Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
Nobar film \'Soegija\' ke 21 ampelas Jogya, 8 Juni 2012 
Thursday, June 28, 2012, 19:56 - Lain-Lain Posted by Administrator













KEVIKEPAN KEDU : Pra Konggres Ekaristi Kevikepan Kedu 
Thursday, June 28, 2012, 19:31 - BERITA Posted by Administrator


‘Elok, menawan, mempesona dan begitu indah, suatu karya yang agung dan luar biasa dari Sang Pencipta. Lingkungan dan alam diciptakan sebagai pusat keseimbangan bagi keberlangsungan bumi, tidak hanya bagi umat manusia namun bagi keseluruhan mata rantai kehidupan’, begitu narasi yang muncul dari seorang perempuan muda diantara ribuan umat Katolik se Kevikepan Kedu ( Sabtu, 19 Mei 2012 ).



Lewat performa teaterikal sejumlah Orang Muda Katolik ( OMK ) Kevikepan Kedu menggambarkan tentang keserakahan manusia dengan penyalahgunaan dan eksploitasi terhadap alam secara berlebihan. Empat orang pemuda memerankan ‘buto’ memporak-porandakan bumi yang digambarkan dengan lembaran kain putih yang digelar oleh bidadari yang dimainkan oleh seorang remaja putri. Pada awalnya bumi alam semesta diciptakan Tuhan sebagai penunjang hidup manusia dan sumber kehidupan.



Sepenggal drama kehidupan tadi adalah sebagian dari acara OMK dalam menyongsong Konggres Ekaristi Keuskupan Agung Semarang ke II yang berlangsung 22 – 24 Juni 2012 di Ganjuran, Jogyakarta. Acara yang bertajuk ‘Pra Konggres Ekaristi’ ini diawali dengan Perayaan Misa Syukur yang bertepatan dengan Hari Komunikasi Sedunia ke 46, dipimpin secara konselebran oleh Vikjen Keuskupan Agung Semarang, Romo Pius Riyana Prapdi Pr bersama Romo FX. Krisno Handoyo Pr, Romo YS. Wito Karyono Pr, Romo Iswahyudi Pr, dan Romo Yudono Suwondo Pr.



Dalam homilinya Romo Pius mengatakan bahwa ; Dalam kehidupan ini kita butuh keseimbangan untuk bisa memahami dan mengerti tentang arti kebenaran yang sesungguhnya. Agar kita tidak salah dalam bertindak bukan saja kepada sesama, namun juga terhadap alam ciptaan. Keseimbangan sebagaimana pesan Paus Benediktus XVI di Hari Komunikasi Sedunia, adalah keseimbangan antara kata dan keheningan. Ketika kata dan keheningan saling mengucilkan, komunikasi lalu menjadi berantakan, entah karena menimbulkan kebingungan atau sebaliknya, menciptakan suasana dingin. Ketika keduanya saling melengkapi, maka komunikasi menjadi bernilai dan bermakna ; demikian lanjut Romo Vikjen.



Selepas Misa diadakan prosesi perarakan Sakramen Maha Kudus yang merupakan pusat misteri iman dalam agama Katolik. Perarakan yang menempuh jarak sekitar 5 km. Ini juga diikuti oleh hampir seluruh umat yang hadir menyusuri perkampungan sekitar lokasi Gua Maria Grabag. Di akhir perjalanan perarakan, umat melalui permenungan diajak untuk peduli dan memberi perhatian pada lingkungan sekitarnya. Melalui orasi, seorang pemuda berbusana serba hitam memekikan kalimat ; Dengarlah jerit tangis mereka ! Akulah orang berdosa, Lihatlah Dia mengalami penderitaan, kegersangan alam saat ini. Alam yang begitu indah, subur......., Dan sekarang hanyalah cerita belaka. Alam porak-poranda, banjir, tanah longsor, sudah menjadi hal biasa. Kenapa semua itu bisa terjadi ? Semua itu ada karena tingkah laku kita, manusia....., kenapa ? Sampai kapan ? Akankah mereka sadar ? Sadar akan perbuatan kita sampai saat ini. Hutan gundul, sampah telah menghancurkan alam kita........, Sadarlah !

E. Yusuf Kusuma ( Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu )


KEVIKEPAN KEDU : Gua Maria Bunda Penolong Abadi Secang 
Thursday, June 28, 2012, 19:21 - BERITA Posted by Administrator


Menandai bulan Mei 2012, bulan yang dipersembahkan khusus oleh umat Katolik bagi Bunda Maria, umat di wilayah St. Maria Regina Pacis Secang, Kabupaten Magelang Jum’at, 18 Mei 2012 meresmikan Gua Maria Bunda Penolong Abadi. Gua Maria yang berada di salah satu stasi dari Paroki St. Maria Fatima Magelang ini terletak di sebelah timur Kapel. Peresmian yang diawali pada pukul 17.00 dengan Misa Syukur yang dipimpin konselebran Romo Vikep Kedu, FX. Krisno Handoyo, Pr. dan Romo R. Sapto Raharja, Pr., Romo Paroki St. Maria Fatimah Magelang dan diikuti oleh sekitar 300 umat di wilayah dan para undangan dari paroki – paroki sekitar.



Dalam homilinya Romo Vikep Kedu mengatakan ; Kehadiran Gua Maria ini hendaknya membawa umat di wilayah ini secara lebih signifikan dan relevan memiliki kepedulian bukan saja kepada Gereja, namun juga lingkungan dan masyarakat yang ada disekitarnya. Lebih lanjut dikatakan ; jika malah membawa persoalan tentu ini tidak sesuai dengan misi apa yang dibawa oleh Bunda Maria.



Gua Maria Bunda Penolong Abadi Secang ini terletak di km.10 jalan raya Magelang – Semarang, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. Lokasi tempat peziarahan ini berbentuk persegi dengan panel jalan salib melingkar. Pada kesempatan itu juga diberkati sumber mata air yang terletak disebelah kanan belakang pelataran yang berbatasan dengan kapel. Sebagaimana dituturkan oleh panitia, bahwa patung yang disemayamkan di gua adalah pemberian dari Uskup Agung Semarang, Mrg. Johanes Pujasumarta.



KEVIKEPAN KEDU : 65 TAHUN TARAKANITA 
Thursday, June 28, 2012, 18:48 - Inspirasi Posted by Administrator


Lebih 4000 penonton hadir memadati gedung pertemuan Tribakti Magelang (Kamis , 21 Juni 2012). Malam itu siswa-siswi SD,SMP,SMA,SMKK yang bernaung di bawah Yayasan Tarakanita Magelang menggelar pertunjukan seni yang bertajuk ‘Serviam In Caritate’ – Pengabdian Cinta. Drama kolosal yang melibatkan 600 siswa-siswi ini dipersembahkan dalam memperingati Jubelium 175 tahun Kongregasi Suster – suster Carolus Borromeus, pendiri lembaga pendidikan Tarakanita dan 60 tahun berdirinya Yayasan Tarakanita.



Pertunjukan seni gerak, lagu dan drama yang mengisahkan sejarah awal mula berkaryanya kongregasi suster-suster Carolus Borromeus di Indonesia dan berdirinya sekolah Tarakanita ini disutradarai oleh Bondan Nusantara, sedangkan musiknya digarap oleh Adek Wijayanto, guru pengasuh pendidikan ekstra kurikuler musik SMA Tarakanita Magelang. Dalam sambutannya suster Avriani Widyastuti, CB, Ketua Yayasan Tarakanita Magelang mengatakan ; ‘Pertunjukan ini merupakan ekspresi para siswa-siswi Tarakanita dalam menuangkan minat-bakatnya yang selama ini diikuti melalui pelajaran ekstra kurikuler, khususnya bidang seni’



Dalam tata lampu yang apik dan komposisi musik yang dinamis ‘Serviam In Caritate’ tampil menawan malam itu. Alur cerita yang diawali dengan komposisi musik lembut, mengalir mengiringi lagu dan tari ‘Satu hati Satu Semangat’ yang bercerita tentang karya perutusan dan peran sekolah Tarakanita bagi bangsa Indonesia, khususnya dalam ikut mendidik manusia muda menjadi cerdas dan berbela rasa. Pada bagian lain kolaborasi orkestra yang memadukan berbagai alat musik, piano, biola, drum, perkusi dan gamelan menyajikan lagu – lagu ; ‘Hatiku Bernyala’, ‘Masih Ada Bintang’, ‘Yo Ayo Bangkit’, Dunia Membutuhkan Kita’, dan ‘Pemilik Masa depan’. Pagelaran yang berlangsung 1,5 jam ini merangkai gerak tari dan drama musikal sejarah lahirnya lembaga pendidikan Tarakanita dan peran sertanya dalam kehidupan masyarakat di Magelang.



Dalam karya mengembangkan pendidikan di Indonesia, yayasan Tarakanita mengelola di 7 wilayah, yang salah satunya adalah wilayah Jawa Tengah dengan sekolah TK, SD, SMP, SMA Tarakanita dan SMK Pius Magelang, SMP Pendowo Ngablak Kabupaten Magelang dan TK, SD, SMP Tarakanita Solo baru.

E.Yusuf Kusuma (Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu)


<<First <Back | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang