Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
Hari Gini Ngomongin Pengampunan? 
Saturday, February 19, 2011, 16:56 - Inspirasi Posted by Administrator
“Orang gila...!” teriak seorang anak kecil ketika melihat ada seorang yang cengar-cengir sendiri. Orang itu kadang menangis, kadang tertawa, ngomel sendiri, dan aneka kegiatan lain yang sangat berbeda dengan kebanyak orang. Sejurus kemudian, anak itu memanggil teman-temannya dan mengusir orang yang mereka anggap gila itu.

Stempel gila atau tidak waras memang mudah kita terapkan kepada orang. Stempel ini kita berikan karena kita merasa oran glain tersebut memiliki perbedaan dengan kita. Gila atau waras merupakan sudut pandang kita. Dan, betapa mudah kita memberikan stempel ini. Apakah faktanya memang demikian? Karena berkaitan dengan sudut pandang, maka satu atau dua sudut saja yang kita gunakan. Apakah dari sudut pandang yang lain juga akan didapatkan kesimpulan yang sama?

Kita bisa memberikan cap gila kepada Paus Yohanes Paulus II karena tindakannya. Ketika Paus Yohanes Paulus II telah sembuh dari sakit karena ditembak oleh seseorang, maka Yang Mulia segera mendatangi si penembak di penjara untuk mengampuni kesalahan dan dosa-dosanya. Mengampuni pada masa kini sungguh merupakan tantangan dan berat. Ketika kita melakukannya, kita harus siap mendapatkan cap gila. Mengapa? Karena dengan melakukan tindakan itu kita akan melawan arus dan tampil beda. Bukankah ketika ada yang berbeda, cap negatif akan mudah kita terima?

Pada umumnya orang dengan mudah membalas dendam terhadap orang yang telah menyakitinya. Tak tanggung-tanggung, tindakan balas dendamnya akan semakin lebih berat dan hebat. Sebagai contoh apa yang terjadi dengan kerusuhan yang dilakukan oleh kelompok tertentu di negeri ini: membunuh orang, membakar dan merusak fasilitas ibadat agama lain, dst.. Tindakan-tindakan ini tentu ada alasan pembenarannya. Mulai dari pembenaran yang rasional sampai pembenaran yang melampui nalar manusia. Tindakan balas dendam ini terjadi karena masing-masing tidak menerima tindakan yang dilakukan oleh orang lain. Terasa aneh ketika tindakan dilakukan oleh oknum, tetapi yang harus menanggung efeknyaadalah komunitas. Sementara para pelaku harus ditempatkan sebagai oknum dan tidak mau ditempatkan sebagai komunitas. Rasa saya, tindakan balas dendam ini terus terjadi di tingkat akar rumput sampai dengan tingkat tinggi, di antara rakyat biasa sampai dengan pejabat tinggi/Negara.

Kita semua kiranya memiliki `musuh'. Adalah sebuah kebohongan jika kita mengatakan tidak memiliki `musuh'. Apa yang saya maksudkan dengan `musuh' di sini adalah apa-apa saja yang tidak sesuai dengan selera pribadi atau tak berkenan di hati, entah itu orang, makanan atau minuman, binatang, tanaman, situasi, dst.. Sesuatu yang kita anggap musuh pasti kita lawan. Karena kita menganggap air hujan sebagai musuh maka kita mengubah tanah resapan air hujan atau penampungan air hujan menjadi bangunan beton yang kokoh, tak tembus air.

Atas budaya permusuhan ini, budaya pengampunan harus dikembangkan. Memang budaya pengampunan adalah budaya yang tidak populis. Dan semakin kita meninggalkannya, semakin kacaulah kehidupan umat manusia. Sebagai contoh sederhana dan umum adalah makanan dan cuaca. Pedoman dasar dalam memilih makanan adalah sehat atau tidak sehat, bukan enak atau tidak enak. Dengan kata lain jika makanan sehat hendaknya disantap saja, meskipun tidak enak, kalau perlu langsung telan saja karena Tuhan telah menganugerahkan mesin pengolah makanan yang hebat dalam tubuh kita. Demikian juga dalam hal cuaca, hendaknya nikmati saja cuaca dingin atau panas untuk melatih kekebalan dan memperkembang-kan serta mengkokohkan anti-body dalam tubuh kita.

Virus-virus memang bertebaran di udara bebas, sehingga mereka yang tidak memiliki kekebalan tubuh yang memadai pasti akan jatuh sakit. Sebaliknya pada orang yang memiliki kekebalan tubuh pasti tak akan jatuh sakit. Kekebalan tubuh ini ada dua. Dari dirinya sendiri setiap orang pasti memiliki system antibody. Ada juga kekebalan yang dibuat. Ingat dan sadari ketika ada wabah penyakit, kita sering menerima vaksin. Ke dalam tubuh kita disuntikkan virus untuk memancing kekebalan tubuh. Kekebalan tubuh inilah yang harus kita ciptakan supaya kita semakin tahan dengan segala perkara yang ingin merusak hidup kita. Kekebalan tubuh tersebut adalah penguasaan diri.

Jika kita dapat menguasai diri dengan baik, maka sikap kita terhadap orang lain pasti akan berbeda. Kita akan menjadi pribadi yang lemah lembut dan melayani. Sebaliknya jika kita tak dapat menguasai diri, maka sikap terhadap orang lain pasti akan kasar, keras, dan menindas. Salah satu cara untuk melatih penguasaan diri adalah dengan matiraga atau lakutapa. Ada nasihat dari orangtua perihal `topo ing rame'. Maksud nasihat ini antara lain berkonsentrasi dalam melaksanakan tugas pengutusan tertentu alias mempersembahkan diri seutuhnya kepada tugas yang harus dikerjakan, sehingga tidak tergoda untuk menyeleweng atau `selingkuh'.

Hari gini ngomongin pengampunan? Mengapa tidak? Ketika kehidupan manusia semakin tidak terkendali, semangat dan habitus pengampunan harus terus menerus didengungkan. Kelihatannya tindakan gila, namun inilah tantangan yang nyata. Hakekat pengampunan adalah pengendalian diri. Semakin kita mampu mengendalikan diri, semakin kita mampu untuk memberikan pengampunan.

Kontingen Koor Paroki Ignatius Juara II 
Wednesday, February 16, 2011, 13:17 - BERITA Posted by Administrator

Koor Wilayah Gregorius Plus


Bertempat di Gereja Ignatius diadakan Festival Lagu-lagu Perkawinan se-Kevikepan Kedu. Festival ini diadakan pada hari Selasa, 15 Februari 2011. Festival ini diikuti oleh 6 paroki dengan 7 kelompok peserta, yaitu Paroki Parakan, Temanggung, Fatima, Ignatius, Pancaarga dengan 2 kelompok, dan Salam.

"Festival ini dimaksudkan untuk semakin memperkenalkan lagu-lagu perkawinan yang dibuat oleh Tim Musik Liturgi KAS. Dengan semakin diperkenalkannya lagu-lagu perkawinan ini, diharapkan khasanah lagu perkawinan menjadi semakin lengkap. Dan, ke depannya tidak ada lagi llagu-lagu pop atau lagu yang tidak secara khusus dibuat untuk kepentingan lituri tetapi dipakai untuk kepentingan liturgi" demikian penjelasan Romo Wito selaku penanggungjawab Festival ini.

Dalam Festival Lagu-lagu Perkawinan ini yang diadakan oleh Komisi Liturgi Kevikepan Kedu ini Paroki St Ignatius mengirimkan satu wakil, yaitu Wilayah Gregorius. Wilayah Gregorius dipilih menjadi wakil karena menjadi penampil terbaik dalam acara serupa yang dilakukan oleh Paroki Ignatius pada tahun lalu.

Keterlibatan Wilayah Gregorius plus tambahan dari beberapa personil dari wilayah lain membagakan. dalam Festival Lagu-lagu Perkawinan tersebut, Wilayah Gregorius berhasil menyabet 2 thropy, yaitu sebagai Juara II dan Pemazmur Terbaik.

Sambutan umat dalam kegiatan ini cukup besar. Hal ini tampak dari animo penonton. Bahkan, tidak hanya umat Katolik. Beberapa Gereja Kristen di Magelang juga ikut hadir menyaksikan Festival ini.
SISA-SISA KENANGAN ERUPSI MERAPI 
Sunday, February 13, 2011, 01:28 Posted by Administrator


Peristiwa erupsi Gunung Merapi pada bulan Oktober dan November 2010 tergolong yang paling mencengangkan sekaligus mencekam. Betapa tidak. Durasi letusan itu sendiri amat lama dan sulit diprediksi, muntahan lava luar biasa banyak (diperkirakan mencapai 170 juta m3). Ditambah lagi bencana pasca letusan berupa banjir lahar dingin yang merusakkan 14 jembatan, derasnya banjir pasir dan batu yang meluluh-lantakkan desa Jemoyo, Gempol, Sirahan dan sekitarnya, hingga sekarang nampaknya masih belum berakhir.
Belum lagi lahar dingin sebanyak 70 juta m3 yang saat ini masih mengisi kali Gendol, hulu sungai Opak, yang sewaktu-waktu bila hujan deras terjadi akan mambahayakan daerah aliran sungai Opak.
Di sini pembaca kami ajak menyaksikan satu fenomena lain dari saat-saat kritis letusan Merapi. Saat letusan besar sedang terjadi, bola api besar menyeruak keluar dari kepundan. Luar biasanya, beberapa saat kemudian setelah lava pijar mulai meluncur turun, dari jauh terlihat seperti figur CORPUS CHRISTI yang ada di salib.
Satu foto kami ambil dari http://my.opera.com/thetomster/blog, satu lagi kiriman dari seorang relasi di Jakarta, tanpa menyebut sumbernya.



Corpus 1




Corpus 2


Komentar anda?

Wawan Hati Umat Kedu dengan Mgr Pujo 
Thursday, February 10, 2011, 16:08 - BERITA Posted by Administrator
Bertempat di Gedung Pertemuan Mandala diadakan wawan hati umat kevikepan Kedu dengan Mgr Johannes Pujosumarto, uskup Keuskupan Agung Semarang yang dilantik menjadi Uskup Keuskupan Agung Semarang pada 7 Januari silam. Sebelumnya, Mgr Pujo, demikian panggilan akrabnya, menjabat sebagai Uskup di Keuskupan Bandung. Pencipta lagu berjudul Kupu-kupu itu kembali lagi terbang ke arah timur.

Wawan hati ini diadakan pada hari Rabu, 9 Januari 2011. Wawan hati ini dihadiri oleh perwakilan paroki-paroki, komunitas dan lembaga karya yang ada di wilayah kevikepan Kedu. Ada sekitar 200an tamu undangan yang hadir dalam wawan hati ini.

Salah satu hal yang menarik adalah bahwa wawan hati ini diadakan dalam suasana sedih karena peristiwa pengrusakan gereja yang terjadi di Temanggung, salah satu paroki di wilayah Kevikepan Kedu. Untuk itu, awal wawan hati ini dibuka dengan sharing pengalaman atas peristiwa pengrusakan gereja tersebut yang disampaikan oleh saksi-saksi mata dari paroki Temanggung. Kesaksian ini sekaligu suntuk menjawab berbagai ketegangan yang beredar di tengah umat berkaitan dengan aneka isu dan rumor yang beredar melalui sms berantai.

Dalam wawan hati, Mgr Pujo mengajak umat untuk kembali menekuni dan menjadikan arah dasar Keuskupan Agung Semarang 2011-1015 sebagai tonggak langkah menuju Gereja yang semakin signifikan dan relevan. "4P bisa menjadi entry point untuk mengingat arah dasar. P yang pertama adalah Penghayatan: menjadikan iman semakin mendalam dan tangguh. P yang kedua adalah Pendalaman: keterlibatan umat sehingga perannya ditengah gereja dan masyarakat semakin optimal. P yang ketiga adalah Pemberdayaan: bagaimana umat diajak untuk semakin memberdayakan KLMTD. P yang terakhir adalah Pelestarian: usaha terus menerus untuk melestarikan keutuhan ciptaan" ungkap Mgr Pujo.

Pertemuan ini ditutup dengan acara santap malam bersama.

<<First <Back | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang