Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
SEJARAH GEREJA PERIODE 1921-1930 
Monday, March 1, 2010, 17:54 - Sejarah Posted by Administrator
GEREJA ST. IGNATIUS MAGELANG
PERIODE TAHUN 1921 – 1930



Tercatat Romo B. Hagdorn, MA.,SJ. memberikan sakramen permandian kepada 12 siswa HIS, yang salah satunya alm. Bapak Sangkrip dari Wilayah Paulus Juritan pada tanggal 15 September 1923. Disamping itu pada periode ini dilaksanakan perluasan gedung Gereja dengan menambah dua sayap pada kiri – kanan gedung selebar 3,5 meter.
Para Romo yang berkarya pada periode ini ; Romo B. Hagdorn, MA., SJ. – Romo H. Busterveld. – Romo A. Mathysen. – Romo C. Lucas, SJ. – Romo J. Kremer, SJ. – Romo W. Hellings, SJ. – Romo AW Van Velsen, SJ. – Romo L. Sondal, SJ. – Romo Th. C. Verhouven, SJ.
GELIAT KAUM MUDA IGNATIUS 
Sunday, February 28, 2010, 05:21 - BERITA Posted by Administrator

Sebagian Kaum Muda berpose bersama Fr Bondhan setelah Ekaristi Natal 2009


Mana kaum muda Ignatius? Kok sepi? Pertanyaan ini bisa menjadi wakil dari kegelisahan mengenai gerak dan dinamika kaum muda Ignatius. Bahkan ada yang bilang jika kaum muda Ignatius itu antara ada dan tiada. Secara kuantitas, kaum muda Ignatius itu banyak. Tetapi berapa prosen yang terlibat dalam gerak dan dinamika Paroki Ignatius. Tidak dipungkiri, sebagain besar menjadi kaum muda anonim di Ignatius.

Untuk menjawab keprihatinan ini, Kaum Muda Ignatius berusaha berjuang maksimal menggerakkan kaum muda untuk terlibat dalam gerak dan dinamika paroki Ignatius. Salah satu bentuk yang ingin dibuat adalah berpartisipasai dalam Perayaan Pekan Suci. Kaum Muda ingin menunjukkan kepada umat, bahwa mereka ada dan bisa. Bersama Fr. Bondhan, kaum muda merencanakan untuk membuat peragaan kisah sengsara Tuhan Yesus Kristus dalam bentuk tampilan yang berbeda, yaitu kethoprak. Selain menawarkan permenungan kisah sensara, kaum muda juga ingin nguri-uri kabudayan.

Berbahasa Jawa saja sulit apalagi memainkan ketoprak. Oleh karena itu, peragaan kisah sengsara ini sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. latihan telah dilakukan beberapa kali. Untuk latihan awal ini, porsi latihan ditekankan pada pengucapan. Dalam latihan ini banyak masih banyak terjadi salah baca atau salah ucap, maklum saja bahasa Jawa telah menjadi bahasa asing di rumahnya sendiri. Tidak mengherankan jika banyak tawa menyelingin latihan. hal ini justru semakin menumbuhkan rasa keakraban dan kekeluargaan di antara mereka.

Kaum Muda mulai menggeliat. Moga-moga tidak masuk angin! Tapi roh yang sudah ada terus menerus dihidupi sehingga Gereja Ignatius terus berkembang di usianya yang sudah memasuki 110 tahun. Usia yang tak lagi muda. Masa depan Gereja Ignatius ada ditangan kaum muda. Sanggupkah? SEMOGA!
PROSES LIVE IN 
Sunday, February 28, 2010, 01:16 - BERITA Posted by Administrator

Romo Krisno dan Frater Bondhan memberikan penjelasan


Magelang – Mulai tanggal 26-28 Februari 2010, diadakan live-in para frater dari Seminari Tinggi Kentungan. Sebanyak 21 frater datang ke paroki Ignatius untuk mengikuti live-in. Tujuan diadakannya live in ini adalah untuk menggali data umat dan sejarah perkembangan umat di paroki St Ignatius Magelang. Keberadaan data umat ini sangat penting. “Data paroki merupakan dasar untuk pastoral. Istilahnya pastoral berdasarkan data. Dengan adanya data yang jelas dan pasti, pastoral yang dibuat menjadi tepat sasaran,” demikian tegas Romo FX Krisno Handoyo Pr, selaku pastur kepala di paroki Ignatius. Data-data yang ingin didapatkan terdapat di lingkungan-lingkungan. Maka, para frater di bagi dalam lingkungan-lingkungan dan wilayah. Untuk itu, pada hari Kamis, 25 Februari 2010 diadakan pertemuan Ketua Wilayah dan Ketua Lingkungan. Pertemuan ini ditujukan untuk memberikan sosialisasi dan gambaran mengenai kegiatan live in.

Jumat, 26 Februari para frater datang ke Ignatius. Setelah semua datang, diadakan pertemuan bersama untuk belajar angket dan mematangkan rencana kegiatan yang akan dilakukan pada hari Jumat sore. Pertemuan ditutup dengan makan siang sembari menunggu jemputan dari lingkungan-lingkungan yang akan membawa para frater menuju tempat yang akan mereka tinggali selama live-in.

Sabtu, 27 Februari para frater datang kembali ke paroki untuk membuat laporan kegiatan yang telah mereka buat. Progress report ini dibuat untuk melihat sejauh mana perkembangan proses live-in. Benang merah dari progres report ini adalah amburadul. Ternyata data yang diharapkan ada di masing-masing lingkungan belum sepenuhnya ada. Kalaupun ada, data itu tidak maksimal. “dengan kenyataan amburadul, kami justru senang. Karena kami jadi tahu dan tertantang untuk berbuat apa, “seloroh Romo Krisno mengomentari laporan para frater.


Salah satu frater sedang sibuk memasukkan data ke laptop


Karena data yang masih amburadul, membuat para frater harus bekerja ekstra. Ada yang sampai lembur untuk mengolah dan membaca lembar kuning. Ini menandaskan tekad para frater untuk membantu paroki Ignatius untuk mendapatkan data yang valid. Untuk memberikan peneguhan, romo Krisno berpesan, “Tentu sulit untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Setidak-tidaknya para frater bekerja secara optimal.”



Frater-frater yang tertidur pulas setelah bekerja keras mengumpulkan data dan mengolahnya


Setelah sharing-sharing pengalaman itu, para frater membuat dan mengolah narasi dari data-data yang telah dikumpulkan. Karena semaleman para frater bekerja, tidak mengherankan jika kemudian ada yang sampai tertidur dengan pulasnya di kursi ruang tamu dan menjadi bahan olok-olokan teman-teman yang lain. Itulah cara para frater untuk melepaskan ketegangan pikiran ketika mereka sedang bekerja. Demi mendapatkan data, ada juga frater yang lembur di pasturan sampai sekitar pukul 18.00.


Diskusi mengolah data


Jika para frater demikian optimal dalam membuat data, apakah kita juga tergerak untuk berpartisipasi di dalamnya?

Gedung Gereja St. Ignatius Tahun 1959 
Thursday, February 25, 2010, 13:39 Posted by Administrator


<<First <Back | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang