Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
OMK IGNATIUS MERAYAKAN VALENTINE 
Tuesday, February 14, 2012, 05:37 - BERITA Posted by Administrator

14 Februari adalah peringatan hari valentine atau hari kasih sayang. Atas perayaan hari kasih sayang itu ada banyak tanggapan, entah menerima atau menolak. Penolakan-penolakan atas hari kasih sayang ini beraneka ragam. Ada sekelompok anak muda yang melakukan demo menentang perayaan hari kasih sayang. Ada pula yang menyebarkan slogan Sukseskan Gerakan Anti Perayaan Valentine di berbagai jejaring sosial. Salah satu alasan yang sering saya temukan adalah karena perayaan itu bisa menghancurkan generasi muda. Rasa saya, pernyataan ini sangat tergantung dari mana kita memandangnya.

Dalam kenyataannya, ada banyak orang muda yang menyalahartikan hari kasih sayang sebagai saat melepaskan hasrat dan nafsu. Valentine day dimaknai sebagai saat yang tepat untuk melepaskan keperjakaan atau keperawanan. Bagi mereka ini, ucapan dan ungkapan kasih sayang harus sampai kepada tindakan nyata. “Apa buktinya kalau kamu sayang aku?” demikian yang sering menjadi pembenarannya. Akhirnya mereka ini terjerumus pada sebuah praktek menyimpang dari hakekat peringatan hari kasih sayang. Kaidah moral yang telah ditanamkan sejak kecil taklagi berbunyi. Mereka menjadi seperti binatang yang mengumbar nafsi tanpa mengenal tempat dan waktu.

Apakah hari kasih sayang harus diwujudkan seperti itu? Rasa saya tidak. Ada banyak cara untuk menyatakan sayang kepada orang yang dikasihi. Itulah yang dibuat oleh orang muda di Gereja St Ignatius Magelang. Keprihatinan akan penyimpangan hari kasih sayang membawa mereka bercermin, “apakah hari kasih sayang tidak bisa dimaknai secara lebih positif?” Itulah pertanyaan dasar yang menggerakkan mereka untuk berbuat sesuatu secara positif. Muncullah sebuah tema, “Karena Cinta Kita ada”. Pada hari Minggu, 12 Februari 2012 pelataran pasturan St Ignatius Magelang menjadi saksi kiprah kaum muda memaknai sebuah perayaan hari kasih sayang. Cinta tidak sama dengan nafsu. Cinta mendorong orang untuk menngekspresikan diri dan membuat orang semakin berkembang. Dengan konsep itu, mereka mengajak orang muda untuk menampilkan dan mengekspresikan cinta yang ada dalam diri mereka. Dan demikian luar biasa. Orang muda mampu menampilkan diri secara positif. Mereka mampu membagikan diri mereka kepada yang lain.

Sekelompok remaja yang sedang berproses mencari jati dirinya sering menjadi korban penyimpangan arti hari kasih sayang. Kelabilan jiwa mereka sering salah arah karena pergaulan yang salah pula. Tetapi dalam acara itu, mereka menunjukkan bahwa mereka bisa mengisi hari kasih sayang secara berbeda. Pencarian jati diri itu diisi dengan menampilkan kemampuan mereka dalam bermain musik dan bernyanyi. Tembang-tembang dolanan mereka lantunkan dengan apik. Meski alat yang mereka gunakan sangat sederhana, tetapi mereka mampu memainkannya dengan harmonis. Pencarian jati diri tak selalu jatuh pada lubang yang salah.



Gelora semangat muda ternyata bisa disalurkan pada sesuatu yang bernilai positif. Komunitas sepeda ini menunjukkan bahwa mereka mampu menyalurkan gairah muda mereka untuk mengembangkan bakat dan minat. Gairah muda itu dimaknai dengan mengembangkan minat mereka pada aktraksi sepeda. Dengan lincah mereka meliuk-liuk di atas sepeda dengan menjaga keseimbangan badan. Atraksi yang menghibur dan mengundang banyak orang untuk memberikan tepuk tangan.
Orang muda selalu mencari dan terus mencari. Style menjadi penanda atas pencarian itu. Mereka belajar banyak dari style yang terus berkembang. Itulah yang ditunjukkan oleh komunitas Harajuku Magelang. Dalam pagelaran hari kasih sayang itu, komunitas ini menunjukkan cara lain dalam memaknai hari kasih sayang. Kecintaan mereka pada dunia fashion membawa mereka pada minat yang sama: harajuku style. Kecintaan mereka itu tidak hanya berhenti pada kecintaan fashion semata, tetapi mereka pun belajar bahasanya juga. Tampilan dipertontonkan akhirnya mengundang banyak orang untuk datang dan berfoto bersama mereka. Sisi lain dari makna sayang mereka tampilkan.



Yang menarik bagi saya adalah kehadiran sekelompok anak muda yang mementaskan beberapa langgam jawa dengan iringan gamelan. Ketika budaya lokal semakin tergeser ke pinggiran, ternyata masih ada sekelompok anak muda yang asyik dan menekuni budaya warisan leluhur. Dengan lincah mereka memainkan alat musik gamelan. Beberapa tembang jawa mengalun. Sebuah tanda bahwa masih banyak orang muda yang cinta budaya. Masih banyak anak muda yang peduli dengan kebudayaan warisan nenek moyang mereka. Melalui tampilan itu, mereka ingin menunjukkan makna kasih sayang secara berbeda. Mereka sayang dengan budaya. Dan itu mereka tunjukkan dengan melestarikan budaya itu. Sebuah usaha yang patut diacungi jempol.



Di balik rasa benci atas penyelewenggan makna hari kasih sayang, ternyata ada cinta akan hari kasih sayang. Ada banyak orang yang menggunakan hari itu sebagai penanda dan sekaligus menjadi saat pembaharuan ikrar kasih yang telah sekian lama terjalin. Ketika orang muda disorot karena sering dianggap menjadi pelaku penyelewengan ternyat bisa menunjukkan makna kasih sayang secara positif. Kini, hari kasih sayang telah mendapatkan pemaknaan baru yang bisa diterima oleh setiap orang yang berpikiran luas. Masihkah kita berpikir negatif tentang hari kasih sayang?

Selamat hari Kasih Sayang.

MISA SYUKUR IMLEK 2563 
Sunday, January 29, 2012, 16:52 - BERITA Posted by Administrator


Perayaan Ekaristi Syukur Tahun Baru Imlek 2563 di Gereja St. Ignatius Magelang pada hari Minggu, 29 Januari 2012. Misa dipimpin konselebran oleh ; Romo Tombokan, MSC, Romo FX. Krisno Handoyo, Pr. dan Romo Martoyoto, Pr.



















HARI ANAK MISIONER KE 169 
Sunday, January 8, 2012, 19:43 - BERITA Posted by Administrator


Minggu pagi hingga siang kemarin 8 Januari 2012, pelataran Gereja St. Theresia Salam yang berada disebelah utara sungai Krasak dan menjadi batas antara Kabupaten Magelang dan Kabupaten Sleman DIY. dipenuhi oleh anak – anak dan remaja dari berbagai daerah se eks. Karesidenan Kedu. Hentakan alunan suara rebana yang ditabuh anak - anak dari Paroki Salam mengiringi langkah sekitar 1000 anak memasuki perayaan peringatan Hari Anak Misioner ke 169 yang bertepatan dengan Hari Penampakan Tuhan ( Kalender Gereja Katolik ).
Hari Anak Misioner lahir lewat Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner yang memiliki arah pembinaan terhadap perlindungan dan hak – hak azasi anak. Anak – anak dan remaja pantas mendapatkan perhatian, perlindungan dan kasih sayang bukan karena keturunan ras, golongan atau status sosial tertentu, melainkan karena didalam diri anak – anak dan remaja sendiri memang berharga dan bermartabat. Hal ini sejalan dengan konvensi internasional PBB tentang perlindungan dan hak azasi anak. Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner merupakan gerakan internasional dari anak – anak yang paling tua diseluruh dunia. Gerakan ini di Indonesia baru dimulai sekitar tahun 1970.



Peringatan Hari Anak Misioner ke 169 ini dirayakan dengan Ekaristi/ Misa yang dipimpin secara konselebran (bersama – sama) oleh Romo FX. Krisno Handoyo, Pr. Romo Vikep. Kedu, Romo L. Issri Purnomo, Pr. Romo Paroki Salam dan Romo M. Nur Widi, Pr., Romo Komisi Karya Misioner Keuskupan Agung Semarang dengan didukung oleh anak – anak dari Paroki – paroki se Kevikepan Kedu, meliputi Salam, Muntilan, Sumber, Tumpang, Mertoyudan, Magelang, Temanggung, Parakan dan Rowoseneng. Masing – masing anak dari paroki masing – masing tampil dengan kekhasannya. Melalui perayaan ini anak – anak dan remaja diajak rela dan bersedia mengambil bagian dalam perutusan Gereja untuk menjadi bintang, bukan hanya sebagai objek melainkan subyek yang rela dan bersedia membagikan apa yang menjadi miliknya meskipun sedikit kepada anak – anak lain, rela berbagi secara nyata dengan saling menerima teman yang berlainan budaya, talenta, juga agama.

Mendung tipis di langit Salam tidak mengurangi keceriaan anak – anak dan remaja mengikuti acara demi acara. Sambil melantunkan kidung – kidung gerejawi dengan berbagai iringan musik dari alat – alat musik etnik seperti calung, ketipung, kendang hingga alat musik modern gitar, elekton, anak – anak juga memadukan gerakan – gerakan tari – tarian. Dalam membuka perayaan Romo Krisno mengajak anak – anak dan remaja se Kevikepan Kedu untuk menjadi bintang sebagaimana bintang yang membimbing tiga orang Raja dari timur menemukan Sang Juru Selamat Yesus yang lahir lebih dari 2000 tahun yang lalu. Sosok 3 raja menggambarkan orang memiliki kekuasaan sebagai raja, namun sangat bijaksana dalam mengamalkan panggilannya dan selalu menyertakan Sang Pencipta dalam setiap keputusan – keputusan dalam melakoni kehidupannya. Kisah tiga raja ini juga yang diangkat oleh anak – anak dari Dusun Juwono Sumber dalam bentuk teaterikal dengan balutan nuansa pedesaan khas lereng gunung Merapi. Sementara itu Romo Issri bersama anak – anak dari SMA Seminari Menengah Mertoyudan bertutur tentang kasih dan solideritas lewat tokoh boneka dalam serial ‘Teletabis’.


E. Yusuf Kusuma, Ketua Komisi Komunikasi Kevikepan Kedu.


OPEN HOUSE \\\' NATAL 2011 
Sunday, December 25, 2011, 16:40 - BERITA Posted by Administrator



‘Open House’ Natal 2011 di Gereja St. Ignatius Magelang.

Udara dingin dan cuaca mendung mewarnai acara ‘open house’ Natal Gereja St. Ignatius Magelang, Minggu 25 Desember 2011 di pelataran belakang pastoran St. Ignatius Magelang. Hujan rintik – rintik dan alunan tembang ‘mocopat’ membuka acara sederhana yang dihadiri oleh Walikota Ir. H. Sigit Widyonindito, MT., Wakilwalikota Joko Prasetyo, SE., Sekda Drs. Sugiharto, Ketua DPRD. M. Hasan Suryoyudho, SH.MH. jajaran Muspida dan sejumlah Kapala SKPD Kota Magelang serta para tokoh agama dan tamu undangan dari berbagai organisasi kemasyarakatan.

Dalam pengantarnya Romo Paroki St. Ignatius Magelang FX. Krisno Handoyo, Pr. menyampaikan visi program kerja umat Katolik hingga 5 tahun kedepan sebagaimana termuat dalam ‘roadmap’/ peta jalan pencapaian Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang 2011 – 2015 yang dirumuskan dengan P4, yaitu ; Pendalaman iman yang mendalam dan tangguh, Peran serta umat dalam kehidupan sosial, politik dan kemasyarakatan, Pemberdayaan kaum KLMTD ( Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir dan Difabel serta anak berkebutuhan khusus, dan Pelestarian keutuhan ciptaan.

Lebih lanjut dikatakan Romo Krisno yang juga Romo Vikep Kedu ini mengenai data Litbang Paroki St. Ignatius Magelang sehubungan keterlibatan umat Katolik dalam Pemilu yang lalu adalah 96,73% dari total umat yang berjumlah lebih dari 4000 orang. Juga mengenai tingkat kepercayaan umat terhadap Pemerintah yang 94,72 %., ini artinya masih ada umat yang merasa sakit hati. Oleh karena itu mohon maaf dan berharap agar pada Pemerintahan yang sekarang ini dibawah kepemimpinan Walikota Bapak Sigit Widyonindito dapat menyembuhkan rasa sakit hati tersebut, sehingga umat Katolik di kota Magelang menjadi Gereja yang semakin dimampukan menjadi gereja yang signifikan dan relewan.

Walikota Magelang H. Sigit Widyonindito dalam sambutannya menyampaikan bahwa dalam satu setengah tahun pemerintahannya ini baru merupakan awal dalam mewujudkan visinya menjadikan kota Magelang sebagai kota harapan, kota jasa yang aman, sejahtera dan berkeadilan, dan menjadi kota sejuta bunga. Dengan mulai menata kota dan memperbaiki kinerja pemerintahan, layanan - layanan publik maka akan menarik investor baik dari luar maupun dalam kota sendiri, sehingga diharapkan pada gilirannya akan mensejahterakan masyarakat.

Momentum Natal 2011 dalam ‘open house’ Gereja St. Ignatius Magelang yang berlangsung sekitar dua jam ini nampaknya melewati pesan – pesan verbal yang seringkali disampaikan dalam perayaan – perayaan Natal, namun justru menjadi bermakna dialog antara pemerintah dan masyarakat dalam mencoba menterjemahkan visi membangun kota Magelang agar lebih baik, lebih signifikan dan relevan serta lebih mensejahterakan rakyatnya.


Magelang, 25 Desember 2011
( E. Yusuf Kusuma, Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu )








<<First <Back | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang