Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
Yuuukk, ber-AKSI PUASA 
Tuesday, March 8, 2011, 17:44 - Inspirasi Posted by Administrator
Ade bergegas mencari ayah dan ibunya.

“Bu, ada titipan amplop!” katanya sambil menyerahkan amplop itu kepada ibunya.

“Amplop apa, Dik?” tanya ibunya.

Dengan semangat empat lima, Ade menjelaskan amplop itu.

“Tadi Pak Paijo ke sini. Terus nitipin amplop itu. Pak Paijo mengatakan kalau amplop itu adalah amplop APP. Gitu, Bu!”

Ibu Ade mengamati amplop itu dan memasukkan ke dalam buku Puji Syukur yang biasa dibawanya ke gereja.
“APP itu apa sich, Bu?” tanya Ade kepada ibunya yang masih sibuk dengan amplop dan Puji Syukurnya.

Ibunya gelagapan mendengar pertanyaan anaknya itu. Pura-pura aja tidak mendengar pertanyaan anaknya dengan pura-pura membolak-balik buku Puji Syukur.

“APP itu Aksi Puasa Pembangunan, dik!” sahut ayahnya dari ruang tamu.

Ade segera menemui ayahnya di ruang tamu. Karena penasaran, Ade segera memberondong ayahnya dengan pertanyaan-pertanyaan, “Trus kenapa harus ada amplop segala? Emangnya amplop itu untuk apa?”

“Ow.. gini lho, dik! Aksi Puasa Pembangunan itu salah satu ungkapan dalam masa Prapaska. Selama Prapaskah, kita berpantang dan berpuasa. Pantangnya setiap hari Jumat. sedangkan puasanya pada hari Rabu abu dan Jumat Agung".

"Emangnya cara pantang dan puasa itu bagaimana sich, Pak?" Ade makin tertarik dengan keterangan ayahnya.

"Cara pantang adalah memilih untuk tidak membuat apa yang paling kita sukai. Misalnya Adik puasa tidak jajan. Bapak pantang tidak merokok. Ibu pantang tidak dolan ke mall. Sedangkan puasa itu makan kenyang hanya sekali sehari".

"Wah... gampang sekali ya, Pak! Kalau cuma gitu, Adik aja bisa!"

"Memang sangat gampang, Dik. karena mudah itu, banyak orang malah tidak membuatnya. hahahaahaha..... Ya, tho? Karena mudah itu maka kita bisa membuat gerakan pantang dan puasa sendiri yang lebih berat. Selain itu, kita juga membuat gerakan pengumpulan dana APP. Nah, APP itu harus punya daya ubah, Dik!”.

Belum selesai menjelaskan, Ade langsung menyerobot, “Pengumpulan dananya kapan, Pak?”

Ayahnya hanya tersenyum, “Jadi, antara APP dan puasa itu ada kaitannya. Karena sebenarnya makna yang terkait antara puasa dan APP, yaitu memberikan hasil puasa dan pantang. Jadi penghematan yang dilakukan kita sisihkan sebagai wujud keprihatinan terhadap sesama yang berkekurangan lewat menabung. Misalnya adik pantang jajan, uang jajannya itu disisihkan. Klo bapak pantang rokok, uang beuat beli rokok disisihkan. kalau ibu pantang belanja atau main ke mall maka uangnya itu disisihkan. Dan itu fungsi dari amplop APP yang diedarkan oleh gereja”.

“Jadi amplop itu diisi selama masa Prapaskah ya, Pak?”

“Bener, Dik! Adik itu cerdas, ya... hehehehe... Ini baru anak bapak! Tapi gini, dik! Kita itu masih sering salah mengerti mengenai dana APP. Kayak ibumu itu. Amplop APP itu dianggap sebagai bentuk sumbangan wajib atau partisipasi yang nanti di isi saat ketua lingkungan datang mengambilnya, bukan hasil dari puasa. Makanya amplop itu disimpen!” kata ayah Ade sambil melirik ibunya.

"Iya dech... Ibu keliru!" Ibu Ade hanya bisa tersenyum kecut.

“Trus baiknya amplop itu diapain, Pak?”

“Gini aja.. Kita buat kotak APP. Trus kita taruh di ruang keluarga. Setiap hari kita sisihkan uang makan, uang jajannya asik, uang rokoknya bapak, dan uang belanjanya ibu.. Hasilnya kita masukkan ke kotak itu. Gimana, Dik?”

“Ok, Pak! Kita buat sekarang aja, ya?”

Kemudian Ade dan Ayahnya membuat kotak APP dan menaruhnya di ruang keluarga.

BAGAIMANA DENGAN ANDA?
Hari Gini Ngomongin Pengampunan? 
Saturday, February 19, 2011, 16:56 - Inspirasi Posted by Administrator
“Orang gila...!” teriak seorang anak kecil ketika melihat ada seorang yang cengar-cengir sendiri. Orang itu kadang menangis, kadang tertawa, ngomel sendiri, dan aneka kegiatan lain yang sangat berbeda dengan kebanyak orang. Sejurus kemudian, anak itu memanggil teman-temannya dan mengusir orang yang mereka anggap gila itu.

Stempel gila atau tidak waras memang mudah kita terapkan kepada orang. Stempel ini kita berikan karena kita merasa oran glain tersebut memiliki perbedaan dengan kita. Gila atau waras merupakan sudut pandang kita. Dan, betapa mudah kita memberikan stempel ini. Apakah faktanya memang demikian? Karena berkaitan dengan sudut pandang, maka satu atau dua sudut saja yang kita gunakan. Apakah dari sudut pandang yang lain juga akan didapatkan kesimpulan yang sama?

Kita bisa memberikan cap gila kepada Paus Yohanes Paulus II karena tindakannya. Ketika Paus Yohanes Paulus II telah sembuh dari sakit karena ditembak oleh seseorang, maka Yang Mulia segera mendatangi si penembak di penjara untuk mengampuni kesalahan dan dosa-dosanya. Mengampuni pada masa kini sungguh merupakan tantangan dan berat. Ketika kita melakukannya, kita harus siap mendapatkan cap gila. Mengapa? Karena dengan melakukan tindakan itu kita akan melawan arus dan tampil beda. Bukankah ketika ada yang berbeda, cap negatif akan mudah kita terima?

Pada umumnya orang dengan mudah membalas dendam terhadap orang yang telah menyakitinya. Tak tanggung-tanggung, tindakan balas dendamnya akan semakin lebih berat dan hebat. Sebagai contoh apa yang terjadi dengan kerusuhan yang dilakukan oleh kelompok tertentu di negeri ini: membunuh orang, membakar dan merusak fasilitas ibadat agama lain, dst.. Tindakan-tindakan ini tentu ada alasan pembenarannya. Mulai dari pembenaran yang rasional sampai pembenaran yang melampui nalar manusia. Tindakan balas dendam ini terjadi karena masing-masing tidak menerima tindakan yang dilakukan oleh orang lain. Terasa aneh ketika tindakan dilakukan oleh oknum, tetapi yang harus menanggung efeknyaadalah komunitas. Sementara para pelaku harus ditempatkan sebagai oknum dan tidak mau ditempatkan sebagai komunitas. Rasa saya, tindakan balas dendam ini terus terjadi di tingkat akar rumput sampai dengan tingkat tinggi, di antara rakyat biasa sampai dengan pejabat tinggi/Negara.

Kita semua kiranya memiliki `musuh'. Adalah sebuah kebohongan jika kita mengatakan tidak memiliki `musuh'. Apa yang saya maksudkan dengan `musuh' di sini adalah apa-apa saja yang tidak sesuai dengan selera pribadi atau tak berkenan di hati, entah itu orang, makanan atau minuman, binatang, tanaman, situasi, dst.. Sesuatu yang kita anggap musuh pasti kita lawan. Karena kita menganggap air hujan sebagai musuh maka kita mengubah tanah resapan air hujan atau penampungan air hujan menjadi bangunan beton yang kokoh, tak tembus air.

Atas budaya permusuhan ini, budaya pengampunan harus dikembangkan. Memang budaya pengampunan adalah budaya yang tidak populis. Dan semakin kita meninggalkannya, semakin kacaulah kehidupan umat manusia. Sebagai contoh sederhana dan umum adalah makanan dan cuaca. Pedoman dasar dalam memilih makanan adalah sehat atau tidak sehat, bukan enak atau tidak enak. Dengan kata lain jika makanan sehat hendaknya disantap saja, meskipun tidak enak, kalau perlu langsung telan saja karena Tuhan telah menganugerahkan mesin pengolah makanan yang hebat dalam tubuh kita. Demikian juga dalam hal cuaca, hendaknya nikmati saja cuaca dingin atau panas untuk melatih kekebalan dan memperkembang-kan serta mengkokohkan anti-body dalam tubuh kita.

Virus-virus memang bertebaran di udara bebas, sehingga mereka yang tidak memiliki kekebalan tubuh yang memadai pasti akan jatuh sakit. Sebaliknya pada orang yang memiliki kekebalan tubuh pasti tak akan jatuh sakit. Kekebalan tubuh ini ada dua. Dari dirinya sendiri setiap orang pasti memiliki system antibody. Ada juga kekebalan yang dibuat. Ingat dan sadari ketika ada wabah penyakit, kita sering menerima vaksin. Ke dalam tubuh kita disuntikkan virus untuk memancing kekebalan tubuh. Kekebalan tubuh inilah yang harus kita ciptakan supaya kita semakin tahan dengan segala perkara yang ingin merusak hidup kita. Kekebalan tubuh tersebut adalah penguasaan diri.

Jika kita dapat menguasai diri dengan baik, maka sikap kita terhadap orang lain pasti akan berbeda. Kita akan menjadi pribadi yang lemah lembut dan melayani. Sebaliknya jika kita tak dapat menguasai diri, maka sikap terhadap orang lain pasti akan kasar, keras, dan menindas. Salah satu cara untuk melatih penguasaan diri adalah dengan matiraga atau lakutapa. Ada nasihat dari orangtua perihal `topo ing rame'. Maksud nasihat ini antara lain berkonsentrasi dalam melaksanakan tugas pengutusan tertentu alias mempersembahkan diri seutuhnya kepada tugas yang harus dikerjakan, sehingga tidak tergoda untuk menyeleweng atau `selingkuh'.

Hari gini ngomongin pengampunan? Mengapa tidak? Ketika kehidupan manusia semakin tidak terkendali, semangat dan habitus pengampunan harus terus menerus didengungkan. Kelihatannya tindakan gila, namun inilah tantangan yang nyata. Hakekat pengampunan adalah pengendalian diri. Semakin kita mampu mengendalikan diri, semakin kita mampu untuk memberikan pengampunan.

BENCANA MERAPI: BENCANA NASIONAL? 
Saturday, January 15, 2011, 15:43 - Inspirasi Posted by Administrator

dibalik endapan pasir masih ada pengharapan


“Kapan Merapi akan mereda?” demikian ungkap seorang warga yang menjadi korban keganasan Merapi. Warga yang lain turut mengiyakan pertanyaan temannya itu. Merapi seolah tak mau berhenti. Setelah terjadi erupsi Merapi tahun lalu, disusul dengan banjir lahar dingin. Penderitaan masyarakat makin hari makin bertambah.
Dari berbagai prediksi, mulai dari prediksi yang berbau mistis hingga prediksi rasional, bencana Merapi masih akan berlangsung agak lama. Setidaknya, akibat bencana Merapi masih akan berlangsung hingga bulan April mendatang. Prediksi ini bukan tanpa dasar. Menurut Kepala Pusat data Informasi dan BNPB Sutop Puro Nugroho, Merapi menyimpan 140 juta kubik lahar dingin yang sewaktu-waktu dapat mengalir turun. Akitvitas ini akan berlangsung hingga bulan April mengingat prediksi musim hujan yang juga akan berakhir pada bulan April.

Banjir lahar dingin akan banyak mengarah ke daerah Magelang. Hal ini bukan merupakan sebuah kebetulan semata. Kawasan Merapi bagian barat merupakan kawasan yang menyimpan banyak material Merapi yang lebih ringan. Pada erupsi tahun lalu, hujan abu yang dikeluarkan oleh Merapi menyebar ke arah Barat. Akibatnya, kawasan Merapi sisi Barat lebih banyak menyimpan material hasil letusan. Karena material vulkanik yang ringan, menjadikan daya dorong atau daya luncur lebih cepat. Hal ini sudah terbukti pada bajir lahar dingin pada Minggu, 9 Januari silam. Kecepatan luncuran lahar dingin demikian cepat sehingga bagian bawah sedikit terlambat bereaksi. Akibatnya korban bertambah banyak dibandingkan banjir lahar dingin pada tanggal 3 Januari 2011. Bukan hanya korban harta benda, tapi korban manusia pun bertambah.



Saat ini, curah hujan di kawasan Merapi masih sangat tinggi. Potensi banjir lahar dingin masih tetap mengancam, terutama di sepanjang daerah aliran sungai Kali Krasak, Kali Putih, Kali Blongkeng, Kali Pabelan, Kali Senowo, dan Kali Apu. Potensi ini tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Lamanya erupsi Merapi pada tahun lalu telah menimbulkan penderitaan tersendiri bagi masyarakat. Kini, penderitaan itu akan terus bertambah mengingat semakin luasnya daerah yang terkena bahaya sekunder erupsi Merapi. Masa pemulihan pun akan semakin bertambah panjang.


jembatan soropl sebelum dan sesudah tanggal 9 Januari


Jika dibandingkan, efek erupsi dan efek banjir lahar dingin Merapi jelas berbeda. Situasi yang diakibatkan bahaya sekunder Merapi terasa lebih dramatis. Tidak sedikit perkampungan yang rata dengan pasir. Rumah-rumah warga banyak yang hilang tersapu lahar dingin atau terendam pasir. Puluhan hektare sawah dan ladang hancur. Padi yang telah menguning tak lagi bisa diharapkan karena tersapu lahar dingin. Banyak akses jalan terputus. Jembatan-jembatan yang menjadi penghubung desa yang satu dengan desa yang lain tak berbekas karena terbawa arus. Hal ini terjadi di daerah Progowati Muntilan. Jembatan Srowol hancur tersapu lahar dingin. Pemerintah berusaha membangun jembatan darurat dengan menyewa jembatan buatan dari AKMIL. Tetapi jembatan buatan itupun kini telah hancur karena disapu banjir 9 Januari silam. Bahkan salah satu rumah yang ada di tepi sungai pun kini tak lagi ada bekasnya.

Situasi ini jelas berbeda dengan situasi pada saat erupsi tahun lalu. Pada waktu itu, para pengungsi masih bisa menengok rumah, menyelamatkan harta benda termasuk ternak mereka. Kini, apa yang akan diselamatkan? Warga yang berada si sepanjang aliran sungai yang dilalui arus lahar dingin benar-benar terpuruk. Rumah, harta benda, dan lahar pertanian yang menjadi tumpuan harapan hilang tersapu atau terkubur material lahar dingin. Apa lagi yang akan diharapkan dari situasi yang mereka hadapi?

Menyingkirkan material lahar dingin membutuhkan mobilisasi yang luar biasa, baik itu tenaga maupun biaya. Sangatlah tidak mudah membersihkan endapan material pasir setinggi 1-3 meter. Jika mengikuti prediksi yang menyebutkan potensi bahaya banjir masih akan berlangsung hingga bulan April, usaha yang dilakukan seolah terasa sia-sia. Hari ini dibersihkan, tapi beberapa hari kemudian bisa datang lagi dengan volume yang lebih besar. Ambil contoh yang terjadi di Pasar Jumoyo. Banjir yang terjadi pada tanggal 3 Januari meluas sampai 100 meter. Namun luasnya daerah yang terkena luapan lahar dingin menjadi 300 meter pada banjir 9 Januari. Melihat kemungkinan ini, akankah pembersihan menunggu hingga ancaman banjir lahar dingin itu terhenti?

Jika menunggu, apa yang harus dibuat oleh masyarakat? Haruskah mereka diam menunggu? Dari mana mereka akan hidup? Sejuta pertanyaan terlontar, tetapi hanya diam. Seolah tak ada jawaban yang bisa diberikan dengan pasti. Di satu sisi, aliran dana bantuan tidaklah sederas ketika terjadi erupsi Merapi. Padahal kerugian yang dialami masyarakat tidak kalah jauh dibandingkan ketika masa erupsi. Mungkin kerugian yang diderita lebih besar masa sekarang. Hal ini disebabkan rusaknya sektor perekonomian masyarakat, terutama lahan pertanian yang menjadi tumpuan hidup masyarakat. Ketika sektor ekonomi yang mengalami kelumpuhan, akankah masyarakat diam menunggu uluran tangan sambil menunggu redanya ancaman bajir lahar dingin tanpa bisa berbuat sesuatu?



Mengingat kerugian yang demikian besar, bencana Merapi ini diangkat menjadi masalah nasional. Mulai dari masalah pengungsian hingga managemen pemulihan ditangani oleh pemerintah. Mengandalkan usaha masyarakat yang ternyata bergerak lebih cepat tentu tidak mudah karena keluasan jangkauan yang harus ditangani. Mengandalkan pemerintah Kabupaten Magelang? Rasanya persoalan ini terlalu besar untuk dtanggung oleh Pemerintah Kabupaten Magelang. Inilah saat bagi Pemerintah untuk menunjukkan kepedulian dan perhatian kepada masyarakat. Masyarakat tidak membutuhkan janji-janji, melainkan bukti nyata. Inilah saat bagi masyarakat untuk menagih janji yang keluar dengan manis pada waktu pemilu.

Tahun Baru Jawa: Menjaga Harmoni Kosmos 
Thursday, December 9, 2010, 21:48 - Inspirasi Posted by Administrator

foto oleh yswitopr


7 Desember 2010 adalah awal bulan Sura dalam penanggalan Jawa. Tanggal ini sekaligus menandai tahun baru dalam tradisi tersebut. Bagi pemegang tradisi Jawa bulan Sura merupakan bulan sakral. Keyakinan semacam ini masih banyak diyakini dan dianut oleh sebagian masyarakat Jawa. Mungkin kita akan tertawa atau mentertawakan keyakinan seperti ini. “Hari gini masih percaya hal-hal yang tidak masuk nalar?” Pertanyaan ini bisa mewakili pikiran dan perasaan kita.

Bagi yang memiliki talenta sensitifitas indera keenam bulan Sura memiliki makna tersendiri. Aura mistis dari alam gaib begitu kental. Rasa perasaan inilah yang seringkali ditangkap dan dimaknasi secara berbeda. Masyarakat modern sering memandang secara negatif: Sura dikaitkan dengan paham syirik dan kemusrikan. Anggapan seperti itu timbul karena disebabkan kurangnya pemahaman sebagian masyarakat akan makna yang mendalam di baliknya. Rasa saya, soal musrik atau syirik sangat berkaitan dengan cara pandang batiniah dan suara hati. Dalam kerangka inilah, teramat sulit untuk memberikan penilaian. Apakah sah jika penilaian ini hanya dilandasi dengan melihat manifestasi perbuatannya saja?

Memang menjadi persoalan ketika melihat manifestasi dari perbuatan. Pada bulan Sura banyak orang melakukan ritual-ritual tertentu: siraman atau mandi pada malam sura, tapa mbisu atau tidak berbicara, melakukan sesaji bunga setaman, dan jamasan pusaka. Dari sudut pandang agama, ritual ini jelas sebentuk sinkretisme. Namun, apakah kita pernah melihat ritual-ritual ini dalam makna yang terkandung di dalamnya?

Masyarakat Jawa mempunyai kesadaran makrokosmos. Dalam kesadaran ini diamini bahwa Tuhan menciptakan kehidupan di alam semesta ini mencakup berbagai dimensi yang fisik (wadag) maupun metafisik (gaib). Kedua dunia ini saling berinteraksi. Interaksi antara dimensi alam fisik dengan dimensi metafisik merupakan interaksi yang saling mengisi mewujudkan keselarasan dan keharmonisan alam semesta.

Selain kesadaran makrokosmos, sebaliknya di sisi lain kesadaran mikrokosmos. Manusia merupakan bagian dari mikrokosmos itu. Manusia sebagai bagian dari mikrokosmos memiliki peranan besar dalam menjaga keseimbangan makrokosmos karena manusia dikarunia akal budi. Kesadaran akan makrokosmos membawa kesadaran lain bahwa manusia bukanlah segalanya di hadapan Yang Maha Tinggi, dan dibanding mahluk lainnya. Manusia tidak seyogyanya mentang-mentang mengklaim dirinya sendiri sebagai mahluk paling sempurna dan mulia, hanya karena akal-budinya. Akal budi adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, manusia dapat mencapai kepenuhan karena akal budinya. Di sisi lain, manusia bisa terpuruk dan tersesat juga karena akal budinya.

Berdasarkan dua dimensi kesadaran itu, tradisi Jawa memiliki prinsip hidup yakni pentingnya untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian alam semesta agar supaya kelestarian alam tetap terjaga sepanjang masa. Menjaga kelestarian alam merupakan perwujudan syukur tertinggi umat manusia kepada Sang Hyang Murbeng Dumadi. Cara pandang tersebut membuat masyarakat Jawa memiliki tradisi yang unik dibanding dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Sebagai bagian makrokosmos, manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan kosmos. Keseimbangan kosmos itu tidak hanya sebatas apa yang dapat dilihat dilihat menurut mata telanjang manusia. Kosmos memiliki dua dimensi, yakni fana/wadag atau fisik, dan lingkungan dimensi gaib atau metafisik. Kepekaan batin adalah kunci untuk mengerti dan memahami dimensi metafisik.

Harmoni alam merupakan cita-cita manusia. Untuk menggapai harmoni alam itulah, sebagian masyarakat Jawa melakukan ritual-ritual tertentu. Seringkali orang salah memberikan penilaian karena hanya melihat sebatas yang terlihat dan memberikan penilaian seturut norma atau nilai yang dianutnya. Padahal jika kita mau masuk ke dalamnya, kita akan menemukan nilai yang melebihi dan melampaui keimanan kita sendiri. Ritual yang dibuat merupakan kristalisasi dari kesadaran manusia akan keseimbangan kosmos. Dalam ritual-ritual yang dibuat, terkandung nilai-nilai yang luar biasa mendalam. Pertama, keyakinan dasar akan Sang Hyang Murbeng Jagad. Dalam melaksanakan ritual, hati manusia tetap teguh pada keyakinan bahwa Tuhan adalah Maha Tunggal, dan tetap mengimani bahwa Tuhan Maha Kuasa menjadi satu-satunya penentu kodrat. Persoalan utama adalah soal bahasa. Masyarakat Jawa kuno yang mewariskan nilai-nilai itu hingga sekarang tentu memiliki kosakata tersendiri untuk menyebut Tuhan. Meskipun masyarakat Jawa kuno tidak memiliki kata Tuhan, namun mereka memiliki keyakinan akan kekuatan dari luar diri mereka yang memiliki kuasa mutlak atas hidup manusia.

Kedua, nilai filosofi. Ritual-ritual yang dibuat selama bulan Sura merupakan simbol kesadaran makrokosmos yang bersifat horisontal, yakni penghargaan manusia terhadap alam. Disadari bahwa alam semesta merupakan sumber penghidupan manusia. Oleh karena itu, kosmos harus dijaga demi kelangsungan kehidupan generasi penerus atau anak turun kita. Kelestarian alam merupakan warisan paling berharga untuk generasi penerus. Nilai inilah yang makin hari makin luntur. Alam dieksploitasi sedemikian rupa sehingga kesimbangan alam terganggu: banjir bandang, tanah longsor, dan aneka peristiwa alam yang menunjukkan terganggunya harmoni kosmos. Aneka ritual bulan Sura merupakan bentuk interaksi harmonis antara manusia dengan seluruh unsur alam semesta. Disadari pula bahwa manusia hidup di dunia berada di tengah-tengah lingkungan jagad fisik maupun jagad metafisik. Kedua dimensi jagad tersebut saling bertetanggaan, dan keadaannya pun sangat kompleks. Manusia dan seluruh makhluk ciptaan Tuhan seyogyanya menjaga keharmonisan dalam bertetangga, sama-sama menjalani kehidupan sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Sebaliknya, bilamana dalam hubungan bertetangga (dengan alam) tidak harmonis, akan mengakibatkan situasi dan kondisi yang destruktif dan merugikan semua pihak. Maka seyogyanya jalinan keharmonisan sampai kapanpun tetap harus dijaga.

Ada nilai luhur dan agung dalam aneka bentuk ritual yang dibuat selama bulan Sura. Tahun baru Jawa mengajak kita bermenung tentang peran manusia mengemban titah Sang Hyang Murbeng Jagad untuk menjaga keseimbangan alam. Tatanan alam perlu dijaga demi keberlangsungan hidup manusia itu sendiri.



 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang