Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
Yuuukk, ber-AKSI PUASA 
Tuesday, March 8, 2011, 17:44 - Inspirasi Posted by Administrator
Ade bergegas mencari ayah dan ibunya.

“Bu, ada titipan amplop!” katanya sambil menyerahkan amplop itu kepada ibunya.

“Amplop apa, Dik?” tanya ibunya.

Dengan semangat empat lima, Ade menjelaskan amplop itu.

“Tadi Pak Paijo ke sini. Terus nitipin amplop itu. Pak Paijo mengatakan kalau amplop itu adalah amplop APP. Gitu, Bu!”

Ibu Ade mengamati amplop itu dan memasukkan ke dalam buku Puji Syukur yang biasa dibawanya ke gereja.
“APP itu apa sich, Bu?” tanya Ade kepada ibunya yang masih sibuk dengan amplop dan Puji Syukurnya.

Ibunya gelagapan mendengar pertanyaan anaknya itu. Pura-pura aja tidak mendengar pertanyaan anaknya dengan pura-pura membolak-balik buku Puji Syukur.

“APP itu Aksi Puasa Pembangunan, dik!” sahut ayahnya dari ruang tamu.

Ade segera menemui ayahnya di ruang tamu. Karena penasaran, Ade segera memberondong ayahnya dengan pertanyaan-pertanyaan, “Trus kenapa harus ada amplop segala? Emangnya amplop itu untuk apa?”

“Ow.. gini lho, dik! Aksi Puasa Pembangunan itu salah satu ungkapan dalam masa Prapaska. Selama Prapaskah, kita berpantang dan berpuasa. Pantangnya setiap hari Jumat. sedangkan puasanya pada hari Rabu abu dan Jumat Agung".

"Emangnya cara pantang dan puasa itu bagaimana sich, Pak?" Ade makin tertarik dengan keterangan ayahnya.

"Cara pantang adalah memilih untuk tidak membuat apa yang paling kita sukai. Misalnya Adik puasa tidak jajan. Bapak pantang tidak merokok. Ibu pantang tidak dolan ke mall. Sedangkan puasa itu makan kenyang hanya sekali sehari".

"Wah... gampang sekali ya, Pak! Kalau cuma gitu, Adik aja bisa!"

"Memang sangat gampang, Dik. karena mudah itu, banyak orang malah tidak membuatnya. hahahaahaha..... Ya, tho? Karena mudah itu maka kita bisa membuat gerakan pantang dan puasa sendiri yang lebih berat. Selain itu, kita juga membuat gerakan pengumpulan dana APP. Nah, APP itu harus punya daya ubah, Dik!”.

Belum selesai menjelaskan, Ade langsung menyerobot, “Pengumpulan dananya kapan, Pak?”

Ayahnya hanya tersenyum, “Jadi, antara APP dan puasa itu ada kaitannya. Karena sebenarnya makna yang terkait antara puasa dan APP, yaitu memberikan hasil puasa dan pantang. Jadi penghematan yang dilakukan kita sisihkan sebagai wujud keprihatinan terhadap sesama yang berkekurangan lewat menabung. Misalnya adik pantang jajan, uang jajannya itu disisihkan. Klo bapak pantang rokok, uang beuat beli rokok disisihkan. kalau ibu pantang belanja atau main ke mall maka uangnya itu disisihkan. Dan itu fungsi dari amplop APP yang diedarkan oleh gereja”.

“Jadi amplop itu diisi selama masa Prapaskah ya, Pak?”

“Bener, Dik! Adik itu cerdas, ya... hehehehe... Ini baru anak bapak! Tapi gini, dik! Kita itu masih sering salah mengerti mengenai dana APP. Kayak ibumu itu. Amplop APP itu dianggap sebagai bentuk sumbangan wajib atau partisipasi yang nanti di isi saat ketua lingkungan datang mengambilnya, bukan hasil dari puasa. Makanya amplop itu disimpen!” kata ayah Ade sambil melirik ibunya.

"Iya dech... Ibu keliru!" Ibu Ade hanya bisa tersenyum kecut.

“Trus baiknya amplop itu diapain, Pak?”

“Gini aja.. Kita buat kotak APP. Trus kita taruh di ruang keluarga. Setiap hari kita sisihkan uang makan, uang jajannya asik, uang rokoknya bapak, dan uang belanjanya ibu.. Hasilnya kita masukkan ke kotak itu. Gimana, Dik?”

“Ok, Pak! Kita buat sekarang aja, ya?”

Kemudian Ade dan Ayahnya membuat kotak APP dan menaruhnya di ruang keluarga.

BAGAIMANA DENGAN ANDA?
Surat Gembala Prapaskah 2011 
Thursday, March 3, 2011, 22:41 - BERITA Posted by Administrator
SURAT GEMBALA PRAPASKA 2011
KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG

Hari Minggu Biasa IX Tahun A/I, Tanggal 5 – 6 Maret 2011


“Orang Katolik Sejati Melakukan Kehendak Bapa”


Saudari-saudaraku yang terkasih,

Rabu Abu menjadi pintu masuk bagi kita semua ke dalam masa Pra Paska, yang dalam tradisi Gereja dijadikan masa untuk “retret agung”. Disebut “retret agung” karena selama 40 hari kita diajak oleh Gereja untuk mengikuti Yesus Tuhan kita semakin dekat, mengenal-Nya semakin dalam, dan mencintai-Nya semakin mesra. Saya anjurkan seluruh umat Katolik sungguh menggunakan masa retret agung untuk keperluan tersebut, secara pribadi maupun bersama, agar iman berkembang semakin mendalam dan tangguh, dan dengan demikian menjadi orang Katolik sejati.

Selama masa Pra Paska 2011 kita diajak untuk merenung, berdoa, dan membicarakannya dalam pertemuan umat dengan tema “Inilah orang Katolik Sejati”. Di manakah terletak kesejatian kita sebagai orang Katolik? Pada nama baptis Katolik yang dipasang melengkapi nama diri? Tentu tidak. Pada keterangan agama yang kita anut, yang tercantum pada KTP? Tidak juga. Pada cara seruan ketika kita berdoa? Pada kutipan Injil hari ini Tuhan Yesus bersabda, ‘Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat. 7: 21) Bukan pada cara seruan kita berdoa, tetapi pada rahmat yang memampukan kita melakukan kehendak Bapa di sorga terletak kesejatian kita sebagai orang Katolik.

Dengan pernyataan tersebut, dapat kita mengerti pula bahwa ‘kekatolikan’ memuat pemahaman tentang iman yang terbuka, bahwa siapa pun yang melakukan kehendak Bapa di sorga dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Katolik merupakan suatu nama yang memuat ajakan agar kita diperkenankan mengalami Allah yang sejati. Pada zaman kita ajakan tersebut menjadi sungguh berat karena kita hidup dalam berbagai arus yang berlawanan secara ekstrim. Ada arus tak peduli pada keberadaan Allah dan perannya bagi keselamatan manusia karena manusia merasa semakin mampu mengusahakan keselamatan sendiri. Ada juga arus fanatisme beragama yang dipeluk oleh orang-orang yang berseru “Tuhan, Tuhan”, namun perilakunya tidak sesuai dengan seruannya, karena merusak milik orang lain, dan bahkan membinasakan kehidupan manusia.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Dalam kehidupan beragama kerap kita jumpai praktek-praktek keagamaan yang tidak selaras dengan pengalaman akan Allah yang sejati, karena bukan Allah yang kita muliakan, melainkan kepentingan diri sendiri yang kita penuhi. Kita beranggapan bahwa pelaku utama keselamatan itu diri manusia, diriku, dan bukan Allah. Dalam seruan kepada Allah, kerap kita berpendapat yang harus terjadi adalah kehendakku, bukan kehendak Bapa yang di sorga. Ranah keagamaan telah kita jadikan tempat berjualan, dan bukan lagi menjadi tempat doa. Kita ciptakan ilah-ilah baru yang muncul dari kepentingan diri kita sendiri untuk memenuhi kepentingan diri kita sendiri pula.

Ketidakberesan dalam ranah keagamaan ini menjadi sumber aliran-aliran arus yang bermuara pada ruang publik yang tuna adab. Intoleransi yang akhir-akhir ini menjadi-jadi, kebohongan publik yang merambah ke setiap sudut ruang kehidupan masyarakat, korupsi, ketidakadilan, kekerasan yang merajalela, bahkan telah masuk dalam keluarga-keluarga kita adalah buah-buah dari hidup keagamaan yang tidak benar, karena yang kita sembah sebenarnya bukan Allah sejati, melainkan ilah-ilah ciptaan kita sendiri.

Permenungan kita mengenai “Inilah orang Katolik sejati” merupakan ajakan pertobatan, agar kita meninggalkan kegelapan untuk masuk dalam terang. Kita buka hati kita agar Roh Kudus, Roh Penasihat, menasihati kita agar menjadi trampil melaksanakan pembedaan roh-roh (Inggris: “discernment of spirits”, Latin “discretio spirituum”). Dalam ulah rohani ini kita kenal langkah-lagkah rohani untuk “necep sabda, neges karsa, ngemban dhawuh”. Langkah-langkah itulah yang dapat kita lakukan untuk mengisi masa Pra Paska kita menjadi masa retret agung.

Dalam langkah “necep sabda”, kita buka telinga kita untuk mendengarkan sabda Allah, yang bersabda melalui Kitab Suci. Sabda itu terasa manis karena meneguhkan perbuatan baik kita, namun sabda itu bisa pahit kalau mengkritik perbuatan salah kita. Seharusnya sebagai orang Katolik sejati kita biarkan daya kekuatan sabda itu mengubah hati kita. Dalam langkah “neges karsa” kita menjajagi apa kehendak Tuhan bagi hidup kita, membeda-bedakan mana kehendak Tuhan, mana kehendak kita; dan kemudian menegaskan bahwa kehendak Tuhanlah yang harus kita utamakan dalam kehidupan kita. Dalam langkah “ngemban dhawuh”, kita bangun kehendak hati dan budi kita karena kita bertekad melaksanakan kehendak Tuhan “ngemban dhawuh Dalem Gusti” dalam kehidupan kita.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Saya yakin, langkah-langkah itu dapat membantu kita menjadi bijaksana untuk mendirikan rumah di atas batu, sebagaimana dikatakan Tuhan, "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” (Mat. 7:24-25).

Sebagai orang Katolik sejati, marilah kita juga bersedia diantar oleh Maria, bunda Allah dan bunda Gereja, kepada Yesus, “per Mariam ad Jesum”. Maria telah menjadi teladan beriman kita. Seluruh hidupnya telah menjadi kesempatan untuk menyimpan segala peristiwa dan merenungkannya dalam hatinya. Setiap kali kita berdoa rosario, dalam sinar peristiwa-peristiwa Tuhan: gembira, terang, sedih dan mulia, kita diajak untuk merenungkan peristiwa-peristiwa hidup kita sendiri sebagai peristiwa-peristiwa keselamatan yang dilaksanakan oleh Allah sendiri.

Allah yang telah memulai pekerjaan-pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (bdk. Flp 1:6).


Salam, doa dan Berkah Dalem,

Semarang, 25 Februari 2011


+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang

Hari Gini Ngomongin Pengampunan? 
Saturday, February 19, 2011, 16:56 - Inspirasi Posted by Administrator
“Orang gila...!” teriak seorang anak kecil ketika melihat ada seorang yang cengar-cengir sendiri. Orang itu kadang menangis, kadang tertawa, ngomel sendiri, dan aneka kegiatan lain yang sangat berbeda dengan kebanyak orang. Sejurus kemudian, anak itu memanggil teman-temannya dan mengusir orang yang mereka anggap gila itu.

Stempel gila atau tidak waras memang mudah kita terapkan kepada orang. Stempel ini kita berikan karena kita merasa oran glain tersebut memiliki perbedaan dengan kita. Gila atau waras merupakan sudut pandang kita. Dan, betapa mudah kita memberikan stempel ini. Apakah faktanya memang demikian? Karena berkaitan dengan sudut pandang, maka satu atau dua sudut saja yang kita gunakan. Apakah dari sudut pandang yang lain juga akan didapatkan kesimpulan yang sama?

Kita bisa memberikan cap gila kepada Paus Yohanes Paulus II karena tindakannya. Ketika Paus Yohanes Paulus II telah sembuh dari sakit karena ditembak oleh seseorang, maka Yang Mulia segera mendatangi si penembak di penjara untuk mengampuni kesalahan dan dosa-dosanya. Mengampuni pada masa kini sungguh merupakan tantangan dan berat. Ketika kita melakukannya, kita harus siap mendapatkan cap gila. Mengapa? Karena dengan melakukan tindakan itu kita akan melawan arus dan tampil beda. Bukankah ketika ada yang berbeda, cap negatif akan mudah kita terima?

Pada umumnya orang dengan mudah membalas dendam terhadap orang yang telah menyakitinya. Tak tanggung-tanggung, tindakan balas dendamnya akan semakin lebih berat dan hebat. Sebagai contoh apa yang terjadi dengan kerusuhan yang dilakukan oleh kelompok tertentu di negeri ini: membunuh orang, membakar dan merusak fasilitas ibadat agama lain, dst.. Tindakan-tindakan ini tentu ada alasan pembenarannya. Mulai dari pembenaran yang rasional sampai pembenaran yang melampui nalar manusia. Tindakan balas dendam ini terjadi karena masing-masing tidak menerima tindakan yang dilakukan oleh orang lain. Terasa aneh ketika tindakan dilakukan oleh oknum, tetapi yang harus menanggung efeknyaadalah komunitas. Sementara para pelaku harus ditempatkan sebagai oknum dan tidak mau ditempatkan sebagai komunitas. Rasa saya, tindakan balas dendam ini terus terjadi di tingkat akar rumput sampai dengan tingkat tinggi, di antara rakyat biasa sampai dengan pejabat tinggi/Negara.

Kita semua kiranya memiliki `musuh'. Adalah sebuah kebohongan jika kita mengatakan tidak memiliki `musuh'. Apa yang saya maksudkan dengan `musuh' di sini adalah apa-apa saja yang tidak sesuai dengan selera pribadi atau tak berkenan di hati, entah itu orang, makanan atau minuman, binatang, tanaman, situasi, dst.. Sesuatu yang kita anggap musuh pasti kita lawan. Karena kita menganggap air hujan sebagai musuh maka kita mengubah tanah resapan air hujan atau penampungan air hujan menjadi bangunan beton yang kokoh, tak tembus air.

Atas budaya permusuhan ini, budaya pengampunan harus dikembangkan. Memang budaya pengampunan adalah budaya yang tidak populis. Dan semakin kita meninggalkannya, semakin kacaulah kehidupan umat manusia. Sebagai contoh sederhana dan umum adalah makanan dan cuaca. Pedoman dasar dalam memilih makanan adalah sehat atau tidak sehat, bukan enak atau tidak enak. Dengan kata lain jika makanan sehat hendaknya disantap saja, meskipun tidak enak, kalau perlu langsung telan saja karena Tuhan telah menganugerahkan mesin pengolah makanan yang hebat dalam tubuh kita. Demikian juga dalam hal cuaca, hendaknya nikmati saja cuaca dingin atau panas untuk melatih kekebalan dan memperkembang-kan serta mengkokohkan anti-body dalam tubuh kita.

Virus-virus memang bertebaran di udara bebas, sehingga mereka yang tidak memiliki kekebalan tubuh yang memadai pasti akan jatuh sakit. Sebaliknya pada orang yang memiliki kekebalan tubuh pasti tak akan jatuh sakit. Kekebalan tubuh ini ada dua. Dari dirinya sendiri setiap orang pasti memiliki system antibody. Ada juga kekebalan yang dibuat. Ingat dan sadari ketika ada wabah penyakit, kita sering menerima vaksin. Ke dalam tubuh kita disuntikkan virus untuk memancing kekebalan tubuh. Kekebalan tubuh inilah yang harus kita ciptakan supaya kita semakin tahan dengan segala perkara yang ingin merusak hidup kita. Kekebalan tubuh tersebut adalah penguasaan diri.

Jika kita dapat menguasai diri dengan baik, maka sikap kita terhadap orang lain pasti akan berbeda. Kita akan menjadi pribadi yang lemah lembut dan melayani. Sebaliknya jika kita tak dapat menguasai diri, maka sikap terhadap orang lain pasti akan kasar, keras, dan menindas. Salah satu cara untuk melatih penguasaan diri adalah dengan matiraga atau lakutapa. Ada nasihat dari orangtua perihal `topo ing rame'. Maksud nasihat ini antara lain berkonsentrasi dalam melaksanakan tugas pengutusan tertentu alias mempersembahkan diri seutuhnya kepada tugas yang harus dikerjakan, sehingga tidak tergoda untuk menyeleweng atau `selingkuh'.

Hari gini ngomongin pengampunan? Mengapa tidak? Ketika kehidupan manusia semakin tidak terkendali, semangat dan habitus pengampunan harus terus menerus didengungkan. Kelihatannya tindakan gila, namun inilah tantangan yang nyata. Hakekat pengampunan adalah pengendalian diri. Semakin kita mampu mengendalikan diri, semakin kita mampu untuk memberikan pengampunan.

Kontingen Koor Paroki Ignatius Juara II 
Wednesday, February 16, 2011, 13:17 - BERITA Posted by Administrator

Koor Wilayah Gregorius Plus


Bertempat di Gereja Ignatius diadakan Festival Lagu-lagu Perkawinan se-Kevikepan Kedu. Festival ini diadakan pada hari Selasa, 15 Februari 2011. Festival ini diikuti oleh 6 paroki dengan 7 kelompok peserta, yaitu Paroki Parakan, Temanggung, Fatima, Ignatius, Pancaarga dengan 2 kelompok, dan Salam.

"Festival ini dimaksudkan untuk semakin memperkenalkan lagu-lagu perkawinan yang dibuat oleh Tim Musik Liturgi KAS. Dengan semakin diperkenalkannya lagu-lagu perkawinan ini, diharapkan khasanah lagu perkawinan menjadi semakin lengkap. Dan, ke depannya tidak ada lagi llagu-lagu pop atau lagu yang tidak secara khusus dibuat untuk kepentingan lituri tetapi dipakai untuk kepentingan liturgi" demikian penjelasan Romo Wito selaku penanggungjawab Festival ini.

Dalam Festival Lagu-lagu Perkawinan ini yang diadakan oleh Komisi Liturgi Kevikepan Kedu ini Paroki St Ignatius mengirimkan satu wakil, yaitu Wilayah Gregorius. Wilayah Gregorius dipilih menjadi wakil karena menjadi penampil terbaik dalam acara serupa yang dilakukan oleh Paroki Ignatius pada tahun lalu.

Keterlibatan Wilayah Gregorius plus tambahan dari beberapa personil dari wilayah lain membagakan. dalam Festival Lagu-lagu Perkawinan tersebut, Wilayah Gregorius berhasil menyabet 2 thropy, yaitu sebagai Juara II dan Pemazmur Terbaik.

Sambutan umat dalam kegiatan ini cukup besar. Hal ini tampak dari animo penonton. Bahkan, tidak hanya umat Katolik. Beberapa Gereja Kristen di Magelang juga ikut hadir menyaksikan Festival ini.

<<First <Back | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang