Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
LINGKUNGAN GEOVANNI NGENTAK 
Thursday, August 26, 2010, 17:09 - Profile Lingkungan Posted by Administrator
agak sulit melacak asal-usul mengapa lingkungan ini disebut Ngentak. Tidak ada catatan historis yang bisa menjelaskan dengan pasti. Mungkin kata Ngentak muncul dari kebiasaan masyarakat setempat yang mayoritas keturunan Jawa, untuk menyebut daerah ini yang pada saat dulu masih gersang, panas dan jarang ada tumbuh-tumbuhan atau pepohonan (biasanya disebut “Ngentak-entak” yang berarti panas, gersang, tandus). Di bagian utara dari wilayah ini terdapat kompleks Batalyon Artileri Medan (Armed), sehingga kehidupan dan suasana kemiliteran cukup mewarnai kehidupan masyarakat. Batas wilayahnya meliputi Paroki St. Maria Fatima di sebelah utara, wilayah Gregorius di sebelah timur, wilayah Paulus di sebelah selatan, serta lingkungan Geovani 1 dan 3 Ketepeng di sebelah barat.

Lingkungan Geovani 2-Ngentak mulai menjadi lingkungan tersendiri sejak 1983, masuk dalam pelayanan wilayah Geovani setelah sebelumnya menjadi bagian wilayah Panjang. Tokoh awam yang sangat berperan dalam perkembangan umat antara lain Bapak FX. Subaning, Bapak Alex, Bapak Wardoyo serta Ibu Diena. Merekalah guru-guru agama bagi para katekumen. Tidak jelas siapa tokoh umat yang menjadi ketua lingkungan ini sejak berdirinya. Diperkirakan mulai Bapak Kamto pada tahun 1989 sebagai ketua lingkungan, kemudian karena sesuatu hal beliau tidak dapat melanjutkan pelayanannya, dan digantikan Bapak FX. Subaning hingga tahun 1992. Sesudah itu Bapak Marjiyo dan Bapak Cahyono memimpin lingkungan ini dari tahun 1992 sampai tahun 1996. Dilanjutkan kepemimpinan Bapak Sartono hingga 2003, Ibu M. Nurhayati sampai tahun 2006, dan hingga sekarang 2010 masih dijabat oleh Bapak Agustinus Darutomo.

Lingkungan Geovani 2 Ngentak memiliki umat sejumlah 90 jiwa dengan 29 KK. Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, umat Katolik menjalin hubungan yang baik dan terlibat dalam kepengurusan RT/RW. Tidak dijumpai masalah yang berat berkaitan dengan hubungan antar umat maupun dengan umat yang beragama lain. Kegiatan internal kegerejaan dapat berjalan baik, antara lain pertemuan rutin lingkungan, arisan ibu-ibu lingkungan, PIA, pangruktilaya, maupun kegiatan yang terkait dengan program paroki. Diakui, berbagai kegiatan di lingkungan ini lebih banyak didominasi oleh kehadiran ibu-ibu. Mudika paling sedikit terlibat dalam berbagai kegiatan, terutama karena alasan waktu yang banyak tersita untuk studi.

LINGKUNGAN GEOVANNI KWAYUHAN 
Thursday, August 26, 2010, 17:07 Posted by Administrator
lingkungan yang semula menjadi wilayah Kwayuhan ini berbatasan langsung dengan wilayah Paroki St.Perawan Maria Fatima di sebelah utara dan timur, berbatasan dengan Geovani 3 Ketepeng di sebelah selatan serta bersinggungan langsung dengan lingkungan Geovani 2 Ngentak di sebelah barat. Jika dilihat dari sejarah pembentukannya (lihat sejarah wilayah), maka lingkungan Geovani 1 Kwayuhan merupakan cikal bakal terbentuknya wilayah ini, sekitar tahun 1950 an. Kemudian sejalan dengan perkembangan umat, dimekarkan wilayah pelayanan pastoralnya dengan membentuk lingkungan Geovani 2 Ngentak dan Geovani 3 Ketepeng sejak tahun 1990. Pada saat itu lingkungan ini dipimpin oleh Bapak Thomas Subari sebagai Ketua Lingkungan. Kemudian Bapak Sutarto melanjutkan pelayanan sebagai Ketua Lingkungan selama 7 tahun. Yang kemudian digantikan oleh Bapak Markus Sri Mulyadi hingga tahun 2003. Sesudah itu Ibu Budi Rahayu Sutarto menggantikan sebagai ketua lingkungan, dan tahun 2006 hingga sekarang pelayanan sebagai ketua lingkungan Geovani 1 Kwayuhan dilaksanakan oleh Bapak Yohanes Heru Budi Purwana. Lingkungan Geovani 1 Kwayuhan memiliki umat sejumlah 50 jiwa dengan 20 KK.

Kegiatan gerejani di lingkungan Geovani 1 cenderung berpola pada rutinitas, pertemuan rutin setiap tanggal 10 dalam bulan, juga kegiatan lain dalam agenda program paroki seperti pra paskah, novena, BKL mau pun kegiatan kerohanian lainnya. Umat tidak merasa bosan, bahkan tampaknya menikmati kegiatan rutin sebagai sarana menerima berkah dari Tuhan. Bahkan sejak 2006, ketika kegiatan semakin berbasis pada kehidupan lingkungan, umat merasakan lebih nyaman dalam berkegiatan, karena ruang lingkup yang lebih kecil dan tidak berjauhan. Semangat untuk berbagi berkah Tuhan ini pulalah yang melandasi umat Katolik dalam melibatkan diri di tengah masyarakat. Meski minoritas, umat Katolik menyadari pentingnya terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, terutama di RT/RW setempat. Keharmonisan dapat ditumbuhkan bersama warga lain yang berbeda agama.

KEMERDEKAAN ITU .... 
Thursday, August 19, 2010, 04:45 - Inspirasi Posted by Administrator
17 Agustus 2010 pagi. Sang mentari bersinar lembut. Sinarnya menghangatkan badan. “Merdeka!” pekik kemenangan dalam batin untuk memberikan ucapan selamat pada negeri tercinta ini. Ucapan selamat atas kemerdekaan juga aku rasakan dari seluruh alam. Embun pagi pun seolah mengucapkan selamat. “MERDEKA...” kata ini akan terucap andai alam bisa ngomong. Atau malah sebaliknya? Alam memekikkan selamat atas kemerdekaan namun alam berada dalam penjajahan. Alam Indonesia yang kaya dijajah oleh bangsanya sendiri. Alam dikoyak demi nafsu-nafsu serakah. Andai alam bisa ngomong...


Sembari menikmati kesejukan embun pagi, anganku terbang jauh entah kemana. Anganku mengajak ku bermenung tentang kemerdekaan. Para pejuang kemerdekaan bangsa ini berani mati demi sejengkal tanah kelahirannya. Para pejuang takrela tanah airnya diinjak-injka oleh penjajah. Meski darah harus tertumpah di tanah, perjuangan mereka terus berlanjut. Perjuangan yang tulus demi sebuah kemerdekaan. Menjadi bangsa yang merdeka adalah cita-cita para pejuang. Meski hanya berbekal bambu runcing, para pejuang tak gentar menghadapi mesiu senapan dan tank-tank lawan. Ketika tekad sudah bulat, semboyan “rawe-rawe rantas, malang-malang putung” menjadi bukti keberanian para pejuang. Kemanakah semangat dan mentalitas para pejuang itu?

Adakah pejuang-pejuang itu kini masih hidup? Bukan orang, tapi semangatnya? Kita bisa bertanya kepada para petinggi negeri ini. Dan aku yakin, semua akan menjawab masih. Para petinggi negeri ini telah berjuang demi bangsa ini. Bekerja keras untuk negeri ini. Ah.. itu kan yang ada di bibir. Cobalah tanya apa yang di hati! Bagaimana mungkin berjuang untuk negeri ini ketika alam Indonesia dikoyak dan dibawa ke negeri antah berantah? Kalau berjuang demi negeri tercinta ini, mengapa ada korupsi?
Pejuang-pejuang itu masih ada. Tapi pejuang sejati tidak berada di gedung DPR. Para pejuang sejati ada di tempat yang tersembunyi. Jauh dari keramaian kota. Para pejuang ada ketika kita melihat para pekerja yang sedang bergulat dengan alam demi sesuap nasi. Merekalah para pejuang sejati yang mengais asa di bumi ini. Bukan untuk mengeksploitasi, tapi untuk mengolahnya. Ketika para petinggi negeri ini berebut untuk mencari popularitas dengan membagi-bagi buku dan ngoceh sekenanya, para pejuang masa kini berebut untuk terus hidup. Senjata mereka bukan bambu runcing. Senjata mereka adalah pikiran, otot dan hati. Bukan darah yang tertumpah, tapi peluh yang membasahi sekujur tubuh. Ketika para pejuang kemerdekaan berjuang demi kemerdekaan dari penjajah, para pejuang masa kini berjuang demi hidup yang harus terus digulirkan. Demi masa depan anak-anak mereka. Bisa hidup untuk hari ini cukuplah membuat mereka tertawa lepas sambari mensyukuri rahmat dan nikmat dari Sang Khalik.


Para pejuang masa kini berjuang dalam himpitan dengan senjata ala kadarnya. Dalam ketidakberdayaan, mereka merajut asa. Meski dalam penjajahan kemiskinan, mereka masih bisa tersenyum. Mereka masih bisa merayakan kemerdekaan bangsa Indonesia dengan sederhana. Bukan dengan hingar-bingar memperdengarkan lagu ciptaan sendiri dalampesta akbar negeri ini, tapi dengan diam dan merenungi makna kemerdekaan. Memejamkan mata untuk mengambil makna. Membuka mata dan kemudian meneruskan perjuangan. Bagi mereka, kemerdekaan adalah perjuangan. Tak pernah berhenti pada satu titik dan selesai. Karena mereka sadar, selama masih ada kemiskinan di negeri yang kaya raya ini, perjuangan untuk mendapatkan kemerdekaan tak akan pernah berhenti.


Kemerdekaan itu adalah perjuangan untuk mendapatkan hak dan melakukan kewajiban. Selama masih ada alam yang kaya raya, perjuangan untuk mendapatkan hak atas penghidupan yang layak akan terus dikumandangkan. Para pejuang masa kini akan terus menumpahkan peluh mereka untuk berjuang mendapatkan hak mereka sebagai warga negara di negeri tercinta ini. “Jangan eksploitasi alam ku, biar kami raih kemerdekaan kami!” itulah teriakan mereka yang terbungkam oleh kapitalis-kapitalis berperut buncit. Jangan tanyakan loyalitas mereka dalam menjalankan kewajiban untuk negeri ini sebab merekalah jagonya.



Bersama alam yang indah pagi ini, kuhentikan lamunanku. Alamku, Indonesiaku, cintaku... Dalam rahimmu,kuperjuangkan kemerdekaan.

MERDEKA!!!

CORNELIUS JEKSAAN 
Thursday, August 19, 2010, 04:37 - Profile Lingkungan Posted by Administrator
Lingkungan Cornelius Jeksaan ini berdiri tahun 1987. Jumlah umat di Lingkungan ini sebanyak 64 orang. Jumlah KK yang dimiliki sebanyak 21 KK. Dari jumlah KK yang dimiliki itu, terdapat 14 pasangan katolik, dan 1 pasangan nikah beda agama (1 pasangan istri katolik-suami non kristen). Di lingkungan ini, kepala keluarga yang berstatus janda sebanyak 5 orang, dan 1 KK tanpa nikah. Di samping itu, ada 1 janda yang menjadi anggota keluarga. Berdasarkan usia, umat yang belum menikah sebanyak 26 orang dan umat yang sudah menikah sebanyak 38 orang. Berdasarkan profesi atau pekerjaan, data umat di lingkungan ini menunjukkan pelajar sebanyak 11 orang, mahasiswa sebanyak 10 orang , PNS ada 8 orang , Pensiunan/Purnawirawan sebanyak 5 orang, wiraswasta sebanyak 12 orang dan lain-lain 10 orang (8 orang karyawan swasta dan 2 orang tidak jelas).

Berkembang lewat ‘ubyang – ubyung’

Paguyuban umat di lingkungan ini telah terbentuk sejak sebelum tahun 1978. Tahun 1978, Almarhum Bapak Eddy Hutoyo (karyawan swasta) yang bertempat tinggal di jeksaan menjadi ketua lingkungan yang pertama. Beberapa keluarga yang ada waktu itu adalah keluarga Almarhum Bapak Tidarso (Guru), Keluarga Almarhum Bapak Sumarno (TNI), Keluarga Bapak Hadi, Keluarga Ibu Sukesi (pensiunan), Keluarga Almarhum Ibu Hartati Mardisiswoyo, Keluarga Almarhum Ibu Sindu (Guru), Keluarga Ibu Kusdi (TNI) dan keluarga Ibu Juwahir (Pensiunan). Tahun 1990, keluarga Almarhum Bapak Sugondo (Purnawirawan Polri) baru masuk ke dalam lingkungan ini.

Pada masa itu, kegiatan-kegiatan masih terpusat di paroki, namun beberapa umat dari lingkungan ini terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Sebagai contoh, beberapa ibu aktif di kegiatan karawitan gereja dan wanita katolik, beberapa remaja aktif dalam kegiatan mudika. Budaya “ubyang-ubyung” mudika saat itu sangat mewarnai kegiatan mudika. Pada saat itu juga kegiatan mudika yang menonjol adalah paduan suara dan vokal group. Di samping itu, peringatan dan perayaan natal dilaksanakan secara berkala di balai desa Cacaban dengan menampilkan kreasi umat lingkungan dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa.

Terbentuknya lingkungan ini dirintis oleh umat katolik penduduk asli yang kemudian semakin berkembang dengan datangnya orang-orang katolik dari daerah lain. Umat di lingkungan ini tersebar di kampung Kejuron, Jeksaan dan Kauman. Jeksaan dipakai sebagai nama lingkungan karena letaknya di tengah. Secara geografis gerejani, lingkungan ini berbatasan dengan lingkungan Monika di sebelah utara, dengan lingkungan Paulus dan katarina di sebelah timur, dengan lingkungan Yohanes di sebelah selatan, dan dengan lingkungan carolus di sebelah barat. Secara geografis, lingkungan ini terletak tepat di tengah kota Magelang karena letaknya kurang lebih 300 M dari alun-alun Kodya magelang. Lingkungan ini terletak di sebelah utara Kauman, sebelah barat dengan wilayah Carolus. Sebelah timur jalan tentara pelajar dan sebelah selatan Jambon legok.

Posisi lingkungan ini sangat strategis dan memiliki banyak keuntungan karena dekat dengan Gereja dan Masjid Agung, dekat dengan rumah sakit Lestari (lokasi di lingkungan), dekat dengan kantor kelurahan Cacaban, dekat dengan pasar swalayan, dekat dengan penjara, dekat dengan Kecamatan Magelang Tengah, dekat dengan Polsek Magelang Tengah, dan dekat dengan Koramil (Magelang tengah). Dengan posisi yang seperti itu, umat lingkungan menjadi kerasan karena di lingkungan banyak hal yang sangat mendukung kemudahan dalam hidup sehari-hari.

Menurut data di lingkungan ini pernah dipimpin oleh Almarhum Bapak Edi Hutoyo Heribertus (Karyawan Swasta) tahun 1977-1987, Bapak Kusdi (TNI) pada tahun 1987-1995, Almarhum Bapak BN Sugondo (POLRI) pada tahun 1995-2001, Bapak Al. Joko Pamungkas (PNS) pada tahun 2001-2007, dan bapak Ign. Joko Purnomo (Wiraswasta) pada tahun 2007-sekarang.

Kemandirian kepengurusan

Sebagai paguyuban, saat ini lingkungan memiliki pengurus lingkungan yang cukup lengkap dari Ketua, Sekretaris, Bendahara berikut Seksi – seksi sebagai pelaksana kerja pelayanan. Lingkungan ini juga memiliki kemandirian yang cukup tinggi dalam kegiatan-kegiatan lingkungannya. Setiap hari senin, lingkungan ini memiliki agenda untuk latihan koor pada pukul 18.00 bertempat di rumah Bapak C. Agus S. Untuk pembinaan iman umat, lingkungan ini mengikuti wilayah. Guna mendukung kegiatan liturgi, lingkungan ini memiliki 2 orang prodiakon, 5 orang putra Altar, 4 orang pemazmur, 2 orang organis, dan memiliki peralatan misa yang tidak lengkap.

Kesulitan yang dialami di lingkungan ini adalah susahnya mengumpulkan umat untuk terlibat di dalam kegiatan lingkungan. Beberapa umat bahkan jarang terlibat dalam kegiatan lingkungan karena kesibukan pekerjaan dan mengurus usahanya.

Tidak aktif tetap iuran
Dalam menjalankan kegiatan lingkungan, umat diwajibkan untuk memberikan iuran bulanan. Di samping itu ada dana dari kolekte untuk kegiatan lingkungan ini. Kegiatan lingkungan pada umumnya lebih diwarnai oleh kehadiran bapak-bapak (25 %) ibu-ibu (70%), mudika (5%). Partisipasi umat dalam pelaksanaan kegiatan lingkungan rata-rata 60 %. Pembinaan iman umat di lingkungan ini dilaksanakan melalui kegiatan PIA bagi anak-anak, bina umat untuk penerimaan sakramen inisiasi digabungkan dengan wilayah, pendalaman iman tematis seperti APP, BKSN, Novena, Advent. Di samping itu, misa lingkungan menjadi sumber makanan rohani. Dalam kesempatan-kesempatan tertentu, ibadat sabda untuk dan misa ujub keluarga juga menjadikan umat bergairah mengikuti kegiatan itu.

Secara sosial-ekonomi, di lingkungan ini terdapat kesenjangan sosial ekonomi yang sangat menonjol. Keterlibatan sebagian umat didalam kegiatan lingkungan juga sangat jarang, meskipun mereka tetap juga membayar iuran. Praktis yang terlibat secara aktif adalah umat yang ada dalam situasi sosial ekonomi menengah ke bawah. Untuk menyapa umat yang menutup diri, lingkungan ini melaksanakan kunjungan pastoral sesuai dengan program paroki.

Keterlibatan umat
Umat di lingkungan ini menjalin hubungan dengan umat yang beragama lain dengan memberi perhatian pada hari-hari besar keagamaan. Di samping itu, beberapa umat juga terlibat di dalam kepengurusan RT/RW dan juga terlibat di dalam kegiatan bersama dengan masyarakat.


<<First <Back | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang