya Yayasan Tarakanita.



Pertunjukan seni gerak, lagu dan drama yang mengisahkan sejarah awal mula berkaryanya kongregasi suster-suster Carolus Borromeus di Indonesia dan berdirinya sekolah Tarakanita ini disutradarai oleh Bondan Nusantara, sedangkan musiknya digarap oleh Adek Wijayanto, guru pengasuh pendidikan ekstra kurikuler musik SMA Tarakanita Magelang. Dalam sambutannya suster Avriani Widyastuti, CB, Ketua Yayasan Tarakanita Magelang mengatakan ; ‘Pertunjukan ini merupakan ekspresi para siswa-siswi Tarakanita dalam menuangkan minat-bakatnya yang selama ini diikuti melalui pelajaran ekstra kurikuler, khususnya bidang seni’



Dalam tata lampu yang apik dan komposisi musik yang dinamis ‘Serviam In Caritate’ tampil menawan malam itu. Alur cerita yang diawali dengan komposisi musik lembut, mengalir mengiringi lagu dan tari ‘Satu hati Satu Semangat’ yang bercerita tentang karya perutusan dan peran sekolah Tarakanita bagi bangsa Indonesia, khususnya dalam ikut mendidik manusia muda menjadi cerdas dan berbela rasa. Pada bagian lain kolaborasi orkestra yang memadukan berbagai alat musik, piano, biola, drum, perkusi dan gamelan menyajikan lagu – lagu ; ‘Hatiku Bernyala’, ‘Masih Ada Bintang’, ‘Yo Ayo Bangkit’, Dunia Membutuhkan Kita’, dan ‘Pemilik Masa depan’. Pagelaran yang berlangsung 1,5 jam ini merangkai gerak tari dan drama musikal sejarah lahirnya lembaga pendidikan Tarakanita dan peran sertanya dalam kehidupan masyarakat di Magelang.



Dalam karya mengembangkan pendidikan di Indonesia, yayasan Tarakanita mengelola di 7 wilayah, yang salah satunya adalah wilayah Jawa Tengah dengan sekolah TK, SD, SMP, SMA Tarakanita dan SMK Pius Magelang, SMP Pendowo Ngablak Kabupaten Magelang dan TK, SD, SMP Tarakanita Solo baru.

E.Yusuf Kusuma (Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu)

KEVIKEPAN KEDU : SMA VAN LITH RESMIKAN MONUMEN 4 PAHLAWAN NASIONAL 
Thursday, June 28, 2012, 18:29 - Inspirasi Posted by Administrator


Peresmian monumen empat Pahlawan Nasional ; Yos Sudarso, Mgr. Soegiya Pranoto, IJ. Kasimo dan C. Simanjuntak yang mengapit patung Romo Van Lith (Sabtu, 26 Mei 2012) di pelataran sekolah SMA PL. Van Lith Muntilan, Kabupaten Magelang menandai dibukanya perayaan memperingati Hari Van Lith tahun 2012. Perayaan yang diawali dengan Misa Syukur yang dipimpin oleh Romo M. Nurwidipranoto Pr, Direktur Museum Misi Muntilan dimeriahkan paduan suara dan iringan gamelan oleh siswa-siswi Van Lith



Dalam homilinya (kotbah), Romo Nurwidi mengatakan, bahwa dalam kalender Gereja bertepatan dengan hari raya Pentakosta, turunnya Roh Allah, Roh Kebenaran yang membimbing kita dan tentu juga membimbing keempat pahlawan nasional yang dipatungkan ini. Mereka lewat perjuangannya mewartakan kebenaran sehingga segala tindakannya juga selalu dipenuhi oleh Roh Allah sendiri. Oleh karena itu mereka sungguh memiliki iman yang mendalam dan tangguh.



Sementara itu Bruder Alb. Suwarto FIC, kepala sekolah SMA Van Lith menerangkan mengenai latar belakang dibagunnya monumen pahlawan Nasional, yang adalah juga alumni sekolah Van Lith dimaksudkan untuk memberikan inspirasi kepada siswa-siswi tentang pentingnya pendidikan rohani dan nasionalisme. Dalam penjelasannya kepada lebih 1000 umat yang terdiri dari para siswa dan tamu undangan, bruder Warto menjelaskan, sebagaimana semboyan Mgr. Soegiya Pranata, Uskup pertama Indonesia ; 100 persen Katolik, 100 persen Indonesia menjadi landasan dinamika dan diharapkan menjadi inspirasi para siswa untuk terlibat dalam membangun bangsa. Sedangkan Bruder Frans Sugi FIC, Kepala yayasan Van Lith dalam sambutannya menambahkan harapannya, kelak dipelataran ini akan dipenuhi oleh monumen – monumen yang lain menyusul keempat monumen yang baru saja diresmikan.



Peresmian yang dilakukan dengan memerciki monumen berupa patung – patung keempat pahlawan Nasional itu dengan air yang telah diberkati melalui Romo Nurwidi membuka serangkaian acara peringatan Hari Van Lith yakni, pentas seni teater dan sendratari oleh para siswa yang dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit bersama dalang Bruder Frans dan Romo Tri Wijantoro. Sebelum acara pentas dimulai, Bruder Warto menyampaikan informasi mengenai kelulusan SMA Van Liht tahun ajaran 2011 – 2012 yang 100 persen dari 180 siswa-siswi.


E. Yusuf Kusuma ( Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu )

KEVIKEPAN KEDU : Seabad Seminari Mertoyudan 
Thursday, June 28, 2012, 17:53 - Inspirasi Posted by Administrator


Ada begitu banyak keindahan dibalik perbedaan yang pantas disyukuri. Momentum peringatan 100 tahun bukan sekedar hingar bingar pertunjukan tanpa makna, namun bagi Seminari St. Petrus Canisius Mertoyudan, Kabupaten Magelang adalah sebuah refleksi akan perutusan. Puisi ‘Malam Surgawi’ karya Atika siswi kelas 3 SMP Negeri 2 Salam, Kabupaten Magelang dibacakan berurutan dengan puisi "Penari di Tanah Cinta" karya penyair Dorothea Rosa Herliany membuka pagelaran pentas ‘Sekaten Seni’ Sabtu siang ( 2 Juni 20112 ), setelah paginya diselenggarakan Misa Syukur yang dipersembahkan secara konselebran oleh Uskup Agung Semarang, Monsinyur Johannes Pujasumarta bersama Kardinal Julius Darmoatmaja dan 8 Uskup Indonesia, diantaranya Monsinyur Ignatius Suharyo Uskup Agung Jakarta, Monsinyur Blasius Pujaraharja Uskup Kalimantan Barat, Monsinyur Nicolaus Adi Seputra Uskup Agung Merauke, Monsinyur A.M. Sutrisnaatmaka Uskup Palangkaraya, Monsinyur Harjosusanto Uskup Tanjung Selor, Monsinyur Pandoyoputro Uskup Malang, dan Uskup Purwokerto Monsinyur J Sunarka.



Pentas yang menjadi bagian dari perayaan syukur Seabad Seminari ini bertajuk ’Ensiklopedia Agrobudaya’ melibatkan 350 petani yang tinggal di lereng-lereng 5 gunung di Kabupaten Magelang ; Merapi, Merbabu, Menoreh, Andong dan Sumbing. Pentas seni siang itu adalah eksekusi dari serangkaian panjang pentas-pentas sebelumnya. Lewat malam ‘Mawas Diri’, gerakan para penari dari komunitas seni ‘Tjipta Budaya’ Tutup Ngisor, Dukun, ‘Sastra Surgawi’ performa baca puisi dan mantera gunung, atau gerak joget erotis para penari ‘lengger’ dari dusun Krandegan, Sukomakmur Kajoran, lereng gunung Sumbing hingga pesan dari pentas wayang orang dalam lakon ‘Arjunawiwaha’ merajut benang merah perutusan bagi keutuhan semesta alam karya agung Sang Maha Pencipta. Ada perjumpaan, ada pergumulan, ada keraguan, ada kekurangan, ada kelebihan, dan ada jutaan perbedaan lebur jadi satu mengkristal dalam spirit berbagi. ‘Perbedaan’, entah berapa kali kata itu terucap sepanjang proses pementasan ‘Ensiklopedia Agrobudaya’ keluar dari Sutanto, budayawan Mendut. ’Ensiklopedia Agrobudaya’ menawarkan nilai-nilai perbedaan ditengah arus besar jaman yang semakin individualistis sekaligus menjadi catatan penting pejiarahan Seminari melintas batas budaya, dari budaya tradisional ruwatan situs-situs prasasti kuno hingga budaya paling mutakir serba instan digital.



Semerbak bakaran dupa kayu cendana diseputar altar Tahta Suci yang dibangun megah tepat di depan Kapel Seminari, atau juga bau kemenyan yang berkelindan dan bunga-bunga mawar yang ditaburkan diarena pentas seni membawa suasana romantis magis diantara sekitar 3500 umat yang hadir. Lagu ‘Panis angelicus’ karya Cesar Franck yang mengalun lewat paduan suara Seminaris ditengah ritual Perayaan Misa, atau tembang-tembang mantera sepanjang sajian ‘Ritus Lima Gunung’, melahirkan paling tidak spirit untuk berbagi kepada siapa saja yang hadir saat itu tanpa harus berkata-kata. Totalitas seni para penari dan suasana magis semakin tercipta indah, merasuk hingga bukan saja para pelaku peran yang ‘kesurupan’, namun sekaligus menghipnotis ruang – ruang pikiran dan batin para penonton, pewarta, fotografer hingga sulit untuk bisa di nalar menjadi lebur dalam ritual bersama yang sakral.



‘Ensiklopedia Agrobudaya’ mewarnai perjalanan para seminaris, calon imam Katolik dalam memahami proses pencarian jatidiri sebagai pribadi yang utuh dalam perutusan Gereja yang hidup ditengah masyarakat. Ruang pertanyaan lalu menjadi refleksi teologis tentang rangkaian seabad. Jangan – jangan dibalik ‘kesurupan’ yang sejauh ini dimengerti sebagai karasukan setan dalam tarian tradisional, disana ada tersimpan keyakinan, bahwa Allah yang esa dan transenden memenuhi relung jiwa, hati dan pikiran saat itu hingga tercipta suasana sakral bahasa roh. Bukankah para rasul juga dikira kesurupan ketika Roh Kudus Allah turun ke atas mereka ? Hari Raya Pentakosta.



‘Duc in Altum’ tulisan yang dipasang di tengah atas altar Perayaan Misa siang itu adalah motto yang dipilih oleh Mgr. Yohanes Pujasumarta ketika ditahbiskan menjadi Uskup di Keuskupan Bandung pada tanggal 16 Juli 2008. ‘Bertolaklah ke tempat yang dalam’ merupakan sabda Tuhan kepada murid – murid-Nya di tepi danau Galilea sekitar 2000 tahun yang lalu. Jika motto itu dipilih sebagai tema Perayaan Syukur Seabad Seminari hari itu, maka tampaknya Monsinyur Pujo mengajak untuk menemukan tempat yang dalam pada setiap kali masuk kedalam misteri persatuan dengan Sang Pencipta Alam Semesta. Dari tempat yang dalam itu dapat memandang Sang Seniman Sejati, Allah yang bersemayan di tempat yang Maha Tinggi, sekaligus ditenggelamkan dalam proses pencarian jatidiri mencari makna dan menjalankan nilai – nilai kehidupan yang benar dan baik, lebih dalam, lebih mulia dan lebih indah.

E. Yusuf Kusuma – Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu.


<<First <Back | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang