Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
Merapi Masih Mengintai 
Thursday, December 9, 2010, 21:58 Posted by Administrator

Erupsi Merapi telah berhenti. Masyarakat telah sedikit bernafas lega. Status Merapi pun telah diturunkan menjadi siaga. Namun, Merapi masih mengancam. Jutaan meter kubik lahar dingin yang berada di puncak Merapi siap mengancam kapan pun. Masyarakat, terutama yang berada di sekitar sungai yang berhulu di Merapi harus selalu siap sedia. Bahaya selalu mengancam kapan pun.

Pasar Jumoyo Lumpuh

Setelah lahar dingin memutuskan lalu lintas Jogja-Magelang hari minggu siang kemarin, banjir lahar dingin kembali terjadi. Rabu sore, Sungai Putih yang membelah Desa Gulon kembali meluap. Banjir ini merendam Jembatan Jumoyo, Kecamatan Salam, Magelang. Akibatnya lalu lintas Jogja-Semarang terputus. Antrian panjang kendaraan tak bisa dihindari.



Banjir lahar dingin Kali Putih ini juga merendam pemukiman warga dan pasar Jumoyo. Ada sekitar 30 rumah yang terendam pasir bercampur lumpur. Ketinggian yang menutupi rumah-rumah warga berkisar 1 meter lebih. Sementara kompleks pasar Jumoyo telah luluh lantak di terjang banjir lahar dingin Kali Putih. Toko-toko yang berada di kompleks pasar Jumoyo terendam pasir bercampur lumpur setebal 1-2 meter.

Banjir lahar dingin yang menerjang Kali Putih ini disebabkan oleh jebolnya bendungan penahan di Kecamatan Srumbung. Akibatnya, arus Kali Putih langsung menerjang pasar dan perumahan penduduk. Bongkahan batu-batu besar terbawa arus air. Lahar dingin langsung menerjang ke arah pasar karena terjadi pembelokan Kali Putih persis di belakang pasar. Besarnya arus lahar dingin tidak mampu dibelokkan oleh kali sehingga arus tersebut langsung menerjang pasar dan perumahan warga.



Semalam-malaman para petugas gabungan berusaha mengevakuasi lahar dingin yang menutupi jalan. Aparat kepolisian, TNI, dan Tim SAR bekerja maksimal supaya jalan utama yang menghubungkan Jogjakarta –Magelang ini segera dapat dilalui. Alat-alat berat diturunkan untuk membersihkan pasir yang menutupi ruas jalan. Ada sedikit kendala dalam proses evakuasi ini karena ada 2 alat berat yang telah disiagakan di tempat ini ikut tertimbun pasir bercampur lumpur. Akibatnya, proses evakuasi sedikit tersendat. Hingga tadi siang, para petugas masih berupaya mengevakuasi 2 buah begho sehingga dapat segera beroperasi.

Selama proses evakuasi, lalu lintas Jogja-Semarang dialihkan melalui jalur alternatif untuk menghindari jembatan Jumoyo. Jalur alternatif ini menempuh waktu yang lebih lama. Jalan kembali dapat dilalui pagi tadi sekitar pukul 04.00. Meski demikian, antrian panjang masih terjadi. Hal ini disebabkan proses evakuasi yang belum rampung. Hingga siang ini, puluhan truk pengangkut pasir masih hilir mudik mengangkut pasir dari kompleks pasar Jumoyo. Arus lalu lintas dari arah Semarang mengalami kemacetan mulai dari Jembatan Kali Blongkeng.

Luberan Lahar dingin di Kali Putih ternyata juga membawa berkah. “Lumayan, Mas. Tidak perlu bersusah-susah mencari pasir di sungai. Tinggal mengambil pasir di tempat ini” ujar salah satu sopir truk sambil tertawa. Banjir lahar dingin yang membawa material pasir ini di satu sisi memang merugikan warga. Namun di sisi lain membawa keberuntungan bagi para penambang pasir. Yanto, salah seorang sopir truk pengangkut pasir, telah puluhan kali mengangkut pasir dari hasil luberan Kali Putih ini. Meski telah diangkut puluhan truk, namun material pasir yang menumpuk di sekitar Jembatan Jumoyo ini tetap menggunung.

Ditemukan Korban Meninggal

Selain menghancurkan perkampungan penduduk dan pasar Jumoyo, banjir lahar dingin di Kali Putih ini juga memakan korban. Tadi pagi, TIM SAR menemukan sesosok mayat di Kali Putih. Mulanya, sosok mayat ini dikira mayat binatang yang hanyut terbawa arus Kali Putih. Namun setelah di teliti, ternyata sosok yang terdampar di Kali putih itu adalah sesosok manusia. Setelah dievakuasi, ternyata sosok tersebut adalah seorang perempuan remaja berusia belasan tahun.

“Ketika Tim melakukan evakuasi, tidak ditemukan identitas para perempuan remaja itu. Seluruh badannya telah hancur dan sulit dikenali. Hingga siang ini pun belum ada laporan dari warga yang merasa kehilangan anggota keluarganya” jelas salah seorang anggota Tim SAR yang ikut mengevakuasi korban. Kini korban telah di larikan ke RSUD Muntilah untuk divisum.



Tidak adanya identitas dari perempuan remaja tersebut menjadikan bahan kasak-kusuk di antara warga yang kebetulan berada di sekitar lokasi. Ada yang melihat korban meninggal tersebut sebagai korban bajir lahar dingin. Ada juga warga yang melihat korban sebagai korban pembunuhan. Untuk menghilangkan jejak, korban dibuang ke Kali Putih untuk menghilngkan jejak. “Ga mungkinlah anak seusia begitu terpeleset ke sungai. Apalagi tidak ada identitas. Lagian, hingga sekarang belum ada warga yang melaporkan telah kehilangan anggota keluarganya. Jangan-jangan, anak ini menjadi korban pembunuhan” bisik salah satu warga kepada orang di sampingnya.

Tahun Baru Jawa: Menjaga Harmoni Kosmos 
Thursday, December 9, 2010, 21:48 - Inspirasi Posted by Administrator

foto oleh yswitopr


7 Desember 2010 adalah awal bulan Sura dalam penanggalan Jawa. Tanggal ini sekaligus menandai tahun baru dalam tradisi tersebut. Bagi pemegang tradisi Jawa bulan Sura merupakan bulan sakral. Keyakinan semacam ini masih banyak diyakini dan dianut oleh sebagian masyarakat Jawa. Mungkin kita akan tertawa atau mentertawakan keyakinan seperti ini. “Hari gini masih percaya hal-hal yang tidak masuk nalar?” Pertanyaan ini bisa mewakili pikiran dan perasaan kita.

Bagi yang memiliki talenta sensitifitas indera keenam bulan Sura memiliki makna tersendiri. Aura mistis dari alam gaib begitu kental. Rasa perasaan inilah yang seringkali ditangkap dan dimaknasi secara berbeda. Masyarakat modern sering memandang secara negatif: Sura dikaitkan dengan paham syirik dan kemusrikan. Anggapan seperti itu timbul karena disebabkan kurangnya pemahaman sebagian masyarakat akan makna yang mendalam di baliknya. Rasa saya, soal musrik atau syirik sangat berkaitan dengan cara pandang batiniah dan suara hati. Dalam kerangka inilah, teramat sulit untuk memberikan penilaian. Apakah sah jika penilaian ini hanya dilandasi dengan melihat manifestasi perbuatannya saja?

Memang menjadi persoalan ketika melihat manifestasi dari perbuatan. Pada bulan Sura banyak orang melakukan ritual-ritual tertentu: siraman atau mandi pada malam sura, tapa mbisu atau tidak berbicara, melakukan sesaji bunga setaman, dan jamasan pusaka. Dari sudut pandang agama, ritual ini jelas sebentuk sinkretisme. Namun, apakah kita pernah melihat ritual-ritual ini dalam makna yang terkandung di dalamnya?

Masyarakat Jawa mempunyai kesadaran makrokosmos. Dalam kesadaran ini diamini bahwa Tuhan menciptakan kehidupan di alam semesta ini mencakup berbagai dimensi yang fisik (wadag) maupun metafisik (gaib). Kedua dunia ini saling berinteraksi. Interaksi antara dimensi alam fisik dengan dimensi metafisik merupakan interaksi yang saling mengisi mewujudkan keselarasan dan keharmonisan alam semesta.

Selain kesadaran makrokosmos, sebaliknya di sisi lain kesadaran mikrokosmos. Manusia merupakan bagian dari mikrokosmos itu. Manusia sebagai bagian dari mikrokosmos memiliki peranan besar dalam menjaga keseimbangan makrokosmos karena manusia dikarunia akal budi. Kesadaran akan makrokosmos membawa kesadaran lain bahwa manusia bukanlah segalanya di hadapan Yang Maha Tinggi, dan dibanding mahluk lainnya. Manusia tidak seyogyanya mentang-mentang mengklaim dirinya sendiri sebagai mahluk paling sempurna dan mulia, hanya karena akal-budinya. Akal budi adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, manusia dapat mencapai kepenuhan karena akal budinya. Di sisi lain, manusia bisa terpuruk dan tersesat juga karena akal budinya.

Berdasarkan dua dimensi kesadaran itu, tradisi Jawa memiliki prinsip hidup yakni pentingnya untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian alam semesta agar supaya kelestarian alam tetap terjaga sepanjang masa. Menjaga kelestarian alam merupakan perwujudan syukur tertinggi umat manusia kepada Sang Hyang Murbeng Dumadi. Cara pandang tersebut membuat masyarakat Jawa memiliki tradisi yang unik dibanding dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Sebagai bagian makrokosmos, manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan kosmos. Keseimbangan kosmos itu tidak hanya sebatas apa yang dapat dilihat dilihat menurut mata telanjang manusia. Kosmos memiliki dua dimensi, yakni fana/wadag atau fisik, dan lingkungan dimensi gaib atau metafisik. Kepekaan batin adalah kunci untuk mengerti dan memahami dimensi metafisik.

Harmoni alam merupakan cita-cita manusia. Untuk menggapai harmoni alam itulah, sebagian masyarakat Jawa melakukan ritual-ritual tertentu. Seringkali orang salah memberikan penilaian karena hanya melihat sebatas yang terlihat dan memberikan penilaian seturut norma atau nilai yang dianutnya. Padahal jika kita mau masuk ke dalamnya, kita akan menemukan nilai yang melebihi dan melampaui keimanan kita sendiri. Ritual yang dibuat merupakan kristalisasi dari kesadaran manusia akan keseimbangan kosmos. Dalam ritual-ritual yang dibuat, terkandung nilai-nilai yang luar biasa mendalam. Pertama, keyakinan dasar akan Sang Hyang Murbeng Jagad. Dalam melaksanakan ritual, hati manusia tetap teguh pada keyakinan bahwa Tuhan adalah Maha Tunggal, dan tetap mengimani bahwa Tuhan Maha Kuasa menjadi satu-satunya penentu kodrat. Persoalan utama adalah soal bahasa. Masyarakat Jawa kuno yang mewariskan nilai-nilai itu hingga sekarang tentu memiliki kosakata tersendiri untuk menyebut Tuhan. Meskipun masyarakat Jawa kuno tidak memiliki kata Tuhan, namun mereka memiliki keyakinan akan kekuatan dari luar diri mereka yang memiliki kuasa mutlak atas hidup manusia.

Kedua, nilai filosofi. Ritual-ritual yang dibuat selama bulan Sura merupakan simbol kesadaran makrokosmos yang bersifat horisontal, yakni penghargaan manusia terhadap alam. Disadari bahwa alam semesta merupakan sumber penghidupan manusia. Oleh karena itu, kosmos harus dijaga demi kelangsungan kehidupan generasi penerus atau anak turun kita. Kelestarian alam merupakan warisan paling berharga untuk generasi penerus. Nilai inilah yang makin hari makin luntur. Alam dieksploitasi sedemikian rupa sehingga kesimbangan alam terganggu: banjir bandang, tanah longsor, dan aneka peristiwa alam yang menunjukkan terganggunya harmoni kosmos. Aneka ritual bulan Sura merupakan bentuk interaksi harmonis antara manusia dengan seluruh unsur alam semesta. Disadari pula bahwa manusia hidup di dunia berada di tengah-tengah lingkungan jagad fisik maupun jagad metafisik. Kedua dimensi jagad tersebut saling bertetanggaan, dan keadaannya pun sangat kompleks. Manusia dan seluruh makhluk ciptaan Tuhan seyogyanya menjaga keharmonisan dalam bertetangga, sama-sama menjalani kehidupan sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Sebaliknya, bilamana dalam hubungan bertetangga (dengan alam) tidak harmonis, akan mengakibatkan situasi dan kondisi yang destruktif dan merugikan semua pihak. Maka seyogyanya jalinan keharmonisan sampai kapanpun tetap harus dijaga.

Ada nilai luhur dan agung dalam aneka bentuk ritual yang dibuat selama bulan Sura. Tahun baru Jawa mengajak kita bermenung tentang peran manusia mengemban titah Sang Hyang Murbeng Jagad untuk menjaga keseimbangan alam. Tatanan alam perlu dijaga demi keberlangsungan hidup manusia itu sendiri.

BERITA DUKA DI PENGUNGSIAN 
Friday, November 12, 2010, 15:50 - BERITA Posted by Administrator

Pagi ini, suasana pengungsian di Posko St Ignatius terasa berbeda. Salah seorang pengungsi meninggal dunia. Beliau adalah Ibu Ikem Ahmad Pawiro. Meninggal dalam usia 90 tahun di RSU Tidar Magelang. Beliau meninggal sekitar pukul 03.00 WIB.

Setelah disucikan, jenasah disemayamkan di Panti Bina Bhakti Gereja Ignatius dan dilanjutkan dengan pemberangkatan jenasah ke nDiwak, Sumber, Dukun,, Magelang.

Kami, segenap relawan Posko St Ignatius, mengucapkan bela sungkawa yang dalam kepada keluarga yang ditinggalkan. Semoga arwah ibu Ikem di terima Allah dan dipersatukan dengan para kudus-Nya dalam keabadian di Surga. Selamat jalan ibu.

dan semoga segenap rombongan yang mengantar dianugerahi kelancaran dan tidak ada halangan suatu apa pun.
ADA SARA DI PENGUNGSIAN 
Thursday, November 11, 2010, 20:30 - BERITA Posted by Administrator

Ketika Gunung Merapi meletus, ada banyak korban. Tidak hanya korban nyawa, tapi juga ternak dan alam. Atas peristiwa itu, banyak orang mengulurkan tangan dan memberikan simpati dalam bentuk apa pun, baik dalam ukuran besar atau pun bantuan dalam ukuran kecil. Bantuan-bantuan itu diberikan dengan tulus. Tak ada paksaan.

Hingga kini bencana belum kelar. Hingga hari ini pun masih banyak para pengungsi yang kesulitan mendapatkan logisktik untuk memenuhi kebutuhan mereka. Bahkan tidak hanya para pengungsi, tetapi masyarakat sekitar pengungsian pun mulai menjadi “pengungsi”. Lumpuhnya pasar Muntilan menjadikan masyarakat ikut kelabakan. Korban-korban baru bermunculan.



Hebatnya, muncul bencana baru lagi di pengungsian: ISU SARA. Beberapa orang datang ke pos pengungsian dan mendesak para relawan untuk memindahkan para pengungsi dengan alasan SARA. Yang ini bukan hanya isu, tetapi sudah terjadi di Yogya. Situasi ini pun membayangi posko pengungsian di Gereja Ignatius Magelang. Tadi malam, Tim Relawan, anggota keamanan, dan perangkat desa yang berasal dari para pengungsi berkumpul untuk membicarakan isu ini.
Dari pertemuan itu disepakati jika sekelompok itu datang ke Gereja Ignatius, maka yang akan menghadapi adalah para pengungsi sendiri. Merekalah yang akan memutuskan apakah akan meninggalkan posko Gereja Ignatius atau tetap tinggal. “Kami merasa aman dan nyaman di sini. Bahkan kami diberi fasilitas lebih untuk menunaikan ibadah kami. Tempat untuk sholat disediakan. Kami tidak merasa bahwa kami dipaksa untuk menjadi katolik. Aneh-aneh saja orang-orang itu. Waktu kemarin terjadi bencana, orang-orang itu kemana? Kok sekarang mereka baru muncul”, komentar salah seorang prangkat desa yang beragama Muslim.



Posko Gereja Ignatius memang memberikan fasilitas kepada berbagai agama yang ingin memberikan bantuan, baik berupa barang maupun moril. Jika kita datang ke posko tersebut, kita akan menjumpai sekelompok anak-anak muda yang berjilbab. Mereka menjadi relawan di posko itu. Ada yang menjadi relawan kesehatan. Ada yang memberikan pembelajaran untuk anak-anak dengan outbound. Tanpa canggung mereka membantu para pengungsi, tanpa memandang agama mereka apa. Pada hari-hari tertentu, posko ini juga mendatangkan Kyai untuk memberikan siraman rohani. Semua diberi tempat dan ruang.



“Misi kami adalah misi kemanusiaan, bukan agama. Kebetulan saja tempatnya ada di Gereja. Kami berusaha sekuat tenaga untuk membantu mereka. Ketika ada saudara kita yang menderita, apakah kita akan bertanya dahulu agama mereka apa? Jika seagama kita turun menolong. Jika tidak seagama, kita biarkan orang itu. Apakah demikian? Para pengungsi itu sudah menderita. Apakah kita masih akan menambahi penderitaan mereka dengan isu murahan seperti itu?” ungkap salah seorang romo selaku penanggung jawab posko tersebut.



Bencana Gunung Merapi masih panjang. Tak tahu kapan bencana ini akan berakhir. Tidak hanya kebutuhan jangka pendek, tapi ada kebutuhan jangka panjang yang masih harus dipikirkan. Bukannya turun untuk membantu para pengungsi, malah ada yang memanas-manasi situasi dengan aksi bernuansa SARA. Haruskah dibuat pembedaan: POSKO PENGUNGSI MUSLIM, POSKO PENGUNGSI KATOLIK, POSKO PENGUNGSI KRISTEN, POSKO PENGUNGSI HINDU, POSKO PENGUNGSI BUDHA, POSKO PENGUNGSI KONGHUCU, atau yang sejenisnya? Jika ya, sanggup ga ngurusinya?


<<First <Back | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang