Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
Napak Tilas Romo van Lith. 
Monday, July 8, 2013, 16:36 - BERITA Posted by Administrator


Senja Sabtu kemarin ( 6 Juli 2013 ) matahari masih menyisakan cahaya kemuning di pelataran pastoran gereja St. Antonius Muntilan saat lebih 500 umat mengikuti perayaan Ekaristi di gedung Gereja yang terletak di ujung utara sebelah barat kompleks bangunan tua itu. Ada sekitar 100 OMK ( Orang Muda Katolik ) se Kevikepan Kedu saat itu juga beranjak menelusuri jejak jalan Romo van Lith menuju ke Sendangsono Kalibawang, Kulon Progo DIY. tempat dahulu pada tahun 1904 pastor Belanda yang membawa misi agama Katolik ke tanah Jawa ini membabtis 171 warga setempat, termasuk ‘simbah’ Barnabas sarikromo katekis pribumi pertama di wilayah itu, yang berarti juga sebagai katekis pertama di Pulau Jawa, bahkan di Indonesia.



‘Tidak ada benda satupun yang ditinggalkan Romo van Lith kepada kita. Di Museum Misi Muntilan tidak akan ditemukan barang-barang warisan yang bisa kita lihat. Seperti halnya Yesus juga tidak meninggalkan warisan apa – apa yang berupa barang, kayu salib atau bahkan paku yang digunakan untuk menyalibkan tubuh-Nya pun tidak diketahui ada dimana. Namun Romo van Lith telah meninggalkan semangat ! Semangat mewartakan kabar gembira keselamatan, mewartakan Kristus. Semangat misi di tanah Jawa’, demikian disampaikan Romo M. Nurwidi Pranoto Pr. Direktur Museum Misi Muntilan dalam pengantarnya saat membuka acara dan melepas OMK untuk ‘Napak Tilas Romo van Lith’.



Perjalanan napak tilas yang didampingi oleh Romo Yupi Lustanaji Pr Komisi Kepemudaan Kevikepan Kedu ini dimulai dari pemakaman kerkof Muntilan tempat Romo van Lith dimakamkan dan melalui beberapa pos menelusuri jalan sepanjang sekitar 35 km di perbukitan Menoreh. ‘Di masing-masing pos OMK akan diajak menggali nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh Romo van Lith hingga nanti berakhir di pemakaman Barnabas Sarikromo di kompleks Sendangsono dengan menabur bunga’, demikian dikatakan Henrikus koordinator ‘Napak Tilas Romo van Lith’. Sementara itu mengakhiri pengantarnya Romo Nurwidi berharap : ‘Dari perjalanan Napak Tilas Romo van Lith ini harapannya akan ada buah yang dibagikan, yakni buah iman, buah keselamatan dan buah kebahagiaan’.



Magelang, 6 Juli 2013

Saresehan Sosial Kemasyarakatan dan Politik 
Monday, June 24, 2013, 18:23 - BERITA Posted by Administrator


Indonesia kedepan adalah Indonesia yang plural dan berkeadilan. Untuk mewujudkan itu perlu keterlibatan seluruh warga Negara tanpa terkecuali, lebih-lebih kaum mudanya agar kaderisasi bangsa ini tidak terlambat dan tertinggal dengan bangsa – bangsa lain. Keterlibatan tidak harus sebagai pelaku politik praktis, namun juga bisa sebagai pengamat atau terlibat melalui berbagai organisasi kemasyarakatan. Demikian dikatakan MM Restu Hapsari dari National Board Taruna Merah Putih dihadapan 50 OMK (Orang Muda Katolik) di Wisma Salam Kabupaten Magelang Sabtu-Minggu kemarin (22-23 Juni 2013).



Lebih lanjut dikatakan mantan Ketua PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia) Solo tahun 1997-1998 ini bahwa ;’Plural dan berkeadilan berarti sudah tidak ada lagi kesenjangan sosial yang kelewat timpang, perlakuan dan kesempatan sama kepada setiap warga negara disegala bidang, dan tidak ada lagi kebijakan yang diskriminatif’.





Hadir juga sebagai nara sumber dalam saresehan yang diselenggarakan oleh bidang kemasyarakatan gereja paroki St. Ignatius Magelang itu antara lain ; R.Sugihartanto Pr Ketua Komisi Pelayanan Kemasyarakatan Keuskupan Agung Semarang, Andreas Pandeangan Anggota Komisi Pemilihan Umum Jawa Tengah, FX. Sarkum Ketua Bidang Pelayanan Kemasyarakatan Gereja St. Ignatius Magelang dan HY.Endi Darmawan SH Ketua DPC. PDIP Kota Magelang.





Pada bagian lain Romo AR. Yudono Suwondo Pr Pastor Gereja Paroki St. Ignatius Magelang mengatakan :’Gereja sangat mendukung keterlibatan OMK dalam berpolitik agar terjadi perubahan menuju tatanan yang lebih baik. Ikut terlibat dalam politik bukan berarti untuk mendapatkan kekuasaan, namun memperjuangkan kesejahteraan bersama menuju keadaban publik. Menjadi politikus yang ‘bonum commune’ (mewujudkan kesejahteraan umum). Politikus yang berpihak kepada mereka yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir’.



‘Berpolitik adalah pilihan sekaligus perutusan yang benar-benar bertujuan memerdekakan atau membebaskan manusia dari belenggu dosa dan belenggu kekuasaan duniawi. Itulah yang menjadi dasar dari bentuk-bentuk keterlibatan umat Katolik dalam dunia politik dan sosial kemasyarakatan pada umumnya’, demikian AR Yudono Suwondo menutup serangkaian acara yang berlangsung selama 2 hari itu,

Pastor Edwin dari Washington DC pimpin Misa konselebrasi 
Monday, June 17, 2013, 18:22 - BERITA Posted by Administrator




Misa Minggu pagi di Gereja St. Ignatius Magelang kemarin ( 16 Juni 2013 ) menjadi istimewa karena dipimpin secara konselebrasi oleh 5 imam dengan konselebran utama pastor Edwin Bernard Timothy OP. dari Washington DC, USA. Dalam Misa yang dihadiri oleh lebih 1000 umat Katolik, pastor Edwin yang keluarga besarnya berasal dari Kota Magelang ini konselebrasi bersama FX. Krisno Handoyo Pr Vikep Kedu, AR.Yudono Suwondo Pr Pastor Paroki St. Ignatius Magelang, E. Rusgiarto Pr Pastor Paroki Promasan Sendangsono dan Pater Carolus dari biara St. Yohannes di Perancis.





Dalam pengantarnya Vikep Kedu Krisno mengatakan :’ Perayaan Misa syukur ini menjawab kerinduan umat St.Ignatius akan adanya panggilan putra – putri Gereja baik sebagai imam, bruder atau suster. Cukup lama di Gereja ini mengalami kekosongan akan panggilan putra - putrinya sebagai biarawan maupun biarawati. Kehadiran pastor Edwin yang meskipun tidak tinggal disini, namun keluarga besarnya berasal dari Kota Magelang ini semoga mampu memberi dorongan kepada anak-anak akan panggilannya sebagai imam, bruder atau suster’.





Sementara itu Pastor Edwin yang baru ditahbiskan menjadi imam 24 Mei 2013 lalu di Gereja St.Dominic, Washington DC, USA oleh Uskup Christopher Cardone OP ini dalam homilinya (kotbah) mengatakan : ‘Di jaman modern ini tampaknya perbuatan dosa sudah semakin tidak bisa dirasakan lagi oleh manusia. Demikian juga soal pengampunan, memberi maaf. Betapa sulitnya orang saat ini untuk meminta maaf, apalagi memberi maaf. Seolah-olah hilang gigi balas dengan gigi. Nyawa balas dengan nyawa’.





Lebih lanjut dikatakan Edwin yang juga telah menyelesaikan S2 ekonominya di Amerika ini ; ‘Padahal dengan memberi maaf, memberi pengampunan, kita akan menjadi lega, lalu bisa merasakan betapa rahmat Tuhan atas kehidupan yang kita alami ini dan kemudian lalu memiliki rasa syukur. Dalam setiap perkara kita selalu dihadapkan kepada 2 pilihan. Jika menyadari sebagai orang berdosa dan dengan rendah hati kita akan selalu mohon pengampunan pada Tuhan sekaligus memberi maaf kepada siapa saja, maka kita akan menjadi damai dan rahmat Tuhan akan melimpah. Marilah kita selalu memilih untuk memberi dan jangan pernah berpikir untuk menerima’.





Revitalisasi Deklarasi Ganjuran di Pastoran Sanjaya Muntilan  
Saturday, June 15, 2013, 17:53 - BERITA Posted by Administrator


Revitalisasi Deklarasi Ganjuran di Pastoran Sanjaya Muntilan Kamis-Jum’at kemarin ( 13-14 Juni 2013 ) dihadiri oleh 70 peserta diantaranya DR.Wiryono Priyatamtama SJ Rektor Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, FX. Krisno Handoyo Pr Vikep Kedu, Ir. Agus Liem BPPKP Kabupaten Magelang, DR. Lindayani Fakultas Teknologi Pertanian Unika Soegiyapranoto Semarang, DR.M.Endang Sulastri Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta, Sebastian Saragih FAO Indonesia dan sejumlah penggerak tani nelayan lestari dari berbagai daerah di Jateng – DIY ini Vikjen Keuskupan Agung Semarang ( KAS ) FX. Sukendar Pr membuka dengan Arah Dasar KAS dan Nota Pastoral Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) 2013 yang mengetengahkan keterlibatan Gereja dalam melestarikan keutuhan ciptaan.



‘Keterlibatan umat dalam memulihkan dan melestarikan keutuhan ciptaan bukan semata-mata didorong oleh adanya kerusakan lingkungan hidup, tetapi merupakan perwujudan iman akan Allah Sang Pencipta dan Pemelihara kehidupan’. Lebih lanjut dikatakan,’Iman yang hidup dan penuh kasih menjadi dasar spiritualitas segala upaya untuk mendatangkan keselamatan bagi semua ciptaan’.





Hari Pangan Sedunia pada tahun 1990 yang lalu di Ganjuran Yogyakarta dihadiri oleh para petani dari berbagai daerah di Jawa - Sumatera dan para utusan dari Philipina, India, Amerika Serikat, Australia dan Irlandia telah melahirkan Deklarasi Ganjuran. Ada 4 aspek pokok yang menjadi pilar penyangga dalam deklarasi yang juga menghadirkan narasumber diantaranya ; Bupati Bantul, DR.Lukman Sutrisno Universitas Gadjah Mada, DR.JB.Bonowiratmo SJ, Prof. DR. Ignatius Suharyo Pr dari Universitas Sanata Dharma dan DR.Paul Wiryono SJ Universitas Timor Timur Dili. Keempat pilar tersebut ecologically sound, economically feasible, culturally adopted/rooted dan socially just.



‘Membangun paradigma baru dalam hubungan antar sektor manufakturing dan sektor pensuplai bahan mentah atau tenaga kerja menjadi penting, bukannya paradigma pengkulian tetapi paradigma persahabatan, misalnya dengan profit sharing, pemilikan saham, bea siswa dan sejenisnya. Dalam hal ini dibutuhkan Revitalisasi Rerum Novarum (Hak dan kewajiban modal dan Tenaga kerja)’, demikian dikatakan G. Utomo, Pr Moderator WFDFFM ( The World Food Day Farmer’s and Fishermen’s Movement ). Lebih lanjut dikatakan :’ Amanat pokok Deklarasi Ganjuran tahun 1990 mengajak masyarakat untuk membangun pertanian dan pedesaan yang lestari, yang bersahabat dengan alam, murah secara ekonomis, sesuai dan berakar pada budaya setempat dan berkeadilan sosial untuk siapa saja dan apa saja (manusiawi dan kosmik). Sehingga menjadi berkat bagi siapa saja dan apa saja demi keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan’.



Rektor USD Wiryono mengingatkan bahwa budaya bertani dewasa ini semakin tidak diminati oleh generasi muda, maka proses regenerasi menjadi sangat mendesak. ‘Tantangan besar bagi kita semua adalah generasi muda sekarang ini sudah tidak peduli lagi pada dunia pertanian’, demikian tuturnya. Sementara itu R.Sapto Nugroho Pr Penggerak Sosial Ekonomi (PSE) Gereja St. Maria Fatima Magelang yang menjadi moderator diskusi mengatakan : ‘Revitalisasi Deklarasi Ganjuran ini adalah upaya melahirkan predator untuk melawan monster kapitalis yang memiskinkan petani dan nelayan. Semangat Ganjuran adalah spiritualitas untuk kembali membangun wajah Tuhan yang telah rusak. Membangun kembali relasi yang humanis dengan alam semesta’.



E. Yusuf Kusuma ( Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu )


<<First <Back | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang