Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
PUISI-PUISI DOROTHEA ROSA HERLIANY. 
Tuesday, April 27, 2010, 14:20 Posted by Administrator
Borobudurlinks, 30 Maret 2010. Dalam rangka memperingati wafatnya Isa Al-masih 2010, borobudurlinks menurunkan beberapa artikel tentang sejarah misi Katholik di Magelang. Seperti kita ketahui, misi katholik di Indonesia bisa dikatakan dimulai dari wilayah ini,sebuah wilayah yang menyimpan sejarah perkembangan agama-agama ‘mapan’ di tanah air.

Untuk melengkapi rangkaian artikel itu kami juga menampilkan puisi-puisi yang bertema relijius Kristen karya DOROTHEA ROSA HERLIANY (Rosa), perempuan penyair terkemuka di republic ini, yang kebetulan lahir dan menetap di Magelang.

Rosa, lahir 20 Oktober 1963. Sudah menerbitkan 21 judul buku, Pernah menerima penghargaan seni dari Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata RI, Khatulistiwa Literary Award, Pusat Bahasa dll. Sering mewakili Indonesia dalam acara sastra di luar negri. Terakhir, tahun 2009 mengikuti festival puisi di Dubai, UEA (Maret), dan menerima stipendium (beasiswa) untuk tinggal di Jerman selama 4 bulan (April-Juli).

Bukunya terbaru: schenk mir alles, was die Männer nicht besitzen. doch schenk mir nicht das Himmelreich / Beri Aku Semua Yang Dibutuhkan Lelaki, Tapi Bukan Surga (buku puisi 2 bahasa, Indonesia-Jerman, multi media dengan CD ROOM). penerbit Ulme Verlaag. Germany, Agustus 2009. Buku puisi terbarunya sedang proses terbit: Tambur Methamorf.
Selamat menikmati (MMS/bolinks@2010).



MISA SEPANJANG HARI

setelah letih merentang perjalanan, kita sampai
di perempatan sejarah. menghitung masasilam
dan merekareka masadatang. segala yang telah
kita lakukan sebagai dosa, berhimpithimpitan
dalam album. berebut di antara mazmurmazmur dan
doa. dan kita pun belum putuskan perjalanan atau
kembali pulang.

katakata gugur jadi rintihan. percakapan berdesis
dalam isakan. keringat anyir dan darah bersatu
menawar dahagamu yang terlampau kental. engkau imani
taubatku yang mengering di antara dengkur dan igauan.
tubuh beku di antara altaraltar dan bangkupanjang.
di antara mazmur dan suara anggur dituangkan.
di seberang mimpi, pancuran dan sungai mati dengan
sendirinya. tibatiba kaupadamkan cahaya itu.

ruang ini gelap. aku raba dan kucaricari tongkat
si buta. kutemukan cahaya dalam fikiranku sendiri.
pejalan beriringan di antara gang dan musim yang
tersesat. kunyalakan cahaya dalam hatiku. biarlah
jika akhirnya membakar seluruh ayat dan syair yang
lupa kukemasi.

1992


IBADAH SEPAROH USIA

kalimatkalimat yang kauucapkan
berguguran dalam shadatku. inilah
kidung yang digumamkan!

berapa putaran dalam sembahyang langit.
tengadah di bawah hujan yang menaburkan
ayatayat tak pernah dibaca.

aku tak menemu akhir sembahyangku
yang gagap. lilinlilin tak menyala
dalam ruangan tanpa cahaya. gema mazmur
yang disenandungkan dari ruang mimpimu
beterbangan dalam tidurgelisahku. dan
kotbah yang sayup, bertebaran dari
mulutmulut kesunyian.

telah kautabuh loncengmu? sembahyangku
takjuga menemu akhir.

1992


TAMAN YANG SUNYI

aku sudah amat letih memandangi gaunMu di atas bangku
taman itu. berkalikali kuketuk pintu taman, Kau tak
membukakannya. sehingga bungabunga mekar tetap merunduk
dan daundaun kering pada rerumputan tetap berserak.
membiarkan kesendirianMu. aku bagai gambar diam pada
dinding, Kaubiarkan hampir terlepas.

berkalikali aku mengetuknya. Kau hanya membiarkan gaun
itu menempuruk, tak terpakai (hanya tanda bahwa Kau ada).
tak hentihenti aku mengetuknya, biarpun akhirnya gaun
itu pun tinggal bayangbayang. begitu terjaga, dan Kau
mendekat padaku, mendekat pada gambar yang hampir
terlepas itu, aku tibatiba menjelma sebuah kehidupan:
yang berkalikali mengetuk pintu dan berusaha senantiasa
menjamahMu

Jogya, 1989


AYAT AYAT YANG TAK TERSELESAIKAN

jarak antara aku denganMu hanya sutera tipis yang tak
tertembus. ayatayat yang tak terselesaikan untuk sampai
kepadaMu, menembusnya bertahun usia, berlintas matahari.
senantiasa terpenggal amin ya, Tuhan. dan kita
tibatiba merasa tak perlu menghapus jarak itu. sampai
rindu tak putusputus mencariMu dalam kitabkitab berdebu.
dan tanganMu menyentuh batinku yang sunyi.
aku mengenalMu yang berselimut abadabad yang panjang.
sebab kehidupan masih terus bergerak. aku mengenalMu
yang sendirian dalam gambar lautan. sendirian pada sampan
yang karam. berjalan di atas laut, tenang kepadaku.
seperti ombak yang pecah pada karang. mengelus batin
yang mengeras dalam kebisuan dendam. jarak antara aku
denganMu hanya karang – aku bertapa di dalamnya – dan
gemuruh suaraMu selalu sampai kepadaku. sehingga, aku
hanya ingin amin setelah baitbait doa selesai kuucapkan.

Jogya, 1989

MEREKA MEMBANGUN SUNGAI

mereka membangun sungai pada kepalanya, kata
seseorang. agar hanyut kalimatkalimat dalam
fikirannya menuju bendunganbendungan yang ditunggui
orangorang kosong. untuk memperebutkan rumusrumus
dan kesimpulan yang mengasingkannya dari kemanusiaan,
kata yang lain. agar tercipta makhlukmakhluk baru yang
pongah dengan hurufhuruf dan angkaangka membungkus
hatinurani. sehingga bumi yang purba membangun
kepompongnya pada kanvas sunyi, kata seseorang.

agar orangorang meninggalkan arti debu, kata yang lain.
agar orangorang meninggalkan arti hujan dan matahari.
agar orangorang tak paham bunyi angin. agar orangorang
tak mengerti kicau burung. agar orangorang tak tahu
kediaman batu. agar orangorang …

mereka membangun sungai, membangun
bendunganbendungan,
membangun orangorang kosong, muara, air, dan kebisuan
suarahalus dari mulutmulutnya, kata seseorang yang
menamakan dirinya nabi. orangorang telah meninggalkan
kefanaan, desahnya.

mereka membangun sungai dalam fikirannya. dalam
hatinuraninya. agar orangorang tak paham kediaman
ayatayat yang tak terbaca. agar orangorang …


DOA TAK HENTI

kuinginkan lautan sunyi dalam hatiku, agar
aku nikmati gelombang dan katakbergemingan
batukarang. agar aku nikmati getaran bianglala dan
sengatan musim matahari. kuinginkan ombak, badai, dan
kebuasan ikanikan raksasa. seorang nelayan: kecil dan
jelata! kuinginkan cakrawala tak bertepi –musim panen
tak hentihenti.

kuinginkan perahuperahu terambing ombak. agar aku
nikmati kecemasan nelayan. kuinginkan lautan luas tak
bertepi. agar tak sampai kuucapkan amin, sampai habis
kurajutkan robek sampan. kuinginkan....

1992


Supervisi KAS, 26 April 2010 
Tuesday, April 27, 2010, 13:27 - Lain-Lain Posted by Administrator



PERTEMUAN PENGURUS LINGKUNGAN 
Wednesday, April 21, 2010, 01:45 - BERITA Posted by Administrator

foto ilustrasi oleh yswitopr


Magelang - Bertempat di Panti Bina Bakti, pengurus lingkungan Paroki Ignatius berkumpul untuk belajar bersama Romo Wito mengenai optimalisasi pengurus lingkungan. Pertemuan yang diadakan pada hari Selasa, 20 april 2010, itu dihadiri oleh perwakilan 30 lingkungan. Ada 6 Lingkungan yang tidak hadir dalam pertemuan tersebut.
Dalam pemaparannya, Romo Wito mengajak pengurus Lingkungan untuk mengubah kebiasaan, "Bukannya jamannya lagi kalau setipa ada kegiatan, yang maju kok ketua Lingkungan. Setiap pengurus lingkungan harus bersinergi. menempatkan diri sesuai dengan porsi dan proporsinya." Ada keprihatinan dinamika kegiatan lingkungan didominasi oleh ketua Lingkungan. Apa-apa ketua lingkungan. Situasi dan tradisi ini menjadi momok ketika terjadi pergantian pengurus. Jarang sekali umat yang mau menjadi ketua lingkungan. Menanggapi hal ini, Romo Eito mengajak, "Mari kita ciptakan mekanisme. Mulai membiasakan diri untuk berbagi tugas. Sedikit demi sedikit kita harus mengubah diri. Berubah untuk berubah. Itulah motto yang harus kita hidupi. Mekanisme rapat lingkungan harus dioptimalkan."
Dalam kesempatan pertemuan yang digagas oleh tim kerja Bina Umat itu, Romo Wito juga menyinggung mengenai data. "Data menjadi sangat penting. Pastoral kita harus berbasis pada data. Kita harus berjuang untuk memiliki data itu sebab dari data itulah pastoral kita menjadi tepat sasaran."

Pertemuan yang dimulai pukul 17.00 berakhir pada pukul 19.00. Dalam evaluasi muncul kesadaran bahwa pertemuan seperti ini menjadi sangat penting untuk berbagi pengalaman pelayanan sekaligus belajara bersama untuk semakin mengembangkan lingkungan.
Tahlil Pun Bergema di Seminari 
Tuesday, April 20, 2010, 19:20 - BERITA Posted by Administrator
Senin, 19 Apr 2010 15:51:21 WIB | Oleh : M Hari Atmoko

Lepas magrib menyisakan gerimis, setelah sejak sore kota Magelang, yang dikelilingi lima gunung, diguyur hujan deras.


Orang pun mulai bergerak mengendarai sepeda motor dan mobil pribadi memasuki kompleks hijau dengan pepohonan rindang dan hamparan rumput yang tertutup gelap.

Deretan obor di kanan dan kiri jalan masuk Seminari Menengah Mertoyudan menyala seakan menembus terang estetika ekologis setiap orang yang berdatangan ke kompleks di tepi Jalan Raya Magelang-Yogyakarta, di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah itu.

Seminari adalah tempat para remaja mencoba menelusuri panggilan hidup khusus mereka menjadi imam Katolik. Sekitar 250 remaja dari berbagai tempat terutama di Jateng dan Daerah Istimewa Yogyakarta kini menempuh pendidikan imamat di seminari itu dari kelas nol hingga kelas III. Di lingkup pendidikan formal, lembaga itu setara dengan SMA.

Seorang pamong seminari, Romo Antonius Banu Kurniawan, menelepon penulis menjelang petang itu sekadar memberitahu bahwa panitia peringatan 100 hari wafat mantan Presiden K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memutuskan memindahkan tempat acara bertajuk "Merajut Merah Putih" dengan melibatkan tokoh lintas agama itu dari halaman ke aula konser musik seminari karena hujan.

Puluhan seminaris duduk rapi dengan memegang alat musik konser masing-masing di panggung tanda kesiapan mereka membangun kekuatan suasana atas peringatan untuk Sang Guru Bangsa itu.

Ratusan umat lintas agama tak tertampung di aula itu. Panitia agaknya telah menghitung secara cermat keadaan itu sehingga mereka menyiapkan deretan gelaran tikar di serambi sepanjang sekitar 50 meter di depan kelas para seminaris, sebuah "hall", dan salah satu aula lainnya yang terletak di depan ruang konser itu.

Sejumlah layar monitor lebar di berdiri di beberapa tempat itu untuk membantu mereka menyimak suasana di ruang utama.

Seakan tak ada jarak antara umat dengan para tokoh lintas agama yang hadir pada Minggu (18/4) hingga menjelang tengah malam itu. Mereka yang terdiri atas laki-laki, perempuan, pemuda, termasuk para perempuan berjilbab dan suster berasal dari berbagai kongregasi itu duduk berbaur di gelaran tikar.

Para tokoh lintas agama yang hadir antara lain Ketua Forum Persaudaraan Umat Beragama Yogyakarta, K.H. Abdul Muhaimin, pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam Tegalrejo Kabupaten Magelang, K.H. Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), pimpinan Wihara Buddha Mendut, Bante Sri Pannavaro Mahathera, budayawan Komunitas Lima Gunung Magelang, Sutanto Mendut, budayawan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Romo Mudji Sutrisno, dan Rektor Seminari Menengah Mertoyudan, Romo Antonius Gustawan.

Selain itu, terlihat pimpinan komunitas Kong Hu Chu Tempat Ibadah Tri Dharma Muntilan, Hing Artanto, pimpinan Gereja Kristen Jawa Kota Magelang, Pendeta Bambang Sukoco, Wakil Ketua Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah, Achmad Madjidun, dan Kepala Gereja Katolik Kevikepan Kedu, Romo Krisno Handoyo.

Semua menyantap hidangan yang sama-sama sederhana di bungkus plastik antara lain "sego kucing", bakwan, "tahu susur", tempe goreng, dan wedang jahe, yang diambil secara prasmanan sejak mereka masuk ke kompleks itu.

Foto Gus Dur ukuran 20R berpigura kayu warna hitam terpampang di salah satu sisi panggung, sejumlah perwakilan umat lintas agama berjalan lalu meletakkan bunga sedap malam di sebuah bokor di bawah foto itu. Bunga sedap malam menjadi piranti khas umat Buddha saat menggelar persembahyangan.

Lampu aula dimatikan. Bante Pannavaro yang mengenakan jubah biksu berwarna kuning emas itu beranjak dari tempatnya bersila, berjalan mendekati lilin besar yang berhias dengan deretan puluhan lilin kecil warna putih di bawah foto Gus Gur.

Pannavaro yang juga sahabat dekat Gus Dur itu terlihat menyalakan lilin dan selanjutnya menyerahkan lilin-lilin lainnya kepada sejumlah pemuda berbaju lengan panjang warna putih dan celana panjang warna hitam.

Entah apa maksudnya prosesi itu. Mungkin bisa dimaknai sebagai simbol atas pewarisan perjuangan menguatkan kampanye pluralisme yang telah diperjuangkan Gus Dur selama hidupnya.

Beberapa saat setelah Romo Banu bersama grup orkestra seminari itu menyuguhkan tembang populer bernafas islami "Tamba Ati", seorang ulama berasal dari Cirebon, Jawa Barat, Kiai Raden Ahmad Fuad, menyusul beranjak dari tempat bersila dan maju ke panggung. Ia duduk secara santun di deretan kursi kedua dari kanan untuk membacakan tahlil.

Suasana takzim terasa di kompleks seminari itu saat sang kiai melantunkan tahlil "lailla haillahllah". Tiada Tuhan selain Allah. Semua orang yang hadir dengan lilin di tangan masing-masing terkesan hening, menyimak selama sekitar setengah jam darasan doa dan tahlil untuk Gus Dur itu.

Jari-jemari tangan sang kiai dengan baju koko dan bersurban itu pun bergerak konstan, menghitung butir-butir tasbih kecilnya, seiring lantunan "lailla haillahllah" seratus kali mengiring darasan doa berbahasa Arab.

Gus Yusuf, salah satu pembicara sarasehan malam itu seakan menunjukkan sikap rendah hati dan menegaskan bangunan riil nan menakjubkan atas toleransi umat, saat merespons darasan tahlil itu.

"Tahlilnya terlalu lama, setengah jam, untungnya umat Katolik dan lainnya bisa menghargai seperti Gus Dur, ini kenyataan toleransi kita," katanya.

Ia pun berandai-andai. Jika malam itu setiap kelompok umat beragama mendaraskan doa selama setengah jam dengan cara masing-masing, "Merajut Merah Putih" untuk mengenang Gus Dur itu bakal selesai saat subuh.

Sang bante pun merespons ucapan Gus Yusuf dengan senyum tuanya yang tampak santun, Sutanto Mendut yang bertindak sebagai moderator sarasehan itu terlihat tertawa lepas, sedangkan hadirin secara serempak juga tertawa seolah hormat terhadap autokritik Gus Yusuf itu.

Mungkin boleh dibilang bahwa perjuangan Gus Dur secara tulus untuk menguatkan pluralisme Indonesia, secercah telah tampak saat tahlil yang khas cara Islam itu bergema eksotis di relung-relung seminari itu.

Darasan ungkapan dari para tokoh tentang sosok Gus Dur pun kemudian mengalir malam itu. Ungkapan mereka seakan membius umat lintas agama yang hadir di seminari itu.

Mereka seolah "mengiyakan" keunikan atas Guru Bangsa yang disebut oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, saat pemakaman Gus Dur di Jombang, Jawa Timur, sebagai tokoh pluralisme Indonesia itu.
Pannavaro mengatakan, kekuatan Gus Dur adalah ketulusannya memberikan penghargaan kepada pihak lain yang berbeda. Justru karena Gus Dur tanpa pamrih sehingga selalu dikenang oleh berbagai kelompok masyarakat.

"Banyak kelompok di Tanah Air selalu membuat waktu khusus untuk mengenang wafat Gus Dur. Sejak tujuh hari, 40 hari, dan kini 100 hari, ini akan terus dilaksanakan karena perjuangan tulus Gus Dur, karena pembelaan dan penghargaan Gus Dur terhadap perbedaan," kata Pannavaro yang juga tokoh penting di kalangan biksu Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI) itu.

Mudji Sutrisno, mengatakan, hanya jalan kebudayaan yang mampu menjadi landasan membangun sikap saling menghormati dan toleransi masyarakat yang terdiri atas berbagai suku, agama, ras, dan antargolongan.

"Pendekatan politik dan ekonomi tidak mampu membangun sikap itu, tetapi hanya secara kultural yang bisa," katanya.

Gus Dur bersama para tokoh lintas seperti Romo Mangunwijaya dan Nurcholis Madjid ketika itu, katanya, mendengungkan religiusitas.

Mereka, katanya, tidak pernah ingin mempersatukan agama-agama tetapi justru memupuk keragaman sebagai kekayaan yang indah atas bangsa dan masyarakat Indonesia.

Ia mengatakan, gerakan pluralisme menghadapi tantangan kelompok transnasional yang fanatik terhadap salah satu agama dan menafsirkan sendiri agamanya dengan meminjam tangan Tuhan.

"Kelompok transnasional memang tantangan gerakan pluralisme," katanya.

Muhaimin yang juga pengasuh Pondok Pesantran Nurul Umahat Kota Gede, Yogyakarta itu, mengaku, merasakan dahsyatnya keindahan pluralisme yang dibangun oleh Gus Dur.

Pluralisme yang menjadi spiritualitas Gus Dur, katanya, penting untuk dielaborasikan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Ia mengatakan, keragaman menjadi kodrat Bangsa Indonesia sehingga siapa pun yang ingin menyamakan baik secara politis maupun agama, pasti gagal
"Saya senang bante datang ke rumah, saya bahagia datang ke wihara, saya bangga bisa menginap di Katedral Jakarta. Para suster yang hendak kaul kekal sering menginap di pondok saya, empat hingga lima hari, dan bahkan mereka belajar dan mencoba mengenakan jilbab lalu berfoto bersama. Tidak ada masalah karena memang Indonesia ini plural," katanya.

Orkestra seminari pun mengakhiri peringatan 100 hari Gus Dur melalui suguhan satu lagu dalam empat bahasa yakni Indonesia, Arab, China, dan Inggris. Tema lagu tentang salam damai itu biasanya menjadi salah satu nyanyian rohani setiap kali umat Katolik mengikuti misa kudus, menjelang mereka menerima komuni suci.

Syair dalam bahasa Arab atas lagu berjudul "Kubawa Damai" itu sebagai berikut, "....Salimna salam mualaikum, salimna salam mualaikum, salimna salam mualaikum, salimna salam, salam, salam muaalikum". h

<<First <Back | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang