Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
KEVIKEPAN KEDU : SMA VAN LITH RESMIKAN MONUMEN 4 PAHLAWAN NASIONAL 
Thursday, June 28, 2012, 18:29 - Inspirasi Posted by Administrator


Peresmian monumen empat Pahlawan Nasional ; Yos Sudarso, Mgr. Soegiya Pranoto, IJ. Kasimo dan C. Simanjuntak yang mengapit patung Romo Van Lith (Sabtu, 26 Mei 2012) di pelataran sekolah SMA PL. Van Lith Muntilan, Kabupaten Magelang menandai dibukanya perayaan memperingati Hari Van Lith tahun 2012. Perayaan yang diawali dengan Misa Syukur yang dipimpin oleh Romo M. Nurwidipranoto Pr, Direktur Museum Misi Muntilan dimeriahkan paduan suara dan iringan gamelan oleh siswa-siswi Van Lith



Dalam homilinya (kotbah), Romo Nurwidi mengatakan, bahwa dalam kalender Gereja bertepatan dengan hari raya Pentakosta, turunnya Roh Allah, Roh Kebenaran yang membimbing kita dan tentu juga membimbing keempat pahlawan nasional yang dipatungkan ini. Mereka lewat perjuangannya mewartakan kebenaran sehingga segala tindakannya juga selalu dipenuhi oleh Roh Allah sendiri. Oleh karena itu mereka sungguh memiliki iman yang mendalam dan tangguh.



Sementara itu Bruder Alb. Suwarto FIC, kepala sekolah SMA Van Lith menerangkan mengenai latar belakang dibagunnya monumen pahlawan Nasional, yang adalah juga alumni sekolah Van Lith dimaksudkan untuk memberikan inspirasi kepada siswa-siswi tentang pentingnya pendidikan rohani dan nasionalisme. Dalam penjelasannya kepada lebih 1000 umat yang terdiri dari para siswa dan tamu undangan, bruder Warto menjelaskan, sebagaimana semboyan Mgr. Soegiya Pranata, Uskup pertama Indonesia ; 100 persen Katolik, 100 persen Indonesia menjadi landasan dinamika dan diharapkan menjadi inspirasi para siswa untuk terlibat dalam membangun bangsa. Sedangkan Bruder Frans Sugi FIC, Kepala yayasan Van Lith dalam sambutannya menambahkan harapannya, kelak dipelataran ini akan dipenuhi oleh monumen – monumen yang lain menyusul keempat monumen yang baru saja diresmikan.



Peresmian yang dilakukan dengan memerciki monumen berupa patung – patung keempat pahlawan Nasional itu dengan air yang telah diberkati melalui Romo Nurwidi membuka serangkaian acara peringatan Hari Van Lith yakni, pentas seni teater dan sendratari oleh para siswa yang dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit bersama dalang Bruder Frans dan Romo Tri Wijantoro. Sebelum acara pentas dimulai, Bruder Warto menyampaikan informasi mengenai kelulusan SMA Van Liht tahun ajaran 2011 – 2012 yang 100 persen dari 180 siswa-siswi.


E. Yusuf Kusuma ( Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu )

KEVIKEPAN KEDU : Seabad Seminari Mertoyudan 
Thursday, June 28, 2012, 17:53 - Inspirasi Posted by Administrator


Ada begitu banyak keindahan dibalik perbedaan yang pantas disyukuri. Momentum peringatan 100 tahun bukan sekedar hingar bingar pertunjukan tanpa makna, namun bagi Seminari St. Petrus Canisius Mertoyudan, Kabupaten Magelang adalah sebuah refleksi akan perutusan. Puisi ‘Malam Surgawi’ karya Atika siswi kelas 3 SMP Negeri 2 Salam, Kabupaten Magelang dibacakan berurutan dengan puisi "Penari di Tanah Cinta" karya penyair Dorothea Rosa Herliany membuka pagelaran pentas ‘Sekaten Seni’ Sabtu siang ( 2 Juni 20112 ), setelah paginya diselenggarakan Misa Syukur yang dipersembahkan secara konselebran oleh Uskup Agung Semarang, Monsinyur Johannes Pujasumarta bersama Kardinal Julius Darmoatmaja dan 8 Uskup Indonesia, diantaranya Monsinyur Ignatius Suharyo Uskup Agung Jakarta, Monsinyur Blasius Pujaraharja Uskup Kalimantan Barat, Monsinyur Nicolaus Adi Seputra Uskup Agung Merauke, Monsinyur A.M. Sutrisnaatmaka Uskup Palangkaraya, Monsinyur Harjosusanto Uskup Tanjung Selor, Monsinyur Pandoyoputro Uskup Malang, dan Uskup Purwokerto Monsinyur J Sunarka.



Pentas yang menjadi bagian dari perayaan syukur Seabad Seminari ini bertajuk ’Ensiklopedia Agrobudaya’ melibatkan 350 petani yang tinggal di lereng-lereng 5 gunung di Kabupaten Magelang ; Merapi, Merbabu, Menoreh, Andong dan Sumbing. Pentas seni siang itu adalah eksekusi dari serangkaian panjang pentas-pentas sebelumnya. Lewat malam ‘Mawas Diri’, gerakan para penari dari komunitas seni ‘Tjipta Budaya’ Tutup Ngisor, Dukun, ‘Sastra Surgawi’ performa baca puisi dan mantera gunung, atau gerak joget erotis para penari ‘lengger’ dari dusun Krandegan, Sukomakmur Kajoran, lereng gunung Sumbing hingga pesan dari pentas wayang orang dalam lakon ‘Arjunawiwaha’ merajut benang merah perutusan bagi keutuhan semesta alam karya agung Sang Maha Pencipta. Ada perjumpaan, ada pergumulan, ada keraguan, ada kekurangan, ada kelebihan, dan ada jutaan perbedaan lebur jadi satu mengkristal dalam spirit berbagi. ‘Perbedaan’, entah berapa kali kata itu terucap sepanjang proses pementasan ‘Ensiklopedia Agrobudaya’ keluar dari Sutanto, budayawan Mendut. ’Ensiklopedia Agrobudaya’ menawarkan nilai-nilai perbedaan ditengah arus besar jaman yang semakin individualistis sekaligus menjadi catatan penting pejiarahan Seminari melintas batas budaya, dari budaya tradisional ruwatan situs-situs prasasti kuno hingga budaya paling mutakir serba instan digital.



Semerbak bakaran dupa kayu cendana diseputar altar Tahta Suci yang dibangun megah tepat di depan Kapel Seminari, atau juga bau kemenyan yang berkelindan dan bunga-bunga mawar yang ditaburkan diarena pentas seni membawa suasana romantis magis diantara sekitar 3500 umat yang hadir. Lagu ‘Panis angelicus’ karya Cesar Franck yang mengalun lewat paduan suara Seminaris ditengah ritual Perayaan Misa, atau tembang-tembang mantera sepanjang sajian ‘Ritus Lima Gunung’, melahirkan paling tidak spirit untuk berbagi kepada siapa saja yang hadir saat itu tanpa harus berkata-kata. Totalitas seni para penari dan suasana magis semakin tercipta indah, merasuk hingga bukan saja para pelaku peran yang ‘kesurupan’, namun sekaligus menghipnotis ruang – ruang pikiran dan batin para penonton, pewarta, fotografer hingga sulit untuk bisa di nalar menjadi lebur dalam ritual bersama yang sakral.



‘Ensiklopedia Agrobudaya’ mewarnai perjalanan para seminaris, calon imam Katolik dalam memahami proses pencarian jatidiri sebagai pribadi yang utuh dalam perutusan Gereja yang hidup ditengah masyarakat. Ruang pertanyaan lalu menjadi refleksi teologis tentang rangkaian seabad. Jangan – jangan dibalik ‘kesurupan’ yang sejauh ini dimengerti sebagai karasukan setan dalam tarian tradisional, disana ada tersimpan keyakinan, bahwa Allah yang esa dan transenden memenuhi relung jiwa, hati dan pikiran saat itu hingga tercipta suasana sakral bahasa roh. Bukankah para rasul juga dikira kesurupan ketika Roh Kudus Allah turun ke atas mereka ? Hari Raya Pentakosta.



‘Duc in Altum’ tulisan yang dipasang di tengah atas altar Perayaan Misa siang itu adalah motto yang dipilih oleh Mgr. Yohanes Pujasumarta ketika ditahbiskan menjadi Uskup di Keuskupan Bandung pada tanggal 16 Juli 2008. ‘Bertolaklah ke tempat yang dalam’ merupakan sabda Tuhan kepada murid – murid-Nya di tepi danau Galilea sekitar 2000 tahun yang lalu. Jika motto itu dipilih sebagai tema Perayaan Syukur Seabad Seminari hari itu, maka tampaknya Monsinyur Pujo mengajak untuk menemukan tempat yang dalam pada setiap kali masuk kedalam misteri persatuan dengan Sang Pencipta Alam Semesta. Dari tempat yang dalam itu dapat memandang Sang Seniman Sejati, Allah yang bersemayan di tempat yang Maha Tinggi, sekaligus ditenggelamkan dalam proses pencarian jatidiri mencari makna dan menjalankan nilai – nilai kehidupan yang benar dan baik, lebih dalam, lebih mulia dan lebih indah.

E. Yusuf Kusuma – Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu.

Garin Nugroho, sutradara film ‘Soegija’ hadir di Magelang. 
Thursday, June 28, 2012, 17:33 - BERITA Posted by Administrator


Film ‘Soegija’ yang telah ditayangkan di studio XXI sejak awal bulan ini, Minggu 24 Juni 2012 yang lalu oleh OMK (Orang Muda Katolik) Gereja St. Ignatius Magelang diapresiasi dalam saresehan bersama sutradaranya, Garin Nugroho di Aula SDK. Pendowo, kompleks Gereja St. Ignatius Magelang. Acara yang diikuti oleh sekitar 100 peserta, yang sebagian besar adalah orang muda ini berlangsung selama lebih dari 1 jam. Dalam dialognya Garin banyak menceritakan proses pembuatan film ini yang cukup rumit, mengingat harus memilah bagian – bagian dari catatan harian Uskup Soegija dibalik riset-riset yang ia lakukan. Dikatakan lebih lanjut bahwa film ‘Soegiyo’ ini adalah sepenggal kisah kehidupan Uskup Indonesia pertama yang diangkat menjadi pahlawan Nasional pada masa presiden Soekarno.



Garin Nugroho, sutradara film yang sangat identik dengan film-film nasional berkualitas akan hadir di Magelang.(Minggu, 24 Juni 2012). Pria lulusan SMA Kolese Loyola Semarang, yang kemudian melanjutkan di Institut Kesenian Jakarta ini telah melahirkan film-film yang memperoleh banyak penghargaan diantaranya ‘Cinta dalam Sepotong Roti’ tahun 1991, juga film berjudul ‘Daun di Atas bantal’tahun 1997 dan ‘Mata Tertutup’ tahun 2012.



Pada tahun ini Garin Nugroho menggarap film layar lebar berjudul ‘Soegija’ yang mengisahkan perjuangan sosok Monsinyur Soegija Pranoto, Uskup pribumi pertama di Indonesia sekitar tahun 1940-1949. Disamping itu film yang berdurasi hampir 2 jam ini juga menghadirkan sisi-sisi kemanusiaan dalam karakter tokoh - tokoh yang ada disekitar figur sentral Soegija seperti Mariyem (Annisa Hertami), seorang perawat yang harus berpisah dengan kakaknya, Maryono (Abe). Ada bocah Tionghoa bernama Ling Ling (Andrea Reva) yang terpisah dari ibunya (diperankan Olga Lidya). Ada perwira Jepang Nobizuki (diperankan Suzuki) yang rindu pada putrinya yang membuat ia tak bisa tega pada anak-anak. Ada juga Robert (Wouter Zweers), seorang tentara Belanda yang begitu merendahkan bangsa pribumi, merasa dirinya mesin perang yang hebat, namun mendadak tersentuh oleh seorang bayi, dan ingin pulang ke ibunya di Belanda. Robert yang berkawan dengan Hendrick (Wouter Braaf), jurnalis foto yang jatuh cinta pada Mariyem tapi cintanya ditolak. Film yang mengambil lokasi syutingnya di Semarang, Ambarawa, Klaten, Solo dan Jogja ini melibatkan lebih 2000 pemain. Lewat film ini diharapkan Garin bisa memberi inspirasi tentang multikultural dalam basis nasionalisme.


Malam Paskah Gereja St Ignatius Magelang 
Monday, April 9, 2012, 06:35 - BERITA Posted by Administrator

Ritual penyalan lilin Paskah oleh Romo FX. Krisno Handoyo, Pr mengawali Perayaan Paskah 2012 umat Katolik Magelang di Gereja St. Ignatius. Paskah adalah hari kebangkitan Yesus setelah wafat di kayu salib yang diperingati pada hari Jum’at, 6 April 2012 kemarin.

Misa Paskah yang dihadiri oleh lebih dari 2000 umat ini, Romo Krisno, Romo Paroki mengajak seluruh umat untuk bergembira menyambut kebangkitan Tuhan Yesus Kristus dengan bertepuk tangan meriah. Alunan tembang gereja yang berkisah tentang penciptaan dunia dideraskan ditengah – tengah suasana terang lilin yang dibawa oleh masing – masing umat.

Bacaan – bacaan dari Injil dan kidung – kidung bermadah ‘gregorian’ mengantar umat yang hadir hingga memenuhi halaman depan dan samping barat gedung Gereja itu untuk meresapi homili ( kotbah ) malam Paskah. Dalam homilinya Romo Krisno mengajak seluruh umat untuk bersyukur dengan menyanyikan ‘Kasih Allah ku sungguh telah terbukti’.

Paskah memberi makna bahwa ; kebahagiaan yang sejati hanya bisa dicapai lewat syukur dan penderitaan. Karena Yesus melalui penderitaan hingga disalibkan, wafat dan bangkit demi keselamatan kita, maka kebangkitan Kristus itu memberi kepastian atas keselamatan, demikian pesan homili malam itu.

Dalam Misa Syukur malam Paskah yang dimulai dari jam 17.30 dan berlangsung hingga lebih dua jam itu juga diadakan pemberkatan kepada seluruh umat dengan percikan air oleh Romo dan Prodiakon.

E. Yusuf Kusuma ( Ketua Komisi Komsos Kevikepan Kedu )

<<First <Back | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang