Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
SAATNYA BERBAGI 
Thursday, February 18, 2010, 19:24 Posted by Administrator

KOTAK APP DI PASTURAN IGNATIUS

Ade bergegas mencari ayah dan ibunya.

“Bu, ada titipan amplop!” katanya sambil menyerahkan amplop itu kepada ibunya.

“Amplop apa, Dik?” tanya ibunya.

Dengan semangat empat lima, Ade menjelaskan amplop itu.

“Tadi Pak Paijo ke sini. Terus nitipin amplop itu. Pak Paijo mengatakan kalau amplop itu adalah amplop APP. Gitu, Bu!”

Ibu Ade mengamati amplop itu dan memasukkan ke dalam buku Puji Syukur yang biasa dibawanya ke gereja.
“APP itu apa sich, Bu?” tanya Ade kepada ibunya yang masih sibuk dengan amplop dan Puji Syukurnya.

Ibunya gelagapan mendengar pertanyaan anaknya itu. Pura-pura aja tidak mendengar pertanyaan anaknya dengan pura-pura membolak-balik buku Puji Syukur.

“APP itu Aksi Puasa Pembangunan, dik!” sahut ayahnya dari ruang tamu.

Ade segera menemui ayahnya di ruang tamu. Karena penasaran, Ade segera memberondong ayahnya dengan pertanyaan-pertanyaan, “Trus kenapa harus ada amplop segala? Emangnya amplop itu untuk apa?”

“Ow.. gini lho, dik! Aksi Puasa Pembangunan itu salah satu ungkapan dalam masa Prapaska. Selama Prapaskah, kita berpantang dan berpuasa. Pantangnya setiap hari Jumat. sedangkan puasanya pada hari Rabu abu dan Jumat Agung".

"Emangnya cara pantang dan puasa itu bagaimana sich, Pak?" Ade makin tertarik dengan keterangan ayahnya.

"Cara pantang adalah memilih untuk tidak membuat apa yang paling kita sukai. Misalnya Adik puasa tidak jajan. Bapak pantang tidak merokok. Ibu pantang tidak dolan ke mall. Sedangkan puasa itu makan kenyang hanya sekali sehari".

"Wah... gampang sekali ya, Pak! Kalau cuma gitu, Adik aja bisa!"

"Memang sangat gampang, Dik. karena mudah itu, banyak orang malah tidak membuatnya. hahahaahaha..... Ya, tho? Karena mudah itu maka kita bisa membuat gerakan pantang dan puasa sendiri yang lebih berat. Selain itu, kita juga membuat gerakan pengumpulan dana APP. Nah, APP itu harus punya daya ubah, Dik!”.

Belum selesai menjelaskan, Ade langsung menyerobot, “Pengumpulan dananya kapan, Pak?”

Ayahnya hanya tersenyum, “Jadi, antara APP dan puasa itu ada kaitannya. Karena sebenarnya makna yang terkait antara puasa dan APP, yaitu memberikan hasil puasa dan pantang. Jadi penghematan yang dilakukan kita sisihkan sebagai wujud keprihatinan terhadap sesama yang berkekurangan lewat menabung. Misalnya adik pantang jajan, uang jajannya itu disisihkan. Klo bapak pantang rokok, uang beuat beli rokok disisihkan. kalau ibu pantang belanja atau main ke mall maka uangnya itu disisihkan. Dan itu fungsi dari amplop APP yang diedarkan oleh gereja”.

“Jadi amplop itu diisi selama masa Prapaskah ya, Pak?”

“Bener, Dik! Adik itu cerdas, ya... hehehehe... Ini baru anak bapak! Tapi gini, dik! Kita itu masih sering salah mengerti mengenai dana APP. Kayak ibumu itu. Amplop APP itu dianggap sebagai bentuk sumbangan wajib atau partisipasi yang nanti di isi saat ketua lingkungan datang mengambilnya, bukan hasil dari puasa. Makanya amplop itu disimpen!” kata ayah Ade sambil melirik ibunya.

"Iya dech... Ibu keliru!" Ibu Ade hanya bisa tersenyum kecut.

“Trus baiknya amplop itu diapain, Pak?”

“Gini aja.. Kita buat kotak APP. Trus kita taruh di ruang keluarga. Setiap hari kita sisihkan uang makan, uang jajannya asik, uang rokoknya bapak, dan uang belanjanya ibu.. Hasilnya kita masukkan ke kotak itu. Gimana, Dik?”

“Ok, Pak! Kita buat sekarang aja, ya?”

Kemudian Ade dan Ayahnya membuat kotak APP dan menaruhnya di ruang keluarga.

BAGAIMANA DENGAN ANDA?
ber - Aksi Puasa Pembangunan: Saatnya Berbagi 
Thursday, February 18, 2010, 19:17 - BERITA Posted by Administrator

kotak APP di pasturan Ignatius Magelang


Ade bergegas mencari ayah dan ibunya.

“Bu, ada titipan amplop!” katanya sambil menyerahkan amplop itu kepada ibunya.

“Amplop apa, Dik?” tanya ibunya.

Dengan semangat empat lima, Ade menjelaskan amplop itu.

“Tadi Pak Paijo ke sini. Terus nitipin amplop itu. Pak Paijo mengatakan kalau amplop itu adalah amplop APP. Gitu, Bu!”

Ibu Ade mengamati amplop itu dan memasukkan ke dalam buku Puji Syukur yang biasa dibawanya ke gereja.
“APP itu apa sich, Bu?” tanya Ade kepada ibunya yang masih sibuk dengan amplop dan Puji Syukurnya.

Ibunya gelagapan mendengar pertanyaan anaknya itu. Pura-pura aja tidak mendengar pertanyaan anaknya dengan pura-pura membolak-balik buku Puji Syukur.

“APP itu Aksi Puasa Pembangunan, dik!” sahut ayahnya dari ruang tamu.

Ade segera menemui ayahnya di ruang tamu. Karena penasaran, Ade segera memberondong ayahnya dengan pertanyaan-pertanyaan, “Trus kenapa harus ada amplop segala? Emangnya amplop itu untuk apa?”

“Ow.. gini lho, dik! Aksi Puasa Pembangunan itu salah satu ungkapan dalam masa Prapaska. Selama Prapaskah, kita berpantang dan berpuasa. Pantangnya setiap hari Jumat. sedangkan puasanya pada hari Rabu abu dan Jumat Agung".

"Emangnya cara pantang dan puasa itu bagaimana sich, Pak?" Ade makin tertarik dengan keterangan ayahnya.

"Cara pantang adalah memilih untuk tidak membuat apa yang paling kita sukai. Misalnya Adik puasa tidak jajan. Bapak pantang tidak merokok. Ibu pantang tidak dolan ke mall. Sedangkan puasa itu makan kenyang hanya sekali sehari".

"Wah... gampang sekali ya, Pak! Kalau cuma gitu, Adik aja bisa!"

"Memang sangat gampang, Dik. karena mudah itu, banyak orang malah tidak membuatnya. hahahaahaha..... Ya, tho? Karena mudah itu maka kita bisa membuat gerakan pantang dan puasa sendiri yang lebih berat. Selain itu, kita juga membuat gerakan pengumpulan dana APP. Nah, APP itu harus punya daya ubah, Dik!”.

Belum selesai menjelaskan, Ade langsung menyerobot, “Pengumpulan dananya kapan, Pak?”

Ayahnya hanya tersenyum, “Jadi, antara APP dan puasa itu ada kaitannya. Karena sebenarnya makna yang terkait antara puasa dan APP, yaitu memberikan hasil puasa dan pantang. Jadi penghematan yang dilakukan kita sisihkan sebagai wujud keprihatinan terhadap sesama yang berkekurangan lewat menabung. Misalnya adik pantang jajan, uang jajannya itu disisihkan. Klo bapak pantang rokok, uang beuat beli rokok disisihkan. kalau ibu pantang belanja atau main ke mall maka uangnya itu disisihkan. Dan itu fungsi dari amplop APP yang diedarkan oleh gereja”.

“Jadi amplop itu diisi selama masa Prapaskah ya, Pak?”

“Bener, Dik! Adik itu cerdas, ya... hehehehe... Ini baru anak bapak! Tapi gini, dik! Kita itu masih sering salah mengerti mengenai dana APP. Kayak ibumu itu. Amplop APP itu dianggap sebagai bentuk sumbangan wajib atau partisipasi yang nanti di isi saat ketua lingkungan datang mengambilnya, bukan hasil dari puasa. Makanya amplop itu disimpen!” kata ayah Ade sambil melirik ibunya.

"Iya dech... Ibu keliru!" Ibu Ade hanya bisa tersenyum kecut.

“Trus baiknya amplop itu diapain, Pak?”

“Gini aja.. Kita buat kotak APP. Trus kita taruh di ruang keluarga. Setiap hari kita sisihkan uang makan, uang jajannya asik, uang rokoknya bapak, dan uang belanjanya ibu.. Hasilnya kita masukkan ke kotak itu. Gimana, Dik?”

“Ok, Pak! Kita buat sekarang aja, ya?”

Kemudian Ade dan Ayahnya membuat kotak APP dan menaruhnya di ruang keluarga.

BAGAIMANA DENGAN ANDA?
RAPAT KOORDINASI TIM KERJA PIA 
Monday, February 15, 2010, 15:49 - BERITA Posted by Administrator

Magelang – Minggu 14 Februari 2010 merupakan hari valentine. Ketika banyak orang merayakan valentine, Tim kerja PIA justru mengadakan rapat koordinasi. Rapat diadakan di teras pasturan Ignatius.
Rapat ini dimaksudkan untuk membahas program kerja dan realisasinya. Koordinasi ini sangat penting mengingat program yang telah dibuat sebelumnya telah disetujui dalam rapat pleno Dewan Paroki pada hari Minggu, 7 februari yang lalu.
Selain membahas program, tim kerja PIA juga mengadakan simulasi bahan pertemuan APP untuk anak-anak PIA. Tim merencanakan dan melatih bahan-bahan yang telah disediakan oleh Tim Edukasi. Dengan simulasi ini, diharapkan APP untuk anak dapat berjalan dengan kreatif dan menarik perhatian anak-anak sehingga anak-anak semakin terlibat dan imannya semakin berkembang.

HENING 
Sunday, February 14, 2010, 07:29 - Inspirasi Posted by Administrator
“Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana” (Mrk 1:35)


Sadis kan? Hahahaha... malah jadi ketawa sendiri. Ga ada apa-apa kok tiba-tiba muncul pertanyaan ini. Hehehehe... Padahal ada maksudnya. Yang membuat sadis itu adalah petikan dari teks Markus itu. Memulai karya dengan doa. Dari doa itulah mengalir sebuah semangat untuk menjalani perutusan dengan lebih bersemangat. Dan dalam arti itu, pelayanan menjadi lebih bermakna. Ikut serta dalam karya Allah.
Manusia itu kan bukan apa-apa tanpa Allah. Sepandai-pandainya dia, secerdas-cerdasnya dia, sehebat-hebatnya dia... itu bukan apa-apa dihadapan Dia yang mahapandai, yang mahacerdas, yang mahahebat! Mengandalkan kemampuan hanya akan membawa manusia pada kesombongan. Dan kadang membawa pada pengingkaran akan Allah. Karena yakin dengan kemampuan sendiri, maka tidak lagi percaya akan adanya Allah.
Lalu? Karena tidak bisa sendiri, maka manusia diajak untuk bekerjasama bersama-sama dengan Allah, merajut kehidupan. Meneruskan karya penciptaan yang telah dimulai Allah. Karena bersama-sama dengan Allah, maka sudah semestinya karya dibuat semata-mata demi kemuliaan Allah. Bukan untuk sekedar mengajar kepuasan diri, apalagi untuk sebuah kesombongan diri. Manusia kan hanya ndompleng karya Allah. Jadi klo buat sendiri itu sama artinya dengan korupsi kan?
Merajut benag-benang kerjasama dengan Allah hanya mungkin terjadi ketika kita dekat dengan Allah. Kedekatan itu tampak dalam dinamika hidup doa dan renungan harian. Semakin kita bertekun dalam doa dan renungan, semakin kita sehati dengan Allah. Heheehehe.. tapi ini tidak mudah! Selalu ada banyak tantangan: inilah, itulah.. kesini, kesitulah.. de el el. Apakah kita mau dan berani meluangkan waktu? Itu aja... (YSW)


<<First <Back | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang