Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
Cornelius Jeksaan 
Tuesday, February 9, 2010, 13:25 - Profile Lingkungan Posted by Administrator

PETA WILAYAH
Batas-batas wilayah :
Di sebelah Utara : Wilayah Monica, Margareta
Di sebelah Timur : Wilayah Paulus, Katarina
Di sebelah Selatan : Wilayah Yohanes, Katarina
Di sebelah Barat : Wilayah Carolus

SEJARAH
Paguyuban umat di lingkungan ini telah terbentuk sejak sekitar Th 1978, dengan ketua lingkungan Bp. Eddy Hutoyo yang bertempat tinggal di Jeksaan. Beliau memang berasal dari daerah ini. Selain Bp. Eddy Hutoyo dan keluarga, ada pula keluarga Bapak Ibu Y. Tidarso, keluarga Bp Ibu Sumarno, keluarga ibu Sukesi, Ibu Th. Hartati Mardisiwoyo, Bp Ibu Sindu, Bp Ibu Hadi, Bp Ibu Kusdi, Ibu Juwahir, kemudian sekitar tahun 1990 an keluarga Bp Ibu BN Sugondo
Pada masa itu, kegiatan-kegiatan masih terpusat di paroki namun beberapa umat dari lingkungan ini terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Sebagai contoh beberapa ibu aktif di kegiatan karawitan gereja dan Wanita Katolik, beberapa remaja aktif dalam kegiatan Mudika. Budaya “ ubyang-ubyung” mudika saat itu sangat mewarnai kegiatan mudika yang dominan dengan kegiatan nyanyi-nyanyi baik paduan suara maupun vocal group.
Peringatan dan perayaan Natal dilaksanakan secara berkala di Balai Desa Cacaban namun tidak tiap tahun, dengan menampilkan kreasi umat lingkungan dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa.
Sehubungan dengan penamaan lingkungan dengan menggunakan nama-nama Santo santa, lingkungan ini mengambil nama Cornelius dengan asumsi initial C disesuaikan dengan nama desa , yaitu Cacaban. Maka sejak Th 1987, lingkungan ini resmi bernama lingkungan Cornelius. Dalam perkembangannya nama Cornelius ditambah dengan nama kampung dimana lingkungan ini berada, yaitu Kejuron, Jeksaan, Kerkopan, dan Kauman. Demi adilnya maka diambil yang berlokasi tengah , yaitu Jeksaan. Secara lengkap lingkungan ini menjadi lingkungan Cornelius Jeksaan. Namun demikian pada umumnya umat di lingkungan ini kurang memahami siapa dan bagaimananya Cornelius.

UMAT LINGKUNGAN
Kini Bapak-bapak dan ibu-ibu sepuh tersebut sebagian sudah dipanggil Tuhan digantikan keluarga-keluarga muda sehingga umat di lingkungan ini kini mencapai sekitar 80 ( delapan puluh) jumlahnya dari kurang lebih 20 Kepala Keluarga.
Pasangan suami isteri Katolik ada 13 pasang, isteri Katolik-suami bukan Katolik ada 1 pasang, isteri Katolik – suami non-Kristiani ada 1 pasang. Sedang kepala keluarga yang berstatus janda 6 orang.

Berdasarkan status, perkawinan terdapat 24 orang yang belum menikah, 24 sudah menikah.
BELUM MENIKAH
1.Usia 1-7 tahun : Laki-laki = 1
2.Usia 8 – 12 tahun : Laki-laki = 1
3.Usia 13 – 35 tahun : Laki-laki = 10 Perempuan = 12
4.Usia 36 tahun keatas : Laki-laki = - Perempuan = -
Jumlah = 12 = 12
MENIKAH
1.Usia 65 tahun kebawah : Laki-laki = 11 Perempuan = 11
2.Usia 66 tahun keatas : Laki-laki = 1 Perempuan = 1
Jumlah = 12 = 12

Sementara berdasarkan pekerjaan/profesi terdapat

1 Pelajar 17
2 Mahasiswa 5
3 PNS/TNI/POLRI 7
4 Pensiunan/purnawirawan - 4
5 Wiraswasta 13
6 Pegawai swasta 3
JUMLAH 49

KELUARGA DI LINGKUNGAN INI

1 Bp. Ignatius Joko Purnomo
Ibu Joko
Anak :Sigit, Yunita, Niken
2 Ibu Yustina Hutamar
3 Ibu Suharti
4 Ibu Maria Magdalena Juwahir
6 Ibu Endang Sugondo
7 Bp. Yohanes Ridi
Ibu Erna
8 Bp. Al. Joko Pamungkas
Ibu Yustina
Anak :Dimas, Ade
9 Bp. Eduardus Yusuf Kusuma
Ibu Agnes Wiwien Prasetyati
Anak : Yulius Pramudyanto,Chrisopher Khrisna K, Stefina Paritta K
10 Bp. Yohanes Nico AL
Ibu Cornelia S. Supriyati
11 Ibu Margareta Sukesi
12 Bp. Petrus Bawon
Ibu Petrus
Anak :Antonius Aditya -
13 Bp. C. Agus Sutaryono
Ibu Agus
Anak : Lina, --
14 Ibu Markati
15 Bp. Bambang
Ibu Anggriani
Anak : Felix, ….
16 Bp. Edi Hartono
Ibu Ninik
Anak : ....
17 Bp. Fx. Doni Kusuma
Ibu Doni
18 Bp. Bambang Yunanto Hadi
Ibu Bambang
Anak : ....
19 Bp. Jipah
20 Bp. ……
Ibu Silvi
Anak : Arlin, ----
21 Bp. Sutikno/Bp. C. Sutarjo
22 Bp. B. Totok Widaryanto
Ibu Totok
Anak :Wendi, Rosalia Wanda

PENGURUS LINGKUNGAN CORNELIUS JEKSAAN
PAROKI ST. IGNATIUS MAGELANG

Periode 2010 – 2012
Ketua : Bp. Ignatius Joko Purnomo
Wakil Ketua : Bp. Eduardus Yusuf Kusuma
Sekretaris : Ibu Cornelia S Supriyati
Bendahara : Ibu Endang Sugondo
Prodiakon : Bp. FX Doni Kusuma
Bp. C. Agus Sutaryono
Sie Pewartaan : Ibu Agnes Wiwien YK
Sie Liturgi : Bp. C. Agus Sutaryono
Sie Mudika : Bp. B. Totok Widaryanto

Guna mendukung kegiatan berliturgi, lingkungan memiliki:
1.Prodiakon 1.Bp. Fx. Doni Kusuma,2.Bp. C. Agus Sutaryono
2.Putra Putri Altar 1.Ch. Khrisna Kusuma, 2.St. Paritta Kusuma
3.Rosalia Wanda, 4.Wendi
3.Organis 1.Ibu Silvi, 2.Arlin
4.Pemazmur 1.Ibu Doni, 2.Bp. Yohanes Nico, 3.Stefina Titta Kusuma
5.Lektor 1.Stefina Paritta/Titta
6.Dirigen 1.Bp. C. Agus Sutaryono

PARTISIPASI WARGA LINGKUNGAN DALAM KEGIATAN
Kegiatan lingkungan pada umumnya diwarnai kehadiran :
1 Ibu-ibu 70%
2 Bapak-bapak 25%
3 Mudika 24&
4 Anak-anak 1%

Partisipasi umat dalam pelaksanaan kegiatan lingkungan rata-rata mencapai 60%
Umat lingkungan yang aktif di kegiatan lingkungan sekitar 70%, di kegiatan wilayah 50% dan di paroki 30%.

DAFTAR NAMA WARGA LINGKUNGAN YANG TERLIBAT DI WILAYAH/PAROKI/KEVIKEPAN
1.Ibu Cornelia S. Supriyati,Sekretaris Ibu Paroki Wilayah
2.Ibu Endang Sugondo,pengurus Wilayah
3.Bp. C. Agus Sutaryono,Sie Liturgi Wilayah
4.Ibu Margareta Sukesi,Utusan Ibu Paroki dari wilayah ke paroki
5.Ibu Agnes Wiwien YK,Ketua Tim Kerja PIR,Anggota Tim KKM Kevikepan
6.Bp. B. Totok Widaryanto, Ketua Wilayah Wilayah
7.Bp. E. Yusuf Kusuma,Kabid.TO & Paguyuban Paroki

Respon terhadap undangan ujub-ujub/doa keluarga sekitar 70%. Pengurus lingkungan sudah berupaya mengadakan pendekatan pada warga lingkungan yang pasif meski respon ybs masih belum seperti yang diharapkan.
Partisipasi umat dalam mengisi amplop persembahan masih belum 100%, dan langsung dimasukkan ke kotak persembahan di gereja.

PAGUYUBAN DAN KEGIATANNYA
Warga lingkungan bertemu dan berkumpul dalam pertemuan rutin tiap bulan tanggal 9 atau menyesuaikan bila ada kegiatan lain yang bersamaan. Pertemuan lain seperti pertemuan masa Adven, APP, BKSN, doa Rosario, Triduum Hari Paroki berjalan sesuai jadwal yang ditentukan dan masuk dalam program tahunan.
Beberapa kegiatan bergabung dengan Wilayah Cornelius, seperti paguyuban ibu-ibu, pendampingan iman keluarga dan pendampingan iman anak. Demikian juga pendampingan bagi yang akan menerima sakramen Baptis, Komuni pertama dan Krisma bergabung dengan wilayah.

Catatan :
Latihan koor lingkungan diadakan 1 atau 2 bulan sebelum bertugas dengan frekuensi 1 minggu 1x dan 1 minggu 2 x
Selain itu beberapa warga lingkungan juga terlibat dalam koor wilayah

INVENTARIS LINGKUNGAN
1 Arsip kartu KK warga lingkungan 65,Di Kaling
2 Buku notula rapat,Di sekretaris
3 Buku laporan pembukuan keuangan,Di bendahara
4 Peralatan misa:
a. Kasula
b. Piala
c. Sibori
d. Salib duduk
e. Wirug
Disimpan di ketua lingkungan

PERAN SERTA DALAM MASYARAKAT

1.Bp. B. Totok Widaryanto,Ketua RT 02 RW 09 Kelurahan Magelang
2.Ibu MM Juwahir,Sekretaris Paguyuban Lansia RW 02 Kelurahan Cacaban
3.Bp. C Agus Sutaryono,Sie Kas Sampah RW 02 Kelurahan Cacaban
4.Bp. Al. Joko Pamungkas,Wakil Ketua RT 03 RW 02 Kelurahan Cacaban
5.Ibu Yustina Joko Pamungkas,Ketua Dawis Teratai RW 02 Kelurahan
6.Bp. E. Yusuf Kusuma,Sie Simpan Pinjam Paguyuban bapak-bapak RT 03
RW 02 Kelurahan Cacaban,Sekretaris APINDO Kota Magelang,
Anggota Dewan Pengupahan Kota Magelang,Anggota Tripartit Kota
Magelang



NDABLEG 
Monday, February 8, 2010, 02:43 - Inspirasi Posted by Administrator
“Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa!” (Mrk 9:19)




Kerassssssssssss..... Sambil senyum-senyum, aku mentertawakan diriku sendiri: jangan-jangan aku termasuk yang hanya bisa diusir dengan doa... hahahahaha.... dari pertanyaan ini, mengalirlah permenunganku.
Mengapa hanya bisa diusir dengan berdoa. Terlalu beratkah? Rasanya kok emang terlalu berat sehingga hanya bisa diusir dengan doa. Yang terlalu berat, menurut aku, adalah NDABLEG. Aku agak sulit menterjemahan dan mengartikan kata ndableg ini. Biarlah tertulis seperti itu saja. Ada banyak contoh yang bisa disebutkan. Semua orang tau, klo tempat menaruh sampah itu di tempat sampah. Tapi kenapa ketika kita naik mobil lalu membuka jendela dan berrrrrrrrrrrrrrrr... sampah melayang entah kemana. Semua orang tau, klo mencuri itu dilarang. Tetapi kenapa masih ada saja orang yang melakukan aksi pencurian.. Dasar ndableg! Tau klo salah, tapi tetep aja dilakukan.
Mengapa dengan doa? Banyak orang bisa memberikan kesaksian bahwa doa yang dipanjatkan dengan sepenuh hati akan memiliki daya ubah yang luar biasa. Kalau pun tidak memiliki daya ubah untuk orang lain, akan mengubah diri sendiri. Dalam doa-doa kita, Allah berkarya secara luar biasa.
Ada seorang sahabat yang bertanya, “Mo, kok doaku itu-itu saja ya? Kadang jadi males.. bosen!”. hmmm... Mengapa bisa demikian? Ada berbagai kemungkinan: doa sejauh ada lama teks dan hafalan, doa sama dengan permohonan dan yang diminta cuma itu-itu melulu, de el el. Karenanya doa menjadi sebuah ritus yang membosankan. Bisa jadi lalu timbul pikiran, “Ah, Tuhan sudah tau!” Akhirnya malah tidak berdoa. Sekali lagi NDABLEG! Hehehehehe... Tentu kita pingin doa-doa kita menjadi doa yang hidup. Nah, doa itu pertama-tama syukur. Kalau doa itu adalah syukur kita, maka apa yang kita buat dan lakukan setiap hari merupakan bahan doa yang tak akan pernah habis, apalagi membosankan.

Ndablegkah Anda?

PROSES PEMBUATAN RAPB PAROKI 
Sunday, February 7, 2010, 17:10 - BERITA Posted by Administrator

Magelang - Seturut kebijakan Keuskupan Agung Semarang, setiap paroki wajib membuat Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Paroki. Seturut dengan kebijakan ini, Paroki Ignatius Magelang juga merencanakan dan membuat RAPB Paroki untuk tahun 2010. Proses pembuatan RAPB Paroki bukan sekali jadi, melainkan berjalan melalui berbagai tahap.

Tahap-tahap yang dilakukan menggunakan metode spirale pastoral. Tahap pertama adalah mengadakan evaluasi atas rencana dan pelaksanaan program anggaran 2009. Evaluasi program ini diadakan pada tanggal 5-6 Desember 2009. Dalam evaluasi berjudul rapat kerja itu, pengurus Dewan Paroki diajak untuk melihat program yang telah direncakan dan membuat evaluasi atas kegiatan tersebut. Selanjutnya mereka membuat rekomendasi untuk program 2010.


Setelah itu, proses kedua adalah penajaman rekomendasi yang telah dibuat. Penajaman rekomendasi ini dilaksanakan pada tanggal 16 desember 2009. Dalam penajaman ini, Romo paroki mengajak anggota dewan untuk melihat visi dan misi paroki ignatius pada tahun 2010. Dengan mengerti visi dan misi ini hendaknya program yang dibuat mengarah ke sana sehingga seluruh program yang akan dibuat terarah dan terorganisasi dengan baik. Harapannya, wajah Gereja Paroki Ignasius semakin tampak jelas. Selain itu, dijabarkan juga kebijakan-kebijakan pastoral yang dituangkan dalam memo keuangan pastor paroki.


Setelah penajaman rekomendasi ini, tim-tim kerja membuat program kerja tahun 2010. Setelah selsai membuat program, masing-masing tim kerja mempresentasikan program yang telah direncanakan di hadapan rapat dewan inti pada tanggal 20 Januari 2010. Presentasi program kerja ini cukup menarik karena diselingi dengan interupsi dan pertanyaan dari peserta rapat. Setelah presentasi program kerja selesai, romo paroki memberikan beberapa catatan yang penting: kepastian pelaksanaan, program yang sama dilakukan oleh beberapa tim kerja, urgensi program, dan penggunaan sumber dana. Rencana program diberikan kembali kepada tim kerja untuk diperbaharui.


Pada tanggal 4 Februari 2010, Tim khusus programasi mengadakan rapat untuk melihat dan menganalisa program kerja yang telah dibuat oleh tim-tim kerja. Tim Khusus ini bekerja keras untuk menganalisa program supaya program-program yang telah dibuat dapat berjalan sesuai dengan visi dan misi paroki tahun 2010 dan wajah gereja semakin ditampilkan.

PESAN SUCI  
Sunday, January 24, 2010, 03:15 - Inspirasi Posted by Administrator


Apa yang terjadi jika motivator Hermawan Kertajaya dan rohaniwan Romo Kirjito bertemu di sebuah gereja di lereng Merapi ? Mereka akan saling memberikan motivasi untuk menghadapi bangsa yang kian karut marut ? Mungkin. Namun yang jelas, di ketinggian dan keheningan Merapi, mereka menyelenggarakan syukuran 62 tahun hidup di dunia. Tentu mereka, pria – pria kencana yang telah mengabdikan kehidupan untuk membangkitkan semangat kemanusiaan orang lain tersebut, tak hanya akan meniup nyala lilin ulang tahun pada 18 November yang dingin dan disertai gerimis riwis itu. Karena itu mereka sepakat menyelenggarakan syukuran yang lebih bermakna, yakni meminta Orkes Sinten Remen pimpinan Djaduk Ferianto memainkan lagu – lagu kritis dan mengajak para wartawan berpameran foto. Djaduk dan kawan – kawan seperti biasa mengocok perut seisi Gubug Selo Merapi, tempat pertunjukan, dengan lagu – lagu kritis dan kocak. Merespons bangsa yang sedang dililit persoalan korupsi dan pertikaian antara Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK ) dengan Kepolisian dan Kejaksaan, Djaduk, Silir Pujiwati, dan Anita Siswanto melantunkan nomor ‘Maling Budiman’. Lagu yang antara lain menyndir para penegak hokum yang justru menjadi maling serta maling yang kian hari makin mulia ini, mendapat tepuk tangan riuh. Lagu ini juga membuat para penonton tertawa terbahak – bahak. ‘Ini sebenarnya bukan lagu baru. Tiga tahun lalu kami sudah menyanyikannya. Namun karena korupsi dan keinginan menjadikan bangsa ini sebagai ‘Negeri maling’ musim lagi, kami akhirnya melantunkannya berulang – ulang. Bahkan bersama lagu – lagu anti korupsi lain, lagu ini akan dijadikan sebagai ikon perlawanan terhadap maling dalam satu album’, kata Djaduk. Sinten Remen tak hanya mengkritik. Melantunkan ‘Imagine’ yang diplesetkan sebagai karya Mas Harjono dan bukan John Lenon, orkes sableng ini mengajak para penonton menghapus sekat – sekat yang menyebabkan perpecahan. Apakah lirik semacam ini cocok dinyanyikan disebuah dukuh di pegunungan yang sunyi? Sangat cocok. ‘Imagine’ tak dinyanyikan dalam nada yang asing bagi telinga awam. Silir, Anita, dan Djaduk yang berkostum layak santri ( bersarung dan berpeci) meskipun dia Katolik, menyanyikan, ‘ Imagine there’s no Heaven/ It’s easy if you try/ No hell below us only sky/ Imagine all people/ Living for today’ dalam irama keroncong yang kental. Karena itu pesan – pesan perdamaian bisa sampai. Yang tahu bahasa inggris mangut – mangut. Yang tak tahu juga mangut – mangut. Para santri yang nonton tak merasa mendapatkan lagu yang asing bagi telinga. Para suster dan umat Katolik juga tak merasa tengah berhadapan dengan mahkluk lucu yang menyanyikan lagu – lagu aneh di gereja mereka. Ya, akhirnya lirik ‘Imagine there’s no countries/ Isn’t hard to do/ Nothing to kill or die for/ And no religion too/ Imagine all the people/ Living life in peace’ yang dilantunkan secara kocak menjadikan suasana di Merapi sebagai malam penuh kedamaian dan perdamaian. Kritik Sosial Akan tetapi pesan suci perhelatan, yang disaksikan oleh penduduk setempat, wartawan dari berbagai penjuru, dan budayawan serta rohaniawan dari pelbagai kota itu, tak melulu pada masalah bagaimana menghilangkan persengketaan. Dalam pameran foto ‘Sedulur Merapi’, kita justru mendapatkan gugatan – gugatan spiritual dan sosial politik yang kental. Dengan dingin, lewat esai ‘Rebana Damai Lereng Merapi’ dalam katalog Sedulur Merapi, Romo Sindhunata, menjelaskan bagaimana peradaban Merapi berubah karena para pengusaha menggunakan back hoe untuk mengeruk pasir. Akibat alat berat mirip monster itu, tenaga manusia terpinggirkan, 600 truk beroperasi 24 jam, dan penduduk tak lagi bisa tidur dengan nyenyak. Kenyamanan telah digantikan deru truk, mata air hilang, debu – debu dan asap merusak tanaman. Sindhunata tak keliru. Lewat foto bertajuk ‘Protes begu’ karya V. Kirjito, para pengunjung pameran dipaksa menyaksikan raksasa tak kenal belas kasih itu mengeruk pasir hingga bumi tampak terluka. Penduduk desa tak bisa melakukan apa – apa kecuali menatap dengan sedih tanah kehidupan mereka dikeruk dan sebentar lagi dibawa ke kota. Hal sama juga tampak pada foto ‘Penambangan pasir dan batu’ karya Nina Atmasari. Dengan mengambil perspektif burung, Nina menyuguhkan pemandangan yang mengenaskan Desa Keningar yang sedang dihajar oleh para penambang pasir. Lubang – lubang menganga. Bukit – bukit gugruk. Hanya tersisa sedikit pohonan di bukit yang juga terancam dibabat dan diabaikan peran – perannya sebagai pelindung tanah dari bahaya longsor. Hal sama juga tampak pada foto Eddy Hasby, ‘Mengunjungi Umat Sungai Senowo’. Apa yang direkam oleh sang jurnalis ? Hasby hanya memunculkan sesosok manusia di hamparan sungai yang telah mengering. Pesannya sangat jelas. Ia ingin mewartakan kepada publik betapa penambangan yang semena – mena akan menghilangkan mata air. Dan penghilangan mata air berakibat pada penghilangan sungai. Penghilangan sungai, kita tahu akan menghilangkan kehidupan. Perlawanan Apakah dalam pameran foto – foto jurnalistik itu tak kita dapatkan perlawanan ? Tentu saja. Ada beberapa kategori perlawanan. Kategori ‘damai’ ditunjukkan, misalnya, oleh Kirjito lewat ‘Watu Semar’. Dalam foto itu, sang fotografer ingin menunjukkan pada kita, batu yang satu ini jangan dihabisi. Jika dihabisi juga, orang – orang tak akan bisa menyaksikan keindahan hamparan sawah, langit biru jernih, dan sungai berkelok – kelok di Desa Ngargomulyo. Hal senada tampak pada foto ‘Bermain Air di Dam Sabo’. Karya P. Raditya Mahendra yasa. Foto tentang anak – anak yang sedang bermain di air terjun itu mengisyaratkan kepada kita betapa pembabatan hutan yang semena – mena dan penghilangan mata air yang sembrono, akan menghilangkan ‘peradaban air’ di pegunungan – pegunungan kita. Adapun kategori yang lebih menggugat ditunjukkan, misalnya oleh Slamet Riadi dalam ‘Menjadi Teladan’ atau Yusuf Kusuma dalam ‘Riyaya Adi Gagrak Merapi’. Dalam foto – foto itu, manusia benar – benar ditinjukkan jatuh terkapar dan tak mampu berbuat apapun kecuali menyungkurkan diri di hadapan Sang Alam. Gugatannya jelas : Jangan bikin alam marah kepada kami. Jangan bikin mereka menghapus kami dari batu – batuan, keheningan air, dan kehijauan pohonan. Juga muncul kategori verbal dan frontal. Kategori semacam itu muncul dalam foto ‘Protes Pentakosta Air’ karya Yusuf Kusuma yang menggambarkan kemarahan orang karena sungai mereka telah tercemar sehingga mereka hidup dalam penderitaan yang tak tertangguhkan. Kirjito lewat foto ‘Aksi Keprihatinan Air’ bahkan bilang, ‘Tolong kami, Pasirku amblas, airku bablas’. Pendek kata sesungguhnya pameran 97 foto bertajuk Sedulur Merapi tak bisa hanya dianggap sebagai selebrasi sunyi untuk ulang tahun seorang resi. Foto – foto itu sebenarnya lebih merupakan representasi dan refleksi para jurnalis sahabat Romo Kirjito yang ingin menggugat keserakahan orang – orang kota yang merusak lingkungan Merapi. Foto – foto itu menjeritkan luka dan derita lingkungan sekaligus dengan samar memberikan solusi agar Merapi tetap asri dan menghidupi. Itulah pesan suci dari para ‘Sedulur Merapi’. ( Suara Merdeka, Bianglala – Minggu, 22 November 2009.)

<<First <Back | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang