Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
Gereja Temanggung Dirusak 
Wednesday, February 9, 2011, 05:19 - BERITA Posted by Administrator

Alkisah, di sebuah negeri antah baratah terjadi huru hara yang mengharu biru. Kalimat-kalimat suci berkumandang. Aneh. Kalimat suci itu terdengar beda dan terasa lain. Kalimat suci itu terasa takmenyejukkan. Kalimat suci itu membikin merinding bulu kuduk: bukan karena berkumandang di Gereja, tapi karena aura kebencian; bukan karena tersentuh, tapi karena ketakutan. Kalimat suci itu keluar dari orang-orang bermata merah. Tatapan mata mereka ganas. Seraya mendzikirkan kalimat suci, orang-orang itu menghancurkan apapun yang ada. Tangan-tangan kekar memegang balok-balok kayu atau besi. Benda-benda itu dihantamkan ke setiap sudut ruangan. Tak ada yang tersisa. Semua luluh lantak.

Sementara banyak orang lari tunggang langgang untuk menyelamatkan diri, di ujung gang itu dua anak kecil terlihat asyik berbincang. Meskipun sekian banyak orang merasa ketakutan, tapi kedua anak ini anteng-anteng saja.

“Jo, knapa ya mereka itu merusak Gereja?” tanya Paino kepada temennya, Paijo.

“Wah, kalau itu... aku tidak tahu No. Berani kamu tanya sama mereka? Tuch.. tanya pada mas’e yang lagi bawa balok itu. Berani ga?” kata paijo sambil menunjuk seorang pemuda yang sedang beraksi dengan balok kayu di tangannya.

“Hehehe... kalau aku tanya kepada masnya itu, sama saja dengan bunuh diri Jo. Edan kamu ini. Tapi aku ga habis pikir lho, Jo. Emang Gerejanya itu salah apa coba? Bangunan itu dari dulu ya di situ itu tho? Kok orang-orang ini tiba-tiba datang dan main rusak aja. Kamu tahu po, mereka itu dari mana?” Keluh Paino sambil ngelus-elus kepalanya yang gundul.

“No... No.. ngapain kita mikirin soal kayak begitu. Mending kita nikmati saja. Lumayan tho No. Dapat tontonan gratis” seloroh Paijo.
“Orang dewasa itu memang membingungkan ya Jo. Mereka kan ngajarin kita untuk saling mengasihi. Apa merusak punya orang lain itu termasuk bagian dari mengasihi, ya? Bingung aku.”

“Wis.. ga usah dipikirin. Kita lihat aja yuukkk..” Paijo segera menggandeng Paino. Sambil sembunyi-sembunyi, mereka melihat aksi beringas yang tidak layak ditonton anak-anak.

Peristiwa yang terjadi di negeri antah barantah yang terkenal dengan toleransinya itu memang menyesakkan. Ketika mendengar ceritanya atau membaca beritanya tentu akan muncul perasaan marah, umpatan dan makian, atau bahkan keinginan untuk membalas. Tentu, sikap-sikap seperti ini bisa dimaklumi. Bagaimana mana tidak marah ketika melihat rumah ibadahnya dirusak orang lain yang berbeda keyakinan. Pertanyaannya, mengapa harus marah? Bersikap tenang menjadi pergulatan yang harus dilakukan. Tidak perlu bingung dan gelisah. Kalau bangunan fisik dirusak dan dihancurkan, nanti tinggal membangun lagi yang lebih besar dan megah. Gampang kok. Solidaritas berupa bantuan pasti akan segera mengalir.

Selain bersikap tenang, tindakan memaafkan adalah pilihan yang bijak. Anggap saja mereka-mereka itu sebenarnya tidak tahu dan tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Aku ingat dengan kisah Guru dan Sahabatku. Di mataku, Dia itu adalah sosok yang sangat cerdas, meskipun kadang pola pikirnya terasa aneh dan out of mind. Kecerdasan-Nya tampak jelas dalam berbagai diskusi dengan orang-orang yang membenci-Nya. Berhadapan dengan niat jahat orang-orang yang ingin menghabisinya, Guru dan Sahabatku itu selalu tampil kalem dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dengan sangat cerdas. Akibatnya, orang-orang itu sendiri yang kehabisan akal dan tidak bisa melancarkan aksi mereka.

Salah satu kisah yang sangat saya sukai adalah kisah perempuan yang berzinah. Kisah itu dibuka dengan kedatangan beberapa orang yang membawa seorang perempuan. Tidak tanggung-tanggung, perempuan itu tertangkap ketika sedang berzinah. Bagi mereka, hukuman bagi wanita yang kedapatan berzinah itu jelas: melempari perempuan itu.
Tentu, apa yang mereka lakukan itu tidak bisa disalahkan begitu saja. Mengapa? Karena mereka melakukan itu berdasarkan hukum yang berlaku: “perempuan yang kedapatan berzinah harus dilempari dengan batu”. Karena ada hukumnya, mereka tidak bisa dipersalahkan dan dijerat hukum. Dengan kata lain, jika mereka melempari perempuan itu maka tindakan itu sah.

Tanggapan yang disampaikan oleh Guru dan Sahabatku itu sungguh luar biasa dan membuat saya menggelengkan kepala tanda bingung dan tidak habis pikir. “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu!” Sudah bisa ditebak endingnya: tidak ada seorang pun yang melempari perempuan itu dengan batu. Satu per satu, orang-orang itu pergi meninggalkan perempuan itu.

Hukum adalah buatan manusia yang didasari oleh aneka kepentingan. Hukum hendak mengatur kehidupan bersama supaya menjadi semakin baik dan damai. Oleh karena itu, hukum mustinya tidak pernah memihak. Benar adalah benar. Salah adalah salah. Meski demikian, Guru dan Sahabatku itu mengajari untuk berpikir dalam kerangka yang lebih luas. Hukum bukanlah allah yang berdiri di atas segala-galanya. Apalagi, dengan dalih hukum lalu mencederai kehidupan bersama.
Semua orang akan setuju jika dikatakan bahwa zina itu tindakan dosa. Persoalannya adalah apakah karena tindakan dosa itu, orang yang kedapatan berzina harus di hukum? Jika ya, siapa yang berhak dan berwenang untuk memberikan hukuman? Apakah Allah harus dibawa-bawa sebagai pembenaran. Jangan-jangan Allah malah ngekek melihat tingkah laku orang-orang itu.

Trus apa yang bisa kita buat? Rasa saya, tidak perlu emosi. Tidak perlu menghujat. Tetap tenang, memaafkan, dan mari kita bersama-sama berdoa untuk mereka. Allah tidak perlu kita bela. Allah punya cara tersendiri untuk umat-Nya. Jadi tidak perlu kita repot-repot membela Allah karena kita hanyalah alat-Nya. Allah saja mengampuni, lha kok kita ciptaannya malah ga terima dan mengamuk.

JEMBATAN PUTUS ANCAM MAGELANG 
Wednesday, January 19, 2011, 14:54 - BERITA Posted by Administrator


Satu per satu jembatan yang semula berdiri kokoh di atas sungai yang berhulu di Gunung Merapi mengalami kerusakan hingga ambrol. Putusnya jembatan-jembatan ini tentu meresahkan masyarakat. Selama ini jembatan menjadi akses menuju ke desa lain. Tanpa keberadaan jembatan antar desa itu, masyarakat harus memutar lebih jauh.

Jembatan yang pertama kali ambrol adalah jembatan di Srowol. Jembatan ini merupakan jembatan vital karena menjadi jalur menuju obyek wisata Candi Mendut dan Borobudur. Runtuhnya jembatan Srowol ini menjadikan masyarakat yang mengambil jalan Kalibawang menuju Mendut atau Borobudur harus memutar lebih jauh dengan melewati Muntilan. Runtuhnya jembatan Srowol ini semakin meresahkan ketika sungai Putih di daerah Jumoyo meluap. Kendaraan yang tertahan baik dari arah Muntilan maupun dari arah Jogjakarta tidak bisa mengakses jembatan ini. Akibatnya, masyarakat harus memutar lebih jauh lagi dengan kondisi jalan yang lebih sempit. Jembatan ini pernah diganti dengan jembatan buatan. Namun, jembatan buatan ini pun tidak kuasa menahan derasnya banjir lahar dingin hingga mengalami kerusakan dan tidak bisa digunakan lagi.



Setelah jembatan Srowol, disusul jembatan-jembatan kecil lainnya. Jembatan besar yang terakhir ambrol adalah jembatan Tlatar. Putusnya jembatan Tlatar ini menjadikan warga masyarakat di lima desa di Kecamatan Dukun, Magelang, was-was. Jembatan Tlatar runtuh pada Sabtu, 15 Januari 2011, lalu. Runtuhnya jembatan Tlatar ini telah melumpuhkan akses Sawangan-Dukun dan sebaliknya. Bahkan, transaksi antara pedagang dan petani dari kawasan utara Merapi dan barat Merbabu menjadi terganggu. Mereka harus menumpang di areal parkir obyek wisata Ketep. Semula, Sub Terminal Agribisnis ini berada di desa Sewukan. Akibat putusnya jembatan Tlatar, ongkos menjadi mahal karena mereka harus berputar belasan kilometer melalui Muntilan.

Setelah jembatan Tlatar ini runtuh, masyarakat di Dukun dan sekitarnya tinggal memiliki satu jembatan yang bisa menghubungkan ke lima desa itu, yaitu jembatan Talun. Ke lima desa itu adalah Desa Sewukan, Desa Mangunsongo, Desa Krinjing, Desa Paten, dan Desa Sengi. Apabila jembatan Talun ini ikut runtuh, maka sudah bisa dipastikan ke lima desa ini akan terisolir. Akses untuk masuk dan kular menjadi sangat sulit. Hal ini disebabkan ke lima desa tersebut diapit oleh sungai Senowo, Pabelan, dan Tlingsing. Keberadaan jembatan Talun ini sangat vital bagi masyarakat.



Harapan tinggal bertumpu pada jembatan Talun. Bahkan, tidak hanya penting untuk ke lima desa tersebut. Jembatan Talun juga penting bagi masyarakat di Boyolali. Sejumlah desa di Kecamatan Selo, terutama desa Tlogolele, akan terisolir mengingat dam Klakah yang berada di sungai Apu juga sudah jebol diterjang lahar dingin. Jembatan Talun kini menjadi demikian penting bagi masyarakat Dukun dan sekitarnya. Kondisi ini harus diantisipasi sejak dini. Jembatan Talun harus diselamatkan untuk menjamin akses jalan bagi masyarakat.



Penyelamatan akses jembatan tidak hanya untuk jembatan Talun saja. Jembatan Kali Putih di Jumoyo dan jembatan Pabelan pun harus diselamatkan. Volume lahar dingin yang melewati Kali Putih melebihi ambang batas dari yang seharusnya melewati alur sungai. Akibatnya lahar dingin meluap dan menimbulkan kerugian yang luar biasa. Kondisi jembatan yang kecil tidak mampu menampung volume lahar dingin yang besar. Benturan batu-batu besar dengan konstruksi jembatan akan menggerus pondasi jembatan. Lama-kelamaan, jembatan bisa ambrol. Apalagi, jembatan ini juga dilewati oleh kendaraan besar dengan tonase yang besar pula, mengingat jembatan Kali Putih merupakan akses utama Jogja-Magelang dan sebaliknya.



Masih ada satu lagi jembatan yang kondisnya telah mengkhawatirkan, yaitu jembatan Pabelan. Jembatan ini pun memiliki arti penting karena menjadi jalan utama Magelang-Jogja atau sebaliknya. Jembatan ini kondisinya masih bagus, tetapi tebing-tebing di sekitar jembatan telah longsor sedikit demi sedikit. Gerusan banjir lahar dingin harus diwaspadai karena gerusan ini pun bisa menggerogoti pondasi jembatan Pabelan. Jika jembatan ini putus, Muntilan terisolir. Akses menuju Magelang/ Semarang dan menuju Jogja menjadi sulit. Pilihannya tinggal melalui Boyolali atau Purworejo. Jika ini terjadi, bisa dipastikan kehidupan masyarakat Muntilan akan lumpuh.

Pemerintah harus tanggap dengan situasi ini. Kondisi jembatan-jembatan utama yang ada di Magelang harus diperhatikan. Jembatan sebagai akses vital masyarakat harus diselamatkan.

BENCANA MERAPI: BENCANA NASIONAL? 
Saturday, January 15, 2011, 15:43 - Inspirasi Posted by Administrator

dibalik endapan pasir masih ada pengharapan


“Kapan Merapi akan mereda?” demikian ungkap seorang warga yang menjadi korban keganasan Merapi. Warga yang lain turut mengiyakan pertanyaan temannya itu. Merapi seolah tak mau berhenti. Setelah terjadi erupsi Merapi tahun lalu, disusul dengan banjir lahar dingin. Penderitaan masyarakat makin hari makin bertambah.
Dari berbagai prediksi, mulai dari prediksi yang berbau mistis hingga prediksi rasional, bencana Merapi masih akan berlangsung agak lama. Setidaknya, akibat bencana Merapi masih akan berlangsung hingga bulan April mendatang. Prediksi ini bukan tanpa dasar. Menurut Kepala Pusat data Informasi dan BNPB Sutop Puro Nugroho, Merapi menyimpan 140 juta kubik lahar dingin yang sewaktu-waktu dapat mengalir turun. Akitvitas ini akan berlangsung hingga bulan April mengingat prediksi musim hujan yang juga akan berakhir pada bulan April.

Banjir lahar dingin akan banyak mengarah ke daerah Magelang. Hal ini bukan merupakan sebuah kebetulan semata. Kawasan Merapi bagian barat merupakan kawasan yang menyimpan banyak material Merapi yang lebih ringan. Pada erupsi tahun lalu, hujan abu yang dikeluarkan oleh Merapi menyebar ke arah Barat. Akibatnya, kawasan Merapi sisi Barat lebih banyak menyimpan material hasil letusan. Karena material vulkanik yang ringan, menjadikan daya dorong atau daya luncur lebih cepat. Hal ini sudah terbukti pada bajir lahar dingin pada Minggu, 9 Januari silam. Kecepatan luncuran lahar dingin demikian cepat sehingga bagian bawah sedikit terlambat bereaksi. Akibatnya korban bertambah banyak dibandingkan banjir lahar dingin pada tanggal 3 Januari 2011. Bukan hanya korban harta benda, tapi korban manusia pun bertambah.



Saat ini, curah hujan di kawasan Merapi masih sangat tinggi. Potensi banjir lahar dingin masih tetap mengancam, terutama di sepanjang daerah aliran sungai Kali Krasak, Kali Putih, Kali Blongkeng, Kali Pabelan, Kali Senowo, dan Kali Apu. Potensi ini tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Lamanya erupsi Merapi pada tahun lalu telah menimbulkan penderitaan tersendiri bagi masyarakat. Kini, penderitaan itu akan terus bertambah mengingat semakin luasnya daerah yang terkena bahaya sekunder erupsi Merapi. Masa pemulihan pun akan semakin bertambah panjang.


jembatan soropl sebelum dan sesudah tanggal 9 Januari


Jika dibandingkan, efek erupsi dan efek banjir lahar dingin Merapi jelas berbeda. Situasi yang diakibatkan bahaya sekunder Merapi terasa lebih dramatis. Tidak sedikit perkampungan yang rata dengan pasir. Rumah-rumah warga banyak yang hilang tersapu lahar dingin atau terendam pasir. Puluhan hektare sawah dan ladang hancur. Padi yang telah menguning tak lagi bisa diharapkan karena tersapu lahar dingin. Banyak akses jalan terputus. Jembatan-jembatan yang menjadi penghubung desa yang satu dengan desa yang lain tak berbekas karena terbawa arus. Hal ini terjadi di daerah Progowati Muntilan. Jembatan Srowol hancur tersapu lahar dingin. Pemerintah berusaha membangun jembatan darurat dengan menyewa jembatan buatan dari AKMIL. Tetapi jembatan buatan itupun kini telah hancur karena disapu banjir 9 Januari silam. Bahkan salah satu rumah yang ada di tepi sungai pun kini tak lagi ada bekasnya.

Situasi ini jelas berbeda dengan situasi pada saat erupsi tahun lalu. Pada waktu itu, para pengungsi masih bisa menengok rumah, menyelamatkan harta benda termasuk ternak mereka. Kini, apa yang akan diselamatkan? Warga yang berada si sepanjang aliran sungai yang dilalui arus lahar dingin benar-benar terpuruk. Rumah, harta benda, dan lahar pertanian yang menjadi tumpuan harapan hilang tersapu atau terkubur material lahar dingin. Apa lagi yang akan diharapkan dari situasi yang mereka hadapi?

Menyingkirkan material lahar dingin membutuhkan mobilisasi yang luar biasa, baik itu tenaga maupun biaya. Sangatlah tidak mudah membersihkan endapan material pasir setinggi 1-3 meter. Jika mengikuti prediksi yang menyebutkan potensi bahaya banjir masih akan berlangsung hingga bulan April, usaha yang dilakukan seolah terasa sia-sia. Hari ini dibersihkan, tapi beberapa hari kemudian bisa datang lagi dengan volume yang lebih besar. Ambil contoh yang terjadi di Pasar Jumoyo. Banjir yang terjadi pada tanggal 3 Januari meluas sampai 100 meter. Namun luasnya daerah yang terkena luapan lahar dingin menjadi 300 meter pada banjir 9 Januari. Melihat kemungkinan ini, akankah pembersihan menunggu hingga ancaman banjir lahar dingin itu terhenti?

Jika menunggu, apa yang harus dibuat oleh masyarakat? Haruskah mereka diam menunggu? Dari mana mereka akan hidup? Sejuta pertanyaan terlontar, tetapi hanya diam. Seolah tak ada jawaban yang bisa diberikan dengan pasti. Di satu sisi, aliran dana bantuan tidaklah sederas ketika terjadi erupsi Merapi. Padahal kerugian yang dialami masyarakat tidak kalah jauh dibandingkan ketika masa erupsi. Mungkin kerugian yang diderita lebih besar masa sekarang. Hal ini disebabkan rusaknya sektor perekonomian masyarakat, terutama lahan pertanian yang menjadi tumpuan hidup masyarakat. Ketika sektor ekonomi yang mengalami kelumpuhan, akankah masyarakat diam menunggu uluran tangan sambil menunggu redanya ancaman bajir lahar dingin tanpa bisa berbuat sesuatu?



Mengingat kerugian yang demikian besar, bencana Merapi ini diangkat menjadi masalah nasional. Mulai dari masalah pengungsian hingga managemen pemulihan ditangani oleh pemerintah. Mengandalkan usaha masyarakat yang ternyata bergerak lebih cepat tentu tidak mudah karena keluasan jangkauan yang harus ditangani. Mengandalkan pemerintah Kabupaten Magelang? Rasanya persoalan ini terlalu besar untuk dtanggung oleh Pemerintah Kabupaten Magelang. Inilah saat bagi Pemerintah untuk menunjukkan kepedulian dan perhatian kepada masyarakat. Masyarakat tidak membutuhkan janji-janji, melainkan bukti nyata. Inilah saat bagi masyarakat untuk menagih janji yang keluar dengan manis pada waktu pemilu.

RAKER DP PAROKI 2010 
Thursday, December 16, 2010, 12:50 - BERITA Posted by Administrator

Romo Krisno sedang memaparkan proyek pastoral 2011

Bandungan - Ditengah dinginnya hawa pegunungan, Dewan Paroki St Ignatius Magelang mengadakan Rapat Kerja. Raker ini diadakan di Wisma Shallom Bandungan pada tanggal 11-12 Desember 2010.

Dalam rapat kerja yang diikuti 127 orang anggota Dewan ini dibahas mengenai pelaksanaan program kerja 2010. Proses evaluasi ini dipandu oleh Romo Wito. "Gerak Paroki telah dituntun oleh visi dan misi paroki. Motto Berubah untuk Berbuah menjadi reffrein yang terus menerus didengungkan. Namun, roh dari visi dan misi belum menjadi roh program kerja. Buktinya,banyak program kerja yang tidak menjawan fokus pastoral 2010: pemberdayaan paguyuban," demikian kesimpulan yang disampaikan oleh Romo Wito.


Keseriusan para peserta RaKer dalam berdiskusi


Setelah mengadakan evaluasi, para peserta raker diajak untuk membuat potret paroki Ignatius. Berangkat dari potret yang ada inilah akan dirumuskan tujuan program tahun 2011. Adapun tujuan program selama tahun 2011 adalah "Berdayanya KLMTD sehingga Gereja Ignatius menjadi semakin relevan dan signifikan". Tujuan ini dibreak-down lagi menjadi beberapa tujuan jangka pendek yang hendak dicapai selama tahun tahun 2011. Dengan segala kemampuan yang ada, para peserta berjuang untuk sampai pada rumusan capaian atau tujuan. Rumusan capaian inilah yang nantinya akan menjadi dasar bagi tim-tim kerja dalam membuat program kerja tahun 2011.

Meski pun belum sempurna, namun antusiasme para peserta patut mendapat acungan jempol. Para peserta demikian bersemangat untuk mengikuti proses dan mencapai hasil yang diinginkan.

pada bagian akhir, Romo Krisno Handoyo menyampaikan dasar-dasar pastoral di paroki Ignatius. Romo Krisno menjelaskan Arah Dasar KAS tahun 2011-2015. Romo KRisno juga menjelaskan kembali Visi dan Misi Paroki yang telah dirumuskan oleh paroki Ignatius. Tak lupa, aneka kebijakan pastoral yan gakan dilakukan pada tahun 2011 juga disosialisakan. Harapannya umat semakin terbuka dan terus berani berubah dan merubah.


saah satu gambaran keseriusan peserta dalam raker 2010


Yang patut dicatat pada raker ini adalah banyaknya anggota dewan yang mau meluangkan waktu mengikuti raker. Raker tahun ini adalah rekor terbaru paroki ignatius karena jumlah peseta yang mencapai 127. Ada sekitar 14 orang yang sudah mendaftar namun berhalangan hadir. Keseriusan para peserta pun patut diacungi jempol.

Selamat

<<First <Back | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang