Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
KEVIKEPAN KEDU : Seabad Seminari Mertoyudan 
Thursday, June 28, 2012, 17:53 - Inspirasi Posted by Administrator


Ada begitu banyak keindahan dibalik perbedaan yang pantas disyukuri. Momentum peringatan 100 tahun bukan sekedar hingar bingar pertunjukan tanpa makna, namun bagi Seminari St. Petrus Canisius Mertoyudan, Kabupaten Magelang adalah sebuah refleksi akan perutusan. Puisi ‘Malam Surgawi’ karya Atika siswi kelas 3 SMP Negeri 2 Salam, Kabupaten Magelang dibacakan berurutan dengan puisi "Penari di Tanah Cinta" karya penyair Dorothea Rosa Herliany membuka pagelaran pentas ‘Sekaten Seni’ Sabtu siang ( 2 Juni 20112 ), setelah paginya diselenggarakan Misa Syukur yang dipersembahkan secara konselebran oleh Uskup Agung Semarang, Monsinyur Johannes Pujasumarta bersama Kardinal Julius Darmoatmaja dan 8 Uskup Indonesia, diantaranya Monsinyur Ignatius Suharyo Uskup Agung Jakarta, Monsinyur Blasius Pujaraharja Uskup Kalimantan Barat, Monsinyur Nicolaus Adi Seputra Uskup Agung Merauke, Monsinyur A.M. Sutrisnaatmaka Uskup Palangkaraya, Monsinyur Harjosusanto Uskup Tanjung Selor, Monsinyur Pandoyoputro Uskup Malang, dan Uskup Purwokerto Monsinyur J Sunarka.



Pentas yang menjadi bagian dari perayaan syukur Seabad Seminari ini bertajuk ’Ensiklopedia Agrobudaya’ melibatkan 350 petani yang tinggal di lereng-lereng 5 gunung di Kabupaten Magelang ; Merapi, Merbabu, Menoreh, Andong dan Sumbing. Pentas seni siang itu adalah eksekusi dari serangkaian panjang pentas-pentas sebelumnya. Lewat malam ‘Mawas Diri’, gerakan para penari dari komunitas seni ‘Tjipta Budaya’ Tutup Ngisor, Dukun, ‘Sastra Surgawi’ performa baca puisi dan mantera gunung, atau gerak joget erotis para penari ‘lengger’ dari dusun Krandegan, Sukomakmur Kajoran, lereng gunung Sumbing hingga pesan dari pentas wayang orang dalam lakon ‘Arjunawiwaha’ merajut benang merah perutusan bagi keutuhan semesta alam karya agung Sang Maha Pencipta. Ada perjumpaan, ada pergumulan, ada keraguan, ada kekurangan, ada kelebihan, dan ada jutaan perbedaan lebur jadi satu mengkristal dalam spirit berbagi. ‘Perbedaan’, entah berapa kali kata itu terucap sepanjang proses pementasan ‘Ensiklopedia Agrobudaya’ keluar dari Sutanto, budayawan Mendut. ’Ensiklopedia Agrobudaya’ menawarkan nilai-nilai perbedaan ditengah arus besar jaman yang semakin individualistis sekaligus menjadi catatan penting pejiarahan Seminari melintas batas budaya, dari budaya tradisional ruwatan situs-situs prasasti kuno hingga budaya paling mutakir serba instan digital.



Semerbak bakaran dupa kayu cendana diseputar altar Tahta Suci yang dibangun megah tepat di depan Kapel Seminari, atau juga bau kemenyan yang berkelindan dan bunga-bunga mawar yang ditaburkan diarena pentas seni membawa suasana romantis magis diantara sekitar 3500 umat yang hadir. Lagu ‘Panis angelicus’ karya Cesar Franck yang mengalun lewat paduan suara Seminaris ditengah ritual Perayaan Misa, atau tembang-tembang mantera sepanjang sajian ‘Ritus Lima Gunung’, melahirkan paling tidak spirit untuk berbagi kepada siapa saja yang hadir saat itu tanpa harus berkata-kata. Totalitas seni para penari dan suasana magis semakin tercipta indah, merasuk hingga bukan saja para pelaku peran yang ‘kesurupan’, namun sekaligus menghipnotis ruang – ruang pikiran dan batin para penonton, pewarta, fotografer hingga sulit untuk bisa di nalar menjadi lebur dalam ritual bersama yang sakral.



‘Ensiklopedia Agrobudaya’ mewarnai perjalanan para seminaris, calon imam Katolik dalam memahami proses pencarian jatidiri sebagai pribadi yang utuh dalam perutusan Gereja yang hidup ditengah masyarakat. Ruang pertanyaan lalu menjadi refleksi teologis tentang rangkaian seabad. Jangan – jangan dibalik ‘kesurupan’ yang sejauh ini dimengerti sebagai karasukan setan dalam tarian tradisional, disana ada tersimpan keyakinan, bahwa Allah yang esa dan transenden memenuhi relung jiwa, hati dan pikiran saat itu hingga tercipta suasana sakral bahasa roh. Bukankah para rasul juga dikira kesurupan ketika Roh Kudus Allah turun ke atas mereka ? Hari Raya Pentakosta.



‘Duc in Altum’ tulisan yang dipasang di tengah atas altar Perayaan Misa siang itu adalah motto yang dipilih oleh Mgr. Yohanes Pujasumarta ketika ditahbiskan menjadi Uskup di Keuskupan Bandung pada tanggal 16 Juli 2008. ‘Bertolaklah ke tempat yang dalam’ merupakan sabda Tuhan kepada murid – murid-Nya di tepi danau Galilea sekitar 2000 tahun yang lalu. Jika motto itu dipilih sebagai tema Perayaan Syukur Seabad Seminari hari itu, maka tampaknya Monsinyur Pujo mengajak untuk menemukan tempat yang dalam pada setiap kali masuk kedalam misteri persatuan dengan Sang Pencipta Alam Semesta. Dari tempat yang dalam itu dapat memandang Sang Seniman Sejati, Allah yang bersemayan di tempat yang Maha Tinggi, sekaligus ditenggelamkan dalam proses pencarian jatidiri mencari makna dan menjalankan nilai – nilai kehidupan yang benar dan baik, lebih dalam, lebih mulia dan lebih indah.

E. Yusuf Kusuma – Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu.

Garin Nugroho, sutradara film ‘Soegija’ hadir di Magelang. 
Thursday, June 28, 2012, 17:33 - BERITA Posted by Administrator


Film ‘Soegija’ yang telah ditayangkan di studio XXI sejak awal bulan ini, Minggu 24 Juni 2012 yang lalu oleh OMK (Orang Muda Katolik) Gereja St. Ignatius Magelang diapresiasi dalam saresehan bersama sutradaranya, Garin Nugroho di Aula SDK. Pendowo, kompleks Gereja St. Ignatius Magelang. Acara yang diikuti oleh sekitar 100 peserta, yang sebagian besar adalah orang muda ini berlangsung selama lebih dari 1 jam. Dalam dialognya Garin banyak menceritakan proses pembuatan film ini yang cukup rumit, mengingat harus memilah bagian – bagian dari catatan harian Uskup Soegija dibalik riset-riset yang ia lakukan. Dikatakan lebih lanjut bahwa film ‘Soegiyo’ ini adalah sepenggal kisah kehidupan Uskup Indonesia pertama yang diangkat menjadi pahlawan Nasional pada masa presiden Soekarno.



Garin Nugroho, sutradara film yang sangat identik dengan film-film nasional berkualitas akan hadir di Magelang.(Minggu, 24 Juni 2012). Pria lulusan SMA Kolese Loyola Semarang, yang kemudian melanjutkan di Institut Kesenian Jakarta ini telah melahirkan film-film yang memperoleh banyak penghargaan diantaranya ‘Cinta dalam Sepotong Roti’ tahun 1991, juga film berjudul ‘Daun di Atas bantal’tahun 1997 dan ‘Mata Tertutup’ tahun 2012.



Pada tahun ini Garin Nugroho menggarap film layar lebar berjudul ‘Soegija’ yang mengisahkan perjuangan sosok Monsinyur Soegija Pranoto, Uskup pribumi pertama di Indonesia sekitar tahun 1940-1949. Disamping itu film yang berdurasi hampir 2 jam ini juga menghadirkan sisi-sisi kemanusiaan dalam karakter tokoh - tokoh yang ada disekitar figur sentral Soegija seperti Mariyem (Annisa Hertami), seorang perawat yang harus berpisah dengan kakaknya, Maryono (Abe). Ada bocah Tionghoa bernama Ling Ling (Andrea Reva) yang terpisah dari ibunya (diperankan Olga Lidya). Ada perwira Jepang Nobizuki (diperankan Suzuki) yang rindu pada putrinya yang membuat ia tak bisa tega pada anak-anak. Ada juga Robert (Wouter Zweers), seorang tentara Belanda yang begitu merendahkan bangsa pribumi, merasa dirinya mesin perang yang hebat, namun mendadak tersentuh oleh seorang bayi, dan ingin pulang ke ibunya di Belanda. Robert yang berkawan dengan Hendrick (Wouter Braaf), jurnalis foto yang jatuh cinta pada Mariyem tapi cintanya ditolak. Film yang mengambil lokasi syutingnya di Semarang, Ambarawa, Klaten, Solo dan Jogja ini melibatkan lebih 2000 pemain. Lewat film ini diharapkan Garin bisa memberi inspirasi tentang multikultural dalam basis nasionalisme.


Malam Paskah Gereja St Ignatius Magelang 
Monday, April 9, 2012, 06:35 - BERITA Posted by Administrator

Ritual penyalan lilin Paskah oleh Romo FX. Krisno Handoyo, Pr mengawali Perayaan Paskah 2012 umat Katolik Magelang di Gereja St. Ignatius. Paskah adalah hari kebangkitan Yesus setelah wafat di kayu salib yang diperingati pada hari Jum’at, 6 April 2012 kemarin.

Misa Paskah yang dihadiri oleh lebih dari 2000 umat ini, Romo Krisno, Romo Paroki mengajak seluruh umat untuk bergembira menyambut kebangkitan Tuhan Yesus Kristus dengan bertepuk tangan meriah. Alunan tembang gereja yang berkisah tentang penciptaan dunia dideraskan ditengah – tengah suasana terang lilin yang dibawa oleh masing – masing umat.

Bacaan – bacaan dari Injil dan kidung – kidung bermadah ‘gregorian’ mengantar umat yang hadir hingga memenuhi halaman depan dan samping barat gedung Gereja itu untuk meresapi homili ( kotbah ) malam Paskah. Dalam homilinya Romo Krisno mengajak seluruh umat untuk bersyukur dengan menyanyikan ‘Kasih Allah ku sungguh telah terbukti’.

Paskah memberi makna bahwa ; kebahagiaan yang sejati hanya bisa dicapai lewat syukur dan penderitaan. Karena Yesus melalui penderitaan hingga disalibkan, wafat dan bangkit demi keselamatan kita, maka kebangkitan Kristus itu memberi kepastian atas keselamatan, demikian pesan homili malam itu.

Dalam Misa Syukur malam Paskah yang dimulai dari jam 17.30 dan berlangsung hingga lebih dua jam itu juga diadakan pemberkatan kepada seluruh umat dengan percikan air oleh Romo dan Prodiakon.

E. Yusuf Kusuma ( Ketua Komisi Komsos Kevikepan Kedu )
Makna Pantang dan Puasa 
Wednesday, February 22, 2012, 15:48 - Inspirasi Posted by Administrator


Hari ini, umat Katolik seluruh dunia memulai retret agung. Retret agung itu lebih dikenal dengan nama masa Prapaskah, yaitu masa persiapan untuk menyambut Misteri Paskah. Masa persiapan itu berjalan selama 40 hari. Di mulai dari hari Rabu Abu sampai dengan Jumat Agung. Selama masa retret agung itu, umat Katolik diajak untuk bermati raga melakukan olah rohani dengan aksi pantang dan puasa serta aksi puasa pembangunan sebagai bentuk nyatanya.

Pertama, olah rohani dalam bentuk aksi pantang dan puasa. Dalam hukum Gereja disebutkan demikian: “Pantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan Konferensi para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan pada hari Jumat Agung, memperingati Sengsara dan Wafat Tuhan Kita Yesus Kristus (Kan. 1521).” Menurut hukum ini, hari Jumat menjadi hari pantang. Selama masa Prapaskah, hari pantang dan puasa adalah Rabu Abu dan Jumat Agung.

Rabu Abu menjadi awal masa pantang dan puasa dalam masa Prapaskah. Pada Pada hari Rabu Abu, umat Katolik datang ke Gereja dan diberi tanda salib dari abu sebagai simbol upacara ini pada dahinya. Simbol ini mengingatkan umat akan ritual Israel pada jaman dahulu di mana seseorang menabur abu di atas kepalanya atau di seluruh tubuhnya sebagai tanda kesedihan, penyesalan dan pertobatan.

Aturan pantang dan puasa dalam Gereja Katolik juga demikian ringan. Dalam pantang, umat Katolik diajak untuk melawan segala bentuk kesenangan diri. Misalnya seseorang yang sangat menikmati rokok, selama masa Prapaskah ia diajak untuk berpantang rokok. Setiap orang yang berumur di atas 14 tahun memiliki kewajiban untuk melakukan pantang. Sedangkan aturan puasa adalah makan kenyang sekali selama sehari. Setiap orang yang berumur antara 18-60 tahun memiliki kewajiban untuk melakukan puasa.

Jika kita melihat aturan mengenai pantang dan puasa, amat mudah kan? Kelihatannya sangat mudah, tetapi jika kita berani bertekun atasnya akan terasa betapa tidak mudah melakukan itu. Hakekat pantang dan puasa dalam Gereja Katolik bukan terletak pada menahan lapar atau haus. Hakekat pantang dan puasa adalah melawan diri sendiri. Dengan demikian, persoalannya bukan soal ritual pantang dan puasanya melainkan terletak pada bagaimana kita menghayati makna pantang dan puasa itu. Jika kita hanya menghayati pantang dan puasa sebatas ritual, maka kita akan semkian ingin melakukan hal-hal yang akan menjauhkan kita dari keselamatan. Pantang dan puasa akan semakin bermakna jika kita mampu memaknai pantang dan puasa sebagai sebuah sarana penyelamatan. Penilaian kita atas pantang dan puasa itulah yang akan mempengaruhi perbuatan kita selama masa retret agung ini.

Pantang dan puasa dari segala jenis daging tidaklah berarti banyak ketika kita membiarkan telinga kita mendengarkan hal-hal yang tidak benar. Ketika kita berpantang dan berpuasa, berpantang dan berpuasalah dengan telinga juga. Berpantang dan berpuasalah dengan mulutmu, dengan tangan dan kakimu, dan dengan seluruh tubuhmu. Apalah artinya tidak makan dan minum jika kita membiarkan mulut kita mengeluarkan kata-kata kotor, makian, gosip, dan menyebarkan kebohongan. Apa artinya kita tidak makan daging atau makanan yang serba enak, tetapi kita menggigit dan memangsa sesama kita?
Kedua, Aksi Puasa Pembangunan. Selain melakukan aksi pantang dan puasa, kita juga diajak sampai kepada gerakan nyata. Gerakan itu disebut sebagai Aksi Puasa Pembangunan (APP). APP ini menyangkut dua aspek, yaitu aspek ke dalam dan keluar. Aspek ke dalam ditandai dengan usaha untuk semakin memperdalam iman dengan aneka bentuk pertemuan dan sarasehan. Sedangkan aspek keluar merupakan tindakan nyata sebagai bentuk pertobatan.

Pada bagian sebelumnya saya menyinggung bahwa aturan pantang dan puasa itu demikian mudah. Tetapi amat sulit untuk dilakukan. Saya akan memberikan contoh di sini. Ketika saya pantang merokok, maka selama masa Prapaskah uang untuk beli rokok itu akan saya masukkan dalam kotak APP. Andaikan sehari saya menghabiskan satu bungkus rokok, maka berapa yang akan saya masukkan ke dalam kotak APP? Jika saya melakukannya setiap Jumat, berarti saya memasukkan uang sebesar 10.000 x 7 (Jumat) = 70.000,- Jika saya melakukannya selama masa Prapaskah, berarti saya akan memasukkan uang sebesar 10.000 x 40 (hari) = 400.000.

Contoh lain dalam hal puasa. Aturan puasa adalah makan kenyang sekali. Dalam sehari kita makan tiga kali. Dalam keluarga ada 3 orang yang melakukan puasa. Katakanlah biaya untuk sekali makan Rp. 10.000,- Berarti pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung kita memasukkan uang sebesar (3 x 2 x 10.000) x 2 (Rabu dan Jumat) = 120.000. Banyak juga ya? Apakah kita mau mengeluarkan uang segitu banyak dan dimasukkan ke kotak APP. Itu baru untuk puasa, belum untuk pantangnya.

Uang yang terkumpul selama masa Prapaskah itu akan digunakan untuk melakukan karya-karya karitatif, terutama untuk membantu mereka yang lemah, miskin, tersingkir, dan difable. Inilah wujud nyata dari gerakan pantang dan puasa.

Hakekat pantang dan puasa dalam Gereja Katolik bukan terletak pada ritualnya yang harus begini atau begitu. Hakekat pantang dan puasa adalah “koyakkanlah hatimu, bukan pakaianmu!” Nilai pantang dan puasa bukan terletak pada ritual karena itu hanyalah pakaian. Yang terpenting adalah bagaimana kita melawan diri sendiri dan masuk dalam suasana pertobatan yang terus menerus. Jika kita melakukan pantang dan puasa dengan membatasi pada tidak makan ini atau itu, maka sebenarnya kita telah merendahkan makna dari pantang dan puasa itu sendiri.


<<First <Back | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang