Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
Malam Paskah Gereja St Ignatius Magelang 
Monday, April 9, 2012, 06:35 - BERITA Posted by Administrator

Ritual penyalan lilin Paskah oleh Romo FX. Krisno Handoyo, Pr mengawali Perayaan Paskah 2012 umat Katolik Magelang di Gereja St. Ignatius. Paskah adalah hari kebangkitan Yesus setelah wafat di kayu salib yang diperingati pada hari Jum’at, 6 April 2012 kemarin.

Misa Paskah yang dihadiri oleh lebih dari 2000 umat ini, Romo Krisno, Romo Paroki mengajak seluruh umat untuk bergembira menyambut kebangkitan Tuhan Yesus Kristus dengan bertepuk tangan meriah. Alunan tembang gereja yang berkisah tentang penciptaan dunia dideraskan ditengah – tengah suasana terang lilin yang dibawa oleh masing – masing umat.

Bacaan – bacaan dari Injil dan kidung – kidung bermadah ‘gregorian’ mengantar umat yang hadir hingga memenuhi halaman depan dan samping barat gedung Gereja itu untuk meresapi homili ( kotbah ) malam Paskah. Dalam homilinya Romo Krisno mengajak seluruh umat untuk bersyukur dengan menyanyikan ‘Kasih Allah ku sungguh telah terbukti’.

Paskah memberi makna bahwa ; kebahagiaan yang sejati hanya bisa dicapai lewat syukur dan penderitaan. Karena Yesus melalui penderitaan hingga disalibkan, wafat dan bangkit demi keselamatan kita, maka kebangkitan Kristus itu memberi kepastian atas keselamatan, demikian pesan homili malam itu.

Dalam Misa Syukur malam Paskah yang dimulai dari jam 17.30 dan berlangsung hingga lebih dua jam itu juga diadakan pemberkatan kepada seluruh umat dengan percikan air oleh Romo dan Prodiakon.

E. Yusuf Kusuma ( Ketua Komisi Komsos Kevikepan Kedu )
Makna Pantang dan Puasa 
Wednesday, February 22, 2012, 15:48 - Inspirasi Posted by Administrator


Hari ini, umat Katolik seluruh dunia memulai retret agung. Retret agung itu lebih dikenal dengan nama masa Prapaskah, yaitu masa persiapan untuk menyambut Misteri Paskah. Masa persiapan itu berjalan selama 40 hari. Di mulai dari hari Rabu Abu sampai dengan Jumat Agung. Selama masa retret agung itu, umat Katolik diajak untuk bermati raga melakukan olah rohani dengan aksi pantang dan puasa serta aksi puasa pembangunan sebagai bentuk nyatanya.

Pertama, olah rohani dalam bentuk aksi pantang dan puasa. Dalam hukum Gereja disebutkan demikian: “Pantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan Konferensi para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan pada hari Jumat Agung, memperingati Sengsara dan Wafat Tuhan Kita Yesus Kristus (Kan. 1521).” Menurut hukum ini, hari Jumat menjadi hari pantang. Selama masa Prapaskah, hari pantang dan puasa adalah Rabu Abu dan Jumat Agung.

Rabu Abu menjadi awal masa pantang dan puasa dalam masa Prapaskah. Pada Pada hari Rabu Abu, umat Katolik datang ke Gereja dan diberi tanda salib dari abu sebagai simbol upacara ini pada dahinya. Simbol ini mengingatkan umat akan ritual Israel pada jaman dahulu di mana seseorang menabur abu di atas kepalanya atau di seluruh tubuhnya sebagai tanda kesedihan, penyesalan dan pertobatan.

Aturan pantang dan puasa dalam Gereja Katolik juga demikian ringan. Dalam pantang, umat Katolik diajak untuk melawan segala bentuk kesenangan diri. Misalnya seseorang yang sangat menikmati rokok, selama masa Prapaskah ia diajak untuk berpantang rokok. Setiap orang yang berumur di atas 14 tahun memiliki kewajiban untuk melakukan pantang. Sedangkan aturan puasa adalah makan kenyang sekali selama sehari. Setiap orang yang berumur antara 18-60 tahun memiliki kewajiban untuk melakukan puasa.

Jika kita melihat aturan mengenai pantang dan puasa, amat mudah kan? Kelihatannya sangat mudah, tetapi jika kita berani bertekun atasnya akan terasa betapa tidak mudah melakukan itu. Hakekat pantang dan puasa dalam Gereja Katolik bukan terletak pada menahan lapar atau haus. Hakekat pantang dan puasa adalah melawan diri sendiri. Dengan demikian, persoalannya bukan soal ritual pantang dan puasanya melainkan terletak pada bagaimana kita menghayati makna pantang dan puasa itu. Jika kita hanya menghayati pantang dan puasa sebatas ritual, maka kita akan semkian ingin melakukan hal-hal yang akan menjauhkan kita dari keselamatan. Pantang dan puasa akan semakin bermakna jika kita mampu memaknai pantang dan puasa sebagai sebuah sarana penyelamatan. Penilaian kita atas pantang dan puasa itulah yang akan mempengaruhi perbuatan kita selama masa retret agung ini.

Pantang dan puasa dari segala jenis daging tidaklah berarti banyak ketika kita membiarkan telinga kita mendengarkan hal-hal yang tidak benar. Ketika kita berpantang dan berpuasa, berpantang dan berpuasalah dengan telinga juga. Berpantang dan berpuasalah dengan mulutmu, dengan tangan dan kakimu, dan dengan seluruh tubuhmu. Apalah artinya tidak makan dan minum jika kita membiarkan mulut kita mengeluarkan kata-kata kotor, makian, gosip, dan menyebarkan kebohongan. Apa artinya kita tidak makan daging atau makanan yang serba enak, tetapi kita menggigit dan memangsa sesama kita?
Kedua, Aksi Puasa Pembangunan. Selain melakukan aksi pantang dan puasa, kita juga diajak sampai kepada gerakan nyata. Gerakan itu disebut sebagai Aksi Puasa Pembangunan (APP). APP ini menyangkut dua aspek, yaitu aspek ke dalam dan keluar. Aspek ke dalam ditandai dengan usaha untuk semakin memperdalam iman dengan aneka bentuk pertemuan dan sarasehan. Sedangkan aspek keluar merupakan tindakan nyata sebagai bentuk pertobatan.

Pada bagian sebelumnya saya menyinggung bahwa aturan pantang dan puasa itu demikian mudah. Tetapi amat sulit untuk dilakukan. Saya akan memberikan contoh di sini. Ketika saya pantang merokok, maka selama masa Prapaskah uang untuk beli rokok itu akan saya masukkan dalam kotak APP. Andaikan sehari saya menghabiskan satu bungkus rokok, maka berapa yang akan saya masukkan ke dalam kotak APP? Jika saya melakukannya setiap Jumat, berarti saya memasukkan uang sebesar 10.000 x 7 (Jumat) = 70.000,- Jika saya melakukannya selama masa Prapaskah, berarti saya akan memasukkan uang sebesar 10.000 x 40 (hari) = 400.000.

Contoh lain dalam hal puasa. Aturan puasa adalah makan kenyang sekali. Dalam sehari kita makan tiga kali. Dalam keluarga ada 3 orang yang melakukan puasa. Katakanlah biaya untuk sekali makan Rp. 10.000,- Berarti pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung kita memasukkan uang sebesar (3 x 2 x 10.000) x 2 (Rabu dan Jumat) = 120.000. Banyak juga ya? Apakah kita mau mengeluarkan uang segitu banyak dan dimasukkan ke kotak APP. Itu baru untuk puasa, belum untuk pantangnya.

Uang yang terkumpul selama masa Prapaskah itu akan digunakan untuk melakukan karya-karya karitatif, terutama untuk membantu mereka yang lemah, miskin, tersingkir, dan difable. Inilah wujud nyata dari gerakan pantang dan puasa.

Hakekat pantang dan puasa dalam Gereja Katolik bukan terletak pada ritualnya yang harus begini atau begitu. Hakekat pantang dan puasa adalah “koyakkanlah hatimu, bukan pakaianmu!” Nilai pantang dan puasa bukan terletak pada ritual karena itu hanyalah pakaian. Yang terpenting adalah bagaimana kita melawan diri sendiri dan masuk dalam suasana pertobatan yang terus menerus. Jika kita melakukan pantang dan puasa dengan membatasi pada tidak makan ini atau itu, maka sebenarnya kita telah merendahkan makna dari pantang dan puasa itu sendiri.

Pengesahan Program Kerja Dewan Paroki St Ignatius 
Monday, February 20, 2012, 14:56 - BERITA Posted by Administrator

Magelang - Setelah bertekun dalam proses selama hampir tiga bulan, RAPB Paroki St Ignatius Magelang akhirnya disahkan. Dalam rapat pleno yang mengambil tempat di Panti Bina Bhakti itu, program kerja Dewan Paroki dinyatakan berlaku untuk tahun anggaran 2012. Pengesahan itu menjadi titik awal perjalanan Gereja St Ignatius.

Sebelum disahkan, Dewan Harian memberikan laporan pertanggungjawaban gerak pastoral yang telah dibuat selama tahun 2011. Segala kemajuan dan kekurangan dipaparkan dengan gamblang oleh bapak Sarkum, Wakil Ketua Dewan Paroki St Ignatius. Setelah pemaparan pertanggungjawaban diterima oleh Dewan Pleno, acara dilanjutkan dengan pemaparan mengenai program kerja tahun 2012 yang telah dibuat oleh masing-masing bidang.



Romo FX Krisno Handoyo Pr, Ketua Dewan Paroki St Ignatius Magelang, mengajak anggota pleno untuk melihat program-program yang sebelumnya telah dicermati oleh tim khusus. Catatan-catatan yang telah dibuat oleh tim khusus itu disampaikan kepada forum untuk dipikirkan bersama dan diambil jalan tengahnya. “Kita tidak usah berpikir soal biaya. Kalau memang program yang kita buat tidak relevan dan signifikan, kita harus berani membuangnya. Tetapi jika program itu sungguh relevan dan signifika harus diperjuangkan. Kalau dananya kurang, kita tambahi,” demikian tegas romo Krisno.

Pengesahan RAPB 2012 paroki St Ignatius Magelang ini menjadi bagian dari proses yang telah dimulai sejak awal bulan Desember 2011. Pada tanggal 10-11 Desember, Dewan Paroki St Ignatius memulai langkah dengan melakukan evaluasi sekaligus merumuskan fokus pastoral yang hendak diperjuangkan selama tahun 2012. Dengan terang ARDAS KAS, visi dan misi Paroki St Ignatius, dan konteks umat dibuatlah kerangka pastoral selama tahun 2012. Fokus pastoral ini akhirnya membuahkan rekomendasi untuk masing-masing bidang yang kemudian ditindaklanjuti dengan pembuatan program kerja. Pokok perhatian utama tahun 2012 adalah peningkatan pemahaman umat akan pokok-pokok iman. Selain itu, terdapat juga perhatian akan KLMTD dan optimalisasi peran kaum awam.

Setelah rapat kerja itu, masing-masing bidang bergerak untuk menindaklanjuti rekomendasi yang telah diberikan. Rekomendasi itu ditajamkan dalam diskusi-diskusi yang terjadi pada masing-masing bidang. Dari sinilah dihasilkan program-program kerja masing-masing tim kerja. Proses ini berakhir pada pengesahan program kerja 2012 yang terjadi pada hari Minggu, 19 Februari 2012.
Dengan disahkannya program kerja itu, langkah dinamika Gereja St Ignatius terus digulirkan. Semoga Gereja St Ignatius menjadi semakin signifikan dan relevan bagi Gereja dan masyarakat. Tuhan memberkati.

OMK IGNATIUS MERAYAKAN VALENTINE 
Tuesday, February 14, 2012, 05:37 - BERITA Posted by Administrator

14 Februari adalah peringatan hari valentine atau hari kasih sayang. Atas perayaan hari kasih sayang itu ada banyak tanggapan, entah menerima atau menolak. Penolakan-penolakan atas hari kasih sayang ini beraneka ragam. Ada sekelompok anak muda yang melakukan demo menentang perayaan hari kasih sayang. Ada pula yang menyebarkan slogan Sukseskan Gerakan Anti Perayaan Valentine di berbagai jejaring sosial. Salah satu alasan yang sering saya temukan adalah karena perayaan itu bisa menghancurkan generasi muda. Rasa saya, pernyataan ini sangat tergantung dari mana kita memandangnya.

Dalam kenyataannya, ada banyak orang muda yang menyalahartikan hari kasih sayang sebagai saat melepaskan hasrat dan nafsu. Valentine day dimaknai sebagai saat yang tepat untuk melepaskan keperjakaan atau keperawanan. Bagi mereka ini, ucapan dan ungkapan kasih sayang harus sampai kepada tindakan nyata. “Apa buktinya kalau kamu sayang aku?” demikian yang sering menjadi pembenarannya. Akhirnya mereka ini terjerumus pada sebuah praktek menyimpang dari hakekat peringatan hari kasih sayang. Kaidah moral yang telah ditanamkan sejak kecil taklagi berbunyi. Mereka menjadi seperti binatang yang mengumbar nafsi tanpa mengenal tempat dan waktu.

Apakah hari kasih sayang harus diwujudkan seperti itu? Rasa saya tidak. Ada banyak cara untuk menyatakan sayang kepada orang yang dikasihi. Itulah yang dibuat oleh orang muda di Gereja St Ignatius Magelang. Keprihatinan akan penyimpangan hari kasih sayang membawa mereka bercermin, “apakah hari kasih sayang tidak bisa dimaknai secara lebih positif?” Itulah pertanyaan dasar yang menggerakkan mereka untuk berbuat sesuatu secara positif. Muncullah sebuah tema, “Karena Cinta Kita ada”. Pada hari Minggu, 12 Februari 2012 pelataran pasturan St Ignatius Magelang menjadi saksi kiprah kaum muda memaknai sebuah perayaan hari kasih sayang. Cinta tidak sama dengan nafsu. Cinta mendorong orang untuk menngekspresikan diri dan membuat orang semakin berkembang. Dengan konsep itu, mereka mengajak orang muda untuk menampilkan dan mengekspresikan cinta yang ada dalam diri mereka. Dan demikian luar biasa. Orang muda mampu menampilkan diri secara positif. Mereka mampu membagikan diri mereka kepada yang lain.

Sekelompok remaja yang sedang berproses mencari jati dirinya sering menjadi korban penyimpangan arti hari kasih sayang. Kelabilan jiwa mereka sering salah arah karena pergaulan yang salah pula. Tetapi dalam acara itu, mereka menunjukkan bahwa mereka bisa mengisi hari kasih sayang secara berbeda. Pencarian jati diri itu diisi dengan menampilkan kemampuan mereka dalam bermain musik dan bernyanyi. Tembang-tembang dolanan mereka lantunkan dengan apik. Meski alat yang mereka gunakan sangat sederhana, tetapi mereka mampu memainkannya dengan harmonis. Pencarian jati diri tak selalu jatuh pada lubang yang salah.



Gelora semangat muda ternyata bisa disalurkan pada sesuatu yang bernilai positif. Komunitas sepeda ini menunjukkan bahwa mereka mampu menyalurkan gairah muda mereka untuk mengembangkan bakat dan minat. Gairah muda itu dimaknai dengan mengembangkan minat mereka pada aktraksi sepeda. Dengan lincah mereka meliuk-liuk di atas sepeda dengan menjaga keseimbangan badan. Atraksi yang menghibur dan mengundang banyak orang untuk memberikan tepuk tangan.
Orang muda selalu mencari dan terus mencari. Style menjadi penanda atas pencarian itu. Mereka belajar banyak dari style yang terus berkembang. Itulah yang ditunjukkan oleh komunitas Harajuku Magelang. Dalam pagelaran hari kasih sayang itu, komunitas ini menunjukkan cara lain dalam memaknai hari kasih sayang. Kecintaan mereka pada dunia fashion membawa mereka pada minat yang sama: harajuku style. Kecintaan mereka itu tidak hanya berhenti pada kecintaan fashion semata, tetapi mereka pun belajar bahasanya juga. Tampilan dipertontonkan akhirnya mengundang banyak orang untuk datang dan berfoto bersama mereka. Sisi lain dari makna sayang mereka tampilkan.



Yang menarik bagi saya adalah kehadiran sekelompok anak muda yang mementaskan beberapa langgam jawa dengan iringan gamelan. Ketika budaya lokal semakin tergeser ke pinggiran, ternyata masih ada sekelompok anak muda yang asyik dan menekuni budaya warisan leluhur. Dengan lincah mereka memainkan alat musik gamelan. Beberapa tembang jawa mengalun. Sebuah tanda bahwa masih banyak orang muda yang cinta budaya. Masih banyak anak muda yang peduli dengan kebudayaan warisan nenek moyang mereka. Melalui tampilan itu, mereka ingin menunjukkan makna kasih sayang secara berbeda. Mereka sayang dengan budaya. Dan itu mereka tunjukkan dengan melestarikan budaya itu. Sebuah usaha yang patut diacungi jempol.



Di balik rasa benci atas penyelewenggan makna hari kasih sayang, ternyata ada cinta akan hari kasih sayang. Ada banyak orang yang menggunakan hari itu sebagai penanda dan sekaligus menjadi saat pembaharuan ikrar kasih yang telah sekian lama terjalin. Ketika orang muda disorot karena sering dianggap menjadi pelaku penyelewengan ternyat bisa menunjukkan makna kasih sayang secara positif. Kini, hari kasih sayang telah mendapatkan pemaknaan baru yang bisa diterima oleh setiap orang yang berpikiran luas. Masihkah kita berpikir negatif tentang hari kasih sayang?

Selamat hari Kasih Sayang.


<<First <Back | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang