Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
CORNELIUS JEKSAAN 
Thursday, August 19, 2010, 04:37 - Profile Lingkungan Posted by Administrator
Lingkungan Cornelius Jeksaan ini berdiri tahun 1987. Jumlah umat di Lingkungan ini sebanyak 64 orang. Jumlah KK yang dimiliki sebanyak 21 KK. Dari jumlah KK yang dimiliki itu, terdapat 14 pasangan katolik, dan 1 pasangan nikah beda agama (1 pasangan istri katolik-suami non kristen). Di lingkungan ini, kepala keluarga yang berstatus janda sebanyak 5 orang, dan 1 KK tanpa nikah. Di samping itu, ada 1 janda yang menjadi anggota keluarga. Berdasarkan usia, umat yang belum menikah sebanyak 26 orang dan umat yang sudah menikah sebanyak 38 orang. Berdasarkan profesi atau pekerjaan, data umat di lingkungan ini menunjukkan pelajar sebanyak 11 orang, mahasiswa sebanyak 10 orang , PNS ada 8 orang , Pensiunan/Purnawirawan sebanyak 5 orang, wiraswasta sebanyak 12 orang dan lain-lain 10 orang (8 orang karyawan swasta dan 2 orang tidak jelas).

Berkembang lewat ‘ubyang – ubyung’

Paguyuban umat di lingkungan ini telah terbentuk sejak sebelum tahun 1978. Tahun 1978, Almarhum Bapak Eddy Hutoyo (karyawan swasta) yang bertempat tinggal di jeksaan menjadi ketua lingkungan yang pertama. Beberapa keluarga yang ada waktu itu adalah keluarga Almarhum Bapak Tidarso (Guru), Keluarga Almarhum Bapak Sumarno (TNI), Keluarga Bapak Hadi, Keluarga Ibu Sukesi (pensiunan), Keluarga Almarhum Ibu Hartati Mardisiswoyo, Keluarga Almarhum Ibu Sindu (Guru), Keluarga Ibu Kusdi (TNI) dan keluarga Ibu Juwahir (Pensiunan). Tahun 1990, keluarga Almarhum Bapak Sugondo (Purnawirawan Polri) baru masuk ke dalam lingkungan ini.

Pada masa itu, kegiatan-kegiatan masih terpusat di paroki, namun beberapa umat dari lingkungan ini terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Sebagai contoh, beberapa ibu aktif di kegiatan karawitan gereja dan wanita katolik, beberapa remaja aktif dalam kegiatan mudika. Budaya “ubyang-ubyung” mudika saat itu sangat mewarnai kegiatan mudika. Pada saat itu juga kegiatan mudika yang menonjol adalah paduan suara dan vokal group. Di samping itu, peringatan dan perayaan natal dilaksanakan secara berkala di balai desa Cacaban dengan menampilkan kreasi umat lingkungan dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa.

Terbentuknya lingkungan ini dirintis oleh umat katolik penduduk asli yang kemudian semakin berkembang dengan datangnya orang-orang katolik dari daerah lain. Umat di lingkungan ini tersebar di kampung Kejuron, Jeksaan dan Kauman. Jeksaan dipakai sebagai nama lingkungan karena letaknya di tengah. Secara geografis gerejani, lingkungan ini berbatasan dengan lingkungan Monika di sebelah utara, dengan lingkungan Paulus dan katarina di sebelah timur, dengan lingkungan Yohanes di sebelah selatan, dan dengan lingkungan carolus di sebelah barat. Secara geografis, lingkungan ini terletak tepat di tengah kota Magelang karena letaknya kurang lebih 300 M dari alun-alun Kodya magelang. Lingkungan ini terletak di sebelah utara Kauman, sebelah barat dengan wilayah Carolus. Sebelah timur jalan tentara pelajar dan sebelah selatan Jambon legok.

Posisi lingkungan ini sangat strategis dan memiliki banyak keuntungan karena dekat dengan Gereja dan Masjid Agung, dekat dengan rumah sakit Lestari (lokasi di lingkungan), dekat dengan kantor kelurahan Cacaban, dekat dengan pasar swalayan, dekat dengan penjara, dekat dengan Kecamatan Magelang Tengah, dekat dengan Polsek Magelang Tengah, dan dekat dengan Koramil (Magelang tengah). Dengan posisi yang seperti itu, umat lingkungan menjadi kerasan karena di lingkungan banyak hal yang sangat mendukung kemudahan dalam hidup sehari-hari.

Menurut data di lingkungan ini pernah dipimpin oleh Almarhum Bapak Edi Hutoyo Heribertus (Karyawan Swasta) tahun 1977-1987, Bapak Kusdi (TNI) pada tahun 1987-1995, Almarhum Bapak BN Sugondo (POLRI) pada tahun 1995-2001, Bapak Al. Joko Pamungkas (PNS) pada tahun 2001-2007, dan bapak Ign. Joko Purnomo (Wiraswasta) pada tahun 2007-sekarang.

Kemandirian kepengurusan

Sebagai paguyuban, saat ini lingkungan memiliki pengurus lingkungan yang cukup lengkap dari Ketua, Sekretaris, Bendahara berikut Seksi – seksi sebagai pelaksana kerja pelayanan. Lingkungan ini juga memiliki kemandirian yang cukup tinggi dalam kegiatan-kegiatan lingkungannya. Setiap hari senin, lingkungan ini memiliki agenda untuk latihan koor pada pukul 18.00 bertempat di rumah Bapak C. Agus S. Untuk pembinaan iman umat, lingkungan ini mengikuti wilayah. Guna mendukung kegiatan liturgi, lingkungan ini memiliki 2 orang prodiakon, 5 orang putra Altar, 4 orang pemazmur, 2 orang organis, dan memiliki peralatan misa yang tidak lengkap.

Kesulitan yang dialami di lingkungan ini adalah susahnya mengumpulkan umat untuk terlibat di dalam kegiatan lingkungan. Beberapa umat bahkan jarang terlibat dalam kegiatan lingkungan karena kesibukan pekerjaan dan mengurus usahanya.

Tidak aktif tetap iuran
Dalam menjalankan kegiatan lingkungan, umat diwajibkan untuk memberikan iuran bulanan. Di samping itu ada dana dari kolekte untuk kegiatan lingkungan ini. Kegiatan lingkungan pada umumnya lebih diwarnai oleh kehadiran bapak-bapak (25 %) ibu-ibu (70%), mudika (5%). Partisipasi umat dalam pelaksanaan kegiatan lingkungan rata-rata 60 %. Pembinaan iman umat di lingkungan ini dilaksanakan melalui kegiatan PIA bagi anak-anak, bina umat untuk penerimaan sakramen inisiasi digabungkan dengan wilayah, pendalaman iman tematis seperti APP, BKSN, Novena, Advent. Di samping itu, misa lingkungan menjadi sumber makanan rohani. Dalam kesempatan-kesempatan tertentu, ibadat sabda untuk dan misa ujub keluarga juga menjadikan umat bergairah mengikuti kegiatan itu.

Secara sosial-ekonomi, di lingkungan ini terdapat kesenjangan sosial ekonomi yang sangat menonjol. Keterlibatan sebagian umat didalam kegiatan lingkungan juga sangat jarang, meskipun mereka tetap juga membayar iuran. Praktis yang terlibat secara aktif adalah umat yang ada dalam situasi sosial ekonomi menengah ke bawah. Untuk menyapa umat yang menutup diri, lingkungan ini melaksanakan kunjungan pastoral sesuai dengan program paroki.

Keterlibatan umat
Umat di lingkungan ini menjalin hubungan dengan umat yang beragama lain dengan memberi perhatian pada hari-hari besar keagamaan. Di samping itu, beberapa umat juga terlibat di dalam kepengurusan RT/RW dan juga terlibat di dalam kegiatan bersama dengan masyarakat.

CORNELIUS JAMBON 
Thursday, August 19, 2010, 04:35 - Profile Lingkungan Posted by Administrator
Lingkungan cornelius Jambon ini berdiri sejak tahun 1987. Jumlah umat di Lingkungan ini sebanyak 70 orang. Jumlah KK yang dimiliki sebanyak 29 KK. Dari jumlah KK yang dimiliki itu, terdapat 13 pasangan katolik, ada 1 pasangan nikah beda gereja dan 2 nikah beda agama (1 pasangan suami katolik-istri non kristen, 1 pasangan istri katolik-suami non kristen). Di lingkungan ini, kepala keluarga yang berstatus duda sebanyak 3 orang dan janda sebanyak 7 orang. Sementara itu, ada 3 KK tanpa nikah dan ada 1 KK yang belum tercatat dalam data lingkungan. Berdasarkan usia, umat yang belum menikah sebanyak 32 orang dan umat yang sudah menikah sebanyak 37 orang. Berdasarkan profesi atau pekerjaan, data umat di lingkungan ini menunjukkan pelajar sebanyak 7 orang, mahasiswa sebanyak 7 orang (5 laki-laki, 2 perempuan), PNS ada 2 orang (1 Laki-laki, 1 perempuan), Pensiunan/Purnawirawan sebanyak 3 orang (1 laki-laki, 2 perempuan), wiraswasta sebanyak 9 orang (4 laki-laki,5 perempuan) dan lain-lain sebanyak 42 orang.

Umat pendatang
Orang-orang yang turut membangun lingkungan Cornelius Jambon ini adalah Bapak Harjo Pawiro, Bapak Gregorius Kadir, Bapak M Dasuki, Bapak Brani Prasojo, Bapak VF Tripomo dan Ibu Lusia Wijayanti. Terbentuknya lingkungan ini diritis oleh umat katolik pendatang.

Peristiwa G 30 S/PKI mewarnai perjalanan orang-orang katolik di Magelang termasuk di lingkungan - lingkungan. Sekitar tahun 1979, dengan adanya peristiwa solo (konflik antara etnis tionghoa dengan pribumi) berdampak pada naiknya jumlah baptisan dari orang etnis tionghoa di Magelang. Beberapa dari baptisan itu berasal dari lingkungan ini.

Secara geografis gerejani, lingkungan ini berbatasan dengan lingkungan Carolus Jeksaan di sebelah utara, dengan lingkungan Katarina Semplon di sebelah timur, dengan lingkungan Cornelius Gladiool di sebelah selatan, dan dengan lingkungan Carolus Cacaban Timur. Secara geografis pemerintahan, lingkungan Cornelius Jambon terdiri dari umat yang berdomisili di kampung Jambon Legok RW 03, Kelurahan Cacaban dan RW 04 kelurahan Cacaban. Di sebelah utara, lingkungan ini berbatasan dengan RW 02 kelurahan cacaban. Di sebelah timur berbatasan dengan RW 05 kelurahan Cacaban, dan sebelah barat berbatasan dengan RW 06/07 kelurahan Cacaban.

Menurut data lingkungan, lingkungan ini pernah dipimpin oleh Bapak Brani Prasojo (1987-1992), Almarhum Bapak Mateus Dasuki (1993-2003), tahun 2004-2009 dipimpin oleh Bapak V.F. Tripomo, 2010 dipimpin oleh Ibu Lucia Widjajanti.

Menurut para tokoh umat, iuran lingkungan sudah berjalan semenjak Cacaban menjadi Kring dan iuran ini ditertibkan semenjak berdirinya wilayah dan lingkungan. Iuran ini untuk persembahan, kesehatan dan rukun kematian (RKM). Sejak tahun 2008, yang namanya persembahan, kesehatan dan RKM, di kumpulkan di lingkungan kemudian disetor ke paroki. Namun, 10% dari Iuran Persembahan dan RKM itu dikembalikan ke lingkungan untuk operasional lingkungan. Sementara untuk iuran kesehatan harus disetor penuh ke paroki.

Pada masa kepemimpinan almarhum Bapak M. Dasuki, lingkungan ini dibagi menjadi tiga blok yakni, blok bawah (Jambon legok), blok tengah (warga Jambon tengah) dan blok atas (Jambon gesikan). Hal ini terlaksana pada tahun 1994-1996. Latar belakangnya adalah untuk memudahkan pertemuan keluarga. Tapi hal ini cuma berjalan sekitar 2 tahun, karena penggagas/ pemrakarsanya Bapak R. Suharto berpindah domisili di luar kota. Sesudah itu, blok-blok itu ditiadakan sehingga kegiatan dikembalikan menjadi kegiatan lingkungan.

Pengurus dan program kerja
Sebagai paguyuban, lingkungan ini memiliki struktur kepengurusan sendiri yang cukup banyak, dengan maksud agar umat yang terlibat di dalam kegiatan lingkungan juga banyak. Melalui program kerja dan kemandirian yang cukup tinggi. baik jangka pendek maupun jangka panjang, yakni :
Program jangka pendek, mengadakan latihan koor (tiap hari Jumat) lingkungan untuk tugas ke paroki. Di samping itu, setiap tanggal 12, lingkungan mengadakan rapat lingkungan dengan membahas kegiatan lingkungan, laporan tiap bidang, menanggapi dan melaksanakan tugas dari dewan paroki. Lingkungan juga mengusahakan usaha simpan pinjam dan terakhir adalah melaksanakan tugas adorasi.
Program jangka panjang, lingkungan ini akan melaksanakan APP, doa bersama menjelang kenaikan kelas, rosario bergilir dari rumah-ke rumah di bulan oktober, melaksanakan ibadat arwah/misa arwah bagi orang beriman, melaksanakan adven, melaksanakan natalan/paskahan dan kunjungan orang sakit.

Untuk pembinaan iman umat dan mempersiapkan calon baptis, lingkungan ini memiliki 1 orang guru agama. Guna mendukung kegiatan liturgi, lingkungan ini memiliki 1 orang prodiakon, 1 orang putra Altar, 3 orang pemazmur. Lingkungan ini juga memiliki peralatan misa yang komplet. Lingkungan ini juga memiliki peralatan pemakaman dan juga memiliki peralatan sound system.


Kunjungan dalam dinamika pelayanan

Dalam menjalankan kegiatan lingkungan, umat diwajibkan untuk memberikan iuran bulanan. Di samping itu ada dana dari donatur dan kolekte untuk kegiatan lingkungan ini. Kegiatan lingkungan pada umumnya lebih diwarnai oleh kehadiran bapak-bapak, ibu-ibu, mudika dan anak-anak. Partisipasi umat dalam pelaksanaan kegiatan lingkungan rata-rata di atas 60 %. Pembinaan iman umat di lingkungan ini dilaksanakan melalui kegiatan PIA bagi anak-anak, bina umat untuk penerimaan sakramen inisiasi, pendalaman iman tematis seperti APP, BKSN, Novena dan Adven. Di samping itu, misa lingkungan menjadi sumber makanan rohani bagi umat lingkungan. Dalam kesempatan-kesempatan tertentu, ibadat sabda untuk dan misa ujub keluarga juga menjadikan umat bergairah mengikuti kegiatan itu. Lingkungan ini juga berusaha meningkatkan kemampuan sosial ekonomi umat melalui arisan lingkungan dan usaha simpan pinjam karena sebagian besar umat hidup dalam strata sosial ekonomi menengah ke bawah. Untuk menyapa umat yang menutup diri, lingkungan ini melaksanakan kunjungan pastoral sesuai dengan program paroki.


Terlibat dalam kemasyarakatan

Umat di lingkungan ini menjalin hubungan dengan umat yang beragama lain dengan memberi perhatian pada hari-hari besar keagamaan. Di samping itu, beberapa umat juga terlibat di dalam kepengurusan RT/RW dan juga terlibat di dalam kegiatan bersama dengan masyarakat. Umat lingkungan cornelius jambon ini sering bekerjasama dengan umat non katolik dalam penyelenggaraan hari-hari besar keagamaan seperti acara natalan dan syawalan. Beberapa umat di lingkungan ini juga berperan dalam kerjasama dengan pemerintahan setempat dalam penyelenggaraan pemilu maupun pilkada. Di lingkungan ini, umat yang berpindah agama dikarenakan perkawinan campur beda agama.

CORNELIUS GLADIOL 
Thursday, August 19, 2010, 04:32 - Profile Lingkungan Posted by Administrator
Lingkungan Cornelius Gladiool ini berdiri sejak tahun 1987. Jumlah umat di Lingkungan ini sebanyak 69 orang. Jumlah KK yang dimiliki sebanyak 21 KK. Dari jumlah KK yang dimiliki itu, terdapat 7 pasangan katolik, ada 1 pasangan nikah beda gereja dan 1 pasang nikah beda agama. Di lingkungan ini, kepala keluarga yang berstatus janda sebanyak 12 orang. Berdasarkan usia, umat yang belum menikah sebanyak 61 orang dan umat yang sudah menikah sebanyak 16 orang. Berdasarkan profesi atau pekerjaan, data umat di lingkungan ini menunjukkan pelajar sebanyak 12 orang (5 orang laki-laki, 7 orang perempuan), mahasiswa sebanyak 6 orang (4 laki-laki, 2 perempuan), Pensiunan/Purnawirawan sebanyak 7 orang (2 laki-laki, 5 perempuan), wiraswasta sebanyak 8 orang, sopir sebanyak 2 orang, swasta sebanyak 17 orang, TKW 1 orang, ibu rumahtangga sebanyak 12 orang, dan penganggur sebanyak 6 orang.

Umat berkembang dalam warna – warni kepemimpinan

Di masa berdirinya sebagai lingkungan, Cornelius Gladiool ini dimotori oleh Almarhum Bapak M Subakir yang pada waktu itu bekerja sebagai wartawan. Di samping itu ada beberapa tokoh umat yang turut juga mewarnai perjalanan lingkungan ini dengan cara dan kekhasannya sendiri-sendiri. Mereka adalah Almarhum Bapak Santoso (Guru), Almarhum Bapak Y Gumono (ABRI), Almarhum Bapak G. Parno (Guru), Bapak Antonius Hadi Prakosa (Pensiunan PNS), Bapak Sipon Dahono (Guru) dan Ibu Romini (Swasta).

Secara geografis gerejani, lingkungan ini berbatasan dengan lingkungan Carolus Kyai Mojo di sebelah utara, dengan lingkungan Katarina di sebelah timur, dengan lingkungan Yohanes di sebelah selatan, dan dengan lingkungan Carolus Cacaban. Menurut data lingkungan, tahun 1970-1981, lingkungan ini dipimpin oleh Bapak M. Subakir, tahun 1982-1987, dipimpin oleh bapak J Gumono, tahun 1988-1993 dipimpin oleh Bapak G. Parno. Tahun 1994-1997 dipimpin oleh Bapak P Santoso, tahun 1998-2006 dipimpin oleh Bapak Antonius Hadi Prakoso. Tahun 2007-sekarang, dipimpin oleh Ibu Yohana Romini.
Ibu - ibu

Ciri khas dari lingkungan ini adalah keterlibatan ibu-ibu di dalam kegiatan lingkungan. Hal ini dapat di mengerti karena ibu-ibu yang terlibat adalah ibu-ibu janda. Guna menjalankan kegiatan di lingkungan, umat diwajibkan untuk iuran bulanan. Kegiatan lingkungan pada umumnya lebih diwarnai oleh kehadiran ibu-ibu sebanyak 50 %, bapak-bapak 25 %, mudika 15 % dan anak-anak 15 %. Partisipasi umat dalam pelaksanaan kegiatan lingkungan rata-rata mencapai kurang dari 60 %.

Pembinaan iman umat di lingkungan ini dilaksanakan melalui kegiatan : PIA, pendalaman iman tematis (APP, BKSN, Novena, Advent). Secara sosial ekonomi, sebagian besar umat lingkungan ini ada dalam strata menengah ke bawah. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kemampuan sosial ekonomi, maka umat membuat usaha simpan-pinjam. Usaha yang dilakukan terhadap umat yang menutup diri dilaksanakan melalui kunjungan pengurus lingkungan.

Hubungan baik dalam dinamika masyarakat

Umat Katolik di lingkungan ini memiliki hubungan sangat baik dengan masyarakat setempat, terlebih dalam kegiatan untuk kepentingan bersama; dalam kepengurusan RT, RW. Juga dalam kegiatan – kegiatan lain seperti kerja bakti, kumpulan ibu – ibu Darwis dsb.

CATATAN AWAL SEJARAH GEREJA ST IGNATIUS 
Saturday, August 14, 2010, 03:12 - Sejarah Posted by Administrator
ROMO VOOGEL SJ

Dalam sejarah misi Katolik di Jawa, sejak tahun 1865 tercatat dua orang anak bernama Yoseph dan Sanisa dipermandikan di Magelang. Namun jangan dibayangkan kalau permandian itu dilakukan di sebuah gereja yang megah seperti gereja Ignatius sekarang ini. Sebab, baru pada tahun 1890 tanah yang kemudian menjadi komplek gereja ini dibeli oleh Romo F.VOOGEL, SJ. Kebetulan di atas tanah itu sudah ada suatu bangunan yang untuk sementara dijadikan tempat peribadatan.

Pembangunan gerejanya sendiri baru tercatat dilakukan pada tanggal 31 Juli 1899. Setahun kemudian, pada 22 Agustus 1890, sudah dapat digunakan untuk mempersembahkan misa kudus. Sedangkan pemberkatan gedung secara meriah pada 30 September 1900, dalam misa konselebrasi yang dipimpin Romo Mgr.LUYPEN,SJ dari Batavia, denagn didampingi oleh Romo MUTZAER SJ dari Cirebon, Romo ASSELBERGS,SJ dari Jogya, Romo FISHER dan ROMO HEUVEL dari Magelang. Sedangkan Romo F. VOOGEL, SJ justru tidak bisa hadir, karena sakit dan harus kembali ke Belanda.

Selain itu juga hadir Residen Kedu, petinggi militer Belanda di antaranya Kolonel Van der DUSSEN, tokoh-tokoh masyarakat Cina, dan tokoh-tokoh pribumi lainnya. Sedemikian meriahnya untuk ukuran saat itu, sehingga pemberkatan itu memancing kekaguman masyarakat Magelang tidak terbatas pada umat Katholik saja.

Saat bersejarah terjadi pada 27 Juni 1913, ketika seorang anak Jawa bernama Soewini (14) dipermandikan dengan nama Margaretha. Kemudian menyusul Maria Moerjati, dan selanjutnya disusul lagi oleh 12 siswa HIS (kini SDK Pendowo). salah satunya bapak Sangkrip dari Juritan/ Wilayah Paulus. Bertambahnya masyarakat Jawa memeluk agama Katholik ini merupakan buah kerja keras para misionaris yang namanya pantas ditorehkan dengan tinta emas, di antaranya Romo VAN LITH, SJ dan Romo J. HOVENAARS, SJ.

Perkembangan yang menggembirakan itu memunculkan pemikiran untuk memperluas gereja. Pada tanggal 15 Agustus 1926, perluasan dimulai dengan menambah dua sayap di kanan kiri induk bangunan, masing-masing selebar 3,5 meter. Keluarga ORIE yang kala itu tinggal di Belanda, menyumbang permadani untuk memperindah tampilan gereja.

Mulai tahun 1933, setiap hari minggu seusai misa siang, ada khotbah dan pelajaran agama yang disampaikan dalam bahasa Jawa oleh para Katekis. Sebagian besar para Katekis itu adalah siswa - siswa Perguruan Muntilan, hasil didikan Romo VAN LITH, SJ.



BENTURAN-BENTURAN PADA MASA REVOLUSI FISIK.


Perang Asia Timur Raya yang disulut oleh Jepang berdampak pilu bagi kehidupan Gereja, khususnya di Magelang. Pastur-pastur berkebangsaan Belanda banyak yang ditangkap dan dijebloskan ke dalam kamp interniran. Penggunaan bahasa Belanda dilarang. Kehidupan gereja semakin dirundung sendu dengan meninggalnya Rama SONDAAL SJ.

Walaupun Jepang tidak lama berkuasa di Indonesia, dan Republik Indonesia yang merdeka pada 1945 diakui kedaulatannya, namun nasib baik belum berpihak kepada Gereja. Pada 30 Oktober 1945, tentara Gurkha datang dan menduduki gedung Susteran Fransiskan, dan digunakan sebagai markas mereka. Keesokkan harinya, 1 Nopember 1945, sebuah drama berdarah berbau fitnah menimpa seluruh keluarga Pasturan Magelang. Lima orang Romo, dua Frater, dua Bruder, dan seorang koster diculik oleh segerombolan orang yang memancing di air keruh. Sepuluh orang ini dibawa dan dibunuh di kuburan Giriloyo Magelang. Tiga tahun kemudian peristiwa pembunuhan kembali terjadi. Romo SANDJAJA, Pr , yang saat itu dipercaya menggembala umat di Magelang, bersama Romo H. BOUWENS, SJ. diculik dan dibunuh di desa Patosan, Sedan, Muntilan.


LANGKAH MENUJU HARI CERAH

Warna kehidupan umat Katolik dalam berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan masyarakat sekitar juga menunjukkan perkembangan yang baik. Khusus di Magelang, hal ini tak lepas dari upaya gigih Romo TH HARDJOWASITO, Pr. dan Romo VAN HEUSDEN, SJ, yang berhasil menjalin hubungan yang baik antara gereja dengan masyarakat. Saat itu masyarakat Kampung Kauman dan sekitarnya, tak seorang pun yang tidak mengenal kedua Romo ini. Mereka menganggap dan merasa Gereja Ignatius Magelang merupakan salah satu bagian kehidupan mereka.

Nuansa keterbukaan dan keakraban ini semakin mekar berkembang setelah era Konsili Vatikan II. Justru ketika suasana panas melanda kehidupan masyarakat Indonesia menjelang dan setelah peristiwa Pengkhianatan G-30-S/PKI meletus (1965), rasa persatuan umat Katolik dengan orang-orang Kampung Kauman semakin mengkristal. Dalam suasana kehidupan yang diwarnai saling curiga terhadap pihak-pihak yang tak sealiran, umat Islam dan Katolik, yang terwakili oleh Pemuda Kauman dan Angkatan Muda Katolik Magelang, lebih mengencangkan hubungan dengan baik. Demi menjaga keamanan, gedung AMKRI Magelang dijadikan "posko" bersama. Dalam suasana yang semakin kondusif, umat Katolik Magelang bersama hirarki mulai memikirkan sarana peribadatan agar semakin memadai, salah satunya adalah renovasi gedung Gereja. Pada tanggal 1 Agustus 1962, dimulailah renovasi gereja dengan perencana dan pelaksananya dari kota Semarang.

Gedung yang semula bergaya Gothik dirombak total menjadi gaya yang sama sekali baru. Beberapa dari bagian gedung lama masih difungsikan sampai sekarang, di antaranya : jendela-jendela mozaik, tangga melingkar untuk naik ke balkon, dan lonceng gereja. Dana pembangunan diperoleh dari Keuskupan Agung Semarang, dari para donatur dan partisipasi umat melalui kolekte, dan juga uang saku pribadi Romo VAN HEUSDEN, SJ. Pembangunan renovasi gereja selesai dalam waktu sekitar tiga tahun.


KEMBANG MEKAR DI TANGAN TUHAN

Renovasi gereja sejalan dengan munculnya keinginan dari banyak orang yang menyatakan diri ingin dibaptis. Menyikapi hal ini, diadakan kursus katekis untuk mempersiapkan guru-guru agama dan karya pewartaan lainnya. Demikian pula pelayanan dalam pendidikan formal dengan mendirikan SDK Prontakan ( kini sudah tidak ada lagi ), serta sekolah-sekolah yang dikelola oleh suster-suster Tarekat Santa Perawan Maria di Dekil Magelang Utara.

Upaya ini semakin menambah jumlah umat yang untuk sementara berkembang secara kuantitatif. Perlu pemikiran untuk lebih memberi warna kualitatif lewat penggembalaan yang lebih baik. Pemikiran ini membuahkan keputusan untuk memecah Paroki St. Ignatius menjadi dua wilayah besar. Ini terjadi pada 1 Oktober 1971, dimana umat di wilayah Kecamatan Magelang Utara mandiri sebagai paroki dengan nama Paroki Santa Maria Fatima. Romo A. MARTADIHARDJA, SJ, yang saat itu menjadi pastur Paroki St. Ignatius Magelang, sangat berperan dalam upaya pemekaran ini.

Kembang mekar selanjutnya juga terjadi di Paroki St. Ignatius sendiri, yang sampai dengan tahun 1983 dibagi menjadi tujuh wilayah penggembalaan : Magelang, Panjang, Rejowinangun, Tidar, Jurangombo, Kemirirejo, dan Cacaban. Semakin kecil dan sempitnya wilayah pastoral ini bukannya berarti juga memperkecil nyali dan mempersempit pola pandang umat dalam pengembangan iman. Justru semakin banyak umat yang tersapa lewat pelayanan dalam segala aspek. Demikian pula semakin banyak tumbuh benih-benih unggul yang sebetulnya berpotensi, namun belum sempat unjuk diri dalam partisipasi menggereja.

Upaya pemekaran ini semakin menyeruak seiring pemekaran wilayah pemerintahan dengan munculnya kelurahan-kelurahan baru. Kini Paroki St. Ignatius Magelang terbagi menjadi 13 wilayah penggembalaan. Penggembalaan semakin diefektifkan dengan membagi 13 Wilayah dalam 36 Lingkungan. Pembagian tersebut di luar stasi-stasi yang ada di lereng Gunung Sumbing, yang terdiri dari Dampit, Kajoran dan Kaliangkrik.



E. Yusuf Kusuma ( dari berbagai sumber )



<<First <Back | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang