Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
Kevikepan Kedu : Katekese Adorasi  
Saturday, March 16, 2013, 13:49 - BERITA Posted by Administrator


Kehadiran adalah inti dari Adorasi. Kehadiran Tuhan dalam Ekaristi itu, umat menikmati keakraban Kristus yang mesra, demikian disampaikan Pastor Paroki St. Ignatius Magelang AR. Yudono Suwondo Pr. kepada sekitar 700 umat se Kevikepan Kedu yang mengikuti Katekese Adorasi Selasa kemarin ( 12 Maret 2013 ) di Gedung Mandala Kompleks Gereja St. Ignatius Magelang. Lebih lanjut dikatakan Romo Wondo yang juga Ketua Komisi Liturgi Kevikepan Kedu ini ; ‘Dihadapan Tuhan kita mencurahkan segala keprihatinan bagi diri sendiri dan semua sanak saudara dan handai taulan, serta berdoa memohon damai dan kesalamatan bagi dunia. Seluruh pusat dan sasaran Adorasi Ekaristi ini adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri yang hadir dalam Ekaristi’.





Acara yang diikuti oleh para peserta Konggres Ekaristi ke II tahun 2012 lalu ini juga dihadiri oleh Ign. Sukawalyana Pr. Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang dan Vikaris Jendral Keuskupan Agung Semarang FX. Sukendar Pr. Dalam pengantarnya Romo Suka menjelaskan : ‘Adorasi ada dua macam yakni Adorasi bersama sebagaimana yang dijalankan pada setiap Jum’at di Kevikepan Kedu ini dan Adorasi pribadi. Maka yang disebut dengan Adorasi Abadi adalah Adorasi secara pribadi’. Sementara itu Romo Vikjen menyampaikan selamat dan berterima kasih atas penyelenggaraan katekese Adorasi ini dan kehadiran umat di Kevikepan Kedu untuk lebih mendalami apa makna Adorasi.







Mengawali acara yang bertema ‘ Bertemu Tuhan, Menguatkan Perutusan ‘ yang berlangsung sekitar 3 jam ini dibuka dengan Perayaan Ekaristi secara konselebran di Gereja St. Ignatius Magelang yang dipimpin oleh Vikep Kedu FX. Krisno Handoyo Pr bersama dengan Ketua Komisi Liturgi KAS Ign. Sukawalyana Pr dan AR. Yudono Suwondo Pr. Pastor Paroki St. Ignatius Magelang. Dalam Homilinya Romo Krisno mengatakan : ‘Dalam Ekaristi ada pertemuan, kebersamaan dan Kesatuan, maka pengalaman mistik dengan Allah ini dari misteri lalu menjadi jelas dan berbuah dalam perutusan kita’.



E. Yusuf Kusuma ( Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu )

KEVIKEPAN KEDU : Rakorda WKRI Jateng 2013 berlangsung di Magelang 
Tuesday, February 26, 2013, 17:11 - BERITA Posted by Administrator


Rapat Koordinasi Tingkat Daerah Wanita Katolik RI (RAKORDA WKRI) secara resmi dibuka Sabtu kemarin (23-2-2013) oleh Uskup Agung Semarang Mgr. Johannes Pujasumarta di Wisma Sejahtera Magelang. Acara pembukaan rapat yang diikuti oleh sekitar 200 peserta yang terdiri dari Pimpinan Dewan Pengurus Daerah dan Dewan Pengurus Cabang se Jawa Tengah ini juga dihadiri oleh Walikota Magelang Ir. H. Sigit Widyonindito yang diwakili oleh Kepala Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kota Magelang Jatmo Wahyudi dan Vikep Kedu FX. Krisno Handoyo Pr. Rakorda WKRI tahun 2013 pelaksanaannya dipercayakan pada WKRI Cabang Kota Magelang, Kabupaten Magelang dan Kabupaten Temanggung. ‘Diharapkan melalui pertemuan kali ini Wanita Katolik RI Jawa Tengah dapat lebih berdaya guna dan berhasil guna, terutama dalam memberikan kontribusi terhadap lingkungan sosial masyarakat’, demikian disampaikan MC. Wiwiek Purwaningsih Ketua Panitia Rakorda sebelum acara pembukaan dimulai.



Walikota Magelang mengharapkan hendaknya program – program WKRI sejalan dengan program Pemerintah, khususnya dalam memperjuangkan persamaan jender dan meningkatkan kemandirian dalam berbangsa. Lebih lanjut dikatakan dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kepala Dinas Perhubungan dan Komunikasi Jatmo Wahyudi : ‘ Pemerintah Kota Magelang beserta masyarakat turut berbangga, Rapat Koordinasi Daerah Jawa Tengah WKRI dilaksanakan di Kota Magelang. Hendaknya melalui Rakorda ini akan menambah energi untuk wanita Katolik khususnya, kaum perempuan pada umumnya, serta masyarakat Kota Magelang, sehingga secara bersama – sama dapat meningkatkan kualitas keimanan juga meningkatkan semangat pengabdian terhadap sesama dalam rangka menggapai kehidupan yang lebih sejahtera’. Sementara itu Uskup Agung Semarang dalam sambutannya mengajak WKRI Jawa Tengah untuk memiliki tanggung jawab yang muncul dari eksistensi sebagai Wanita Katolik. ‘ Ancaman yang bisa merusak kehidupan Jawa Tengah, antara lain sikap intoleran, korupsi,narkoba yang mencandui anak-anak muda, juga lingkungan hidup. Bagaimana ancaman itu kita ubah menjadi peluang untuk membangun Jawa Tengah menjadi ruang publik yang aman bagi semua warganya. Inilah tanggung jawab yang muncul dari eksistensi WKRI.’ demikian lanjut Mgr. Pujasumarta.





Rakorda tahun 2013 yang berlangsung selama 2 hari ( 23/24 – 2 – 2013 ) mengambil tema ‘Memantapkan Eksistensi Wanita Katolik RI dalam Dinamika Kehidupan Masyarakat di Jawa Tengah’ dan merupakan bagian dari persiapan pelaksanaan Konferda WKRI Jawa Tengah ke XII yang akan berlangsung tahun 2015 mendatang. WKRI merupakan organisasi kemasyarakatan yang didirikan pada tanggal 26 Juni 1924 di Yogyakarta atas prakarsa RA. Maria Soelastri Sasraningrat Soejadi Darmosepoetro. Bersama dengan 7 organisasi wanita lain yang ada di Indonesia pada 22 Desember 1928 menyelenggarakan konggres Perempuan di Yogyakarta yang kemudian menjadi tonggak sejarah peringatan Hari Ibu. Lebih lanjut dikatakan Wiwiek ; ’ WKRI sebagai bagian dari warga Negara dan warga Gereja , diharapkan untuk tanggap akan berbagai permasalahan yang ada di tengah masyarakat dan berbuat sesuatu yang kongkret sehingga kehadirannnya dirasakan secara nyata oleh masyarakat’.



Dalam penyusunan Program Kerja tahun 2013 baik di tingkat Daerah maupun Cabang WKRI merekomendasikan tentang penguatan pemberdayaan perempuan diantaranya, meningkatkan peran perempuan dalam bidang politik dan pengambilan keputusan, meningkatkan taraf pendidikan, kesehatan dan meningkatkan gerakan anti kekerasan terhadap perempuan. ’Penguatan pemberdayaan perempuan ini akan berhasil dengan baik jika ada koordinasi dan kerjasama kaum perempuan dari berbagai komponen, lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan dan lembaga-lembaga lain yang memiliki fokus dengan isu perjuangan penegakan hak-hak perempuan.’, demikian pungkas Wiwiek.

E. Yusuf Kusuma ( Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu ).

Rabu Abu 
Tuesday, February 19, 2013, 14:40 - BERITA Posted by Administrator


Mulai hari Rabu (13 Februari 2013 ) umat Katolik seluruh dunia memasuki masa pertobatan dengan berpuasa. Umat di Gereja St. Ignatius Magelang mengawali masa puasa 40 hari ini dengan Perayaan Ekaristi atau Misa Rabu Abu yang dilaksanakan mulai Selasa sore (12 Februari 2013) yang dipimpin oleh Pastor Paroki St. Ignatius Magelang AR. Yudono Suwondo Pr. dan Rabu paginya jam 05.30 Misa dipimpin oleh FX.Krisno Handoyo Pr Pastor Kepala Paroki. Dalam Misa Selasa petang yang dihadiri oleh lebih 700 umat, Romo Wondo menandai kening umat yang mengikuti Misa dengan abu sebagai tanda pertobatan.

Rabu Abu dalam tradisi Gereja Katolik merupakan hari pertama masa Pra Paskah dan menjadi awal masa puasa selama 40 hari sampai dengan perayaan Paskah. Sejak abad pertengahan Gereja telah mempergunakan abu untuk menandai permulaan masa tobat Prapaskah. Pada kesempatan ini umat diingatkan kembali tentang ketidakabadian dan diajak untuk menyesali akan dosa-dosa yang telah diperbuat. Dalam perayaan Misa Rabu Abu digunakan abu yang berasal dari daun-daun palma yang telah diberkati pada tahun sebelumnya. Pastor atau Imam memberkati abu dan mengenakannya pada dahi umat dengan membuat tanda salib. Memaknai abu yang telah diterima, umat diingatkan untuk menyesali dosa dan melakukan silih bagi dosa-dosa, mengarahkan hati kepada Kristus yang sengsara, wafat dan bangkit demi keselamatan manusia. Dalam masa puasa Pra Paskah ini umat Katolik juga diajak untuk berkarya dan beramal belas kasihan terhadap sesama, terlebih kepada yang berkekurangan, lemah, miskin, tersingkir dan defabel. Melalui karya dan amal ini maka akan menjadi bagian dari silih, tobat, dan pembaharuan hidup.

Memasuki masa puasa tahun 2013 Keuskupan Agung Semarang lewat Aksi Puasa Pembangunan (APP) mengajak seluruh umat Katolik untuk semakin beriman dangan bekerja keras dan menghayati misteri Salib Tuhan. ‘Dengan bekerja, mengerjakan sesuatu yang baik adalah berkat bagi orang lain dan dirinya’, demikian disampaikan Romo Wondo, panggilan akrab Pastor Paroki St. Igantius Magelang itu. ‘ Ditegaskan dalam Ajaran Sosial Gereja bahwa kerja mempunyai suatu tempat yang terhormat dan merupakan sumber berbagai kekayaan, atau setidaknya syarat bagi suatu kehidupan yang layak. Kerja merupakan sebuah sarana yang efektif melawan kemiskinan. Namun seringkali orang lalu jatuh menjadikan kerja sebagai berhala, Sebab makna kehidupan paling tinggi dan menentukan tidak boleh dicari dan ditemukan dalam kerja. Kerja itu hakiki, namun Allah itulah dan bukan kerja yang merupakan sumber kehidupan serta tujuan akhir manusia’.

Pekan Doa Sedunia 2013 ; Ajak Umat Kristiani selalu berlaku adil, mencintai kesetiaan dan rendah hati. 
Friday, January 25, 2013, 16:52 - BERITA Posted by Administrator


Cuaca mendung dan gerimis di kota Magelang kamis pagi kemarin ( 24 Januari 2013 ) mengantar ratusan umat kristiani menghadiri dan mengikuti selebrasi ibadah Pekan Doa Sedunia di Panti Bina Bakti kompleks Gereja St. Ignatius Magelang. Ibadah Ekumene bersama antara umat Kristen Protestan dan Katolik ini diikuti oleh umat dari Gereja – gereja se kota Magelang dan dihadiri oleh Pastor dan para pendeta diantaranya FX. Krisno Handoyo Pr Pastor Kepala Paroki St. Ignatius Magelang, Pendeta Y. Sudjarwi STh dari Gereja Isa Almasih Candi Nambangan yang juga Ketua Badan Kerjasama Gereja–gereja Kristen se Kota Magelang,Pendeta Parlaen dari Gereja Baptis Indonesia, Pendeta Susiana Kristianingsih dari GPIB Tidar Baru, Pendeta Markus dari Gereja Bethel Indonesia di Jalan Pahlawan, Pendeta Timotius, Pendeta Yosafat Kasiadi dan Pendeta Saryoto STh dari Gereja Kristen Jawa Tentara Pelajar.







Dalam homilinya (kotbah) Krisno Handoyo yang juga Vikep Kedu ini mengajak seluruh umat Kristiani kota Magelang untuk selalu berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati. ‘Dalam Pekan Doa Sedunia ini kita diajak untuk berefleksi tentang ketidakadilan yang dialami oleh kaum lemah, kecil, tersingkir, miskin, tersingkir dan difabel. Dalam ketidakadilan yang terjadi, Allah menuntut kita berbuat sesuatu !’, demikian dikatakan Romo Krisno.







Pekan Doa Sedunia tahun 2013 ini dimulai tanggal 18 hingga 25 Januari dengan memilih metafora ‘berjalan’ dan ‘perjalanan’ selama delapan hari untuk berdoa. Lebih lanjut dikatakan : ‘Sebagai umat Kristiani kita memang hendak berjalan dalam perjalanan dan komunikasi yang dinamis. Tuhan membimbing kita dalam menggapai keadilan dan perdamaian itu. Bimbingan-Nya hanya akan menjadi nyata dalam kemanusiaan dan sejarah manusia. Melalui jalur kemanusiaan ini Allah mengundang setiap orang untuk berjalan bersama-Nya menggapai keadilan dan perdamaian !’.








Acara yang diprakarsai oleh Bidang Pelayanan Kemasyarakatan Gereja St. Ignatius Magelang ini diakhiri dengan menderaskan doa-doa syafaat yang dipimpin oleh para Pendeta secara bergantian dan diikuti oleh seluruh umat. Dalam tradisi Gereja Katolik, Pekan Doa Sedunia memang telah dimulai sejak Konsili Vatikan II ditutup secara resmi pada tahun 1965. Di berbagai kota di Indonesia, di Jawa pada khususnya pada tahun – tahun sebelumnya Pekan Doa Sedunia ini juga telah berlangsung, sementara di Kota Magelang baru pada tahun 2013 ini bisa diselenggarakan.

E. Yusuf Kusuma ( Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu ).



<<First <Back | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang