Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
BARNABAS SARIKROMO 
Tuesday, March 30, 2010, 13:29 - Inspirasi Posted by Administrator
BARNABAS SARIKROMO, KATEKIS PERTAMA DI BUMI NUSANTARA.



Borobudurlinks, 29 Maret 2010. Sejarah keberadaan Sendangsono tak bisa dilepaskan dari sosok bernama Barnabas Sarikromo. Keberadaan pribumi Jawa yang dianggap sebagai katekis pertama itu nampak pada kuburannya yang terletak paling menonjol di komplek kuburan yang menyatu di peziarahan itu.

Siapakah Sarikromo, dan apa peranannya dalam sejarah misi Katholik di pulau Jawa itu?

PERTAPA YANG TEKUN.

Akhir abad 19, di dusun Kajoran, Desa Semagung, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Propinsi Daerah Istimewa Jogyakarta, tersebutlah seorang tokoh pertapa sakti bernama Sarikromo. Sebagai seorang abangan (tidak menganut ajaran salah satu agama) Sarikromo gemar berguru kepada banyak orang pintar untuk menimba Ilmu kebatinan, yang mengarah pada sejatining urip (hidup sejati) menurut versi dan pengertian masyarakat desa saat itu. Salah satu cara yang ditempuh untuk mencapai kesempurnaan ilmu tersebut, dilakukan dengan cara laku tapa (bersamadi) di tempat-tempat sepi yang oleh kebanyakan orang dianggap wingit (angker).
Salah satu tempat favorit Sarikromo bertapa adalah sebuah gua yang terletak di desa Semagung. Gua itu diapit dua pohon sono (keling), dengan sebuah sendhang (mata air dengan telaga kecil) tepat dibawah salah satu pohon tersebut. Dipercaya bahwa gua itu adalah kediaman mahluk halus yang bernama Raden Bagus Samijo dan ibunya Dewi Lantamsari. Kecuali untuk bertapa, tempat tersebut juga sering disinggahi oleh para Bikhu Budha yang tengah menempuh perjalanan ke/menuju Borobudur.
Suatu ketika Sarikromo didera sakit kudis yang tak kunjung sembuh. Bahkan hingga menyerang lapisan daging dan menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Berbagai usaha penyembuhan telah diupayakan, dengan jampi-jampi dan obat tradisional, serta tak lupa dengan semadi yang semakin intens.
Hingga suatu ketika, dalam suatu kesempatan bersamadhi, ayah dari sembilan anak ini meneriima wangsit yang menyuruh mencari kesembuhan kepada orang tinggi besar berpakaian putih. Dalam wangsit juga disebutkan, Sarikromo hendaknya berjalan menuju arah ngalor-ngetan (timur laut). Percaya pada bisikan gaib yang bernada menyuruh tersebut, Sarikromo pun melaksanakannya.
Karena kondisi kakinya yang tidak dapat digunakan untuk berjalan, maka perjalanan yang berjarak tempuh lebih kurang 15 kilometer itu terpaksa dilakukan dengan digendong dan sesekali harus mbrangkang (merangkak) dalam arti kata yang sebenarnya. Ketika perjalanan sampai di Muntilan, Sarikromo melihat seorang Belanda dengan postur tubuh tinggi besar yang mengenakan jubah putih. Naluri Sarikromo mengatakan bahwa itulah orang yang dimaksud dalam wangsit yang diterimanya.
Orang Belanda tersebut tak lain adalah Broeder Kersten, yang dalam karya misi pelayanannya membantu Pastur Van Lith membuka Rumah Sakit di Muntilan. Dengan hati mantap Sarikromo memberanikan diri meminta kesembuhan atas penyakitnya. Selama proses penyembuhan yang mengharuskan sering pulang¬pergi dari desanya ke Muntilan, Sarikromo melihat orang-orang beribadat di Gereja dan mendengar lagu-lagu pujian.
Keinginannya tergugah untuk tahu lebih banyak. Dengan perantaraan Broeder Kersten, Sarikromo dipertemukan dengan Kyai Landa yang memimpin ibadat di Gereja, yang tak lain adalah Pastur Van Lith. Perjumpaan pertama itu disusul dengan perjumpaan-perjumpaan berikutnya. Setelah mendapatkan perawatan dan pengobatan, Sarikromo dinyatakan sembuh dari penyakitnya dan dapat kembali berjalan seperti semula.
Walau sudah dinyatakan sembuh dan tidak sakit lagi, namun hati Sarikromo telah terlanjur terpikat pada pribadi dan penampilan Kyai Landa berjubah putih itu. Ini membuat Sarikromo justru semakin sering datang ke Muntilan. Suatu saat dia minta izin untuk dipebolehkan melihat-lihat suasana sekitar kompleks Gereja. Banyak benda asing dan sama sekali baru yang dilihatnya, dan itu semua ditanyakan kepada Pastur van Lith. Semua pertanyaan itu didengarkan dan dijawab dengan senyum penuh kesabaran oleh Pastur Van Lith, termasuk ketika Sarikromo terhenyak memandangi patung Yesus.
Dengan penuh kesopanan, Pastur van Lith menjawab, "Manawi panjenengan kepingin priksa langkung kathah, mangke kula caosi kitab ingkang njlentrehaken ngengingi Tiyang punika." (kalau 'kamu ingin tahu lebih banyak, nanti saya beri buku yang menceritakan tentang Orang ini). Lalu Pastur van Lith memberikan kepadanya sebuah Buku Babad Suci (Kitab Suci Perjanjian Baru berbahasa Jawa).
Dibekali Buku Babad Suci tersebut, Sarikromo pulang ke Semagung. Setiba di rumah, dengan penuh rasa bangga dipamerkannya buku pemberian Kyai Landa itu kepaca kaum kerabat dan tetangganya. Didorong rasa ingin tahu, mereka minta agar Sarikromo membacakan isinya untuk didengar bersama. Namun permintaan ini tidak segera dipenuhi. Ada rasa takut, jangan-jangan hal ini tidak berkenan dalam hati Kyai Landa di Muntilan.
Maka Sarikromo kembali menghadap Pastur van Lith di Muntilan, hanya sekedar bertanya, apakah diperkenankan membacakan isi kitab tersebut kepada kaum kerabatnya. Dengan senyum yang menyiratkan harapan, Pastur van Lith mengijinkan, bahkan menegaskan bukan hanya untuk kaum kerabat dan keluarganya, tetapi kepada siapa saja.
Saat itulah Sarikromo teringat akan nadarnya ketika kakinya disembuhkan oleh Broeder Kersten, "Bertahun-tahun nyenyeh di kakiku tan kunjung sembuh. Tuhan yang membuat aku dapat berjalan lagi, maka sekarang kakiku akan kupergunakan untuk kehendak Tuhan." Sejak saat itulah Sarikromo mulai berkatekisasi , yang dimulai dari lingkup keluarga terdekat dengan membacakan isi Kitab Suci tersebut.
Tentu saja pada awalnya mereka yang mendengarkan merasa sangat asing dengan isi cerita dan nama-nama tokoh yang disebut dalam kitab itu, namun hati mereka tergerak oleh inti pewartaan yang tersirat di dalamnya. Demikianlah, setelah melalui proses yang cukup lama Sarikromo dibaptis oleh Romo van Lith, dan diberi tambahan nama Barnabas.

KATEKIS PERTAMA.

lukisan: yswitopr


Setelah itu, Sarikromo menepati nadarnya. Ia menjadi katekis pertama di wilayah itu, yang berarti sebagai katekis pertama di Pulau Jawa, atau bahkan di seluruh Indonesia. Karena saat itu memang belum ada katekis pribumi di seluruh wilayah kepulauan Nusantara.
Sarikromo menjalankan tugasnya dengan sungguh-sungguh. Ia tak mengenal lelah menghadapi medan yang terjal di seluruh wilayah pegunungan Menorah. Desa-desa Wonolelo, Kawitan, Jamblangan, di Kecamatan kalibawang, dengan setia dikunjungi untuk mengajar agama.
Ia juga tak gentar menghadapi cemoohan yang tidak senonoh tentang agama Katholik. Berkat kegigihan dan ketekunan Sarikromo, banyak orang yang hatinya terbuka, percaya dan menerima Tuhan Yesus dalam hidupnya. Maka pada tanggal 14 December 1904 sebanyak 173 orang dibaptis oleh Pastur van Lith di Semagung, dengan menggunakan air sendhang yang diapit oleh dua pohon sono.
Peristiwa tersebut kini diabadikan dalam bentuk relief diorama di salah satu dinding kompleks peziarahan Sendangsono. Semangat Sarikromo dalam menebar benih iman tetap menyala, dan atas berkat Tuhan, semakin banyak jiwa yang diselamatkan.
Tahta Suci di Roma sangat menghargai perjuangan dan jasa Sarikromo. Maka pada tahun 1928, dalam kesempatan Yubileum Perak Misi Jawa, Paus Pius XI berkenan menganugerahkan bintang ‘Pro Ecciesia et Pontifice’ kepada Barnabas Sarikromo. Dialah orang Indonesia pertama yang mendapatkan penghargaan tinggi dari Paus.
Meski banyak jiwa yang telah diselamatkan lewat perjuangan Sarikromo, namun dia masih ingin lebih banyak lagi berbuat untuk karya ilahi itu. Tetapi kiranya Tuhan memandang telah cukup, dan ingin memberikan istirahat panjang baginya. Tahun 1942 "Paulusnya orang Jawa" itu jatuh sakit.
Di bawah pengawasan Sr. Colletta, Sarikromo dirawat di Rumah Sakit St. Yusuf, Boro, Kalibawang. Indra keenam Barnabas membisikkan bahwa tak lama lagi dia akan meninggalkan kehidupan fang di dunia ini. Kepaca anaknya, Januarius Mertosari, Sarikromo minta didoakan Salam Maria. Ketika doa selesai, Sarikromo memberi pesan, "Kalau berdoa itu jangan terlalu cepat, harus betul-betul dirasakan. Lebih-lebih kalau berkata doakanlah kami, harus pelan dan jelas”.
Tak lama setelah selesai berdoa, dan pesan tentang kesungguhan dalam berdoa diamanatkan, Sarikromo berkata, "Aku mau menghadap Ibu”. Menurut perkiraan Mertosari, bapaknya ingin bertemu Suster Colleta, maka dia bergegas menemui suster, memberitahukan keadaan ayahnya. Ternyata sebelum Mertosari kembali ke ruangan perawatan, orang gunung yang sederhana penerima anugerah bintang Pro Ecclesia et Pontifice itu telah menghadap Bunda Surgawinya, untuk dihantar memasuki kemuliaan abadi.
Oleh ibunya, Mertosari disuruh segera pulang mengabarkan kepergian Sarikromo ini kepada kaum kerabat di Semagung, sedangkan Suster Colleta segera menghubungi Pastur Prennthaler di Muntilan. Dari Muntilan pastur mengirimkan sebuah peti kayu jati utuh untuk kelengkapan pemakaman jenasah Sarikromo.
Semula pihak keluarga menghendaki jenasah katekis yang tekun itu dimakamkan di makam keluarga di dusun Kajoran, namun atas prakarsa Pastur Prennthaler diputuskan untuk dimakamkan di kompleks Gua Maria Lourdes, Sendangsono. Bersama jenazah ikut disertakan pula medali illahi yang dianugerahkan Tahta Suci. Karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan atas medali itu (karena terbuat dari emas), selama empatpuluh hari empatpuluh malam, makam Barnabas Sarikromo dijaga oleh pemuda-pemuda desa setempat.
Namun ternyata kecemasan atas hal ini tidak pernah terjadi. Bintang jasa ‘Pro Ecclesia et Pontofice’ tetap ada dalam diri Sarikromo setiap nama sosok ini disebut. Kini katekis awam itu telah tiada, namun semangat kerasulannya senantiasa memberi inspirasi dalam upaya pewartaan kabar gembira demi datang dan terwujudnya kerajaan damai di dunia ini. Semuanya sesuai dengan makna anugerah Tahta Suci yang memang pantas disandang Barnabas Sarikromo : Pro Ecclesia et Pontifice. (Disarikan oleh Mualim M Sukethi, dari buku “Bunga-Bunga Doa: 105 Tahun Paroki ST Ignatius Magelang”/bolinks@ 2010)


KETOPRAK MUDIKA 
Sunday, March 21, 2010, 01:05 - BERITA Posted by Administrator

CAROLUS BAROMEUS 
Saturday, March 20, 2010, 16:54 - Inspirasi Posted by Administrator
Sejenak mengenal Sr. Melanie CB.

DILAMAR DI TENGAH PASAR
Saat ini Sr.Melanie Giniyati CB duduk sebagai Pemimpin Umum Kongregasi Carolus Boromeus periode kedua. Kongregasi yang berpusat di kota Maastricht Belanda ini memiliki anggota yang tersebar di empat benua. Di Indonesia suster-suster CB berkarya di pelbagai tempat, mulai dari ibu kota Jakarta hingga pelosok Papua.
Hampir 20 tahun yang lalu, saat bertugas di Tanzania, Afrika, suster Melanie pernah dilamar seorang pemuda setempat. Waktu itu ia sedang berbelanja di sebuah pasar tradisional. Ketika ia sedang asyik memilih-milih sayuran, seorang pemuda gagah berkulit gelap, berambut keriting, datang menghampirinya. Tanpa basa-basi pemuda tersebut menyatakan senang padanya dan berniat untuk melamarnya. Tak lupa, pemuda tersebut menjanjikan 50 ekor sapi sebagai mas kawinnya.
Rupanya, Sr.Melanie yang berkulit terang dan berambut lurus, dianggap lebih cantik dibanding gadis-gadis setempat. Dengan tenang Sr.Melanie mengucapkan terima kasih seraya menjelaskan bahwa dirinya telah terikat. Ia juga menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya sebagai tanda ikatan itu. Menolak suatu lamaran di muka umum di Tanzania dapat berbahaya. Sebab, sang pemuda bisa merasa direndahkan atau terhina. Namun dengan sikap Sr.Melanie yang tenang dan ramah, pemuda itupun dapat menerima penolakan tersebut. Orang-orang yang menyaksikan adegan tersebut dan yang mengenal Melanie sebagai seorang suster, bertepuk tangan dengan riuhnya.
Peristiwa kecil di atas, menunjukkan sebagian kepribadian Sr.Melanie. Ia mampu menghadapi pelbagai situasi tak terduga dengan ketenangan serta kearifan yang mengagumkan. Karenanya tidak heran bahwa sepanjang hidupnya sebagai seorang biarawati, ia kerap dipercaya sebagai pimpinan.
Dari Keluarga Non Katolik
Suster kelahiran Magelang, 26 Nopember 1943 ini berasal dari keluarga non Katolik. Pada waktu Melanie kecil duduk di bangku SD Negeri di Magelang, ia melihat bahwa siswa-siswi sekolah Katolik kelihatan lebih lincah, cerdas dan rapih. Sekolah mereka memang berdekatan. Ia meminta pada orang tuanya untuk disekolahkan di sekolah Katolik. Setelah lulus SD, orang tuanya mengijinkan Melanie masuk SMP Katolik. Lewat sekolah ini, Melanie tertarik pada agama Katolik dan mengikuti pelajaran agama. Awalnya orang tuanya tidak setuju. Maklum, dari keluarga Melanie, waktu itu, tidak ada satupun yang beragama Katolik. Meski demikian, sesudah lulus SMP, Melanie yang tetap berkeras ingin menjadi Katolik, akhirnya diijinkan dibaptis.
Setelah tamat SMA, Melanie melanjutkan kuliah di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Fakultas Ekonomi. Kampus UGM terletak tidak jauh dari Rumah Sakit Panti Rapih yang dikelola para suster Carolus Boromeus. Penampilan para suster CB yang kerap dilihatnya, rupanya menarik perhatiannya. Di matanya, para suster tampak selalu gembira, ramah dan siap membantu orang lain.
Suatu hari, Melanie berkenalan dengan Moeder Yvon CB, pemimpin biara Panti Rapih. Lewat suster Yvon ini, Melanie menyatakan ketertarikannya untuk menjadi seorang biarawati (karena ketidak tahuannya, waktu itu Melanie mengatakan ingin menjadi seorang romo!). Moeder Yvon kemudian memperkenalkan Melanie dengan Sr.Louise CB, pemimpin Novisiat. Atas saran Sr.Louise, Melanie meminta ijin orang tuanya untuk meninggalkan bangku kuliah dan masuk biara. Tentu saja orang tuanya terkejut, kecewa dan marah. Ayah Melanie bahkan tidak bersedia menanda-tangani surat persetujuan. Sesudah dibujuk-bujuk, akhirnya dengan berat hati bapak memberi tanda tangan juga. Meski demikian, kedua orang tidak bersedia mengantar saat Melanie masuk Novisiat.
Demikian juga, saat prasetya kekal di Bandung, 9 Juli 1972, tak seorangpun dari keluarga Melanie hadir. Meski demikian, bapak mengirim surat, menyatakan bahwa ia telah merelakan Melanie anaknya, menempuh jalan hidup membiara. Tentu saja surat tersebut melegakan Melanie.
Bakat Pemimpin
Setelah profesi, Sr.Melanie ditugaskan membantu di bagian administrasi RS.Panti Rapih sambil kuliah di IKIP Sanata Dharma jurusan ekonomi. Setelah itu, Sr.Melanie nyaris selalu bertugas sebagai pemimpin. Di RS.Boromeus Bandung, Sr.Melanie ditugaskan sebagai Direktris Administrasi dan Personalia. Demikianpun saat ditugaskan selama 10 tahun di RS.Carolus, Jakarta, Sr.Melani dipercaya sebagai Direktris Administrasi dan Rumah Tangga yang mengurus para karyawan serta penunjang pelayanan Rumah Sakit.
Pada tahun 1991, Sr.Melanie diutus ke Tanzania, Afrika. Di sana ia bertugas sebagai Administrator Ndala Hospital yang letaknya di pelosok, sekitar 1000 km dari Dar Es Salaam, Ibu Kota Tanzania. Di manapun bertugas, jiwa kepemimpinan Sr.Melanie nampaknya tetap menonjol. Hal ini diakui oleh para suster yang lain. Sr.Melanie juga dikenal sebagai sosok yang sabar dan pandai dalam bergaul. Karenanya tidak heran bahwa pada Kapitel Umum CB bulan Agustus 1999, Sr.Melanie terpilih sebagai Pemimpin Umum Konggregasi yang berpusat di kota Maastricht ini.
Saat dipilih sebagai Pemimpin Umum, Sr.Melanie mengaku sama sekali tidak bangga atau bahagia. Ia malahan merasa diri kecil, takut dan sedih. Ia juga merasa kurang berpengalaman untuk memimpin para suster tingkat internasional. Konggregasi Carolus Boromeus memang tersebar di Eropa, Asia, Afrika dan Amerika. Di Indonesia, CB ada di 58 komunitas tersebar di Jawa, Bali, Papua, Flores, Timor hingga Timor Leste. Kendati pada awalnya merasa diri kecil dan takut, nyatanya Sr.Melanie dapat memimpin Konggregasi ini dengan baik. Pada Kapitel Umum tahun 2005, untuk kedua kalinya Sr.Melanie terpilih sebagai Pemimpin Umum hingga tahun 2011 yang akan datang.
Kreatif dan Profesional
Sebagai seorang pemimpin Kongregasi internasional, Sr.Melanie menyadari pentingnya komunikasi yang baik. Untuk itu, penguasaan bahasa menjadi mutlak. Penguasaan bahasa yang baik amat membantu untuk saling mengerti sekaligus mengurangi kemungkinan salah faham. Pengalaman bertugas di Tanzania amat menguntungkannya dalam penguasaan bahasa. Di Tanzania digunakan dua bahasa, yaitu bahasa Swahili dan bahasa Inggris. Sr.Melanie menguasai kedua bahasa tersebut. Di lingkungan suster CB Internasional, bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa resmi dalam berkomunikasi. Meski demikian, karena pusat konggregasi ada di kota Maastricht, maka penguasaan bahasa Belandapun diperlukan. Berkat semangat belajarnya yang tak pernah padam, Sr.Melanie dapat juga menguasai bahasa Belanda dengan baik.
Konggregasi CB banyak berkecimpung di bidang kesehatan dan pendidikan. Beberapa Rumah Sakit ternama di Indonesia seperti RS.Borromeus di Bandung, RS.Panti Rapih di Yogya dan RS.Carolus di Jakarta dimulai dan dikelola oleh para suster CB. Demikian juga beberapa sekolah berkualitas seperti Sekolah Tarakanita di Jakarta dan Stella Duce di Yogya, dikelola CB. Di luar Jawa, seperti di Bengkulu dan Lahat, sekolah yang dikelola para suster CB banyak diminati masyarakat. Selain pendidikan dan kesehatan, CB juga berkecimpung di bidang pastoral, sosial dan kategorial lainnya.
Salah satu keprihatinan Sr.Melanie sebagai pemimpin umum adalah berkurangnya panggilan. Jumlah calon anggota dari tahun ke tahun menurun, juga di Indonesia. “Mencermati kenyataan ini, kami harus kreatif, professional dan efisien”, ujar suster yang senang berkebun ini. Di samping itu, peningkatan kualitas hidup religius yang sesuai dengan spiritualitas pendiri Kongregasi, menjadi perhatiannya juga.
Ada banyak tantangan yang harus dihadapi Sr. Melanie sebagai Pemimpin Umum CB. Ia mengaku tak pernah gentar. Pertama karena ia merasa didukung oleh para suster CB di seluruh dunia. Selain itu, ia sendiri mempunyai komitmen kuat atas tugasnya. Di atas segalanya Sr.Melanie mempunyai prinsip, “Asal Tuhan dimuliakan dan sesama diabdi dengan tulus ikhlas”. Prinsip ini sesuai dengan semangat pendiri Konggregasi Carolus Borromeus yaitu Elisabeth Gruyters.
Heri Kartono OSC. (Dimuat di majalah HIDUP edisi 5 Juli 2009).

REKOLEKSI WOROSEMEDI 
Thursday, March 18, 2010, 18:05 - BERITA Posted by Administrator


Bertempat di aula susteran CB, sebanyak 28 ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok worosemdi mengadakan rekoleksi. Rekoleksi ini mengambil tema "Pribadi yang Berpengharapan". Rekoleksi ini dimaksudkan untuk membantu anggota dalam mempersiapkan perayaan Paskah.



Rekoleksi yang berlangsung pada hari Selasa, 16 Maret 2010 tersebut dibimbing oleh Romo YS Witokaryono Pr, pastur paroki Ignatius. Romo Wito, demikian panggilan akrabnya, mengajak anggota worosemedi untuk menjadi orang-orang yang memiliki pengharapan. Masa tua merupakan masa yang rentan, ada banyak hal menjadikan orang merasa sendirian, tidak lagi berguna, atau bahkan hidupnya merasa sia-sia. Jika ini terjadi, banyak orang memilih untuk menghindar dengan jalan pintas, yaitu memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Sebagai orang kristiani, dalam masa tua kita diajak untuk semakin menyandarkan diri pada Tuhan. Ketika merasa sia-sia, ketika merasa sendirian, dan ketika merasa tak lagi berguna; Allah senantiasa ada untuk menuntun, menggendong, dan meringankan beban kita. Inilah pengharapan kristiani, Tuhan menjadi andalan.



Rekoleksi yang dimulai pukul 10.00 WIB itu berakhir pada pukul 12.15. Rekoleksi diakhiri dengan santap siang bersama.

<<First <Back | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang