Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
150 tahun kelahiran Romo van Lith : Si Tukang Kebon yang mencintai benih-benihnya. 
Tuesday, May 28, 2013, 17:56 - BERITA Posted by Administrator


Keberagaman budaya melalui berbagai kesenian menjadi wajah peringatan 150 tahun kelahiran Romo van Lith yang bertajuk ‘Dari Muntilan Merajut Indonesia’ di Muntilan selama 3 hari berturut-turut, Jum’at hingga Minggu kemarin ( 24-26 Mei 2013). Diawali dengan penyalaan obor api van Lith oleh RB. Ryo Mursanto SJ Provinsial Jesuit Indonesia di Kerkof tempat Romo van Lith dimakamkan, kemudian di arak menuju kompleks Gereja St. Antonius dengan diiringi marching band dari SMA Bentara Budaya Muntilan dan kesenian kentongan dari SMA Negeri I Dukun.







Ikut dalam perarakan itu diantaranya DR. G. Budi Subanar SJ dosen program pasca sarjana fakultas budaya dan religi Universitas Sanata Dharma Yogya, V. Suryatmo Suryawiyata SJ Pastor Kepala Paroki St. Antonius Muntilan, AL. Martoyoto Wiyono Pr Pastor Kepala Paroki St. Maria Lourdes Sumber, Direktur Museum Misi Muntilan M. Nurwidi Pranoto Pr dan ratusan siswa – siswi SMA PL. van Lith.







Performa menarik ditampilkan oleh para siswa SMA Seminari St. Petrus Canisius Mertoyudan dengan mengusung ‘ogoh-ogoh’ yang menggambarkan keserakahan manusia sehingga alam yang semestinya dijaga untuk kelangsungan hidup menjadi rusak dan mengancam kematian. Sebagai wujud ruwatan dan memberi makna serta tekad untuk selalu mencintai dan merawat lingkungan hidup, para seminaris ( sebutan untuk siswa SMA Seminari ) lalu membakar musnah ‘ogoh-ogoh’.







Pada bagian lain juga diadakan penanaman pohon sawo kecik dihalaman sekolah SMP Kanisius, pelepasan balon dan merpati sebagai lambang menanam kebajikan dan menebarkan kedamaian. Tampil juga pada kesempatan itu kesenian Jaranan Kreasi Muda dari SMA Sedes Sapientiae Bedono, Tari-tarian modern dari SMA Stella Duce II Yogya, SMA PIKA Semarang dan group band dari SMA Tarakanita Magelang.





Puncak acara diperingati dengan Misa Syukur konselebrasi yang dipimpin oleh Uskup Agung Semarang Mgr. Johannes Pujasumarta bersama dengan 25 konselebran, diantaranya Kardinal Julius Darmoatmojo, RB. Ryo Mursanto SJ Provinsial Jesuit Indonesia, Ant.Budi Wihandono Pr Pamong Seminari St. Petrus Canisius Mertoyudan dan Direktur Museum Misi Muntilan M. Nurwidi Pranoto Pr. Dalam perayaan yang digelar dihalaman SMP Kanisius kompleks Gereja St. Antonius Muntilan ini dihadiri oleh sekitar 3000 umat Katolik dari berbagai daerah di Indonesia. Melalui homili (kotbah) nya Uskup Agung Semarang mengajak seluruh umat untuk selalu mencintai benih-benih kebaikan. ‘Romo van Lith adalah seorang tukang kebon yang baik. Ia mencintai benih-benih, Ia mencintai anak-anak sehingga memiliki masa depan. Bila Indonesia sekarang mencintai anak-anak, maka Indonesia akan memiliki masa depan. Dalam salah satu suratnya Romo van Lith menuliskan ; Aku telah melihat kebaikan dalam diri mereka yang telah diciptakan oleh Bapa kita semua, jiwa-jiwa diciptakan menurut gambaran Allah, ramah, pantas untuk dicintai dan mampu untuk mencinta. Aku sudah mulai mencintai orang-orang Jawa dan bersedia untuk memulai lagi dengan salah satu cara, karya diantara mereka dan bagi mereka’. Demikian dikatakan Mgr. Puja. Sementara itu Provinsial Jesuit Indonesia Ryo Mursanto mengakhiri kata sambutannya dengan mengajak kepada seluruh umat Katolik di Indonesia untuk selalu menjaga ‘Bhineka Tunggal Ika’.







Menutup serangkaian peringatan 150 tahun kelahiran Romo van Lith, sekitar 300 seniman petani Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) Kabupaten Magelang menggelar kolaborasi berbagai seni kerakyatan yang bertajuk ‘Pancadriya Kuwalik (Pancaindera terbalik)’. Dengan membawa potret Romo van Lith dan mengusung DR.G. Budi Subanar SJ Ketua Panitia Peringatan 150 tahun Romo van Lith yang adalah juga budayawan ini, para seniman petani memulai prosesi yang menggambarkan kedatangan Romo van Lith di tanah misi Muntilan dengan memasuki gerbang kompleks Gereja. Dengan diikuti oleh para seniman yang mengenakan bermacam-macam kostum pementasan mereka menyampaikan salam kepada Uskup Agung Semarang yang berada di tangga bangunan tua bergaya Eropah sebagai rasa hormat dalam budaya Jawa. Berturut-turut tampil diarena depan Museum Misi mengelilingi kolam monumen Romo van Lith adalah tari-tarian mulai dari ‘Warok Bocah’, ‘Bedoyo Kuwalik’, ‘Geculan Bocah’, ‘Buto Ijo’, ‘Buto Edan’, ‘Topeng Ireng’, ‘Lengger Gunung’ dan beberapa performa lainnya yang menggambarkan keadaan sosial dewasa ini serba terbalik.

E. Yusuf Kusuma ( Ketua Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu )

MUSEUM MISI MUNTILAN. 
Wednesday, March 20, 2013, 18:42 - Kevikepan Kedu Posted by Administrator


Adalah Muntilan.



Kota Kecamatan Muntilan di Jawa Tengah adalah kota kecil yang terletak sekitar 15 km dari Magelang kearah Yogyakarta. Kota ini dikenal sebagai tanah misi dan lahirnya Gereja Katolik di tanah Jawa. Di kota yang berada sekitar 5 km dari Gunung Merapi ini pada sekitar tahun 1863-1926 Pastor Fransiskus van Lith SJ. berkarya dan menetap di Desa Semampir di pinggir Kali Lamat. Di desa itu ia mendirikan sebuah sekolah dan bangunan gereja yang sederhana. Gereja dan sekolah itu kemudian pada tahun 1911 berkembang menjadi kompleks St Franciscus Xaverius College Muntilan.



Awalnya Kompleks Sekolah.



Pada tahun 1906 van Lith mendirikan sekolah guru untuk masyarakat Jawa. Disekolah inilah Van Lith menempatkan pendidikan sebagai unsur terpenting dalam kaderisasi masyarakat Jawa. Lewat pendidikan sekolah di Muntilan dihasilkan elite politik Katolik seperti IJ. Kasimo, Frans Seda, Mgr. Soegija Pranata dan sejumlah tokoh lain. Tujuan pendidikan yang ia selenggarakan adalah meningkatkan kualitas anak-anak Jawa sehingga mereka mendapatkan kedudukan yang baik dalam masyarakat. Tahun 1948 kompleks sekolah ini dibakar, namun dari sanalah sudah dihasilkan cukup banyak elite Katolik Indonesia. Kompleks sekolah di Muntilan itu hingga saat ini masih ada, selain gereja St. Antonius Muntilan di sana juga masih ada sekolah berasrama SMA Pangudi Luhur van Lith. Kemudian di kompleks itu juga dibangun Museum Misi Muntilan.



Museum.



Museum Misi Muntilan Pusat Animasi Misioner adalah lembaga karya pastoral Keuskupan Agung Semarang, Serikat Yesus Provinsi Indonesia dan Kongregasi Bruder FIC Provinsi Indonesia. Lembaga ini bertujuan untuk ikut ambil bagian dalam menjamin berkembangnya Gereja lokal Keuskupan Agung Semarang. Demikian disampaikan Nurwidi disela-sela mendampingi anak-anak dalam mengamati benda-benda koleksi museum. Salah satu koleksi yang menarik adalah narasi tentang ‘Sarikrama’ seorang pribumi yang hidup pada awal abad XX dan menandai lahirnya agama Katolik di Jawa dengan ritual pembabtisan 171 orang oleh Pastor Fransiskus van Lith SJ. pada tahun 1904 di Sendangsono.



Koleksi.



Koleksi lain yang menarik adalah naskah-naskah buku kuna seperti buku ’Slaka’ dengan memakai aksara Jawa. Buku yang ditulis tangan ini digunakan oleh umat untuk berdoa dengan iringan musik rebana. Juga buku ‘Babad Dalem Sang Pamarta, sinawung sekar macapat’ gubahan CS. Harjasudarma. Selain buku-buku kuna juga meja altar dan kursi dari bambu yang digunakan Paus Johanes Paulus II saat memimpin Misa di Yogyakarta yang diikuti oleh ribuan umat pada tanggal 10 Oktober 1989.



Edukasi.



Melalui edukasi di museum ini, dengan merumuskan dan mengembangkan konsep misioner berdasarkan sejarah karya misi Keuskupan Agung Semarang dan pegangan pengembangan iman, yakni Kitab Suci, Tradisi Magisterium dan tanda-tanda jaman, umat Katolik diajak lebih mendalami dan mengenal lebih jauh tentang jatidirinya sebagai orang Katolik yang menjadi bagian dari Keuskupan Agung Semarang. Jadi bukan saja melalui dogma Gereja dan ajaran-ajaran sosial gereja, namun juga melalui sejarah gereja lokal bagaimana dan siapa yang membawa hingga hadir ke tanah Jawa ini. ‘Dalam Gereja Katolik di Indonesia kaum intelektual sudah sejak semula mempunyai peran yang mengagumkan. Di berbagai daerah tulang punggung perkembangan umat adalah para guru. Dan kaum awam Katolik telah melibatkan diri secara aktif dalam perjuangan Kemerdekaan Indonesia.’, demikian dikatakan Paus Yohanes Paulus II saat berkunjung ke Indonesia tanggal 10 Oktober 1989. ( dari berbagai sumber ).

E. Yusuf Kusuma ( Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu ).

JADWAL MINGGU PALMA 2013 GEREJA ST. IGNATIUS MAGELANG. 
Monday, March 18, 2013, 17:46 - BERITA Posted by Administrator
MINGGU PALMA

Sabtu, 23 Maret 2013 Jam 16.30 WIB. Rm. AR. Yudono Suwondo Pr.
Minggu, 24 Maret 2013 Jam 07.00 WIB. Rm. FX. Krisno Handoyo Pr. / Jam 16.30 WIB. Rm. AR. Yudono Suwondo Pr.
KEVIKEPAN KEDU : Temu Forum Masyarakat Katolik Indonesia di Pastoran Sanjaya Muntilan. 
Monday, March 18, 2013, 17:37 - BERITA Posted by Administrator


Menyongsong Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah 26 Mei 2013 mendatang, Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) hari Senin hingga Selasa siang kemarin (11/12- 3-13) bertemu di Pastoran Sanjaya Muntilan. Hadir dalam diskusi yang dimoderatori oleh Dosen Pasca Sarjana Universitas Diponegoro Semarang DR. Tukiman Taruno Sayogo adalah perwakilan FMKI dari berbagai daerah kota dan kabupaten di Jawa Tengah. Meskipun Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng baru akan ditetapkan pada 9 April 2013 mendatang, namun melalui diskusi yang dihadiri lebih 50 orang ini telah memberi saran pilihan untuk ketiga pasang calon, yakni Bibit Waluyo - Sudijono Sastroatmodjo, Ganjar Pranowo - Heru Sudjatmoko dan Hadi Prabowo - Don Murdoko. ‘Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang 2010 – 2015 merupakan arah politik gereja. Disana ditegaskan bahwa gereja berpolitik yaitu mewujudkan kesejahteraan umum (bonum commune), maka pilihan pemimpin hendaknya mengarah kepada kepentingan dalam mewujudkan kesejahteraan umum’, demikian dikatakan Bambang salah seorang peserta dari Surakarta.



Pada bagian lain Agus dari Purwokerto mengingatkan kepada umat Katolik di Jawa Tengah dalam menghadapi Pemilihan Umum Gubernur Jawa Tengah 2013 dan Pemilihan umum Presiden 2014 mendatang keterlibatan seluruh warga Negara, termasuk umat Katolik akan sangat memberi makna bagi pembangunan politik di Indonesia yang demokratis. ‘Sebagai umat Katolik warga negara yang baik dan menjadi bagian dari pemilih di Jawa Tengah hendaknya menggunakan hak pilihnya. Untuk memastikan apakah telah terdaftar sebagai pemilih dapat di konfirmasi lewat website KPU Jateng, www.kpu-jatengprov.go.id’, demikian tegas Agus yang juga anggota KPU Banyumas ini.



Menggaris bawahi diskusi forum yang berlangsung selama 2 hari ini, Taruno yang juga ketua Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan Keuskupan Agung Semarang ini mengatakan bahwa ; ‘Tahapan ‘road map’ Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang pada tahun ketiga dan keempat ini memprioritaskan peran serta umat dalam bidang sosial kemasyarakatan dan politik serta partisipasi umat Katolik dalam kebijakan publik, oleh karena itu sekarang ini menuntut semua warga Negara untuk terlibat, termasuk umat Katolik. Keterlibatan masyarakat akan memberi makna dan isi pada politik secara amat luas,’.



E. Yusuf Kusuma ( Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu )


<<First <Back | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang