Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
Rabu Abu 
Tuesday, February 19, 2013, 14:40 - BERITA Posted by Administrator


Mulai hari Rabu (13 Februari 2013 ) umat Katolik seluruh dunia memasuki masa pertobatan dengan berpuasa. Umat di Gereja St. Ignatius Magelang mengawali masa puasa 40 hari ini dengan Perayaan Ekaristi atau Misa Rabu Abu yang dilaksanakan mulai Selasa sore (12 Februari 2013) yang dipimpin oleh Pastor Paroki St. Ignatius Magelang AR. Yudono Suwondo Pr. dan Rabu paginya jam 05.30 Misa dipimpin oleh FX.Krisno Handoyo Pr Pastor Kepala Paroki. Dalam Misa Selasa petang yang dihadiri oleh lebih 700 umat, Romo Wondo menandai kening umat yang mengikuti Misa dengan abu sebagai tanda pertobatan.

Rabu Abu dalam tradisi Gereja Katolik merupakan hari pertama masa Pra Paskah dan menjadi awal masa puasa selama 40 hari sampai dengan perayaan Paskah. Sejak abad pertengahan Gereja telah mempergunakan abu untuk menandai permulaan masa tobat Prapaskah. Pada kesempatan ini umat diingatkan kembali tentang ketidakabadian dan diajak untuk menyesali akan dosa-dosa yang telah diperbuat. Dalam perayaan Misa Rabu Abu digunakan abu yang berasal dari daun-daun palma yang telah diberkati pada tahun sebelumnya. Pastor atau Imam memberkati abu dan mengenakannya pada dahi umat dengan membuat tanda salib. Memaknai abu yang telah diterima, umat diingatkan untuk menyesali dosa dan melakukan silih bagi dosa-dosa, mengarahkan hati kepada Kristus yang sengsara, wafat dan bangkit demi keselamatan manusia. Dalam masa puasa Pra Paskah ini umat Katolik juga diajak untuk berkarya dan beramal belas kasihan terhadap sesama, terlebih kepada yang berkekurangan, lemah, miskin, tersingkir dan defabel. Melalui karya dan amal ini maka akan menjadi bagian dari silih, tobat, dan pembaharuan hidup.

Memasuki masa puasa tahun 2013 Keuskupan Agung Semarang lewat Aksi Puasa Pembangunan (APP) mengajak seluruh umat Katolik untuk semakin beriman dangan bekerja keras dan menghayati misteri Salib Tuhan. ‘Dengan bekerja, mengerjakan sesuatu yang baik adalah berkat bagi orang lain dan dirinya’, demikian disampaikan Romo Wondo, panggilan akrab Pastor Paroki St. Igantius Magelang itu. ‘ Ditegaskan dalam Ajaran Sosial Gereja bahwa kerja mempunyai suatu tempat yang terhormat dan merupakan sumber berbagai kekayaan, atau setidaknya syarat bagi suatu kehidupan yang layak. Kerja merupakan sebuah sarana yang efektif melawan kemiskinan. Namun seringkali orang lalu jatuh menjadikan kerja sebagai berhala, Sebab makna kehidupan paling tinggi dan menentukan tidak boleh dicari dan ditemukan dalam kerja. Kerja itu hakiki, namun Allah itulah dan bukan kerja yang merupakan sumber kehidupan serta tujuan akhir manusia’.

Pekan Doa Sedunia 2013 ; Ajak Umat Kristiani selalu berlaku adil, mencintai kesetiaan dan rendah hati. 
Friday, January 25, 2013, 16:52 - BERITA Posted by Administrator


Cuaca mendung dan gerimis di kota Magelang kamis pagi kemarin ( 24 Januari 2013 ) mengantar ratusan umat kristiani menghadiri dan mengikuti selebrasi ibadah Pekan Doa Sedunia di Panti Bina Bakti kompleks Gereja St. Ignatius Magelang. Ibadah Ekumene bersama antara umat Kristen Protestan dan Katolik ini diikuti oleh umat dari Gereja – gereja se kota Magelang dan dihadiri oleh Pastor dan para pendeta diantaranya FX. Krisno Handoyo Pr Pastor Kepala Paroki St. Ignatius Magelang, Pendeta Y. Sudjarwi STh dari Gereja Isa Almasih Candi Nambangan yang juga Ketua Badan Kerjasama Gereja–gereja Kristen se Kota Magelang,Pendeta Parlaen dari Gereja Baptis Indonesia, Pendeta Susiana Kristianingsih dari GPIB Tidar Baru, Pendeta Markus dari Gereja Bethel Indonesia di Jalan Pahlawan, Pendeta Timotius, Pendeta Yosafat Kasiadi dan Pendeta Saryoto STh dari Gereja Kristen Jawa Tentara Pelajar.







Dalam homilinya (kotbah) Krisno Handoyo yang juga Vikep Kedu ini mengajak seluruh umat Kristiani kota Magelang untuk selalu berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati. ‘Dalam Pekan Doa Sedunia ini kita diajak untuk berefleksi tentang ketidakadilan yang dialami oleh kaum lemah, kecil, tersingkir, miskin, tersingkir dan difabel. Dalam ketidakadilan yang terjadi, Allah menuntut kita berbuat sesuatu !’, demikian dikatakan Romo Krisno.







Pekan Doa Sedunia tahun 2013 ini dimulai tanggal 18 hingga 25 Januari dengan memilih metafora ‘berjalan’ dan ‘perjalanan’ selama delapan hari untuk berdoa. Lebih lanjut dikatakan : ‘Sebagai umat Kristiani kita memang hendak berjalan dalam perjalanan dan komunikasi yang dinamis. Tuhan membimbing kita dalam menggapai keadilan dan perdamaian itu. Bimbingan-Nya hanya akan menjadi nyata dalam kemanusiaan dan sejarah manusia. Melalui jalur kemanusiaan ini Allah mengundang setiap orang untuk berjalan bersama-Nya menggapai keadilan dan perdamaian !’.








Acara yang diprakarsai oleh Bidang Pelayanan Kemasyarakatan Gereja St. Ignatius Magelang ini diakhiri dengan menderaskan doa-doa syafaat yang dipimpin oleh para Pendeta secara bergantian dan diikuti oleh seluruh umat. Dalam tradisi Gereja Katolik, Pekan Doa Sedunia memang telah dimulai sejak Konsili Vatikan II ditutup secara resmi pada tahun 1965. Di berbagai kota di Indonesia, di Jawa pada khususnya pada tahun – tahun sebelumnya Pekan Doa Sedunia ini juga telah berlangsung, sementara di Kota Magelang baru pada tahun 2013 ini bisa diselenggarakan.

E. Yusuf Kusuma ( Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu ).


Perayaan Bersama Natal dan Tahun Baru Kota Magelang 
Thursday, January 10, 2013, 14:53 - BERITA Posted by Administrator




‘Peristiwa Natal adalah peristiwa kasih. Semangat Natal adalah semangat memberi. Tuhan telah hadir dalam diri manusia yang hidup dan senantiasa menyertai kita. Kasih itu ada jika kita mengalami secara pribadi Kasih Allah, baik ketika kita mengalami kesukaan maupun dalam penderitaan, kegagalan atau terpuruk. Selalu siap menjaga hati lebih dari harga diri. Seringkali demi menjaga harga diri, kita lalu mengorbankan orang lain, mengorbankan alam lingkungan kita dan menghalalkan segala cara’, demikian pesan Natal yang disampaikan FX. Krisno Handoyo Pr Pastor Kepala Paroki Gereja St. Ignatius Magelang dalam Perayaan bersama Natal 2012 dan Tahun Baru 2013 instansi Negeri dan Swasta se Kota Magelang kemarin ( 9 Januari 2013) di Gedung Tri Bakti.





Perayaan yang dihadiri oleh lebih 2000 umat ini mengambil tema ‘Allah telah mengasihi kita’. Pada kesempatan itu Walikota Magelang H. Sigit Widyonindito mengawali dengan penyalaan lilin yang diikuti oleh sejumlah tamu undangan. Hadir juga pada kesempatan itu Ketua DPRD M. Hasan Suryoyudho, Sekda Sugiharto, Kajari, Gubernur Akmil, sejumlah Kepala SKPD, dan sejumlah anggota institusi KORPRI, TNI, POLRI serta Gereja-gereja se Kota Magelang. Acara yang berlangsung sekitar 2 jam dan diwarnai dengan puji-pujian, penayangan slide ‘True Life’ sebuah fragmen yang menceritakan kasih dan berbagi dalam kehidupan nyata ini juga disajikan paduan suara dari Serafim choir dan ditutup dengan doa safaat serta pemberkatan.





Pada bagian awal pesannya, Romo Krisno yang juga Vikep Kedu ini mengajak seluruh umat yang hadir untuk hening sejenak dan merasakan kehadiran kasih Allah, baik dalam suka maupun duka. ‘Kasih itu ada jika kita mau mendahulukan Tuhan dan berani mengendalikan diri dalam segala hal. Perayaan Natal adalah syukur atas anugerah Allah bagi banyak orang dan tidak memuliakan diri sendiri. Natal berasal dari kasih dan inisiatornya adalah Allah sendiri. ‘ Natal mengandung makna keteladanan, panggilan dan perutusan’, demikian pungkas Romo Krisno.





Ketika Mgr.Puja datang, anak-anak dan remaja bertolak ke Ngablak merayakan Hari Anak Misioner Sedunia 
Tuesday, January 8, 2013, 14:04 - BERITA Posted by Administrator


Minggu pertama bulan Januari 2013 kemarin, tepatnya hari ke 6 di bulan paling awal tahun ini cuaca pagi kota Magelang mendung meskipun tidak turun hujan. Aroma bau tanah masih tercium sejuk dari hujan yang semalam turun di pelataran kompleks Gereja St.Ignatius Magelang. Lebih 150 anak dan remaja pagi itu cukup membuat suasana ramai di halaman depan gedung Gereja dan Pastoran. Memang pagi itu bertepatan dengan Hari Anak Misioner Sedunia ke 170, seperti yang memang telah direncanakan oleh Tim Kerja PIA (Pendampingan Iman Anak) – PIR (Pendampingan Iman Remaja) bahwa pada pagi itu akan membawa anak – anak dan remaja Gereja St. Ignatius untuk bergabung bersama-sama anak dan remaja se Kevikepan Kedu di SMP Pendowo Ngablak, Kabupaten Magelang untuk merayakan Ekaristi.





Sementara itu di halaman belakang pastoran juga ramai lalu lalang umat yang tengah mempersiapkan perayaan Ekaristi bersama Uskup Agung Semarang Mgr. Johannes Pujasumarta. Kehadiran Bapak Uskup Agung ini menjadi sangat istimewa, karena pagi itu juga dilantik pengurus Dewan Paroki St. Ignatius Magelang periode 2013 – 2015 dan panitia penataan ruang kantor Paroki St. Ignatius Magelang dan Kevikepan Kedu.





‘Hari ini adalah Hari Anak Misioner Sedunia. Anak-anak dan remaja Katolik sedunia diajak untuk senantiasa berdoa, berderma, berkurban dan bersaksi. Pada peringatan tahun ini dengan semboyan ‘Anak Membantu Anak’, demikian Romo AR. Yudono Suwondo, Pr. dalam pengantarnya sebelum anak-anak dan remaja Gereja St. Ignatius bertolak menuju Ngablak. Sedangkan Romo Y. Yupilustanaji Aprianto, Pr. yang memimpin perayaan Ekaristi Peringatan Hari Anak Misioner Sedunia di halaman sekolah yang berada dibawah Yayasan Tarakanita ini, dalam homilinya mengajak anak-anak dan remaja untuk tidak mementingkan diri sendiri dan selalu membantu orang lain.





Dicontohkan dengan cerita dua orang anak yang masuk ke hutan, yang satu kurus dan yang satunya lagi gemuk. Di tengah hutan mereka bertemu dengan beruang yang siap menerkam. Dalam situasi semacam itu si kurus lari dan menyelamatkan diri naik keatas pohon. Sedangkan si gemuk ia ingat kalau beruang tidak akan menerkam benda mati, dan karena ia tidak bisa naik kepohon maka ia merebahkan tubuhnya ketanah dan berdiam. Saat beruang mendekati dan sempat mengangkat si gemuk, namun tidak memakannya. Sesaat kemudian beruang berlalu dan pergi meninggalkannya. Setelah beruang pergi maka si kuruspun turun dari pohon dan bertanya kepada si gemuk ; ‘saya tadi melihat beruang nampak berbicara kepada kamu. Apa yang beruang katakan ?’. Jawab si gemuk ; ‘Oh... beruang tadi bilang bahwa jangan bersahabat dengan si kurus, karena ia selalu mementingkan dirinya sendiri, selalu mencari keselamatannya sendiri’. ‘ ‘Hahaha ...... ! ‘, begitu judul cerita Romo Yupi. Maka sekitar 1400 anak dari paroki – paroki se Kevikepan Kedu spontan juga berseru dengan gembira ria ; ‘Hahaha......... !’.





Saat anak-anak dan remaja se Kevikepan Kedu bergembira di tengah alam lereng gunung Merbabu sekitar 20 km dari Kota Magelang, lebih 1000 umat di Gereja St. Ignatius Magelang tengah menyimak homili yang disampaikan oleh Mrg. Johannes Pujasumarto, Uskup Agung Semarang. ‘Seperti halnya dengan orang-orang majus, para ahli perbintangan. Mereka melihat bintang yang menuntun menuju Betlehem, menuju rumah atau keluarga. Dengan iman bagaimana kita mampu melihat bintang yang menuntun, dalam banyak hal Tuhan selalu hadir. Dalam suka maupun duka, dalam bahagia maupun penderitaan. ‘, demikian Mgr. Puja. Menutup homilinya Uskup Agung Semarang yang adalah juga Sekjen KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) ini mengajak seluruh umat Katolik untuk senantiasa mengasah kemauan dan kemampuan untuk melihat kehadiran Tuhan.



E. Yusuf Kusuma ( Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu ).


<<First <Back | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang