Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
Saresehan Sosial Kemasyarakatan dan Politik 
Monday, June 24, 2013, 18:23 - BERITA Posted by Administrator


Indonesia kedepan adalah Indonesia yang plural dan berkeadilan. Untuk mewujudkan itu perlu keterlibatan seluruh warga Negara tanpa terkecuali, lebih-lebih kaum mudanya agar kaderisasi bangsa ini tidak terlambat dan tertinggal dengan bangsa – bangsa lain. Keterlibatan tidak harus sebagai pelaku politik praktis, namun juga bisa sebagai pengamat atau terlibat melalui berbagai organisasi kemasyarakatan. Demikian dikatakan MM Restu Hapsari dari National Board Taruna Merah Putih dihadapan 50 OMK (Orang Muda Katolik) di Wisma Salam Kabupaten Magelang Sabtu-Minggu kemarin (22-23 Juni 2013).



Lebih lanjut dikatakan mantan Ketua PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia) Solo tahun 1997-1998 ini bahwa ;’Plural dan berkeadilan berarti sudah tidak ada lagi kesenjangan sosial yang kelewat timpang, perlakuan dan kesempatan sama kepada setiap warga negara disegala bidang, dan tidak ada lagi kebijakan yang diskriminatif’.





Hadir juga sebagai nara sumber dalam saresehan yang diselenggarakan oleh bidang kemasyarakatan gereja paroki St. Ignatius Magelang itu antara lain ; R.Sugihartanto Pr Ketua Komisi Pelayanan Kemasyarakatan Keuskupan Agung Semarang, Andreas Pandeangan Anggota Komisi Pemilihan Umum Jawa Tengah, FX. Sarkum Ketua Bidang Pelayanan Kemasyarakatan Gereja St. Ignatius Magelang dan HY.Endi Darmawan SH Ketua DPC. PDIP Kota Magelang.





Pada bagian lain Romo AR. Yudono Suwondo Pr Pastor Gereja Paroki St. Ignatius Magelang mengatakan :’Gereja sangat mendukung keterlibatan OMK dalam berpolitik agar terjadi perubahan menuju tatanan yang lebih baik. Ikut terlibat dalam politik bukan berarti untuk mendapatkan kekuasaan, namun memperjuangkan kesejahteraan bersama menuju keadaban publik. Menjadi politikus yang ‘bonum commune’ (mewujudkan kesejahteraan umum). Politikus yang berpihak kepada mereka yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir’.



‘Berpolitik adalah pilihan sekaligus perutusan yang benar-benar bertujuan memerdekakan atau membebaskan manusia dari belenggu dosa dan belenggu kekuasaan duniawi. Itulah yang menjadi dasar dari bentuk-bentuk keterlibatan umat Katolik dalam dunia politik dan sosial kemasyarakatan pada umumnya’, demikian AR Yudono Suwondo menutup serangkaian acara yang berlangsung selama 2 hari itu,

Pastor Edwin dari Washington DC pimpin Misa konselebrasi 
Monday, June 17, 2013, 18:22 - BERITA Posted by Administrator




Misa Minggu pagi di Gereja St. Ignatius Magelang kemarin ( 16 Juni 2013 ) menjadi istimewa karena dipimpin secara konselebrasi oleh 5 imam dengan konselebran utama pastor Edwin Bernard Timothy OP. dari Washington DC, USA. Dalam Misa yang dihadiri oleh lebih 1000 umat Katolik, pastor Edwin yang keluarga besarnya berasal dari Kota Magelang ini konselebrasi bersama FX. Krisno Handoyo Pr Vikep Kedu, AR.Yudono Suwondo Pr Pastor Paroki St. Ignatius Magelang, E. Rusgiarto Pr Pastor Paroki Promasan Sendangsono dan Pater Carolus dari biara St. Yohannes di Perancis.





Dalam pengantarnya Vikep Kedu Krisno mengatakan :’ Perayaan Misa syukur ini menjawab kerinduan umat St.Ignatius akan adanya panggilan putra – putri Gereja baik sebagai imam, bruder atau suster. Cukup lama di Gereja ini mengalami kekosongan akan panggilan putra - putrinya sebagai biarawan maupun biarawati. Kehadiran pastor Edwin yang meskipun tidak tinggal disini, namun keluarga besarnya berasal dari Kota Magelang ini semoga mampu memberi dorongan kepada anak-anak akan panggilannya sebagai imam, bruder atau suster’.





Sementara itu Pastor Edwin yang baru ditahbiskan menjadi imam 24 Mei 2013 lalu di Gereja St.Dominic, Washington DC, USA oleh Uskup Christopher Cardone OP ini dalam homilinya (kotbah) mengatakan : ‘Di jaman modern ini tampaknya perbuatan dosa sudah semakin tidak bisa dirasakan lagi oleh manusia. Demikian juga soal pengampunan, memberi maaf. Betapa sulitnya orang saat ini untuk meminta maaf, apalagi memberi maaf. Seolah-olah hilang gigi balas dengan gigi. Nyawa balas dengan nyawa’.





Lebih lanjut dikatakan Edwin yang juga telah menyelesaikan S2 ekonominya di Amerika ini ; ‘Padahal dengan memberi maaf, memberi pengampunan, kita akan menjadi lega, lalu bisa merasakan betapa rahmat Tuhan atas kehidupan yang kita alami ini dan kemudian lalu memiliki rasa syukur. Dalam setiap perkara kita selalu dihadapkan kepada 2 pilihan. Jika menyadari sebagai orang berdosa dan dengan rendah hati kita akan selalu mohon pengampunan pada Tuhan sekaligus memberi maaf kepada siapa saja, maka kita akan menjadi damai dan rahmat Tuhan akan melimpah. Marilah kita selalu memilih untuk memberi dan jangan pernah berpikir untuk menerima’.





Revitalisasi Deklarasi Ganjuran di Pastoran Sanjaya Muntilan  
Saturday, June 15, 2013, 17:53 - BERITA Posted by Administrator


Revitalisasi Deklarasi Ganjuran di Pastoran Sanjaya Muntilan Kamis-Jum’at kemarin ( 13-14 Juni 2013 ) dihadiri oleh 70 peserta diantaranya DR.Wiryono Priyatamtama SJ Rektor Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, FX. Krisno Handoyo Pr Vikep Kedu, Ir. Agus Liem BPPKP Kabupaten Magelang, DR. Lindayani Fakultas Teknologi Pertanian Unika Soegiyapranoto Semarang, DR.M.Endang Sulastri Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta, Sebastian Saragih FAO Indonesia dan sejumlah penggerak tani nelayan lestari dari berbagai daerah di Jateng – DIY ini Vikjen Keuskupan Agung Semarang ( KAS ) FX. Sukendar Pr membuka dengan Arah Dasar KAS dan Nota Pastoral Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) 2013 yang mengetengahkan keterlibatan Gereja dalam melestarikan keutuhan ciptaan.



‘Keterlibatan umat dalam memulihkan dan melestarikan keutuhan ciptaan bukan semata-mata didorong oleh adanya kerusakan lingkungan hidup, tetapi merupakan perwujudan iman akan Allah Sang Pencipta dan Pemelihara kehidupan’. Lebih lanjut dikatakan,’Iman yang hidup dan penuh kasih menjadi dasar spiritualitas segala upaya untuk mendatangkan keselamatan bagi semua ciptaan’.





Hari Pangan Sedunia pada tahun 1990 yang lalu di Ganjuran Yogyakarta dihadiri oleh para petani dari berbagai daerah di Jawa - Sumatera dan para utusan dari Philipina, India, Amerika Serikat, Australia dan Irlandia telah melahirkan Deklarasi Ganjuran. Ada 4 aspek pokok yang menjadi pilar penyangga dalam deklarasi yang juga menghadirkan narasumber diantaranya ; Bupati Bantul, DR.Lukman Sutrisno Universitas Gadjah Mada, DR.JB.Bonowiratmo SJ, Prof. DR. Ignatius Suharyo Pr dari Universitas Sanata Dharma dan DR.Paul Wiryono SJ Universitas Timor Timur Dili. Keempat pilar tersebut ecologically sound, economically feasible, culturally adopted/rooted dan socially just.



‘Membangun paradigma baru dalam hubungan antar sektor manufakturing dan sektor pensuplai bahan mentah atau tenaga kerja menjadi penting, bukannya paradigma pengkulian tetapi paradigma persahabatan, misalnya dengan profit sharing, pemilikan saham, bea siswa dan sejenisnya. Dalam hal ini dibutuhkan Revitalisasi Rerum Novarum (Hak dan kewajiban modal dan Tenaga kerja)’, demikian dikatakan G. Utomo, Pr Moderator WFDFFM ( The World Food Day Farmer’s and Fishermen’s Movement ). Lebih lanjut dikatakan :’ Amanat pokok Deklarasi Ganjuran tahun 1990 mengajak masyarakat untuk membangun pertanian dan pedesaan yang lestari, yang bersahabat dengan alam, murah secara ekonomis, sesuai dan berakar pada budaya setempat dan berkeadilan sosial untuk siapa saja dan apa saja (manusiawi dan kosmik). Sehingga menjadi berkat bagi siapa saja dan apa saja demi keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan’.



Rektor USD Wiryono mengingatkan bahwa budaya bertani dewasa ini semakin tidak diminati oleh generasi muda, maka proses regenerasi menjadi sangat mendesak. ‘Tantangan besar bagi kita semua adalah generasi muda sekarang ini sudah tidak peduli lagi pada dunia pertanian’, demikian tuturnya. Sementara itu R.Sapto Nugroho Pr Penggerak Sosial Ekonomi (PSE) Gereja St. Maria Fatima Magelang yang menjadi moderator diskusi mengatakan : ‘Revitalisasi Deklarasi Ganjuran ini adalah upaya melahirkan predator untuk melawan monster kapitalis yang memiskinkan petani dan nelayan. Semangat Ganjuran adalah spiritualitas untuk kembali membangun wajah Tuhan yang telah rusak. Membangun kembali relasi yang humanis dengan alam semesta’.



E. Yusuf Kusuma ( Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu )

150 tahun kelahiran Romo van Lith : Si Tukang Kebon yang mencintai benih-benihnya. 
Tuesday, May 28, 2013, 17:56 - BERITA Posted by Administrator


Keberagaman budaya melalui berbagai kesenian menjadi wajah peringatan 150 tahun kelahiran Romo van Lith yang bertajuk ‘Dari Muntilan Merajut Indonesia’ di Muntilan selama 3 hari berturut-turut, Jum’at hingga Minggu kemarin ( 24-26 Mei 2013). Diawali dengan penyalaan obor api van Lith oleh RB. Ryo Mursanto SJ Provinsial Jesuit Indonesia di Kerkof tempat Romo van Lith dimakamkan, kemudian di arak menuju kompleks Gereja St. Antonius dengan diiringi marching band dari SMA Bentara Budaya Muntilan dan kesenian kentongan dari SMA Negeri I Dukun.







Ikut dalam perarakan itu diantaranya DR. G. Budi Subanar SJ dosen program pasca sarjana fakultas budaya dan religi Universitas Sanata Dharma Yogya, V. Suryatmo Suryawiyata SJ Pastor Kepala Paroki St. Antonius Muntilan, AL. Martoyoto Wiyono Pr Pastor Kepala Paroki St. Maria Lourdes Sumber, Direktur Museum Misi Muntilan M. Nurwidi Pranoto Pr dan ratusan siswa – siswi SMA PL. van Lith.







Performa menarik ditampilkan oleh para siswa SMA Seminari St. Petrus Canisius Mertoyudan dengan mengusung ‘ogoh-ogoh’ yang menggambarkan keserakahan manusia sehingga alam yang semestinya dijaga untuk kelangsungan hidup menjadi rusak dan mengancam kematian. Sebagai wujud ruwatan dan memberi makna serta tekad untuk selalu mencintai dan merawat lingkungan hidup, para seminaris ( sebutan untuk siswa SMA Seminari ) lalu membakar musnah ‘ogoh-ogoh’.







Pada bagian lain juga diadakan penanaman pohon sawo kecik dihalaman sekolah SMP Kanisius, pelepasan balon dan merpati sebagai lambang menanam kebajikan dan menebarkan kedamaian. Tampil juga pada kesempatan itu kesenian Jaranan Kreasi Muda dari SMA Sedes Sapientiae Bedono, Tari-tarian modern dari SMA Stella Duce II Yogya, SMA PIKA Semarang dan group band dari SMA Tarakanita Magelang.





Puncak acara diperingati dengan Misa Syukur konselebrasi yang dipimpin oleh Uskup Agung Semarang Mgr. Johannes Pujasumarta bersama dengan 25 konselebran, diantaranya Kardinal Julius Darmoatmojo, RB. Ryo Mursanto SJ Provinsial Jesuit Indonesia, Ant.Budi Wihandono Pr Pamong Seminari St. Petrus Canisius Mertoyudan dan Direktur Museum Misi Muntilan M. Nurwidi Pranoto Pr. Dalam perayaan yang digelar dihalaman SMP Kanisius kompleks Gereja St. Antonius Muntilan ini dihadiri oleh sekitar 3000 umat Katolik dari berbagai daerah di Indonesia. Melalui homili (kotbah) nya Uskup Agung Semarang mengajak seluruh umat untuk selalu mencintai benih-benih kebaikan. ‘Romo van Lith adalah seorang tukang kebon yang baik. Ia mencintai benih-benih, Ia mencintai anak-anak sehingga memiliki masa depan. Bila Indonesia sekarang mencintai anak-anak, maka Indonesia akan memiliki masa depan. Dalam salah satu suratnya Romo van Lith menuliskan ; Aku telah melihat kebaikan dalam diri mereka yang telah diciptakan oleh Bapa kita semua, jiwa-jiwa diciptakan menurut gambaran Allah, ramah, pantas untuk dicintai dan mampu untuk mencinta. Aku sudah mulai mencintai orang-orang Jawa dan bersedia untuk memulai lagi dengan salah satu cara, karya diantara mereka dan bagi mereka’. Demikian dikatakan Mgr. Puja. Sementara itu Provinsial Jesuit Indonesia Ryo Mursanto mengakhiri kata sambutannya dengan mengajak kepada seluruh umat Katolik di Indonesia untuk selalu menjaga ‘Bhineka Tunggal Ika’.







Menutup serangkaian peringatan 150 tahun kelahiran Romo van Lith, sekitar 300 seniman petani Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) Kabupaten Magelang menggelar kolaborasi berbagai seni kerakyatan yang bertajuk ‘Pancadriya Kuwalik (Pancaindera terbalik)’. Dengan membawa potret Romo van Lith dan mengusung DR.G. Budi Subanar SJ Ketua Panitia Peringatan 150 tahun Romo van Lith yang adalah juga budayawan ini, para seniman petani memulai prosesi yang menggambarkan kedatangan Romo van Lith di tanah misi Muntilan dengan memasuki gerbang kompleks Gereja. Dengan diikuti oleh para seniman yang mengenakan bermacam-macam kostum pementasan mereka menyampaikan salam kepada Uskup Agung Semarang yang berada di tangga bangunan tua bergaya Eropah sebagai rasa hormat dalam budaya Jawa. Berturut-turut tampil diarena depan Museum Misi mengelilingi kolam monumen Romo van Lith adalah tari-tarian mulai dari ‘Warok Bocah’, ‘Bedoyo Kuwalik’, ‘Geculan Bocah’, ‘Buto Ijo’, ‘Buto Edan’, ‘Topeng Ireng’, ‘Lengger Gunung’ dan beberapa performa lainnya yang menggambarkan keadaan sosial dewasa ini serba terbalik.

E. Yusuf Kusuma ( Ketua Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu )


<<First <Back | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang