Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
JEMBATAN PUTUS ANCAM MAGELANG 
Wednesday, January 19, 2011, 14:54 - BERITA Posted by Administrator


Satu per satu jembatan yang semula berdiri kokoh di atas sungai yang berhulu di Gunung Merapi mengalami kerusakan hingga ambrol. Putusnya jembatan-jembatan ini tentu meresahkan masyarakat. Selama ini jembatan menjadi akses menuju ke desa lain. Tanpa keberadaan jembatan antar desa itu, masyarakat harus memutar lebih jauh.

Jembatan yang pertama kali ambrol adalah jembatan di Srowol. Jembatan ini merupakan jembatan vital karena menjadi jalur menuju obyek wisata Candi Mendut dan Borobudur. Runtuhnya jembatan Srowol ini menjadikan masyarakat yang mengambil jalan Kalibawang menuju Mendut atau Borobudur harus memutar lebih jauh dengan melewati Muntilan. Runtuhnya jembatan Srowol ini semakin meresahkan ketika sungai Putih di daerah Jumoyo meluap. Kendaraan yang tertahan baik dari arah Muntilan maupun dari arah Jogjakarta tidak bisa mengakses jembatan ini. Akibatnya, masyarakat harus memutar lebih jauh lagi dengan kondisi jalan yang lebih sempit. Jembatan ini pernah diganti dengan jembatan buatan. Namun, jembatan buatan ini pun tidak kuasa menahan derasnya banjir lahar dingin hingga mengalami kerusakan dan tidak bisa digunakan lagi.



Setelah jembatan Srowol, disusul jembatan-jembatan kecil lainnya. Jembatan besar yang terakhir ambrol adalah jembatan Tlatar. Putusnya jembatan Tlatar ini menjadikan warga masyarakat di lima desa di Kecamatan Dukun, Magelang, was-was. Jembatan Tlatar runtuh pada Sabtu, 15 Januari 2011, lalu. Runtuhnya jembatan Tlatar ini telah melumpuhkan akses Sawangan-Dukun dan sebaliknya. Bahkan, transaksi antara pedagang dan petani dari kawasan utara Merapi dan barat Merbabu menjadi terganggu. Mereka harus menumpang di areal parkir obyek wisata Ketep. Semula, Sub Terminal Agribisnis ini berada di desa Sewukan. Akibat putusnya jembatan Tlatar, ongkos menjadi mahal karena mereka harus berputar belasan kilometer melalui Muntilan.

Setelah jembatan Tlatar ini runtuh, masyarakat di Dukun dan sekitarnya tinggal memiliki satu jembatan yang bisa menghubungkan ke lima desa itu, yaitu jembatan Talun. Ke lima desa itu adalah Desa Sewukan, Desa Mangunsongo, Desa Krinjing, Desa Paten, dan Desa Sengi. Apabila jembatan Talun ini ikut runtuh, maka sudah bisa dipastikan ke lima desa ini akan terisolir. Akses untuk masuk dan kular menjadi sangat sulit. Hal ini disebabkan ke lima desa tersebut diapit oleh sungai Senowo, Pabelan, dan Tlingsing. Keberadaan jembatan Talun ini sangat vital bagi masyarakat.



Harapan tinggal bertumpu pada jembatan Talun. Bahkan, tidak hanya penting untuk ke lima desa tersebut. Jembatan Talun juga penting bagi masyarakat di Boyolali. Sejumlah desa di Kecamatan Selo, terutama desa Tlogolele, akan terisolir mengingat dam Klakah yang berada di sungai Apu juga sudah jebol diterjang lahar dingin. Jembatan Talun kini menjadi demikian penting bagi masyarakat Dukun dan sekitarnya. Kondisi ini harus diantisipasi sejak dini. Jembatan Talun harus diselamatkan untuk menjamin akses jalan bagi masyarakat.



Penyelamatan akses jembatan tidak hanya untuk jembatan Talun saja. Jembatan Kali Putih di Jumoyo dan jembatan Pabelan pun harus diselamatkan. Volume lahar dingin yang melewati Kali Putih melebihi ambang batas dari yang seharusnya melewati alur sungai. Akibatnya lahar dingin meluap dan menimbulkan kerugian yang luar biasa. Kondisi jembatan yang kecil tidak mampu menampung volume lahar dingin yang besar. Benturan batu-batu besar dengan konstruksi jembatan akan menggerus pondasi jembatan. Lama-kelamaan, jembatan bisa ambrol. Apalagi, jembatan ini juga dilewati oleh kendaraan besar dengan tonase yang besar pula, mengingat jembatan Kali Putih merupakan akses utama Jogja-Magelang dan sebaliknya.



Masih ada satu lagi jembatan yang kondisnya telah mengkhawatirkan, yaitu jembatan Pabelan. Jembatan ini pun memiliki arti penting karena menjadi jalan utama Magelang-Jogja atau sebaliknya. Jembatan ini kondisinya masih bagus, tetapi tebing-tebing di sekitar jembatan telah longsor sedikit demi sedikit. Gerusan banjir lahar dingin harus diwaspadai karena gerusan ini pun bisa menggerogoti pondasi jembatan Pabelan. Jika jembatan ini putus, Muntilan terisolir. Akses menuju Magelang/ Semarang dan menuju Jogja menjadi sulit. Pilihannya tinggal melalui Boyolali atau Purworejo. Jika ini terjadi, bisa dipastikan kehidupan masyarakat Muntilan akan lumpuh.

Pemerintah harus tanggap dengan situasi ini. Kondisi jembatan-jembatan utama yang ada di Magelang harus diperhatikan. Jembatan sebagai akses vital masyarakat harus diselamatkan.

RAKER DP PAROKI 2010 
Thursday, December 16, 2010, 12:50 - BERITA Posted by Administrator

Romo Krisno sedang memaparkan proyek pastoral 2011

Bandungan - Ditengah dinginnya hawa pegunungan, Dewan Paroki St Ignatius Magelang mengadakan Rapat Kerja. Raker ini diadakan di Wisma Shallom Bandungan pada tanggal 11-12 Desember 2010.

Dalam rapat kerja yang diikuti 127 orang anggota Dewan ini dibahas mengenai pelaksanaan program kerja 2010. Proses evaluasi ini dipandu oleh Romo Wito. "Gerak Paroki telah dituntun oleh visi dan misi paroki. Motto Berubah untuk Berbuah menjadi reffrein yang terus menerus didengungkan. Namun, roh dari visi dan misi belum menjadi roh program kerja. Buktinya,banyak program kerja yang tidak menjawan fokus pastoral 2010: pemberdayaan paguyuban," demikian kesimpulan yang disampaikan oleh Romo Wito.


Keseriusan para peserta RaKer dalam berdiskusi


Setelah mengadakan evaluasi, para peserta raker diajak untuk membuat potret paroki Ignatius. Berangkat dari potret yang ada inilah akan dirumuskan tujuan program tahun 2011. Adapun tujuan program selama tahun 2011 adalah "Berdayanya KLMTD sehingga Gereja Ignatius menjadi semakin relevan dan signifikan". Tujuan ini dibreak-down lagi menjadi beberapa tujuan jangka pendek yang hendak dicapai selama tahun tahun 2011. Dengan segala kemampuan yang ada, para peserta berjuang untuk sampai pada rumusan capaian atau tujuan. Rumusan capaian inilah yang nantinya akan menjadi dasar bagi tim-tim kerja dalam membuat program kerja tahun 2011.

Meski pun belum sempurna, namun antusiasme para peserta patut mendapat acungan jempol. Para peserta demikian bersemangat untuk mengikuti proses dan mencapai hasil yang diinginkan.

pada bagian akhir, Romo Krisno Handoyo menyampaikan dasar-dasar pastoral di paroki Ignatius. Romo Krisno menjelaskan Arah Dasar KAS tahun 2011-2015. Romo KRisno juga menjelaskan kembali Visi dan Misi Paroki yang telah dirumuskan oleh paroki Ignatius. Tak lupa, aneka kebijakan pastoral yan gakan dilakukan pada tahun 2011 juga disosialisakan. Harapannya umat semakin terbuka dan terus berani berubah dan merubah.


saah satu gambaran keseriusan peserta dalam raker 2010


Yang patut dicatat pada raker ini adalah banyaknya anggota dewan yang mau meluangkan waktu mengikuti raker. Raker tahun ini adalah rekor terbaru paroki ignatius karena jumlah peseta yang mencapai 127. Ada sekitar 14 orang yang sudah mendaftar namun berhalangan hadir. Keseriusan para peserta pun patut diacungi jempol.

Selamat
BERITA DUKA DI PENGUNGSIAN 
Friday, November 12, 2010, 15:50 - BERITA Posted by Administrator

Pagi ini, suasana pengungsian di Posko St Ignatius terasa berbeda. Salah seorang pengungsi meninggal dunia. Beliau adalah Ibu Ikem Ahmad Pawiro. Meninggal dalam usia 90 tahun di RSU Tidar Magelang. Beliau meninggal sekitar pukul 03.00 WIB.

Setelah disucikan, jenasah disemayamkan di Panti Bina Bhakti Gereja Ignatius dan dilanjutkan dengan pemberangkatan jenasah ke nDiwak, Sumber, Dukun,, Magelang.

Kami, segenap relawan Posko St Ignatius, mengucapkan bela sungkawa yang dalam kepada keluarga yang ditinggalkan. Semoga arwah ibu Ikem di terima Allah dan dipersatukan dengan para kudus-Nya dalam keabadian di Surga. Selamat jalan ibu.

dan semoga segenap rombongan yang mengantar dianugerahi kelancaran dan tidak ada halangan suatu apa pun.
ADA SARA DI PENGUNGSIAN 
Thursday, November 11, 2010, 20:30 - BERITA Posted by Administrator

Ketika Gunung Merapi meletus, ada banyak korban. Tidak hanya korban nyawa, tapi juga ternak dan alam. Atas peristiwa itu, banyak orang mengulurkan tangan dan memberikan simpati dalam bentuk apa pun, baik dalam ukuran besar atau pun bantuan dalam ukuran kecil. Bantuan-bantuan itu diberikan dengan tulus. Tak ada paksaan.

Hingga kini bencana belum kelar. Hingga hari ini pun masih banyak para pengungsi yang kesulitan mendapatkan logisktik untuk memenuhi kebutuhan mereka. Bahkan tidak hanya para pengungsi, tetapi masyarakat sekitar pengungsian pun mulai menjadi “pengungsi”. Lumpuhnya pasar Muntilan menjadikan masyarakat ikut kelabakan. Korban-korban baru bermunculan.



Hebatnya, muncul bencana baru lagi di pengungsian: ISU SARA. Beberapa orang datang ke pos pengungsian dan mendesak para relawan untuk memindahkan para pengungsi dengan alasan SARA. Yang ini bukan hanya isu, tetapi sudah terjadi di Yogya. Situasi ini pun membayangi posko pengungsian di Gereja Ignatius Magelang. Tadi malam, Tim Relawan, anggota keamanan, dan perangkat desa yang berasal dari para pengungsi berkumpul untuk membicarakan isu ini.
Dari pertemuan itu disepakati jika sekelompok itu datang ke Gereja Ignatius, maka yang akan menghadapi adalah para pengungsi sendiri. Merekalah yang akan memutuskan apakah akan meninggalkan posko Gereja Ignatius atau tetap tinggal. “Kami merasa aman dan nyaman di sini. Bahkan kami diberi fasilitas lebih untuk menunaikan ibadah kami. Tempat untuk sholat disediakan. Kami tidak merasa bahwa kami dipaksa untuk menjadi katolik. Aneh-aneh saja orang-orang itu. Waktu kemarin terjadi bencana, orang-orang itu kemana? Kok sekarang mereka baru muncul”, komentar salah seorang prangkat desa yang beragama Muslim.



Posko Gereja Ignatius memang memberikan fasilitas kepada berbagai agama yang ingin memberikan bantuan, baik berupa barang maupun moril. Jika kita datang ke posko tersebut, kita akan menjumpai sekelompok anak-anak muda yang berjilbab. Mereka menjadi relawan di posko itu. Ada yang menjadi relawan kesehatan. Ada yang memberikan pembelajaran untuk anak-anak dengan outbound. Tanpa canggung mereka membantu para pengungsi, tanpa memandang agama mereka apa. Pada hari-hari tertentu, posko ini juga mendatangkan Kyai untuk memberikan siraman rohani. Semua diberi tempat dan ruang.



“Misi kami adalah misi kemanusiaan, bukan agama. Kebetulan saja tempatnya ada di Gereja. Kami berusaha sekuat tenaga untuk membantu mereka. Ketika ada saudara kita yang menderita, apakah kita akan bertanya dahulu agama mereka apa? Jika seagama kita turun menolong. Jika tidak seagama, kita biarkan orang itu. Apakah demikian? Para pengungsi itu sudah menderita. Apakah kita masih akan menambahi penderitaan mereka dengan isu murahan seperti itu?” ungkap salah seorang romo selaku penanggung jawab posko tersebut.



Bencana Gunung Merapi masih panjang. Tak tahu kapan bencana ini akan berakhir. Tidak hanya kebutuhan jangka pendek, tapi ada kebutuhan jangka panjang yang masih harus dipikirkan. Bukannya turun untuk membantu para pengungsi, malah ada yang memanas-manasi situasi dengan aksi bernuansa SARA. Haruskah dibuat pembedaan: POSKO PENGUNGSI MUSLIM, POSKO PENGUNGSI KATOLIK, POSKO PENGUNGSI KRISTEN, POSKO PENGUNGSI HINDU, POSKO PENGUNGSI BUDHA, POSKO PENGUNGSI KONGHUCU, atau yang sejenisnya? Jika ya, sanggup ga ngurusinya?


<<First <Back | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang