Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
HENING 
Sunday, February 14, 2010, 07:29 - Inspirasi Posted by Administrator
“Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana” (Mrk 1:35)


Sadis kan? Hahahaha... malah jadi ketawa sendiri. Ga ada apa-apa kok tiba-tiba muncul pertanyaan ini. Hehehehe... Padahal ada maksudnya. Yang membuat sadis itu adalah petikan dari teks Markus itu. Memulai karya dengan doa. Dari doa itulah mengalir sebuah semangat untuk menjalani perutusan dengan lebih bersemangat. Dan dalam arti itu, pelayanan menjadi lebih bermakna. Ikut serta dalam karya Allah.
Manusia itu kan bukan apa-apa tanpa Allah. Sepandai-pandainya dia, secerdas-cerdasnya dia, sehebat-hebatnya dia... itu bukan apa-apa dihadapan Dia yang mahapandai, yang mahacerdas, yang mahahebat! Mengandalkan kemampuan hanya akan membawa manusia pada kesombongan. Dan kadang membawa pada pengingkaran akan Allah. Karena yakin dengan kemampuan sendiri, maka tidak lagi percaya akan adanya Allah.
Lalu? Karena tidak bisa sendiri, maka manusia diajak untuk bekerjasama bersama-sama dengan Allah, merajut kehidupan. Meneruskan karya penciptaan yang telah dimulai Allah. Karena bersama-sama dengan Allah, maka sudah semestinya karya dibuat semata-mata demi kemuliaan Allah. Bukan untuk sekedar mengajar kepuasan diri, apalagi untuk sebuah kesombongan diri. Manusia kan hanya ndompleng karya Allah. Jadi klo buat sendiri itu sama artinya dengan korupsi kan?
Merajut benag-benang kerjasama dengan Allah hanya mungkin terjadi ketika kita dekat dengan Allah. Kedekatan itu tampak dalam dinamika hidup doa dan renungan harian. Semakin kita bertekun dalam doa dan renungan, semakin kita sehati dengan Allah. Heheehehe.. tapi ini tidak mudah! Selalu ada banyak tantangan: inilah, itulah.. kesini, kesitulah.. de el el. Apakah kita mau dan berani meluangkan waktu? Itu aja... (YSW)

weNING lan duNUNG 
Saturday, February 13, 2010, 05:25 - Inspirasi Posted by Administrator
“Pergilah Ia ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah” (Luk 6:12)




Sibuk? Hmmmm... sudah demikian biasa! Rasa-rasanya tiada hari tanpa kesibukan. Ketika pekerjaan menumpuk, karena kemalasan untuk mengerjakan saja, rasanya waktu yang ada masih kurang. Jadilah lembur. Hari-hari diisi dengan bekerja dan bekerja, entah apa pun pekerjaan itu (kerja yang memang menguras tenaga dan pikiran, kerja yang nyante kayak fesbukan atau ngempe atau sekedar chatting, dan masih banyak lagi).
Byuhhh... kalau bicara rasa atau rasanya memang ‘ga akan ada habisnya!
Sebuah pertanyaan terlontar: dasar perutusan/pelayanan/pekerjaan itu apa? Orang bilang membangun rumah itu dibutuhkan pondasi yang kuat. Sebab dalam pondasi itulah akan diletakkan seluruh kerangka rumah. Semakin kuat pondasinya, semakin kokoh pula rumah itu. Tentu pernyataan ini harus diikuti dengan pernyataan sejauh rumahnya juga dibangun dengan baik.
Pertanyaannya sederhana, namun jawaban dari pertanyaan sederhana itu menjadi demikian rumit dan berbelit. Aku pun tidak segera bisa menjawab pertanyaan ini. Seperti kambing bendhot yang digiring ke kandangnya, aku mencoba menghitung waktuku dalam sehari.. Ya ampyuuunnnnn, ternyata... Ngeri, ach! Dengan rendah hati aku harus mengakui bahwa masih sedikit waktu aku gunakan untuk diam, hening di hadapan Dia! Sebab inilah dasar dari perutusan: keintiman relasi dengan Allah. Keintiman relasi itu dibangun atas dasar hidup doa! Tantangannya adalah istilah kerjaku adalah doaku! Hmmmm....bersembunyi di balik rasionalisasi!
Aku bersyukur bahwa aku boleh mengenal dan menghidupi Adorasi Ekaristi. Pengalaman Adorasi Ekaristi telah mulai membentukku untuk semakin intim dengan Tuhan. Dalam pengalaman beradorasi, aku dibawa untuk semakin masuk ke dalam diri, semakin mengenali diri! Di hadapan Dia yang bertahta dalam Sakramen Mahakudus, aku bisa menumpahkan segala keluh kesahku, beban-beban hidupku! Adorasi Ekaristi menjadi seperti air sejuk dan jernih yang mampu membasuh diriku dan melegakan dahagaku akan keheningan bersama Dia. Moga-moga menjadi jernih dan menep.
Melalui Adorasi Ekaristi aku diajak untuk terus mendasarkan diri pada Dia dalam setiap karya yang aku lakukan. Aku semakin disadarkan dalam setiap pelayanan: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh 3:30). (YSW)

Ekaristi Imlek 
Friday, February 12, 2010, 15:46 - Lain-Lain Posted by Administrator
Misa Imlek di Gereja St. Ignatius Magelang yang betul tanggal 14 Februari 2010.
Mohon maaf untuk kesalahan tulis di PENGUMUMAN. Terima kasih.
Gong Xi Fat Choi 
Friday, February 12, 2010, 14:48 - BERITA Posted by Administrator
Gong Xi Fat Choi

<<First <Back | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang