Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
HARI ANAK MISIONER KE 169 
Sunday, January 8, 2012, 19:43 - BERITA Posted by Administrator


Minggu pagi hingga siang kemarin 8 Januari 2012, pelataran Gereja St. Theresia Salam yang berada disebelah utara sungai Krasak dan menjadi batas antara Kabupaten Magelang dan Kabupaten Sleman DIY. dipenuhi oleh anak – anak dan remaja dari berbagai daerah se eks. Karesidenan Kedu. Hentakan alunan suara rebana yang ditabuh anak - anak dari Paroki Salam mengiringi langkah sekitar 1000 anak memasuki perayaan peringatan Hari Anak Misioner ke 169 yang bertepatan dengan Hari Penampakan Tuhan ( Kalender Gereja Katolik ).
Hari Anak Misioner lahir lewat Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner yang memiliki arah pembinaan terhadap perlindungan dan hak – hak azasi anak. Anak – anak dan remaja pantas mendapatkan perhatian, perlindungan dan kasih sayang bukan karena keturunan ras, golongan atau status sosial tertentu, melainkan karena didalam diri anak – anak dan remaja sendiri memang berharga dan bermartabat. Hal ini sejalan dengan konvensi internasional PBB tentang perlindungan dan hak azasi anak. Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner merupakan gerakan internasional dari anak – anak yang paling tua diseluruh dunia. Gerakan ini di Indonesia baru dimulai sekitar tahun 1970.



Peringatan Hari Anak Misioner ke 169 ini dirayakan dengan Ekaristi/ Misa yang dipimpin secara konselebran (bersama – sama) oleh Romo FX. Krisno Handoyo, Pr. Romo Vikep. Kedu, Romo L. Issri Purnomo, Pr. Romo Paroki Salam dan Romo M. Nur Widi, Pr., Romo Komisi Karya Misioner Keuskupan Agung Semarang dengan didukung oleh anak – anak dari Paroki – paroki se Kevikepan Kedu, meliputi Salam, Muntilan, Sumber, Tumpang, Mertoyudan, Magelang, Temanggung, Parakan dan Rowoseneng. Masing – masing anak dari paroki masing – masing tampil dengan kekhasannya. Melalui perayaan ini anak – anak dan remaja diajak rela dan bersedia mengambil bagian dalam perutusan Gereja untuk menjadi bintang, bukan hanya sebagai objek melainkan subyek yang rela dan bersedia membagikan apa yang menjadi miliknya meskipun sedikit kepada anak – anak lain, rela berbagi secara nyata dengan saling menerima teman yang berlainan budaya, talenta, juga agama.

Mendung tipis di langit Salam tidak mengurangi keceriaan anak – anak dan remaja mengikuti acara demi acara. Sambil melantunkan kidung – kidung gerejawi dengan berbagai iringan musik dari alat – alat musik etnik seperti calung, ketipung, kendang hingga alat musik modern gitar, elekton, anak – anak juga memadukan gerakan – gerakan tari – tarian. Dalam membuka perayaan Romo Krisno mengajak anak – anak dan remaja se Kevikepan Kedu untuk menjadi bintang sebagaimana bintang yang membimbing tiga orang Raja dari timur menemukan Sang Juru Selamat Yesus yang lahir lebih dari 2000 tahun yang lalu. Sosok 3 raja menggambarkan orang memiliki kekuasaan sebagai raja, namun sangat bijaksana dalam mengamalkan panggilannya dan selalu menyertakan Sang Pencipta dalam setiap keputusan – keputusan dalam melakoni kehidupannya. Kisah tiga raja ini juga yang diangkat oleh anak – anak dari Dusun Juwono Sumber dalam bentuk teaterikal dengan balutan nuansa pedesaan khas lereng gunung Merapi. Sementara itu Romo Issri bersama anak – anak dari SMA Seminari Menengah Mertoyudan bertutur tentang kasih dan solideritas lewat tokoh boneka dalam serial ‘Teletabis’.


E. Yusuf Kusuma, Ketua Komisi Komunikasi Kevikepan Kedu.


OPEN HOUSE \\\' NATAL 2011 
Sunday, December 25, 2011, 16:40 - BERITA Posted by Administrator



‘Open House’ Natal 2011 di Gereja St. Ignatius Magelang.

Udara dingin dan cuaca mendung mewarnai acara ‘open house’ Natal Gereja St. Ignatius Magelang, Minggu 25 Desember 2011 di pelataran belakang pastoran St. Ignatius Magelang. Hujan rintik – rintik dan alunan tembang ‘mocopat’ membuka acara sederhana yang dihadiri oleh Walikota Ir. H. Sigit Widyonindito, MT., Wakilwalikota Joko Prasetyo, SE., Sekda Drs. Sugiharto, Ketua DPRD. M. Hasan Suryoyudho, SH.MH. jajaran Muspida dan sejumlah Kapala SKPD Kota Magelang serta para tokoh agama dan tamu undangan dari berbagai organisasi kemasyarakatan.

Dalam pengantarnya Romo Paroki St. Ignatius Magelang FX. Krisno Handoyo, Pr. menyampaikan visi program kerja umat Katolik hingga 5 tahun kedepan sebagaimana termuat dalam ‘roadmap’/ peta jalan pencapaian Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang 2011 – 2015 yang dirumuskan dengan P4, yaitu ; Pendalaman iman yang mendalam dan tangguh, Peran serta umat dalam kehidupan sosial, politik dan kemasyarakatan, Pemberdayaan kaum KLMTD ( Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir dan Difabel serta anak berkebutuhan khusus, dan Pelestarian keutuhan ciptaan.

Lebih lanjut dikatakan Romo Krisno yang juga Romo Vikep Kedu ini mengenai data Litbang Paroki St. Ignatius Magelang sehubungan keterlibatan umat Katolik dalam Pemilu yang lalu adalah 96,73% dari total umat yang berjumlah lebih dari 4000 orang. Juga mengenai tingkat kepercayaan umat terhadap Pemerintah yang 94,72 %., ini artinya masih ada umat yang merasa sakit hati. Oleh karena itu mohon maaf dan berharap agar pada Pemerintahan yang sekarang ini dibawah kepemimpinan Walikota Bapak Sigit Widyonindito dapat menyembuhkan rasa sakit hati tersebut, sehingga umat Katolik di kota Magelang menjadi Gereja yang semakin dimampukan menjadi gereja yang signifikan dan relewan.

Walikota Magelang H. Sigit Widyonindito dalam sambutannya menyampaikan bahwa dalam satu setengah tahun pemerintahannya ini baru merupakan awal dalam mewujudkan visinya menjadikan kota Magelang sebagai kota harapan, kota jasa yang aman, sejahtera dan berkeadilan, dan menjadi kota sejuta bunga. Dengan mulai menata kota dan memperbaiki kinerja pemerintahan, layanan - layanan publik maka akan menarik investor baik dari luar maupun dalam kota sendiri, sehingga diharapkan pada gilirannya akan mensejahterakan masyarakat.

Momentum Natal 2011 dalam ‘open house’ Gereja St. Ignatius Magelang yang berlangsung sekitar dua jam ini nampaknya melewati pesan – pesan verbal yang seringkali disampaikan dalam perayaan – perayaan Natal, namun justru menjadi bermakna dialog antara pemerintah dan masyarakat dalam mencoba menterjemahkan visi membangun kota Magelang agar lebih baik, lebih signifikan dan relevan serta lebih mensejahterakan rakyatnya.


Magelang, 25 Desember 2011
( E. Yusuf Kusuma, Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu )







Kunjungan Pastoral Bapak Uskup dan Penerimaan Sakramen Penguatan 
Monday, September 5, 2011, 16:38 - BERITA Posted by Administrator

suasana wawan hati


Hari Minggu, 4 September 2011, menjadi hari yang istimewa bagi Paroki St Ignatius Magelang. Hari ini sebanyak 146 umat menerima Sakramen Penguatan dari tangan Mgr Johannes Pujasumarta. Rencananya penerimaan sakramen ini akan diadakan pada tanggal 3 September. Mengingat adanya liburan Idul Fitri, penerimaan sakramen Penguatan diundur tanggal 4 September 2011 pukul 16.30.


Mgr Puja memberikan pengantar didampingi Rm Krisno


Dalam kotbahnya, Mgr Puja mengajak umat untuk terus menggelorakan semangat iman berkat Roh Kudus yang telah diterima oleh setiap umat. "Salah satu bentuk keteladanan dalam menggelorakan semangat iman tampak dalam gambar yang ada dalam tongkat kegembalaan ini. Di sini digambarkan ada seekor burung Pelikan dan anak-anaknya. Yang menarik, induk burung ini terlihat sedang mencucukkan paruh di dadanya sendiri. Mengucurlah darah. Dari darah inilah, anak-anak burung Pelikan itu dapat hidup" demikian tegas Mgr Puja.


Rm Krisno saat memberikan pengantar sekaligus pemaparan dinamika umat st Ignatius


Setelah penerimaan Sakramen Penguatan diadakan acara ramah tamah dan wawanhati perwakilan umat dengan Mgr Pujasumarta. Pada kesempatan ini Rm Krisno Handoyo memberikan laporan perkembangan situasi dan dinamika umat. "Kesan umum gereja itu hanya berkutat di seputar altar. Namun, hal itu tidak lagi tampak dalam tahun-tahun terakhir di Ignatius. Seturut dinamika keuskupan, Paroki Ignatius menempatkan bidang Litbang pada urutan pertama. Hal ini berkaitan dengan konsientisasi Arah Dasar KAS yang pada tahun pertama menitikberatkan pada pendataan. Urutan kedua adalah bidang pewartaan. Jika ditelusur, gerakan untuk menjadikan imam semakin mendalam dan tangguh menjadi dasar sehingga bidang ini menempati urutan kedua. setelah itu disusul bidang liturgi. Iman yang mendalam dan tangguh semakin ditampakkan dalam tindakan ritual" demikian paparan Rm Krisno dengan gayanya yang khas.


umat tampak serius mengikuti wawan hati


Dalam wawanhati ini, Arah Dasar KAS menjadi sorotan utama. Pembicaraan diarahkan supaya Arah Dasar ini semakin membumi dan semakin berdaya guna bagi umat.


Rm Martoyoto tampak setia dan tekun mengikuti wawan hati


Umat cukup antusias untuk mengikuti wawanhati ini. Akhirnya wawanhati ini berakhir pada pukul 21.00. Masih ada pekerjaan rumah: bagaimana membawa hasil wawanhati ini ke umat sehingga umat yang tidak mengikuti acara ini pun dapat ikut merasakan dan dapat semakin terlibat membangun Gereja seturut peran dan fungsinya.

SEMINAR IBU DAN ANAK 
Sunday, August 7, 2011, 18:29 - BERITA Posted by Administrator


Bidang Pelayanan Kemasyarakatan mengadakan Seminar Ibu dan Anak dengan tema "MENGENAL BAHASA KASIH IBU-ANAK". Seminar ini diadakan pada hari Minggu & Agustus 2011 bertempat di Gedung Mandala.

Dalam sambutannya, Romo Krisno Handoyo mengajak peserta untuk menyadari bahwa bahasa kasih orang tua hendaknya menjadi cerminan bahasa kasih Allah sendiri.



Sementara Ibu Arum Widinugraheni M.Psi yang menjadi pembicara tunggal dalam seminar tersebut mengajak para peserta untuk mengambangkan pola komunikasi yang baik sehingga pendidikan informal dalam keluarga terjadi secara sehat. Dengan adanya pola komunikasi yang sehat, bisa dipastikan terjalinlah sebuah komunikasi kasih yang mesra dalam keluarga. Melalui film-film pendek yang dipertontonkan Ibu Arum mengajak para peserta sadar bahwa ada demikian banyak pola komunikasi salah yang selama ini terjadi. Pola komunikasi yang salah misalnya teguran "JANGAN ..." Teguran memang baik, tetapi jika salah menempatkan maka teguran itu bisa berakibat sebaliknya. Seorang anak yang ditegur jangan nakal, maka yang terpikir dalam benak anak itu adalah nakalnya.



Pada bagian akhir, Ibu Arum mengingatkan orang tua agar berhati-hati dalam bertindak dan berbicara. Apa yang didengar oleh anak, itulah yang dilakukan oleh anak. Apa yang dilihat oleh anak, itulah contoh yang juga akan dilakukannnya. "Children see, children do," demikian tegas ibu Arum.



<<First <Back | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang