Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
Kontingen Koor Paroki Ignatius Juara II 
Wednesday, February 16, 2011, 13:17 - BERITA Posted by Administrator

Koor Wilayah Gregorius Plus


Bertempat di Gereja Ignatius diadakan Festival Lagu-lagu Perkawinan se-Kevikepan Kedu. Festival ini diadakan pada hari Selasa, 15 Februari 2011. Festival ini diikuti oleh 6 paroki dengan 7 kelompok peserta, yaitu Paroki Parakan, Temanggung, Fatima, Ignatius, Pancaarga dengan 2 kelompok, dan Salam.

"Festival ini dimaksudkan untuk semakin memperkenalkan lagu-lagu perkawinan yang dibuat oleh Tim Musik Liturgi KAS. Dengan semakin diperkenalkannya lagu-lagu perkawinan ini, diharapkan khasanah lagu perkawinan menjadi semakin lengkap. Dan, ke depannya tidak ada lagi llagu-lagu pop atau lagu yang tidak secara khusus dibuat untuk kepentingan lituri tetapi dipakai untuk kepentingan liturgi" demikian penjelasan Romo Wito selaku penanggungjawab Festival ini.

Dalam Festival Lagu-lagu Perkawinan ini yang diadakan oleh Komisi Liturgi Kevikepan Kedu ini Paroki St Ignatius mengirimkan satu wakil, yaitu Wilayah Gregorius. Wilayah Gregorius dipilih menjadi wakil karena menjadi penampil terbaik dalam acara serupa yang dilakukan oleh Paroki Ignatius pada tahun lalu.

Keterlibatan Wilayah Gregorius plus tambahan dari beberapa personil dari wilayah lain membagakan. dalam Festival Lagu-lagu Perkawinan tersebut, Wilayah Gregorius berhasil menyabet 2 thropy, yaitu sebagai Juara II dan Pemazmur Terbaik.

Sambutan umat dalam kegiatan ini cukup besar. Hal ini tampak dari animo penonton. Bahkan, tidak hanya umat Katolik. Beberapa Gereja Kristen di Magelang juga ikut hadir menyaksikan Festival ini.
SISA-SISA KENANGAN ERUPSI MERAPI 
Sunday, February 13, 2011, 01:28 Posted by Administrator


Peristiwa erupsi Gunung Merapi pada bulan Oktober dan November 2010 tergolong yang paling mencengangkan sekaligus mencekam. Betapa tidak. Durasi letusan itu sendiri amat lama dan sulit diprediksi, muntahan lava luar biasa banyak (diperkirakan mencapai 170 juta m3). Ditambah lagi bencana pasca letusan berupa banjir lahar dingin yang merusakkan 14 jembatan, derasnya banjir pasir dan batu yang meluluh-lantakkan desa Jemoyo, Gempol, Sirahan dan sekitarnya, hingga sekarang nampaknya masih belum berakhir.
Belum lagi lahar dingin sebanyak 70 juta m3 yang saat ini masih mengisi kali Gendol, hulu sungai Opak, yang sewaktu-waktu bila hujan deras terjadi akan mambahayakan daerah aliran sungai Opak.
Di sini pembaca kami ajak menyaksikan satu fenomena lain dari saat-saat kritis letusan Merapi. Saat letusan besar sedang terjadi, bola api besar menyeruak keluar dari kepundan. Luar biasanya, beberapa saat kemudian setelah lava pijar mulai meluncur turun, dari jauh terlihat seperti figur CORPUS CHRISTI yang ada di salib.
Satu foto kami ambil dari http://my.opera.com/thetomster/blog, satu lagi kiriman dari seorang relasi di Jakarta, tanpa menyebut sumbernya.



Corpus 1




Corpus 2


Komentar anda?

Wawan Hati Umat Kedu dengan Mgr Pujo 
Thursday, February 10, 2011, 16:08 - BERITA Posted by Administrator
Bertempat di Gedung Pertemuan Mandala diadakan wawan hati umat kevikepan Kedu dengan Mgr Johannes Pujosumarto, uskup Keuskupan Agung Semarang yang dilantik menjadi Uskup Keuskupan Agung Semarang pada 7 Januari silam. Sebelumnya, Mgr Pujo, demikian panggilan akrabnya, menjabat sebagai Uskup di Keuskupan Bandung. Pencipta lagu berjudul Kupu-kupu itu kembali lagi terbang ke arah timur.

Wawan hati ini diadakan pada hari Rabu, 9 Januari 2011. Wawan hati ini dihadiri oleh perwakilan paroki-paroki, komunitas dan lembaga karya yang ada di wilayah kevikepan Kedu. Ada sekitar 200an tamu undangan yang hadir dalam wawan hati ini.

Salah satu hal yang menarik adalah bahwa wawan hati ini diadakan dalam suasana sedih karena peristiwa pengrusakan gereja yang terjadi di Temanggung, salah satu paroki di wilayah Kevikepan Kedu. Untuk itu, awal wawan hati ini dibuka dengan sharing pengalaman atas peristiwa pengrusakan gereja tersebut yang disampaikan oleh saksi-saksi mata dari paroki Temanggung. Kesaksian ini sekaligu suntuk menjawab berbagai ketegangan yang beredar di tengah umat berkaitan dengan aneka isu dan rumor yang beredar melalui sms berantai.

Dalam wawan hati, Mgr Pujo mengajak umat untuk kembali menekuni dan menjadikan arah dasar Keuskupan Agung Semarang 2011-1015 sebagai tonggak langkah menuju Gereja yang semakin signifikan dan relevan. "4P bisa menjadi entry point untuk mengingat arah dasar. P yang pertama adalah Penghayatan: menjadikan iman semakin mendalam dan tangguh. P yang kedua adalah Pendalaman: keterlibatan umat sehingga perannya ditengah gereja dan masyarakat semakin optimal. P yang ketiga adalah Pemberdayaan: bagaimana umat diajak untuk semakin memberdayakan KLMTD. P yang terakhir adalah Pelestarian: usaha terus menerus untuk melestarikan keutuhan ciptaan" ungkap Mgr Pujo.

Pertemuan ini ditutup dengan acara santap malam bersama.
Pembakaran Gereja: Tindakan Biadab 
Thursday, February 10, 2011, 16:01 - BERITA Posted by Administrator

Demikian ditegaskan Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Nusron Wahid. Penegasan Nusron Wahid ini disampaikan setelah mengadakan pertemuan silaturahmi dengan pengurus Gereja St Petrus dan Paulus Temanggung di aula pasturan Gereja. “Tidak ada satu kalimat, bahkan satu kata pun, yang mengijinkan atau melegitimasi seseorang untuk melakukan perusakan tempat ibadat agama lain” tegasnya.

Dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh Romo Sulis [pastur paroki Gereja Temanggung], Romo Purnomo [Provinsial MSF], dan Romo Krisno Handoyo [Vikep Kedu] tersebut berlangsung dalam suasana yang santai. Pertemuan tersebut juga membahas rencana ke depan. Langkah pencerdasan umat harus terus menerus dilakukan. Semua tokoh agama diajak untuk ikut terlibat, bukan malah menciptakan suasana yang tidak nyaman sehingga timbul lagi gesekan antar pemeluk agama.



Dalam kehidupan bersama memang dipastikan akan ada perbedaan. Perbedaan-perbedaan itu sangat wajar dan memang harus ada. Perbedaan itu tidak hanya ada dalam kehidupan bersama dalam masyarakat yang manjemuk. Dalam kehidupan satu agama pun akan muncul perbedaan-perbedaan. Atas perbedaan itu, tinggal manusia-manusianya yang harus arif dan bijaksana mengambil tindakan. Normalnya, masyarakat Indonesia yang terkenal dengan keramah-tamahan dan keindahan budayanya akan mengedepankan harmoni dan keselarasan. Inilah pilar utama kehidupan yang penuh dengan kedamaian. Perbedaan tidak harus diselesaikan dengan kekerasan, apalagi dengan tindakan perusakan tempat ibadat.

Dua peristiwa yang terjadi dalam minggu ini memang mencengangkan. Peristiwa penyerangan warga ahmadiyah di Cikeusik yang meminta korban jelas bermuara pada persoalan satu keyakinan. Sesama umat saling menyerang. Peristiwa penyerangan 3 gereja di Temanggung merupakan persoalan beda keyakinan. Keyakinan yang satu menyerang keyakinan yang lain.

Peristiwa di Temanggung bermula dari sidang penistaan agama yang dilakukan oleh A Richmond Bawengan (58). Sidang yang dilakukan hari Selasa, 8 Februari 2011, itu berakhir ricuh. Sejumlah massa yang emosional turun ke jalan utama di Kota Temanggung dan melakukan pembakaran terhadap tiga gereja yang ada di kota tersebut. Keberingasan massa itu dipicu oleh vonis yang dijatuhkan kepada terdakwa, yaitu 5 tahun penjara. Vonis 5 tahun penjara ini adalah vonis maksimal yang dimungkinkan dari pasal yang digunakan untuk menjerat terdakwa.



Menurut keterangan beberapa saksi, apa yang dilakukan oleh Antonius Richmond Bawengan yang menggunakan KTP Kebon Jeruk, Jakarta Barat, ini sebenarnya tidak hanya menistakan agama Islam. Ia pun menistakan agama lain. Disinyalir, ia mengajarkan Injil yang menyimpang.

Terlepas dari carut marutnya persoalan, adalah tidak benar melampiaskan emosi dengan melakukan perusakan tempat ibadat dan fasilitas umum. Perbedaan-perbedaan yang ada hendaknya tidak menjadi dasar untuk menyerang atau menghancurkan yang lain. "Menegakkan kebenaran agama harus dengan jalan yang benar, bukan dengan mencoreng kebenaran dan kesucian ajaran agama. Seharusnya dialog diutamakan," tuturnya.

Atas kedua kasus itu, terdengar khasak-khusuk yang menghubungkannya dengan kepentingan politis. Pergunjingan mengenai isu pengalihan atas kasus-kasus besar di negeri ini pun segera tersebar. Apakah memang demikian? Rasanya bukan kapasitas untuk membahas persoalan itu. Yang lebih besar untuk dibicarakan adalah bagaimana keluar dari silang sengkarut kehidupan beragama di negeri ini. Dalam persoalan yang lebih luas, kehidupan berbangsa dan bernegara berada di atas persoalan politis. “Untuk urusan politik, silahkan ditawar. Tetapi untuk urusan kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak ada tawar menawar lagi. Itu sudah harga mati” demikian tegas Nusron. Hakekat kehidupan berbangsa adalah hidup berdampingan secara rukun, bahu membahu menuju bangsa yang sejahtera. Perbedaan hendaknya menjadi sarana untuk sampai kepada cita-cita bangsa yang sejahtera.

Kapan akan tercapai ketika masing-masing masih menganggap yang lain sebagai musuh? Kapan bangsa ini akan maju ketika yang satu mengutuk yang lain? Stigma seperti inilah yang akan membawa bangsa ini mundur. Tindakan anarkhis yang demikian mudah dilakukan semakin menunjukkan jati diri bangsa ini yang jauh dari peradaban modern. Kiranya, usaha pencerdasan harus terus menerus dibuat dan dilakukan. Oleh siapa? Mari bertanya pada diri sendiri.


<<First <Back | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang