Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
weNING lan duNUNG 
Saturday, February 13, 2010, 05:25 - Inspirasi Posted by Administrator
“Pergilah Ia ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah” (Luk 6:12)




Sibuk? Hmmmm... sudah demikian biasa! Rasa-rasanya tiada hari tanpa kesibukan. Ketika pekerjaan menumpuk, karena kemalasan untuk mengerjakan saja, rasanya waktu yang ada masih kurang. Jadilah lembur. Hari-hari diisi dengan bekerja dan bekerja, entah apa pun pekerjaan itu (kerja yang memang menguras tenaga dan pikiran, kerja yang nyante kayak fesbukan atau ngempe atau sekedar chatting, dan masih banyak lagi).
Byuhhh... kalau bicara rasa atau rasanya memang ‘ga akan ada habisnya!
Sebuah pertanyaan terlontar: dasar perutusan/pelayanan/pekerjaan itu apa? Orang bilang membangun rumah itu dibutuhkan pondasi yang kuat. Sebab dalam pondasi itulah akan diletakkan seluruh kerangka rumah. Semakin kuat pondasinya, semakin kokoh pula rumah itu. Tentu pernyataan ini harus diikuti dengan pernyataan sejauh rumahnya juga dibangun dengan baik.
Pertanyaannya sederhana, namun jawaban dari pertanyaan sederhana itu menjadi demikian rumit dan berbelit. Aku pun tidak segera bisa menjawab pertanyaan ini. Seperti kambing bendhot yang digiring ke kandangnya, aku mencoba menghitung waktuku dalam sehari.. Ya ampyuuunnnnn, ternyata... Ngeri, ach! Dengan rendah hati aku harus mengakui bahwa masih sedikit waktu aku gunakan untuk diam, hening di hadapan Dia! Sebab inilah dasar dari perutusan: keintiman relasi dengan Allah. Keintiman relasi itu dibangun atas dasar hidup doa! Tantangannya adalah istilah kerjaku adalah doaku! Hmmmm....bersembunyi di balik rasionalisasi!
Aku bersyukur bahwa aku boleh mengenal dan menghidupi Adorasi Ekaristi. Pengalaman Adorasi Ekaristi telah mulai membentukku untuk semakin intim dengan Tuhan. Dalam pengalaman beradorasi, aku dibawa untuk semakin masuk ke dalam diri, semakin mengenali diri! Di hadapan Dia yang bertahta dalam Sakramen Mahakudus, aku bisa menumpahkan segala keluh kesahku, beban-beban hidupku! Adorasi Ekaristi menjadi seperti air sejuk dan jernih yang mampu membasuh diriku dan melegakan dahagaku akan keheningan bersama Dia. Moga-moga menjadi jernih dan menep.
Melalui Adorasi Ekaristi aku diajak untuk terus mendasarkan diri pada Dia dalam setiap karya yang aku lakukan. Aku semakin disadarkan dalam setiap pelayanan: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh 3:30). (YSW)

NDABLEG 
Monday, February 8, 2010, 02:43 - Inspirasi Posted by Administrator
“Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa!” (Mrk 9:19)




Kerassssssssssss..... Sambil senyum-senyum, aku mentertawakan diriku sendiri: jangan-jangan aku termasuk yang hanya bisa diusir dengan doa... hahahahaha.... dari pertanyaan ini, mengalirlah permenunganku.
Mengapa hanya bisa diusir dengan berdoa. Terlalu beratkah? Rasanya kok emang terlalu berat sehingga hanya bisa diusir dengan doa. Yang terlalu berat, menurut aku, adalah NDABLEG. Aku agak sulit menterjemahan dan mengartikan kata ndableg ini. Biarlah tertulis seperti itu saja. Ada banyak contoh yang bisa disebutkan. Semua orang tau, klo tempat menaruh sampah itu di tempat sampah. Tapi kenapa ketika kita naik mobil lalu membuka jendela dan berrrrrrrrrrrrrrrr... sampah melayang entah kemana. Semua orang tau, klo mencuri itu dilarang. Tetapi kenapa masih ada saja orang yang melakukan aksi pencurian.. Dasar ndableg! Tau klo salah, tapi tetep aja dilakukan.
Mengapa dengan doa? Banyak orang bisa memberikan kesaksian bahwa doa yang dipanjatkan dengan sepenuh hati akan memiliki daya ubah yang luar biasa. Kalau pun tidak memiliki daya ubah untuk orang lain, akan mengubah diri sendiri. Dalam doa-doa kita, Allah berkarya secara luar biasa.
Ada seorang sahabat yang bertanya, “Mo, kok doaku itu-itu saja ya? Kadang jadi males.. bosen!”. hmmm... Mengapa bisa demikian? Ada berbagai kemungkinan: doa sejauh ada lama teks dan hafalan, doa sama dengan permohonan dan yang diminta cuma itu-itu melulu, de el el. Karenanya doa menjadi sebuah ritus yang membosankan. Bisa jadi lalu timbul pikiran, “Ah, Tuhan sudah tau!” Akhirnya malah tidak berdoa. Sekali lagi NDABLEG! Hehehehehe... Tentu kita pingin doa-doa kita menjadi doa yang hidup. Nah, doa itu pertama-tama syukur. Kalau doa itu adalah syukur kita, maka apa yang kita buat dan lakukan setiap hari merupakan bahan doa yang tak akan pernah habis, apalagi membosankan.

Ndablegkah Anda?

PESAN SUCI  
Sunday, January 24, 2010, 03:15 - Inspirasi Posted by Administrator


Apa yang terjadi jika motivator Hermawan Kertajaya dan rohaniwan Romo Kirjito bertemu di sebuah gereja di lereng Merapi ? Mereka akan saling memberikan motivasi untuk menghadapi bangsa yang kian karut marut ? Mungkin. Namun yang jelas, di ketinggian dan keheningan Merapi, mereka menyelenggarakan syukuran 62 tahun hidup di dunia. Tentu mereka, pria – pria kencana yang telah mengabdikan kehidupan untuk membangkitkan semangat kemanusiaan orang lain tersebut, tak hanya akan meniup nyala lilin ulang tahun pada 18 November yang dingin dan disertai gerimis riwis itu. Karena itu mereka sepakat menyelenggarakan syukuran yang lebih bermakna, yakni meminta Orkes Sinten Remen pimpinan Djaduk Ferianto memainkan lagu – lagu kritis dan mengajak para wartawan berpameran foto. Djaduk dan kawan – kawan seperti biasa mengocok perut seisi Gubug Selo Merapi, tempat pertunjukan, dengan lagu – lagu kritis dan kocak. Merespons bangsa yang sedang dililit persoalan korupsi dan pertikaian antara Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK ) dengan Kepolisian dan Kejaksaan, Djaduk, Silir Pujiwati, dan Anita Siswanto melantunkan nomor ‘Maling Budiman’. Lagu yang antara lain menyndir para penegak hokum yang justru menjadi maling serta maling yang kian hari makin mulia ini, mendapat tepuk tangan riuh. Lagu ini juga membuat para penonton tertawa terbahak – bahak. ‘Ini sebenarnya bukan lagu baru. Tiga tahun lalu kami sudah menyanyikannya. Namun karena korupsi dan keinginan menjadikan bangsa ini sebagai ‘Negeri maling’ musim lagi, kami akhirnya melantunkannya berulang – ulang. Bahkan bersama lagu – lagu anti korupsi lain, lagu ini akan dijadikan sebagai ikon perlawanan terhadap maling dalam satu album’, kata Djaduk. Sinten Remen tak hanya mengkritik. Melantunkan ‘Imagine’ yang diplesetkan sebagai karya Mas Harjono dan bukan John Lenon, orkes sableng ini mengajak para penonton menghapus sekat – sekat yang menyebabkan perpecahan. Apakah lirik semacam ini cocok dinyanyikan disebuah dukuh di pegunungan yang sunyi? Sangat cocok. ‘Imagine’ tak dinyanyikan dalam nada yang asing bagi telinga awam. Silir, Anita, dan Djaduk yang berkostum layak santri ( bersarung dan berpeci) meskipun dia Katolik, menyanyikan, ‘ Imagine there’s no Heaven/ It’s easy if you try/ No hell below us only sky/ Imagine all people/ Living for today’ dalam irama keroncong yang kental. Karena itu pesan – pesan perdamaian bisa sampai. Yang tahu bahasa inggris mangut – mangut. Yang tak tahu juga mangut – mangut. Para santri yang nonton tak merasa mendapatkan lagu yang asing bagi telinga. Para suster dan umat Katolik juga tak merasa tengah berhadapan dengan mahkluk lucu yang menyanyikan lagu – lagu aneh di gereja mereka. Ya, akhirnya lirik ‘Imagine there’s no countries/ Isn’t hard to do/ Nothing to kill or die for/ And no religion too/ Imagine all the people/ Living life in peace’ yang dilantunkan secara kocak menjadikan suasana di Merapi sebagai malam penuh kedamaian dan perdamaian. Kritik Sosial Akan tetapi pesan suci perhelatan, yang disaksikan oleh penduduk setempat, wartawan dari berbagai penjuru, dan budayawan serta rohaniawan dari pelbagai kota itu, tak melulu pada masalah bagaimana menghilangkan persengketaan. Dalam pameran foto ‘Sedulur Merapi’, kita justru mendapatkan gugatan – gugatan spiritual dan sosial politik yang kental. Dengan dingin, lewat esai ‘Rebana Damai Lereng Merapi’ dalam katalog Sedulur Merapi, Romo Sindhunata, menjelaskan bagaimana peradaban Merapi berubah karena para pengusaha menggunakan back hoe untuk mengeruk pasir. Akibat alat berat mirip monster itu, tenaga manusia terpinggirkan, 600 truk beroperasi 24 jam, dan penduduk tak lagi bisa tidur dengan nyenyak. Kenyamanan telah digantikan deru truk, mata air hilang, debu – debu dan asap merusak tanaman. Sindhunata tak keliru. Lewat foto bertajuk ‘Protes begu’ karya V. Kirjito, para pengunjung pameran dipaksa menyaksikan raksasa tak kenal belas kasih itu mengeruk pasir hingga bumi tampak terluka. Penduduk desa tak bisa melakukan apa – apa kecuali menatap dengan sedih tanah kehidupan mereka dikeruk dan sebentar lagi dibawa ke kota. Hal sama juga tampak pada foto ‘Penambangan pasir dan batu’ karya Nina Atmasari. Dengan mengambil perspektif burung, Nina menyuguhkan pemandangan yang mengenaskan Desa Keningar yang sedang dihajar oleh para penambang pasir. Lubang – lubang menganga. Bukit – bukit gugruk. Hanya tersisa sedikit pohonan di bukit yang juga terancam dibabat dan diabaikan peran – perannya sebagai pelindung tanah dari bahaya longsor. Hal sama juga tampak pada foto Eddy Hasby, ‘Mengunjungi Umat Sungai Senowo’. Apa yang direkam oleh sang jurnalis ? Hasby hanya memunculkan sesosok manusia di hamparan sungai yang telah mengering. Pesannya sangat jelas. Ia ingin mewartakan kepada publik betapa penambangan yang semena – mena akan menghilangkan mata air. Dan penghilangan mata air berakibat pada penghilangan sungai. Penghilangan sungai, kita tahu akan menghilangkan kehidupan. Perlawanan Apakah dalam pameran foto – foto jurnalistik itu tak kita dapatkan perlawanan ? Tentu saja. Ada beberapa kategori perlawanan. Kategori ‘damai’ ditunjukkan, misalnya, oleh Kirjito lewat ‘Watu Semar’. Dalam foto itu, sang fotografer ingin menunjukkan pada kita, batu yang satu ini jangan dihabisi. Jika dihabisi juga, orang – orang tak akan bisa menyaksikan keindahan hamparan sawah, langit biru jernih, dan sungai berkelok – kelok di Desa Ngargomulyo. Hal senada tampak pada foto ‘Bermain Air di Dam Sabo’. Karya P. Raditya Mahendra yasa. Foto tentang anak – anak yang sedang bermain di air terjun itu mengisyaratkan kepada kita betapa pembabatan hutan yang semena – mena dan penghilangan mata air yang sembrono, akan menghilangkan ‘peradaban air’ di pegunungan – pegunungan kita. Adapun kategori yang lebih menggugat ditunjukkan, misalnya oleh Slamet Riadi dalam ‘Menjadi Teladan’ atau Yusuf Kusuma dalam ‘Riyaya Adi Gagrak Merapi’. Dalam foto – foto itu, manusia benar – benar ditinjukkan jatuh terkapar dan tak mampu berbuat apapun kecuali menyungkurkan diri di hadapan Sang Alam. Gugatannya jelas : Jangan bikin alam marah kepada kami. Jangan bikin mereka menghapus kami dari batu – batuan, keheningan air, dan kehijauan pohonan. Juga muncul kategori verbal dan frontal. Kategori semacam itu muncul dalam foto ‘Protes Pentakosta Air’ karya Yusuf Kusuma yang menggambarkan kemarahan orang karena sungai mereka telah tercemar sehingga mereka hidup dalam penderitaan yang tak tertangguhkan. Kirjito lewat foto ‘Aksi Keprihatinan Air’ bahkan bilang, ‘Tolong kami, Pasirku amblas, airku bablas’. Pendek kata sesungguhnya pameran 97 foto bertajuk Sedulur Merapi tak bisa hanya dianggap sebagai selebrasi sunyi untuk ulang tahun seorang resi. Foto – foto itu sebenarnya lebih merupakan representasi dan refleksi para jurnalis sahabat Romo Kirjito yang ingin menggugat keserakahan orang – orang kota yang merusak lingkungan Merapi. Foto – foto itu menjeritkan luka dan derita lingkungan sekaligus dengan samar memberikan solusi agar Merapi tetap asri dan menghidupi. Itulah pesan suci dari para ‘Sedulur Merapi’. ( Suara Merdeka, Bianglala – Minggu, 22 November 2009.)
TEPAS, PILKADA, DAN PILIHAN SEMPURNA (catatan kecil Tepas 2010) 
Wednesday, January 20, 2010, 23:24 - Inspirasi Posted by Administrator
Kau genggam tanganku saat diriku lemah dan terjatuh. Kau bisikan kata, dan hapus semua sesalku. Kau begitu sempurna, dimataku kau begitu indah. Kau membuat diriku akan selalu memujamu. Di setiap langkahku, ku akan selalu memikirkan dirimu. Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu………. ‘. Demikian bunyi syair lagu ‘Sempurna’ yang dinyanyikan oleh Gita Gutawa. Barangkali sosok ideal seperti yang digambarkan dalam lagu itulah yang kita cari untuk dipilih pada Pemilihan Kepala Daerah ( PILKADA ) tahun 2010 ini. Paling tidak yang mengarah mendekati ideal sempurna. Tapi apakah mungkin ? Tentu tidak, karena ‘kesempurnaan’ adalah milik Tuhan Sang Politikus sejati. Apalagi hanya dalam waktu yang sangat singkat melalui pencitraan lewat media untuk bisa menjadi orang baik ( ? ). Dengan peserta yang memiliki peluang yang sama untuk dipilih, maka akan memunculkan persaingan yang sangat ketat dalam memperebutkan suara. Disamping itu, ketersediaan informasi, kecerdasan dan wawasan pemilih bisa dibilang sangat terbatas. Salah satu agenda umat di Keuskupan Agung Semarang ( KAS ) tahun 2010, dibeberapa kota/ kabupaten di wilayah kerja KAS adalah turut melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah. Tercatat dalam paparan hari kedua Temu Pastoral ( TEPAS ) 2010 di Klaten yang berlangsung pada tanggal 13 – 14 Januari 2010 lalu, diantaranya ; Kota Pekalongan – 7 April 2010, Kabupaten Kebumen – 11 April 2010, Kota Semarang – 18 April 2010, Kabupaten Purbalingga – 18 April 2010, Kota Surakarta – 26 April 2010, Kabupaten Rembang – 26 April 2010, Kabupaten Boyolali - 9 Mei 2010, Kabupaten Sukoharjo – 3 Juni 2010, Kabupaten Kendal – 6 Juni 2010, Kota Magelang – 6 Juni 2010, Kabupaten Semarang – 31 Juli 2010, dan Kabupaten Purworejo, Wonosobo, Wonogiri, Klaten, Pemalang – antara Juli sampai Desember 2010. PILKADA merupakan salah satu kegiatan dalam rangkaian proses demokrasi di Indonesia. Sebuah demokrasi yang autentik bukan sekedar hasil pelaksanaan formal sebuah aturan, melainkan buah dari pengakuan dan keyakinan akan nilai – nilai yang menjadi sumber ilham prosedur demokrasi , yakni martabat pribadi manusia, penghargaan atas paham hak asasi manusia, pengakuan kesejahteraan umum sebagai tujuan dan kriteria kehidupan politik. Secara umum dapat dikatakan strategis, karena lewat Pilkada maka proses pelimpahan kekuasaan dan distribusi kewenangan masuk dalam kerangka Pemerintahan yang sehat. Untuk memilih yang terbaik jelas sangat sulit, butuh proses yang lama. Namun meski semua daftar pilihan belum ideal saat ini, minimal dapat melihat bagaimana track record nya ditengah masyarakat. ‘Pilkada adalah membangun otoritas politik di daerah. Dan otoritas politik harus menciptakan kehidupan komunitas yang tertata dan benar, yang tidak dapat menggantikan prakarsa pribadi dan kelompok, tetapi dalam penghargaan terhadap kebebasan individual dan sosial setiap subyek mempengaruhi dan mengarahkan prakarsa tersebut guna perwujudan kesejahteraan umum’ (Kompedium ASG, 394). Oleh sebab itu sejenak perlu mencari waktu dan kesempatan untuk mengenali semua peserta Pilkada yang ada atau ditawarkan di wilayah kita masing – masing, dan juga kepribadian peserta Pilkada lebih dari hanya mengenal nama dan gambarnya saja. Menggunakan hak pilih akan lebih baik. Tidak perlu apriori bahwa hasilnya pasti buruk. ‘ Kita tidak memilih yang terbaik, melainkan mencegah yang paling buruk. Kalau kita tidak ikut, suara kita otomatis menguntungkan yang lain – lain, termasuk mereka yang jelas – jelas tidak kita kehendaki’. ( Frans Magnis Suseno, SJ.). Dengan demikian pemasangan foto – foto di jalanan tentu akan kurang bermanfaat lagi. Yang terpenting bagaimana kedekatan calon kepala daerah dengan masyarakat. E. Yusuf Kusuma

<<First <Back | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 |

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang