Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
51 Anak Menerima Komuni Pertama 
Monday, June 27, 2011, 17:35 - BERITA Posted by Administrator

Hari raya Tubuh dan Darah Kristus yang dirayakan pada tanggal 26 Juni 2011 ini terasa berbeda. 51 Anak berpakaian putih-putih tampak berjajar rapi dengan didampingi oleh orang tuanya masing-masing. Raut kegembiraan tampak tergambar di wajah mereka. ke-51 Anak itu adalah merek ayang telah dipersiapkan sejak lama oleh Tim Inisiasi Paroki untuk menerima Komuni Pertama.

"Sebenarnya ada 53 anak, tetapi 2 dari antara mereka terpaksa ditunda karena tidak mengikuti persiapan secara lengkap" ungkap salah satu panitia Komuni Pertama.



Setelah penerimaan komuni pertama, anak-anak mengadakan pesta kebun di halaman belakang pasturan. pesta kebun ini sekaligus menajdi ajang menjalin persaudaraan di antara mereka. Acara ramah tamah ini menjadi tanda kepedulian orang tua untuk anak-anak mereka yang telah diperkenankan untuk menerima komuni pertama.



Pada hri Raya Tubuh dan darah Kristus ini juga diadakan Adorasi Ekaristi selama 24 jam dimulai dari Sabtu setelah Perayaan Ekaristi. Sakramen Ekaristi ditahtakan dalam montrans. Kemudian di adakan upacara penghormatan dan diarak menuju ke Panti Bina Bakti untuk ditahtakan di sana. Umat secara bergantian berjaga bhakti hingga Minggu sore. Moga-moga, peristiwa ini menajdi kesempatan bagi umat untuk menimba inspirasi dan semakin menguatkan iman umat.
Temu Anak Se-Keuskupan Agung Semarang 
Tuesday, April 12, 2011, 15:21 - BERITA Posted by Administrator


Dalam rangka ulang tahun ke 75 tahun, Seminari Tinggi Kentungan mengadakan kegiatan temu anak. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan-perwakilan paroki yang ada di Keuskupan Agung Semarang. Ada sekitar 2000an anak dan pendamping yang terlibat dan berpartisipasi dalam acara tersebut.

Paroki St Ignatius Magelang tidak mau ketinggalan. Ada 26 anak dan 5 pendamping yang datang untuk mengikuti acara tersebut. "Biar anak-anak semakin kenal dengan tempat penggodokan para calon imam dioses di Keuskupan Agung Semarang ini. Semakin mengenal, semakin mereka cinta Gereja" demikian penjelasan Romo Wito yang juga ikut menghantar anak-anak ke Seminari Tinggi.



Ada aneka kegiatan yang dibuat. Anak-anak juga diajak untuk berkeliling di kompleks Seminari. Di setiap titik perhentian, terdapat stan-stan yang menggambarkan aktivitas para frater. Mulai dari lukisan, teater, karawitan, musik, sampai aneka permainan. Semua itu tampak menarik minat anak-anak.

Anak-anak Ignatius juga tidak mau ketinggalan. Mereka dengan berani menampilakn kebolehannya menyanyi di atas panggung. Salut untuk anak-anak Ignatius. Mog-moga tumbuh benih panggilan dalam diri mereka.
Surat Gembala Prapaskah 2011 
Thursday, March 3, 2011, 22:41 - BERITA Posted by Administrator
SURAT GEMBALA PRAPASKA 2011
KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG

Hari Minggu Biasa IX Tahun A/I, Tanggal 5 – 6 Maret 2011


“Orang Katolik Sejati Melakukan Kehendak Bapa”


Saudari-saudaraku yang terkasih,

Rabu Abu menjadi pintu masuk bagi kita semua ke dalam masa Pra Paska, yang dalam tradisi Gereja dijadikan masa untuk “retret agung”. Disebut “retret agung” karena selama 40 hari kita diajak oleh Gereja untuk mengikuti Yesus Tuhan kita semakin dekat, mengenal-Nya semakin dalam, dan mencintai-Nya semakin mesra. Saya anjurkan seluruh umat Katolik sungguh menggunakan masa retret agung untuk keperluan tersebut, secara pribadi maupun bersama, agar iman berkembang semakin mendalam dan tangguh, dan dengan demikian menjadi orang Katolik sejati.

Selama masa Pra Paska 2011 kita diajak untuk merenung, berdoa, dan membicarakannya dalam pertemuan umat dengan tema “Inilah orang Katolik Sejati”. Di manakah terletak kesejatian kita sebagai orang Katolik? Pada nama baptis Katolik yang dipasang melengkapi nama diri? Tentu tidak. Pada keterangan agama yang kita anut, yang tercantum pada KTP? Tidak juga. Pada cara seruan ketika kita berdoa? Pada kutipan Injil hari ini Tuhan Yesus bersabda, ‘Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat. 7: 21) Bukan pada cara seruan kita berdoa, tetapi pada rahmat yang memampukan kita melakukan kehendak Bapa di sorga terletak kesejatian kita sebagai orang Katolik.

Dengan pernyataan tersebut, dapat kita mengerti pula bahwa ‘kekatolikan’ memuat pemahaman tentang iman yang terbuka, bahwa siapa pun yang melakukan kehendak Bapa di sorga dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Katolik merupakan suatu nama yang memuat ajakan agar kita diperkenankan mengalami Allah yang sejati. Pada zaman kita ajakan tersebut menjadi sungguh berat karena kita hidup dalam berbagai arus yang berlawanan secara ekstrim. Ada arus tak peduli pada keberadaan Allah dan perannya bagi keselamatan manusia karena manusia merasa semakin mampu mengusahakan keselamatan sendiri. Ada juga arus fanatisme beragama yang dipeluk oleh orang-orang yang berseru “Tuhan, Tuhan”, namun perilakunya tidak sesuai dengan seruannya, karena merusak milik orang lain, dan bahkan membinasakan kehidupan manusia.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Dalam kehidupan beragama kerap kita jumpai praktek-praktek keagamaan yang tidak selaras dengan pengalaman akan Allah yang sejati, karena bukan Allah yang kita muliakan, melainkan kepentingan diri sendiri yang kita penuhi. Kita beranggapan bahwa pelaku utama keselamatan itu diri manusia, diriku, dan bukan Allah. Dalam seruan kepada Allah, kerap kita berpendapat yang harus terjadi adalah kehendakku, bukan kehendak Bapa yang di sorga. Ranah keagamaan telah kita jadikan tempat berjualan, dan bukan lagi menjadi tempat doa. Kita ciptakan ilah-ilah baru yang muncul dari kepentingan diri kita sendiri untuk memenuhi kepentingan diri kita sendiri pula.

Ketidakberesan dalam ranah keagamaan ini menjadi sumber aliran-aliran arus yang bermuara pada ruang publik yang tuna adab. Intoleransi yang akhir-akhir ini menjadi-jadi, kebohongan publik yang merambah ke setiap sudut ruang kehidupan masyarakat, korupsi, ketidakadilan, kekerasan yang merajalela, bahkan telah masuk dalam keluarga-keluarga kita adalah buah-buah dari hidup keagamaan yang tidak benar, karena yang kita sembah sebenarnya bukan Allah sejati, melainkan ilah-ilah ciptaan kita sendiri.

Permenungan kita mengenai “Inilah orang Katolik sejati” merupakan ajakan pertobatan, agar kita meninggalkan kegelapan untuk masuk dalam terang. Kita buka hati kita agar Roh Kudus, Roh Penasihat, menasihati kita agar menjadi trampil melaksanakan pembedaan roh-roh (Inggris: “discernment of spirits”, Latin “discretio spirituum”). Dalam ulah rohani ini kita kenal langkah-lagkah rohani untuk “necep sabda, neges karsa, ngemban dhawuh”. Langkah-langkah itulah yang dapat kita lakukan untuk mengisi masa Pra Paska kita menjadi masa retret agung.

Dalam langkah “necep sabda”, kita buka telinga kita untuk mendengarkan sabda Allah, yang bersabda melalui Kitab Suci. Sabda itu terasa manis karena meneguhkan perbuatan baik kita, namun sabda itu bisa pahit kalau mengkritik perbuatan salah kita. Seharusnya sebagai orang Katolik sejati kita biarkan daya kekuatan sabda itu mengubah hati kita. Dalam langkah “neges karsa” kita menjajagi apa kehendak Tuhan bagi hidup kita, membeda-bedakan mana kehendak Tuhan, mana kehendak kita; dan kemudian menegaskan bahwa kehendak Tuhanlah yang harus kita utamakan dalam kehidupan kita. Dalam langkah “ngemban dhawuh”, kita bangun kehendak hati dan budi kita karena kita bertekad melaksanakan kehendak Tuhan “ngemban dhawuh Dalem Gusti” dalam kehidupan kita.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Saya yakin, langkah-langkah itu dapat membantu kita menjadi bijaksana untuk mendirikan rumah di atas batu, sebagaimana dikatakan Tuhan, "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” (Mat. 7:24-25).

Sebagai orang Katolik sejati, marilah kita juga bersedia diantar oleh Maria, bunda Allah dan bunda Gereja, kepada Yesus, “per Mariam ad Jesum”. Maria telah menjadi teladan beriman kita. Seluruh hidupnya telah menjadi kesempatan untuk menyimpan segala peristiwa dan merenungkannya dalam hatinya. Setiap kali kita berdoa rosario, dalam sinar peristiwa-peristiwa Tuhan: gembira, terang, sedih dan mulia, kita diajak untuk merenungkan peristiwa-peristiwa hidup kita sendiri sebagai peristiwa-peristiwa keselamatan yang dilaksanakan oleh Allah sendiri.

Allah yang telah memulai pekerjaan-pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (bdk. Flp 1:6).


Salam, doa dan Berkah Dalem,

Semarang, 25 Februari 2011


+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang

Kontingen Koor Paroki Ignatius Juara II 
Wednesday, February 16, 2011, 13:17 - BERITA Posted by Administrator

Koor Wilayah Gregorius Plus


Bertempat di Gereja Ignatius diadakan Festival Lagu-lagu Perkawinan se-Kevikepan Kedu. Festival ini diadakan pada hari Selasa, 15 Februari 2011. Festival ini diikuti oleh 6 paroki dengan 7 kelompok peserta, yaitu Paroki Parakan, Temanggung, Fatima, Ignatius, Pancaarga dengan 2 kelompok, dan Salam.

"Festival ini dimaksudkan untuk semakin memperkenalkan lagu-lagu perkawinan yang dibuat oleh Tim Musik Liturgi KAS. Dengan semakin diperkenalkannya lagu-lagu perkawinan ini, diharapkan khasanah lagu perkawinan menjadi semakin lengkap. Dan, ke depannya tidak ada lagi llagu-lagu pop atau lagu yang tidak secara khusus dibuat untuk kepentingan lituri tetapi dipakai untuk kepentingan liturgi" demikian penjelasan Romo Wito selaku penanggungjawab Festival ini.

Dalam Festival Lagu-lagu Perkawinan ini yang diadakan oleh Komisi Liturgi Kevikepan Kedu ini Paroki St Ignatius mengirimkan satu wakil, yaitu Wilayah Gregorius. Wilayah Gregorius dipilih menjadi wakil karena menjadi penampil terbaik dalam acara serupa yang dilakukan oleh Paroki Ignatius pada tahun lalu.

Keterlibatan Wilayah Gregorius plus tambahan dari beberapa personil dari wilayah lain membagakan. dalam Festival Lagu-lagu Perkawinan tersebut, Wilayah Gregorius berhasil menyabet 2 thropy, yaitu sebagai Juara II dan Pemazmur Terbaik.

Sambutan umat dalam kegiatan ini cukup besar. Hal ini tampak dari animo penonton. Bahkan, tidak hanya umat Katolik. Beberapa Gereja Kristen di Magelang juga ikut hadir menyaksikan Festival ini.

<<First <Back | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang