Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
Wawan Hati Umat Kedu dengan Mgr Pujo 
Thursday, February 10, 2011, 16:08 - BERITA Posted by Administrator
Bertempat di Gedung Pertemuan Mandala diadakan wawan hati umat kevikepan Kedu dengan Mgr Johannes Pujosumarto, uskup Keuskupan Agung Semarang yang dilantik menjadi Uskup Keuskupan Agung Semarang pada 7 Januari silam. Sebelumnya, Mgr Pujo, demikian panggilan akrabnya, menjabat sebagai Uskup di Keuskupan Bandung. Pencipta lagu berjudul Kupu-kupu itu kembali lagi terbang ke arah timur.

Wawan hati ini diadakan pada hari Rabu, 9 Januari 2011. Wawan hati ini dihadiri oleh perwakilan paroki-paroki, komunitas dan lembaga karya yang ada di wilayah kevikepan Kedu. Ada sekitar 200an tamu undangan yang hadir dalam wawan hati ini.

Salah satu hal yang menarik adalah bahwa wawan hati ini diadakan dalam suasana sedih karena peristiwa pengrusakan gereja yang terjadi di Temanggung, salah satu paroki di wilayah Kevikepan Kedu. Untuk itu, awal wawan hati ini dibuka dengan sharing pengalaman atas peristiwa pengrusakan gereja tersebut yang disampaikan oleh saksi-saksi mata dari paroki Temanggung. Kesaksian ini sekaligu suntuk menjawab berbagai ketegangan yang beredar di tengah umat berkaitan dengan aneka isu dan rumor yang beredar melalui sms berantai.

Dalam wawan hati, Mgr Pujo mengajak umat untuk kembali menekuni dan menjadikan arah dasar Keuskupan Agung Semarang 2011-1015 sebagai tonggak langkah menuju Gereja yang semakin signifikan dan relevan. "4P bisa menjadi entry point untuk mengingat arah dasar. P yang pertama adalah Penghayatan: menjadikan iman semakin mendalam dan tangguh. P yang kedua adalah Pendalaman: keterlibatan umat sehingga perannya ditengah gereja dan masyarakat semakin optimal. P yang ketiga adalah Pemberdayaan: bagaimana umat diajak untuk semakin memberdayakan KLMTD. P yang terakhir adalah Pelestarian: usaha terus menerus untuk melestarikan keutuhan ciptaan" ungkap Mgr Pujo.

Pertemuan ini ditutup dengan acara santap malam bersama.
Pembakaran Gereja: Tindakan Biadab 
Thursday, February 10, 2011, 16:01 - BERITA Posted by Administrator

Demikian ditegaskan Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Nusron Wahid. Penegasan Nusron Wahid ini disampaikan setelah mengadakan pertemuan silaturahmi dengan pengurus Gereja St Petrus dan Paulus Temanggung di aula pasturan Gereja. “Tidak ada satu kalimat, bahkan satu kata pun, yang mengijinkan atau melegitimasi seseorang untuk melakukan perusakan tempat ibadat agama lain” tegasnya.

Dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh Romo Sulis [pastur paroki Gereja Temanggung], Romo Purnomo [Provinsial MSF], dan Romo Krisno Handoyo [Vikep Kedu] tersebut berlangsung dalam suasana yang santai. Pertemuan tersebut juga membahas rencana ke depan. Langkah pencerdasan umat harus terus menerus dilakukan. Semua tokoh agama diajak untuk ikut terlibat, bukan malah menciptakan suasana yang tidak nyaman sehingga timbul lagi gesekan antar pemeluk agama.



Dalam kehidupan bersama memang dipastikan akan ada perbedaan. Perbedaan-perbedaan itu sangat wajar dan memang harus ada. Perbedaan itu tidak hanya ada dalam kehidupan bersama dalam masyarakat yang manjemuk. Dalam kehidupan satu agama pun akan muncul perbedaan-perbedaan. Atas perbedaan itu, tinggal manusia-manusianya yang harus arif dan bijaksana mengambil tindakan. Normalnya, masyarakat Indonesia yang terkenal dengan keramah-tamahan dan keindahan budayanya akan mengedepankan harmoni dan keselarasan. Inilah pilar utama kehidupan yang penuh dengan kedamaian. Perbedaan tidak harus diselesaikan dengan kekerasan, apalagi dengan tindakan perusakan tempat ibadat.

Dua peristiwa yang terjadi dalam minggu ini memang mencengangkan. Peristiwa penyerangan warga ahmadiyah di Cikeusik yang meminta korban jelas bermuara pada persoalan satu keyakinan. Sesama umat saling menyerang. Peristiwa penyerangan 3 gereja di Temanggung merupakan persoalan beda keyakinan. Keyakinan yang satu menyerang keyakinan yang lain.

Peristiwa di Temanggung bermula dari sidang penistaan agama yang dilakukan oleh A Richmond Bawengan (58). Sidang yang dilakukan hari Selasa, 8 Februari 2011, itu berakhir ricuh. Sejumlah massa yang emosional turun ke jalan utama di Kota Temanggung dan melakukan pembakaran terhadap tiga gereja yang ada di kota tersebut. Keberingasan massa itu dipicu oleh vonis yang dijatuhkan kepada terdakwa, yaitu 5 tahun penjara. Vonis 5 tahun penjara ini adalah vonis maksimal yang dimungkinkan dari pasal yang digunakan untuk menjerat terdakwa.



Menurut keterangan beberapa saksi, apa yang dilakukan oleh Antonius Richmond Bawengan yang menggunakan KTP Kebon Jeruk, Jakarta Barat, ini sebenarnya tidak hanya menistakan agama Islam. Ia pun menistakan agama lain. Disinyalir, ia mengajarkan Injil yang menyimpang.

Terlepas dari carut marutnya persoalan, adalah tidak benar melampiaskan emosi dengan melakukan perusakan tempat ibadat dan fasilitas umum. Perbedaan-perbedaan yang ada hendaknya tidak menjadi dasar untuk menyerang atau menghancurkan yang lain. "Menegakkan kebenaran agama harus dengan jalan yang benar, bukan dengan mencoreng kebenaran dan kesucian ajaran agama. Seharusnya dialog diutamakan," tuturnya.

Atas kedua kasus itu, terdengar khasak-khusuk yang menghubungkannya dengan kepentingan politis. Pergunjingan mengenai isu pengalihan atas kasus-kasus besar di negeri ini pun segera tersebar. Apakah memang demikian? Rasanya bukan kapasitas untuk membahas persoalan itu. Yang lebih besar untuk dibicarakan adalah bagaimana keluar dari silang sengkarut kehidupan beragama di negeri ini. Dalam persoalan yang lebih luas, kehidupan berbangsa dan bernegara berada di atas persoalan politis. “Untuk urusan politik, silahkan ditawar. Tetapi untuk urusan kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak ada tawar menawar lagi. Itu sudah harga mati” demikian tegas Nusron. Hakekat kehidupan berbangsa adalah hidup berdampingan secara rukun, bahu membahu menuju bangsa yang sejahtera. Perbedaan hendaknya menjadi sarana untuk sampai kepada cita-cita bangsa yang sejahtera.

Kapan akan tercapai ketika masing-masing masih menganggap yang lain sebagai musuh? Kapan bangsa ini akan maju ketika yang satu mengutuk yang lain? Stigma seperti inilah yang akan membawa bangsa ini mundur. Tindakan anarkhis yang demikian mudah dilakukan semakin menunjukkan jati diri bangsa ini yang jauh dari peradaban modern. Kiranya, usaha pencerdasan harus terus menerus dibuat dan dilakukan. Oleh siapa? Mari bertanya pada diri sendiri.

Gereja Temanggung Dirusak 
Wednesday, February 9, 2011, 05:19 - BERITA Posted by Administrator

Alkisah, di sebuah negeri antah baratah terjadi huru hara yang mengharu biru. Kalimat-kalimat suci berkumandang. Aneh. Kalimat suci itu terdengar beda dan terasa lain. Kalimat suci itu terasa takmenyejukkan. Kalimat suci itu membikin merinding bulu kuduk: bukan karena berkumandang di Gereja, tapi karena aura kebencian; bukan karena tersentuh, tapi karena ketakutan. Kalimat suci itu keluar dari orang-orang bermata merah. Tatapan mata mereka ganas. Seraya mendzikirkan kalimat suci, orang-orang itu menghancurkan apapun yang ada. Tangan-tangan kekar memegang balok-balok kayu atau besi. Benda-benda itu dihantamkan ke setiap sudut ruangan. Tak ada yang tersisa. Semua luluh lantak.

Sementara banyak orang lari tunggang langgang untuk menyelamatkan diri, di ujung gang itu dua anak kecil terlihat asyik berbincang. Meskipun sekian banyak orang merasa ketakutan, tapi kedua anak ini anteng-anteng saja.

“Jo, knapa ya mereka itu merusak Gereja?” tanya Paino kepada temennya, Paijo.

“Wah, kalau itu... aku tidak tahu No. Berani kamu tanya sama mereka? Tuch.. tanya pada mas’e yang lagi bawa balok itu. Berani ga?” kata paijo sambil menunjuk seorang pemuda yang sedang beraksi dengan balok kayu di tangannya.

“Hehehe... kalau aku tanya kepada masnya itu, sama saja dengan bunuh diri Jo. Edan kamu ini. Tapi aku ga habis pikir lho, Jo. Emang Gerejanya itu salah apa coba? Bangunan itu dari dulu ya di situ itu tho? Kok orang-orang ini tiba-tiba datang dan main rusak aja. Kamu tahu po, mereka itu dari mana?” Keluh Paino sambil ngelus-elus kepalanya yang gundul.

“No... No.. ngapain kita mikirin soal kayak begitu. Mending kita nikmati saja. Lumayan tho No. Dapat tontonan gratis” seloroh Paijo.
“Orang dewasa itu memang membingungkan ya Jo. Mereka kan ngajarin kita untuk saling mengasihi. Apa merusak punya orang lain itu termasuk bagian dari mengasihi, ya? Bingung aku.”

“Wis.. ga usah dipikirin. Kita lihat aja yuukkk..” Paijo segera menggandeng Paino. Sambil sembunyi-sembunyi, mereka melihat aksi beringas yang tidak layak ditonton anak-anak.

Peristiwa yang terjadi di negeri antah barantah yang terkenal dengan toleransinya itu memang menyesakkan. Ketika mendengar ceritanya atau membaca beritanya tentu akan muncul perasaan marah, umpatan dan makian, atau bahkan keinginan untuk membalas. Tentu, sikap-sikap seperti ini bisa dimaklumi. Bagaimana mana tidak marah ketika melihat rumah ibadahnya dirusak orang lain yang berbeda keyakinan. Pertanyaannya, mengapa harus marah? Bersikap tenang menjadi pergulatan yang harus dilakukan. Tidak perlu bingung dan gelisah. Kalau bangunan fisik dirusak dan dihancurkan, nanti tinggal membangun lagi yang lebih besar dan megah. Gampang kok. Solidaritas berupa bantuan pasti akan segera mengalir.

Selain bersikap tenang, tindakan memaafkan adalah pilihan yang bijak. Anggap saja mereka-mereka itu sebenarnya tidak tahu dan tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Aku ingat dengan kisah Guru dan Sahabatku. Di mataku, Dia itu adalah sosok yang sangat cerdas, meskipun kadang pola pikirnya terasa aneh dan out of mind. Kecerdasan-Nya tampak jelas dalam berbagai diskusi dengan orang-orang yang membenci-Nya. Berhadapan dengan niat jahat orang-orang yang ingin menghabisinya, Guru dan Sahabatku itu selalu tampil kalem dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dengan sangat cerdas. Akibatnya, orang-orang itu sendiri yang kehabisan akal dan tidak bisa melancarkan aksi mereka.

Salah satu kisah yang sangat saya sukai adalah kisah perempuan yang berzinah. Kisah itu dibuka dengan kedatangan beberapa orang yang membawa seorang perempuan. Tidak tanggung-tanggung, perempuan itu tertangkap ketika sedang berzinah. Bagi mereka, hukuman bagi wanita yang kedapatan berzinah itu jelas: melempari perempuan itu.
Tentu, apa yang mereka lakukan itu tidak bisa disalahkan begitu saja. Mengapa? Karena mereka melakukan itu berdasarkan hukum yang berlaku: “perempuan yang kedapatan berzinah harus dilempari dengan batu”. Karena ada hukumnya, mereka tidak bisa dipersalahkan dan dijerat hukum. Dengan kata lain, jika mereka melempari perempuan itu maka tindakan itu sah.

Tanggapan yang disampaikan oleh Guru dan Sahabatku itu sungguh luar biasa dan membuat saya menggelengkan kepala tanda bingung dan tidak habis pikir. “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu!” Sudah bisa ditebak endingnya: tidak ada seorang pun yang melempari perempuan itu dengan batu. Satu per satu, orang-orang itu pergi meninggalkan perempuan itu.

Hukum adalah buatan manusia yang didasari oleh aneka kepentingan. Hukum hendak mengatur kehidupan bersama supaya menjadi semakin baik dan damai. Oleh karena itu, hukum mustinya tidak pernah memihak. Benar adalah benar. Salah adalah salah. Meski demikian, Guru dan Sahabatku itu mengajari untuk berpikir dalam kerangka yang lebih luas. Hukum bukanlah allah yang berdiri di atas segala-galanya. Apalagi, dengan dalih hukum lalu mencederai kehidupan bersama.
Semua orang akan setuju jika dikatakan bahwa zina itu tindakan dosa. Persoalannya adalah apakah karena tindakan dosa itu, orang yang kedapatan berzina harus di hukum? Jika ya, siapa yang berhak dan berwenang untuk memberikan hukuman? Apakah Allah harus dibawa-bawa sebagai pembenaran. Jangan-jangan Allah malah ngekek melihat tingkah laku orang-orang itu.

Trus apa yang bisa kita buat? Rasa saya, tidak perlu emosi. Tidak perlu menghujat. Tetap tenang, memaafkan, dan mari kita bersama-sama berdoa untuk mereka. Allah tidak perlu kita bela. Allah punya cara tersendiri untuk umat-Nya. Jadi tidak perlu kita repot-repot membela Allah karena kita hanyalah alat-Nya. Allah saja mengampuni, lha kok kita ciptaannya malah ga terima dan mengamuk.

JEMBATAN PUTUS ANCAM MAGELANG 
Wednesday, January 19, 2011, 14:54 - BERITA Posted by Administrator


Satu per satu jembatan yang semula berdiri kokoh di atas sungai yang berhulu di Gunung Merapi mengalami kerusakan hingga ambrol. Putusnya jembatan-jembatan ini tentu meresahkan masyarakat. Selama ini jembatan menjadi akses menuju ke desa lain. Tanpa keberadaan jembatan antar desa itu, masyarakat harus memutar lebih jauh.

Jembatan yang pertama kali ambrol adalah jembatan di Srowol. Jembatan ini merupakan jembatan vital karena menjadi jalur menuju obyek wisata Candi Mendut dan Borobudur. Runtuhnya jembatan Srowol ini menjadikan masyarakat yang mengambil jalan Kalibawang menuju Mendut atau Borobudur harus memutar lebih jauh dengan melewati Muntilan. Runtuhnya jembatan Srowol ini semakin meresahkan ketika sungai Putih di daerah Jumoyo meluap. Kendaraan yang tertahan baik dari arah Muntilan maupun dari arah Jogjakarta tidak bisa mengakses jembatan ini. Akibatnya, masyarakat harus memutar lebih jauh lagi dengan kondisi jalan yang lebih sempit. Jembatan ini pernah diganti dengan jembatan buatan. Namun, jembatan buatan ini pun tidak kuasa menahan derasnya banjir lahar dingin hingga mengalami kerusakan dan tidak bisa digunakan lagi.



Setelah jembatan Srowol, disusul jembatan-jembatan kecil lainnya. Jembatan besar yang terakhir ambrol adalah jembatan Tlatar. Putusnya jembatan Tlatar ini menjadikan warga masyarakat di lima desa di Kecamatan Dukun, Magelang, was-was. Jembatan Tlatar runtuh pada Sabtu, 15 Januari 2011, lalu. Runtuhnya jembatan Tlatar ini telah melumpuhkan akses Sawangan-Dukun dan sebaliknya. Bahkan, transaksi antara pedagang dan petani dari kawasan utara Merapi dan barat Merbabu menjadi terganggu. Mereka harus menumpang di areal parkir obyek wisata Ketep. Semula, Sub Terminal Agribisnis ini berada di desa Sewukan. Akibat putusnya jembatan Tlatar, ongkos menjadi mahal karena mereka harus berputar belasan kilometer melalui Muntilan.

Setelah jembatan Tlatar ini runtuh, masyarakat di Dukun dan sekitarnya tinggal memiliki satu jembatan yang bisa menghubungkan ke lima desa itu, yaitu jembatan Talun. Ke lima desa itu adalah Desa Sewukan, Desa Mangunsongo, Desa Krinjing, Desa Paten, dan Desa Sengi. Apabila jembatan Talun ini ikut runtuh, maka sudah bisa dipastikan ke lima desa ini akan terisolir. Akses untuk masuk dan kular menjadi sangat sulit. Hal ini disebabkan ke lima desa tersebut diapit oleh sungai Senowo, Pabelan, dan Tlingsing. Keberadaan jembatan Talun ini sangat vital bagi masyarakat.



Harapan tinggal bertumpu pada jembatan Talun. Bahkan, tidak hanya penting untuk ke lima desa tersebut. Jembatan Talun juga penting bagi masyarakat di Boyolali. Sejumlah desa di Kecamatan Selo, terutama desa Tlogolele, akan terisolir mengingat dam Klakah yang berada di sungai Apu juga sudah jebol diterjang lahar dingin. Jembatan Talun kini menjadi demikian penting bagi masyarakat Dukun dan sekitarnya. Kondisi ini harus diantisipasi sejak dini. Jembatan Talun harus diselamatkan untuk menjamin akses jalan bagi masyarakat.



Penyelamatan akses jembatan tidak hanya untuk jembatan Talun saja. Jembatan Kali Putih di Jumoyo dan jembatan Pabelan pun harus diselamatkan. Volume lahar dingin yang melewati Kali Putih melebihi ambang batas dari yang seharusnya melewati alur sungai. Akibatnya lahar dingin meluap dan menimbulkan kerugian yang luar biasa. Kondisi jembatan yang kecil tidak mampu menampung volume lahar dingin yang besar. Benturan batu-batu besar dengan konstruksi jembatan akan menggerus pondasi jembatan. Lama-kelamaan, jembatan bisa ambrol. Apalagi, jembatan ini juga dilewati oleh kendaraan besar dengan tonase yang besar pula, mengingat jembatan Kali Putih merupakan akses utama Jogja-Magelang dan sebaliknya.



Masih ada satu lagi jembatan yang kondisnya telah mengkhawatirkan, yaitu jembatan Pabelan. Jembatan ini pun memiliki arti penting karena menjadi jalan utama Magelang-Jogja atau sebaliknya. Jembatan ini kondisinya masih bagus, tetapi tebing-tebing di sekitar jembatan telah longsor sedikit demi sedikit. Gerusan banjir lahar dingin harus diwaspadai karena gerusan ini pun bisa menggerogoti pondasi jembatan Pabelan. Jika jembatan ini putus, Muntilan terisolir. Akses menuju Magelang/ Semarang dan menuju Jogja menjadi sulit. Pilihannya tinggal melalui Boyolali atau Purworejo. Jika ini terjadi, bisa dipastikan kehidupan masyarakat Muntilan akan lumpuh.

Pemerintah harus tanggap dengan situasi ini. Kondisi jembatan-jembatan utama yang ada di Magelang harus diperhatikan. Jembatan sebagai akses vital masyarakat harus diselamatkan.


<<First <Back | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang