Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
Kamar Pengakuan Dosa 
Wednesday, March 3, 2010, 12:53 - Inspirasi Posted by Administrator
KAMAR PENGAKUAN DOSA

Disini ada begitu banyak misteri,
yang terungkap lewat tobat dan penyesalan,
lalu pengampunan itu adalah anugrah.

Gereja St. Ignatius Magelang, Minggu Pra-Paskah ke II – Rabu, 3 Maret 2010

HENING 
Sunday, February 14, 2010, 07:29 - Inspirasi Posted by Administrator
“Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana” (Mrk 1:35)


Sadis kan? Hahahaha... malah jadi ketawa sendiri. Ga ada apa-apa kok tiba-tiba muncul pertanyaan ini. Hehehehe... Padahal ada maksudnya. Yang membuat sadis itu adalah petikan dari teks Markus itu. Memulai karya dengan doa. Dari doa itulah mengalir sebuah semangat untuk menjalani perutusan dengan lebih bersemangat. Dan dalam arti itu, pelayanan menjadi lebih bermakna. Ikut serta dalam karya Allah.
Manusia itu kan bukan apa-apa tanpa Allah. Sepandai-pandainya dia, secerdas-cerdasnya dia, sehebat-hebatnya dia... itu bukan apa-apa dihadapan Dia yang mahapandai, yang mahacerdas, yang mahahebat! Mengandalkan kemampuan hanya akan membawa manusia pada kesombongan. Dan kadang membawa pada pengingkaran akan Allah. Karena yakin dengan kemampuan sendiri, maka tidak lagi percaya akan adanya Allah.
Lalu? Karena tidak bisa sendiri, maka manusia diajak untuk bekerjasama bersama-sama dengan Allah, merajut kehidupan. Meneruskan karya penciptaan yang telah dimulai Allah. Karena bersama-sama dengan Allah, maka sudah semestinya karya dibuat semata-mata demi kemuliaan Allah. Bukan untuk sekedar mengajar kepuasan diri, apalagi untuk sebuah kesombongan diri. Manusia kan hanya ndompleng karya Allah. Jadi klo buat sendiri itu sama artinya dengan korupsi kan?
Merajut benag-benang kerjasama dengan Allah hanya mungkin terjadi ketika kita dekat dengan Allah. Kedekatan itu tampak dalam dinamika hidup doa dan renungan harian. Semakin kita bertekun dalam doa dan renungan, semakin kita sehati dengan Allah. Heheehehe.. tapi ini tidak mudah! Selalu ada banyak tantangan: inilah, itulah.. kesini, kesitulah.. de el el. Apakah kita mau dan berani meluangkan waktu? Itu aja... (YSW)

weNING lan duNUNG 
Saturday, February 13, 2010, 05:25 - Inspirasi Posted by Administrator
“Pergilah Ia ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah” (Luk 6:12)




Sibuk? Hmmmm... sudah demikian biasa! Rasa-rasanya tiada hari tanpa kesibukan. Ketika pekerjaan menumpuk, karena kemalasan untuk mengerjakan saja, rasanya waktu yang ada masih kurang. Jadilah lembur. Hari-hari diisi dengan bekerja dan bekerja, entah apa pun pekerjaan itu (kerja yang memang menguras tenaga dan pikiran, kerja yang nyante kayak fesbukan atau ngempe atau sekedar chatting, dan masih banyak lagi).
Byuhhh... kalau bicara rasa atau rasanya memang ‘ga akan ada habisnya!
Sebuah pertanyaan terlontar: dasar perutusan/pelayanan/pekerjaan itu apa? Orang bilang membangun rumah itu dibutuhkan pondasi yang kuat. Sebab dalam pondasi itulah akan diletakkan seluruh kerangka rumah. Semakin kuat pondasinya, semakin kokoh pula rumah itu. Tentu pernyataan ini harus diikuti dengan pernyataan sejauh rumahnya juga dibangun dengan baik.
Pertanyaannya sederhana, namun jawaban dari pertanyaan sederhana itu menjadi demikian rumit dan berbelit. Aku pun tidak segera bisa menjawab pertanyaan ini. Seperti kambing bendhot yang digiring ke kandangnya, aku mencoba menghitung waktuku dalam sehari.. Ya ampyuuunnnnn, ternyata... Ngeri, ach! Dengan rendah hati aku harus mengakui bahwa masih sedikit waktu aku gunakan untuk diam, hening di hadapan Dia! Sebab inilah dasar dari perutusan: keintiman relasi dengan Allah. Keintiman relasi itu dibangun atas dasar hidup doa! Tantangannya adalah istilah kerjaku adalah doaku! Hmmmm....bersembunyi di balik rasionalisasi!
Aku bersyukur bahwa aku boleh mengenal dan menghidupi Adorasi Ekaristi. Pengalaman Adorasi Ekaristi telah mulai membentukku untuk semakin intim dengan Tuhan. Dalam pengalaman beradorasi, aku dibawa untuk semakin masuk ke dalam diri, semakin mengenali diri! Di hadapan Dia yang bertahta dalam Sakramen Mahakudus, aku bisa menumpahkan segala keluh kesahku, beban-beban hidupku! Adorasi Ekaristi menjadi seperti air sejuk dan jernih yang mampu membasuh diriku dan melegakan dahagaku akan keheningan bersama Dia. Moga-moga menjadi jernih dan menep.
Melalui Adorasi Ekaristi aku diajak untuk terus mendasarkan diri pada Dia dalam setiap karya yang aku lakukan. Aku semakin disadarkan dalam setiap pelayanan: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh 3:30). (YSW)

NDABLEG 
Monday, February 8, 2010, 02:43 - Inspirasi Posted by Administrator
“Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa!” (Mrk 9:19)




Kerassssssssssss..... Sambil senyum-senyum, aku mentertawakan diriku sendiri: jangan-jangan aku termasuk yang hanya bisa diusir dengan doa... hahahahaha.... dari pertanyaan ini, mengalirlah permenunganku.
Mengapa hanya bisa diusir dengan berdoa. Terlalu beratkah? Rasanya kok emang terlalu berat sehingga hanya bisa diusir dengan doa. Yang terlalu berat, menurut aku, adalah NDABLEG. Aku agak sulit menterjemahan dan mengartikan kata ndableg ini. Biarlah tertulis seperti itu saja. Ada banyak contoh yang bisa disebutkan. Semua orang tau, klo tempat menaruh sampah itu di tempat sampah. Tapi kenapa ketika kita naik mobil lalu membuka jendela dan berrrrrrrrrrrrrrrr... sampah melayang entah kemana. Semua orang tau, klo mencuri itu dilarang. Tetapi kenapa masih ada saja orang yang melakukan aksi pencurian.. Dasar ndableg! Tau klo salah, tapi tetep aja dilakukan.
Mengapa dengan doa? Banyak orang bisa memberikan kesaksian bahwa doa yang dipanjatkan dengan sepenuh hati akan memiliki daya ubah yang luar biasa. Kalau pun tidak memiliki daya ubah untuk orang lain, akan mengubah diri sendiri. Dalam doa-doa kita, Allah berkarya secara luar biasa.
Ada seorang sahabat yang bertanya, “Mo, kok doaku itu-itu saja ya? Kadang jadi males.. bosen!”. hmmm... Mengapa bisa demikian? Ada berbagai kemungkinan: doa sejauh ada lama teks dan hafalan, doa sama dengan permohonan dan yang diminta cuma itu-itu melulu, de el el. Karenanya doa menjadi sebuah ritus yang membosankan. Bisa jadi lalu timbul pikiran, “Ah, Tuhan sudah tau!” Akhirnya malah tidak berdoa. Sekali lagi NDABLEG! Hehehehehe... Tentu kita pingin doa-doa kita menjadi doa yang hidup. Nah, doa itu pertama-tama syukur. Kalau doa itu adalah syukur kita, maka apa yang kita buat dan lakukan setiap hari merupakan bahan doa yang tak akan pernah habis, apalagi membosankan.

Ndablegkah Anda?



 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang