Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
SISA-SISA KENANGAN ERUPSI MERAPI 
Sunday, February 13, 2011, 01:28 Posted by Administrator


Peristiwa erupsi Gunung Merapi pada bulan Oktober dan November 2010 tergolong yang paling mencengangkan sekaligus mencekam. Betapa tidak. Durasi letusan itu sendiri amat lama dan sulit diprediksi, muntahan lava luar biasa banyak (diperkirakan mencapai 170 juta m3). Ditambah lagi bencana pasca letusan berupa banjir lahar dingin yang merusakkan 14 jembatan, derasnya banjir pasir dan batu yang meluluh-lantakkan desa Jemoyo, Gempol, Sirahan dan sekitarnya, hingga sekarang nampaknya masih belum berakhir.
Belum lagi lahar dingin sebanyak 70 juta m3 yang saat ini masih mengisi kali Gendol, hulu sungai Opak, yang sewaktu-waktu bila hujan deras terjadi akan mambahayakan daerah aliran sungai Opak.
Di sini pembaca kami ajak menyaksikan satu fenomena lain dari saat-saat kritis letusan Merapi. Saat letusan besar sedang terjadi, bola api besar menyeruak keluar dari kepundan. Luar biasanya, beberapa saat kemudian setelah lava pijar mulai meluncur turun, dari jauh terlihat seperti figur CORPUS CHRISTI yang ada di salib.
Satu foto kami ambil dari http://my.opera.com/thetomster/blog, satu lagi kiriman dari seorang relasi di Jakarta, tanpa menyebut sumbernya.



Corpus 1




Corpus 2


Komentar anda?

Wawan Hati Umat Kedu dengan Mgr Pujo 
Thursday, February 10, 2011, 16:08 - BERITA Posted by Administrator
Bertempat di Gedung Pertemuan Mandala diadakan wawan hati umat kevikepan Kedu dengan Mgr Johannes Pujosumarto, uskup Keuskupan Agung Semarang yang dilantik menjadi Uskup Keuskupan Agung Semarang pada 7 Januari silam. Sebelumnya, Mgr Pujo, demikian panggilan akrabnya, menjabat sebagai Uskup di Keuskupan Bandung. Pencipta lagu berjudul Kupu-kupu itu kembali lagi terbang ke arah timur.

Wawan hati ini diadakan pada hari Rabu, 9 Januari 2011. Wawan hati ini dihadiri oleh perwakilan paroki-paroki, komunitas dan lembaga karya yang ada di wilayah kevikepan Kedu. Ada sekitar 200an tamu undangan yang hadir dalam wawan hati ini.

Salah satu hal yang menarik adalah bahwa wawan hati ini diadakan dalam suasana sedih karena peristiwa pengrusakan gereja yang terjadi di Temanggung, salah satu paroki di wilayah Kevikepan Kedu. Untuk itu, awal wawan hati ini dibuka dengan sharing pengalaman atas peristiwa pengrusakan gereja tersebut yang disampaikan oleh saksi-saksi mata dari paroki Temanggung. Kesaksian ini sekaligu suntuk menjawab berbagai ketegangan yang beredar di tengah umat berkaitan dengan aneka isu dan rumor yang beredar melalui sms berantai.

Dalam wawan hati, Mgr Pujo mengajak umat untuk kembali menekuni dan menjadikan arah dasar Keuskupan Agung Semarang 2011-1015 sebagai tonggak langkah menuju Gereja yang semakin signifikan dan relevan. "4P bisa menjadi entry point untuk mengingat arah dasar. P yang pertama adalah Penghayatan: menjadikan iman semakin mendalam dan tangguh. P yang kedua adalah Pendalaman: keterlibatan umat sehingga perannya ditengah gereja dan masyarakat semakin optimal. P yang ketiga adalah Pemberdayaan: bagaimana umat diajak untuk semakin memberdayakan KLMTD. P yang terakhir adalah Pelestarian: usaha terus menerus untuk melestarikan keutuhan ciptaan" ungkap Mgr Pujo.

Pertemuan ini ditutup dengan acara santap malam bersama.
Pembakaran Gereja: Tindakan Biadab 
Thursday, February 10, 2011, 16:01 - BERITA Posted by Administrator

Demikian ditegaskan Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Nusron Wahid. Penegasan Nusron Wahid ini disampaikan setelah mengadakan pertemuan silaturahmi dengan pengurus Gereja St Petrus dan Paulus Temanggung di aula pasturan Gereja. “Tidak ada satu kalimat, bahkan satu kata pun, yang mengijinkan atau melegitimasi seseorang untuk melakukan perusakan tempat ibadat agama lain” tegasnya.

Dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh Romo Sulis [pastur paroki Gereja Temanggung], Romo Purnomo [Provinsial MSF], dan Romo Krisno Handoyo [Vikep Kedu] tersebut berlangsung dalam suasana yang santai. Pertemuan tersebut juga membahas rencana ke depan. Langkah pencerdasan umat harus terus menerus dilakukan. Semua tokoh agama diajak untuk ikut terlibat, bukan malah menciptakan suasana yang tidak nyaman sehingga timbul lagi gesekan antar pemeluk agama.



Dalam kehidupan bersama memang dipastikan akan ada perbedaan. Perbedaan-perbedaan itu sangat wajar dan memang harus ada. Perbedaan itu tidak hanya ada dalam kehidupan bersama dalam masyarakat yang manjemuk. Dalam kehidupan satu agama pun akan muncul perbedaan-perbedaan. Atas perbedaan itu, tinggal manusia-manusianya yang harus arif dan bijaksana mengambil tindakan. Normalnya, masyarakat Indonesia yang terkenal dengan keramah-tamahan dan keindahan budayanya akan mengedepankan harmoni dan keselarasan. Inilah pilar utama kehidupan yang penuh dengan kedamaian. Perbedaan tidak harus diselesaikan dengan kekerasan, apalagi dengan tindakan perusakan tempat ibadat.

Dua peristiwa yang terjadi dalam minggu ini memang mencengangkan. Peristiwa penyerangan warga ahmadiyah di Cikeusik yang meminta korban jelas bermuara pada persoalan satu keyakinan. Sesama umat saling menyerang. Peristiwa penyerangan 3 gereja di Temanggung merupakan persoalan beda keyakinan. Keyakinan yang satu menyerang keyakinan yang lain.

Peristiwa di Temanggung bermula dari sidang penistaan agama yang dilakukan oleh A Richmond Bawengan (58). Sidang yang dilakukan hari Selasa, 8 Februari 2011, itu berakhir ricuh. Sejumlah massa yang emosional turun ke jalan utama di Kota Temanggung dan melakukan pembakaran terhadap tiga gereja yang ada di kota tersebut. Keberingasan massa itu dipicu oleh vonis yang dijatuhkan kepada terdakwa, yaitu 5 tahun penjara. Vonis 5 tahun penjara ini adalah vonis maksimal yang dimungkinkan dari pasal yang digunakan untuk menjerat terdakwa.



Menurut keterangan beberapa saksi, apa yang dilakukan oleh Antonius Richmond Bawengan yang menggunakan KTP Kebon Jeruk, Jakarta Barat, ini sebenarnya tidak hanya menistakan agama Islam. Ia pun menistakan agama lain. Disinyalir, ia mengajarkan Injil yang menyimpang.

Terlepas dari carut marutnya persoalan, adalah tidak benar melampiaskan emosi dengan melakukan perusakan tempat ibadat dan fasilitas umum. Perbedaan-perbedaan yang ada hendaknya tidak menjadi dasar untuk menyerang atau menghancurkan yang lain. "Menegakkan kebenaran agama harus dengan jalan yang benar, bukan dengan mencoreng kebenaran dan kesucian ajaran agama. Seharusnya dialog diutamakan," tuturnya.

Atas kedua kasus itu, terdengar khasak-khusuk yang menghubungkannya dengan kepentingan politis. Pergunjingan mengenai isu pengalihan atas kasus-kasus besar di negeri ini pun segera tersebar. Apakah memang demikian? Rasanya bukan kapasitas untuk membahas persoalan itu. Yang lebih besar untuk dibicarakan adalah bagaimana keluar dari silang sengkarut kehidupan beragama di negeri ini. Dalam persoalan yang lebih luas, kehidupan berbangsa dan bernegara berada di atas persoalan politis. “Untuk urusan politik, silahkan ditawar. Tetapi untuk urusan kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak ada tawar menawar lagi. Itu sudah harga mati” demikian tegas Nusron. Hakekat kehidupan berbangsa adalah hidup berdampingan secara rukun, bahu membahu menuju bangsa yang sejahtera. Perbedaan hendaknya menjadi sarana untuk sampai kepada cita-cita bangsa yang sejahtera.

Kapan akan tercapai ketika masing-masing masih menganggap yang lain sebagai musuh? Kapan bangsa ini akan maju ketika yang satu mengutuk yang lain? Stigma seperti inilah yang akan membawa bangsa ini mundur. Tindakan anarkhis yang demikian mudah dilakukan semakin menunjukkan jati diri bangsa ini yang jauh dari peradaban modern. Kiranya, usaha pencerdasan harus terus menerus dibuat dan dilakukan. Oleh siapa? Mari bertanya pada diri sendiri.

Gereja Temanggung Dirusak 
Wednesday, February 9, 2011, 05:19 - BERITA Posted by Administrator

Alkisah, di sebuah negeri antah baratah terjadi huru hara yang mengharu biru. Kalimat-kalimat suci berkumandang. Aneh. Kalimat suci itu terdengar beda dan terasa lain. Kalimat suci itu terasa takmenyejukkan. Kalimat suci itu membikin merinding bulu kuduk: bukan karena berkumandang di Gereja, tapi karena aura kebencian; bukan karena tersentuh, tapi karena ketakutan. Kalimat suci itu keluar dari orang-orang bermata merah. Tatapan mata mereka ganas. Seraya mendzikirkan kalimat suci, orang-orang itu menghancurkan apapun yang ada. Tangan-tangan kekar memegang balok-balok kayu atau besi. Benda-benda itu dihantamkan ke setiap sudut ruangan. Tak ada yang tersisa. Semua luluh lantak.

Sementara banyak orang lari tunggang langgang untuk menyelamatkan diri, di ujung gang itu dua anak kecil terlihat asyik berbincang. Meskipun sekian banyak orang merasa ketakutan, tapi kedua anak ini anteng-anteng saja.

“Jo, knapa ya mereka itu merusak Gereja?” tanya Paino kepada temennya, Paijo.

“Wah, kalau itu... aku tidak tahu No. Berani kamu tanya sama mereka? Tuch.. tanya pada mas’e yang lagi bawa balok itu. Berani ga?” kata paijo sambil menunjuk seorang pemuda yang sedang beraksi dengan balok kayu di tangannya.

“Hehehe... kalau aku tanya kepada masnya itu, sama saja dengan bunuh diri Jo. Edan kamu ini. Tapi aku ga habis pikir lho, Jo. Emang Gerejanya itu salah apa coba? Bangunan itu dari dulu ya di situ itu tho? Kok orang-orang ini tiba-tiba datang dan main rusak aja. Kamu tahu po, mereka itu dari mana?” Keluh Paino sambil ngelus-elus kepalanya yang gundul.

“No... No.. ngapain kita mikirin soal kayak begitu. Mending kita nikmati saja. Lumayan tho No. Dapat tontonan gratis” seloroh Paijo.
“Orang dewasa itu memang membingungkan ya Jo. Mereka kan ngajarin kita untuk saling mengasihi. Apa merusak punya orang lain itu termasuk bagian dari mengasihi, ya? Bingung aku.”

“Wis.. ga usah dipikirin. Kita lihat aja yuukkk..” Paijo segera menggandeng Paino. Sambil sembunyi-sembunyi, mereka melihat aksi beringas yang tidak layak ditonton anak-anak.

Peristiwa yang terjadi di negeri antah barantah yang terkenal dengan toleransinya itu memang menyesakkan. Ketika mendengar ceritanya atau membaca beritanya tentu akan muncul perasaan marah, umpatan dan makian, atau bahkan keinginan untuk membalas. Tentu, sikap-sikap seperti ini bisa dimaklumi. Bagaimana mana tidak marah ketika melihat rumah ibadahnya dirusak orang lain yang berbeda keyakinan. Pertanyaannya, mengapa harus marah? Bersikap tenang menjadi pergulatan yang harus dilakukan. Tidak perlu bingung dan gelisah. Kalau bangunan fisik dirusak dan dihancurkan, nanti tinggal membangun lagi yang lebih besar dan megah. Gampang kok. Solidaritas berupa bantuan pasti akan segera mengalir.

Selain bersikap tenang, tindakan memaafkan adalah pilihan yang bijak. Anggap saja mereka-mereka itu sebenarnya tidak tahu dan tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Aku ingat dengan kisah Guru dan Sahabatku. Di mataku, Dia itu adalah sosok yang sangat cerdas, meskipun kadang pola pikirnya terasa aneh dan out of mind. Kecerdasan-Nya tampak jelas dalam berbagai diskusi dengan orang-orang yang membenci-Nya. Berhadapan dengan niat jahat orang-orang yang ingin menghabisinya, Guru dan Sahabatku itu selalu tampil kalem dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dengan sangat cerdas. Akibatnya, orang-orang itu sendiri yang kehabisan akal dan tidak bisa melancarkan aksi mereka.

Salah satu kisah yang sangat saya sukai adalah kisah perempuan yang berzinah. Kisah itu dibuka dengan kedatangan beberapa orang yang membawa seorang perempuan. Tidak tanggung-tanggung, perempuan itu tertangkap ketika sedang berzinah. Bagi mereka, hukuman bagi wanita yang kedapatan berzinah itu jelas: melempari perempuan itu.
Tentu, apa yang mereka lakukan itu tidak bisa disalahkan begitu saja. Mengapa? Karena mereka melakukan itu berdasarkan hukum yang berlaku: “perempuan yang kedapatan berzinah harus dilempari dengan batu”. Karena ada hukumnya, mereka tidak bisa dipersalahkan dan dijerat hukum. Dengan kata lain, jika mereka melempari perempuan itu maka tindakan itu sah.

Tanggapan yang disampaikan oleh Guru dan Sahabatku itu sungguh luar biasa dan membuat saya menggelengkan kepala tanda bingung dan tidak habis pikir. “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu!” Sudah bisa ditebak endingnya: tidak ada seorang pun yang melempari perempuan itu dengan batu. Satu per satu, orang-orang itu pergi meninggalkan perempuan itu.

Hukum adalah buatan manusia yang didasari oleh aneka kepentingan. Hukum hendak mengatur kehidupan bersama supaya menjadi semakin baik dan damai. Oleh karena itu, hukum mustinya tidak pernah memihak. Benar adalah benar. Salah adalah salah. Meski demikian, Guru dan Sahabatku itu mengajari untuk berpikir dalam kerangka yang lebih luas. Hukum bukanlah allah yang berdiri di atas segala-galanya. Apalagi, dengan dalih hukum lalu mencederai kehidupan bersama.
Semua orang akan setuju jika dikatakan bahwa zina itu tindakan dosa. Persoalannya adalah apakah karena tindakan dosa itu, orang yang kedapatan berzina harus di hukum? Jika ya, siapa yang berhak dan berwenang untuk memberikan hukuman? Apakah Allah harus dibawa-bawa sebagai pembenaran. Jangan-jangan Allah malah ngekek melihat tingkah laku orang-orang itu.

Trus apa yang bisa kita buat? Rasa saya, tidak perlu emosi. Tidak perlu menghujat. Tetap tenang, memaafkan, dan mari kita bersama-sama berdoa untuk mereka. Allah tidak perlu kita bela. Allah punya cara tersendiri untuk umat-Nya. Jadi tidak perlu kita repot-repot membela Allah karena kita hanyalah alat-Nya. Allah saja mengampuni, lha kok kita ciptaannya malah ga terima dan mengamuk.


<<First <Back | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang