Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
LINGKUNGAN GEOVANNI KETEPENG 
Thursday, August 26, 2010, 17:12 - Profile Lingkungan Posted by Administrator
dari namanya, kita bisa menduga kaitannya dengan pohon ketepeng. Ternyata tidak ada sumber yang pasti mengenai asal usul nama lingkungan ini disebut Ketepeng. Mungkin karena pada awalnya ada pohon ketepeng besar yang tumbuh di dekat seorang warga (Bapak Karjo), kemudian warga terbiasa menyebut daerah ini dengan Ngentak Ketepeng. Lingkungan Geovani 3 Ketepeng berbatasan dengan lingkungan Geovani 1 Kwayuhan di sebelah utara, lingkungan Geovani 2 Ngentak di sebelah timur, wilayah Paulus di sebelah barat dan wilayah Robertus di sebelah selatan. Lingkungan ini memiliki umat sejumlah 134 jiwa terdiri dari 38 KK dengan berbagai latar belakang profesi, sebagian besar bekerja di sektor swasta dan hanya sedikit PNS atau pensiunan.

Lingkungan Geovani 3 Ketepeng masih tergabung dalam kegiatan gereja di wilayah Geovani sampai dengan tahun 1993 dan mulai merintis kegiatan mandiri sebagai lingkungan sekitar tahun 1994, dipimpin Bapak MY. Setiyono sebagai ketua lingkungan, dilanjutkan Ant. Rario Wisnu periode 1997 – 2000, dan Bapak Daud Krisdarwanto selama 3 periode tahun 2000 – 2009. Bapak Alb. Herdianto Tedjo menjadi ketua lingkungan hingga saat ini (2010) . Bapak PC. Slamet, Bapak Alex serta Ibu Diena adalah tokoh-tokoh umat yang banyak berjasa bagi perkembangan wilayah Geovani dan lingkungan Geovani 3 Ketepeng. Diantara ketiga lingkungan di wilayah Geovani, lingkungan Ketepeng ini yang memiliki jumlah umat Katolik terbanyak. Mirip dengan dua lingkungan lainnya, kegiatan menggereja sangat diwarnai kehadiran ibu-ibu yang mendominasi berbagai pertemuan di lingkungan. Memang jumlah kaum perempuan (janda, ibu-ibu dan anak-anak perempuan) lebih banyak daripada kaum laki-laki, yakni 89 berbanding 45 orang. Kehadiran kaum mudika dalam berbagai pertemuan termasuk rendah, hanya sekitar 10 persen dari jumlah kehadiran umat dalam setiap kali pertemuan yang mencapai 30 sampai 40 orang. Hal ini dipandang sebagai sesuatu yang wajar dan tidak menjadi masalah. Umat lingkungan Geovani 3 Ketepeng memaklumi, dan tidak mempersoalkannya. Untuk menjaga keterlibatan dan peranan mudika, setiap event tertentu dalam kegiatan bersama di tingkat wilayah, seperti Paskahan, Natalan atau kegiatan PIA lebih sering diserahkan sepenuhnya kepada kaum muda untuk merencanakan dan melaksanakannya. Orangtua memberikan dukungan dan bantuan moril materiil agar dapat terlaksana dengan baik.

Secara umum, kegiatan umat di lingkungan Geovani 3 Ketepeng tidak jauh berbeda dengan kegiatan di dua lingkungan Geovani lainnya. Kegiatan rutin setiap bulannya ada 6 kali, yakni pertemuan doa rosario setiap Kamis malam, pertemuan paguyuban bapak-bapak, dan pertemuan ibu-ibu. Sedangkan kegiatan pertemuan/rapat koordinasi pengurus setiap 2 bulan sekali. Kegiatannya lain yang berkaitan dengan program/agenda paroki seperti Pra Paskah, Adven, tugas koor, BKL dan lain-lainnya selalu terlaksana dengan tingkat partisipasi umat cukup tinggi. Bahkan dalam 3 tahun terakhir, lingkungan Geovani 3 berhasil melaksanakan doa novena atau Rosario bulan Mei dan Oktober setiap hari. Sebuah kemajuan kegiatan yang berbasis pada lingkungan yang patut dilestarikan, terutama karena proses penyadaran umat bahwa pertemuan umat menjadi sarana melimpahnya berkah dan Rahmat Allah bagi keluarga-keluarga. Dalam kegiatan tertentu lingkungan Geovani 3 masih sering meminta bantuan lingkungan lain atau wilayah, diantaranya tugas koor karena belum memiliki organis, atau meminjam peralatan misa di wilayah. Oleh karena itu, lingkungan Geovani 3 merasa belum menjadi lingkungan yang mandiri dan otonom. Ke depan sangat diharapkan hal demikian bisa terwujud, karena pengurus lingkungan melihat potensi dan partisipasi umat yang cukup tinggi.

LINGKUNGAN GEOVANNI NGENTAK 
Thursday, August 26, 2010, 17:09 - Profile Lingkungan Posted by Administrator
agak sulit melacak asal-usul mengapa lingkungan ini disebut Ngentak. Tidak ada catatan historis yang bisa menjelaskan dengan pasti. Mungkin kata Ngentak muncul dari kebiasaan masyarakat setempat yang mayoritas keturunan Jawa, untuk menyebut daerah ini yang pada saat dulu masih gersang, panas dan jarang ada tumbuh-tumbuhan atau pepohonan (biasanya disebut “Ngentak-entak” yang berarti panas, gersang, tandus). Di bagian utara dari wilayah ini terdapat kompleks Batalyon Artileri Medan (Armed), sehingga kehidupan dan suasana kemiliteran cukup mewarnai kehidupan masyarakat. Batas wilayahnya meliputi Paroki St. Maria Fatima di sebelah utara, wilayah Gregorius di sebelah timur, wilayah Paulus di sebelah selatan, serta lingkungan Geovani 1 dan 3 Ketepeng di sebelah barat.

Lingkungan Geovani 2-Ngentak mulai menjadi lingkungan tersendiri sejak 1983, masuk dalam pelayanan wilayah Geovani setelah sebelumnya menjadi bagian wilayah Panjang. Tokoh awam yang sangat berperan dalam perkembangan umat antara lain Bapak FX. Subaning, Bapak Alex, Bapak Wardoyo serta Ibu Diena. Merekalah guru-guru agama bagi para katekumen. Tidak jelas siapa tokoh umat yang menjadi ketua lingkungan ini sejak berdirinya. Diperkirakan mulai Bapak Kamto pada tahun 1989 sebagai ketua lingkungan, kemudian karena sesuatu hal beliau tidak dapat melanjutkan pelayanannya, dan digantikan Bapak FX. Subaning hingga tahun 1992. Sesudah itu Bapak Marjiyo dan Bapak Cahyono memimpin lingkungan ini dari tahun 1992 sampai tahun 1996. Dilanjutkan kepemimpinan Bapak Sartono hingga 2003, Ibu M. Nurhayati sampai tahun 2006, dan hingga sekarang 2010 masih dijabat oleh Bapak Agustinus Darutomo.

Lingkungan Geovani 2 Ngentak memiliki umat sejumlah 90 jiwa dengan 29 KK. Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, umat Katolik menjalin hubungan yang baik dan terlibat dalam kepengurusan RT/RW. Tidak dijumpai masalah yang berat berkaitan dengan hubungan antar umat maupun dengan umat yang beragama lain. Kegiatan internal kegerejaan dapat berjalan baik, antara lain pertemuan rutin lingkungan, arisan ibu-ibu lingkungan, PIA, pangruktilaya, maupun kegiatan yang terkait dengan program paroki. Diakui, berbagai kegiatan di lingkungan ini lebih banyak didominasi oleh kehadiran ibu-ibu. Mudika paling sedikit terlibat dalam berbagai kegiatan, terutama karena alasan waktu yang banyak tersita untuk studi.

LINGKUNGAN GEOVANNI KWAYUHAN 
Thursday, August 26, 2010, 17:07 Posted by Administrator
lingkungan yang semula menjadi wilayah Kwayuhan ini berbatasan langsung dengan wilayah Paroki St.Perawan Maria Fatima di sebelah utara dan timur, berbatasan dengan Geovani 3 Ketepeng di sebelah selatan serta bersinggungan langsung dengan lingkungan Geovani 2 Ngentak di sebelah barat. Jika dilihat dari sejarah pembentukannya (lihat sejarah wilayah), maka lingkungan Geovani 1 Kwayuhan merupakan cikal bakal terbentuknya wilayah ini, sekitar tahun 1950 an. Kemudian sejalan dengan perkembangan umat, dimekarkan wilayah pelayanan pastoralnya dengan membentuk lingkungan Geovani 2 Ngentak dan Geovani 3 Ketepeng sejak tahun 1990. Pada saat itu lingkungan ini dipimpin oleh Bapak Thomas Subari sebagai Ketua Lingkungan. Kemudian Bapak Sutarto melanjutkan pelayanan sebagai Ketua Lingkungan selama 7 tahun. Yang kemudian digantikan oleh Bapak Markus Sri Mulyadi hingga tahun 2003. Sesudah itu Ibu Budi Rahayu Sutarto menggantikan sebagai ketua lingkungan, dan tahun 2006 hingga sekarang pelayanan sebagai ketua lingkungan Geovani 1 Kwayuhan dilaksanakan oleh Bapak Yohanes Heru Budi Purwana. Lingkungan Geovani 1 Kwayuhan memiliki umat sejumlah 50 jiwa dengan 20 KK.

Kegiatan gerejani di lingkungan Geovani 1 cenderung berpola pada rutinitas, pertemuan rutin setiap tanggal 10 dalam bulan, juga kegiatan lain dalam agenda program paroki seperti pra paskah, novena, BKL mau pun kegiatan kerohanian lainnya. Umat tidak merasa bosan, bahkan tampaknya menikmati kegiatan rutin sebagai sarana menerima berkah dari Tuhan. Bahkan sejak 2006, ketika kegiatan semakin berbasis pada kehidupan lingkungan, umat merasakan lebih nyaman dalam berkegiatan, karena ruang lingkup yang lebih kecil dan tidak berjauhan. Semangat untuk berbagi berkah Tuhan ini pulalah yang melandasi umat Katolik dalam melibatkan diri di tengah masyarakat. Meski minoritas, umat Katolik menyadari pentingnya terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, terutama di RT/RW setempat. Keharmonisan dapat ditumbuhkan bersama warga lain yang berbeda agama.

KEMERDEKAAN ITU .... 
Thursday, August 19, 2010, 04:45 - Inspirasi Posted by Administrator
17 Agustus 2010 pagi. Sang mentari bersinar lembut. Sinarnya menghangatkan badan. “Merdeka!” pekik kemenangan dalam batin untuk memberikan ucapan selamat pada negeri tercinta ini. Ucapan selamat atas kemerdekaan juga aku rasakan dari seluruh alam. Embun pagi pun seolah mengucapkan selamat. “MERDEKA...” kata ini akan terucap andai alam bisa ngomong. Atau malah sebaliknya? Alam memekikkan selamat atas kemerdekaan namun alam berada dalam penjajahan. Alam Indonesia yang kaya dijajah oleh bangsanya sendiri. Alam dikoyak demi nafsu-nafsu serakah. Andai alam bisa ngomong...


Sembari menikmati kesejukan embun pagi, anganku terbang jauh entah kemana. Anganku mengajak ku bermenung tentang kemerdekaan. Para pejuang kemerdekaan bangsa ini berani mati demi sejengkal tanah kelahirannya. Para pejuang takrela tanah airnya diinjak-injka oleh penjajah. Meski darah harus tertumpah di tanah, perjuangan mereka terus berlanjut. Perjuangan yang tulus demi sebuah kemerdekaan. Menjadi bangsa yang merdeka adalah cita-cita para pejuang. Meski hanya berbekal bambu runcing, para pejuang tak gentar menghadapi mesiu senapan dan tank-tank lawan. Ketika tekad sudah bulat, semboyan “rawe-rawe rantas, malang-malang putung” menjadi bukti keberanian para pejuang. Kemanakah semangat dan mentalitas para pejuang itu?

Adakah pejuang-pejuang itu kini masih hidup? Bukan orang, tapi semangatnya? Kita bisa bertanya kepada para petinggi negeri ini. Dan aku yakin, semua akan menjawab masih. Para petinggi negeri ini telah berjuang demi bangsa ini. Bekerja keras untuk negeri ini. Ah.. itu kan yang ada di bibir. Cobalah tanya apa yang di hati! Bagaimana mungkin berjuang untuk negeri ini ketika alam Indonesia dikoyak dan dibawa ke negeri antah berantah? Kalau berjuang demi negeri tercinta ini, mengapa ada korupsi?
Pejuang-pejuang itu masih ada. Tapi pejuang sejati tidak berada di gedung DPR. Para pejuang sejati ada di tempat yang tersembunyi. Jauh dari keramaian kota. Para pejuang ada ketika kita melihat para pekerja yang sedang bergulat dengan alam demi sesuap nasi. Merekalah para pejuang sejati yang mengais asa di bumi ini. Bukan untuk mengeksploitasi, tapi untuk mengolahnya. Ketika para petinggi negeri ini berebut untuk mencari popularitas dengan membagi-bagi buku dan ngoceh sekenanya, para pejuang masa kini berebut untuk terus hidup. Senjata mereka bukan bambu runcing. Senjata mereka adalah pikiran, otot dan hati. Bukan darah yang tertumpah, tapi peluh yang membasahi sekujur tubuh. Ketika para pejuang kemerdekaan berjuang demi kemerdekaan dari penjajah, para pejuang masa kini berjuang demi hidup yang harus terus digulirkan. Demi masa depan anak-anak mereka. Bisa hidup untuk hari ini cukuplah membuat mereka tertawa lepas sambari mensyukuri rahmat dan nikmat dari Sang Khalik.


Para pejuang masa kini berjuang dalam himpitan dengan senjata ala kadarnya. Dalam ketidakberdayaan, mereka merajut asa. Meski dalam penjajahan kemiskinan, mereka masih bisa tersenyum. Mereka masih bisa merayakan kemerdekaan bangsa Indonesia dengan sederhana. Bukan dengan hingar-bingar memperdengarkan lagu ciptaan sendiri dalampesta akbar negeri ini, tapi dengan diam dan merenungi makna kemerdekaan. Memejamkan mata untuk mengambil makna. Membuka mata dan kemudian meneruskan perjuangan. Bagi mereka, kemerdekaan adalah perjuangan. Tak pernah berhenti pada satu titik dan selesai. Karena mereka sadar, selama masih ada kemiskinan di negeri yang kaya raya ini, perjuangan untuk mendapatkan kemerdekaan tak akan pernah berhenti.


Kemerdekaan itu adalah perjuangan untuk mendapatkan hak dan melakukan kewajiban. Selama masih ada alam yang kaya raya, perjuangan untuk mendapatkan hak atas penghidupan yang layak akan terus dikumandangkan. Para pejuang masa kini akan terus menumpahkan peluh mereka untuk berjuang mendapatkan hak mereka sebagai warga negara di negeri tercinta ini. “Jangan eksploitasi alam ku, biar kami raih kemerdekaan kami!” itulah teriakan mereka yang terbungkam oleh kapitalis-kapitalis berperut buncit. Jangan tanyakan loyalitas mereka dalam menjalankan kewajiban untuk negeri ini sebab merekalah jagonya.



Bersama alam yang indah pagi ini, kuhentikan lamunanku. Alamku, Indonesiaku, cintaku... Dalam rahimmu,kuperjuangkan kemerdekaan.

MERDEKA!!!


<<First <Back | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang