Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
BENCANA MERAPI: BENCANA NASIONAL? 
Saturday, January 15, 2011, 15:43 - Inspirasi Posted by Administrator

dibalik endapan pasir masih ada pengharapan


“Kapan Merapi akan mereda?” demikian ungkap seorang warga yang menjadi korban keganasan Merapi. Warga yang lain turut mengiyakan pertanyaan temannya itu. Merapi seolah tak mau berhenti. Setelah terjadi erupsi Merapi tahun lalu, disusul dengan banjir lahar dingin. Penderitaan masyarakat makin hari makin bertambah.
Dari berbagai prediksi, mulai dari prediksi yang berbau mistis hingga prediksi rasional, bencana Merapi masih akan berlangsung agak lama. Setidaknya, akibat bencana Merapi masih akan berlangsung hingga bulan April mendatang. Prediksi ini bukan tanpa dasar. Menurut Kepala Pusat data Informasi dan BNPB Sutop Puro Nugroho, Merapi menyimpan 140 juta kubik lahar dingin yang sewaktu-waktu dapat mengalir turun. Akitvitas ini akan berlangsung hingga bulan April mengingat prediksi musim hujan yang juga akan berakhir pada bulan April.

Banjir lahar dingin akan banyak mengarah ke daerah Magelang. Hal ini bukan merupakan sebuah kebetulan semata. Kawasan Merapi bagian barat merupakan kawasan yang menyimpan banyak material Merapi yang lebih ringan. Pada erupsi tahun lalu, hujan abu yang dikeluarkan oleh Merapi menyebar ke arah Barat. Akibatnya, kawasan Merapi sisi Barat lebih banyak menyimpan material hasil letusan. Karena material vulkanik yang ringan, menjadikan daya dorong atau daya luncur lebih cepat. Hal ini sudah terbukti pada bajir lahar dingin pada Minggu, 9 Januari silam. Kecepatan luncuran lahar dingin demikian cepat sehingga bagian bawah sedikit terlambat bereaksi. Akibatnya korban bertambah banyak dibandingkan banjir lahar dingin pada tanggal 3 Januari 2011. Bukan hanya korban harta benda, tapi korban manusia pun bertambah.



Saat ini, curah hujan di kawasan Merapi masih sangat tinggi. Potensi banjir lahar dingin masih tetap mengancam, terutama di sepanjang daerah aliran sungai Kali Krasak, Kali Putih, Kali Blongkeng, Kali Pabelan, Kali Senowo, dan Kali Apu. Potensi ini tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Lamanya erupsi Merapi pada tahun lalu telah menimbulkan penderitaan tersendiri bagi masyarakat. Kini, penderitaan itu akan terus bertambah mengingat semakin luasnya daerah yang terkena bahaya sekunder erupsi Merapi. Masa pemulihan pun akan semakin bertambah panjang.


jembatan soropl sebelum dan sesudah tanggal 9 Januari


Jika dibandingkan, efek erupsi dan efek banjir lahar dingin Merapi jelas berbeda. Situasi yang diakibatkan bahaya sekunder Merapi terasa lebih dramatis. Tidak sedikit perkampungan yang rata dengan pasir. Rumah-rumah warga banyak yang hilang tersapu lahar dingin atau terendam pasir. Puluhan hektare sawah dan ladang hancur. Padi yang telah menguning tak lagi bisa diharapkan karena tersapu lahar dingin. Banyak akses jalan terputus. Jembatan-jembatan yang menjadi penghubung desa yang satu dengan desa yang lain tak berbekas karena terbawa arus. Hal ini terjadi di daerah Progowati Muntilan. Jembatan Srowol hancur tersapu lahar dingin. Pemerintah berusaha membangun jembatan darurat dengan menyewa jembatan buatan dari AKMIL. Tetapi jembatan buatan itupun kini telah hancur karena disapu banjir 9 Januari silam. Bahkan salah satu rumah yang ada di tepi sungai pun kini tak lagi ada bekasnya.

Situasi ini jelas berbeda dengan situasi pada saat erupsi tahun lalu. Pada waktu itu, para pengungsi masih bisa menengok rumah, menyelamatkan harta benda termasuk ternak mereka. Kini, apa yang akan diselamatkan? Warga yang berada si sepanjang aliran sungai yang dilalui arus lahar dingin benar-benar terpuruk. Rumah, harta benda, dan lahar pertanian yang menjadi tumpuan harapan hilang tersapu atau terkubur material lahar dingin. Apa lagi yang akan diharapkan dari situasi yang mereka hadapi?

Menyingkirkan material lahar dingin membutuhkan mobilisasi yang luar biasa, baik itu tenaga maupun biaya. Sangatlah tidak mudah membersihkan endapan material pasir setinggi 1-3 meter. Jika mengikuti prediksi yang menyebutkan potensi bahaya banjir masih akan berlangsung hingga bulan April, usaha yang dilakukan seolah terasa sia-sia. Hari ini dibersihkan, tapi beberapa hari kemudian bisa datang lagi dengan volume yang lebih besar. Ambil contoh yang terjadi di Pasar Jumoyo. Banjir yang terjadi pada tanggal 3 Januari meluas sampai 100 meter. Namun luasnya daerah yang terkena luapan lahar dingin menjadi 300 meter pada banjir 9 Januari. Melihat kemungkinan ini, akankah pembersihan menunggu hingga ancaman banjir lahar dingin itu terhenti?

Jika menunggu, apa yang harus dibuat oleh masyarakat? Haruskah mereka diam menunggu? Dari mana mereka akan hidup? Sejuta pertanyaan terlontar, tetapi hanya diam. Seolah tak ada jawaban yang bisa diberikan dengan pasti. Di satu sisi, aliran dana bantuan tidaklah sederas ketika terjadi erupsi Merapi. Padahal kerugian yang dialami masyarakat tidak kalah jauh dibandingkan ketika masa erupsi. Mungkin kerugian yang diderita lebih besar masa sekarang. Hal ini disebabkan rusaknya sektor perekonomian masyarakat, terutama lahan pertanian yang menjadi tumpuan hidup masyarakat. Ketika sektor ekonomi yang mengalami kelumpuhan, akankah masyarakat diam menunggu uluran tangan sambil menunggu redanya ancaman bajir lahar dingin tanpa bisa berbuat sesuatu?



Mengingat kerugian yang demikian besar, bencana Merapi ini diangkat menjadi masalah nasional. Mulai dari masalah pengungsian hingga managemen pemulihan ditangani oleh pemerintah. Mengandalkan usaha masyarakat yang ternyata bergerak lebih cepat tentu tidak mudah karena keluasan jangkauan yang harus ditangani. Mengandalkan pemerintah Kabupaten Magelang? Rasanya persoalan ini terlalu besar untuk dtanggung oleh Pemerintah Kabupaten Magelang. Inilah saat bagi Pemerintah untuk menunjukkan kepedulian dan perhatian kepada masyarakat. Masyarakat tidak membutuhkan janji-janji, melainkan bukti nyata. Inilah saat bagi masyarakat untuk menagih janji yang keluar dengan manis pada waktu pemilu.

RAKER DP PAROKI 2010 
Thursday, December 16, 2010, 12:50 - BERITA Posted by Administrator

Romo Krisno sedang memaparkan proyek pastoral 2011

Bandungan - Ditengah dinginnya hawa pegunungan, Dewan Paroki St Ignatius Magelang mengadakan Rapat Kerja. Raker ini diadakan di Wisma Shallom Bandungan pada tanggal 11-12 Desember 2010.

Dalam rapat kerja yang diikuti 127 orang anggota Dewan ini dibahas mengenai pelaksanaan program kerja 2010. Proses evaluasi ini dipandu oleh Romo Wito. "Gerak Paroki telah dituntun oleh visi dan misi paroki. Motto Berubah untuk Berbuah menjadi reffrein yang terus menerus didengungkan. Namun, roh dari visi dan misi belum menjadi roh program kerja. Buktinya,banyak program kerja yang tidak menjawan fokus pastoral 2010: pemberdayaan paguyuban," demikian kesimpulan yang disampaikan oleh Romo Wito.


Keseriusan para peserta RaKer dalam berdiskusi


Setelah mengadakan evaluasi, para peserta raker diajak untuk membuat potret paroki Ignatius. Berangkat dari potret yang ada inilah akan dirumuskan tujuan program tahun 2011. Adapun tujuan program selama tahun 2011 adalah "Berdayanya KLMTD sehingga Gereja Ignatius menjadi semakin relevan dan signifikan". Tujuan ini dibreak-down lagi menjadi beberapa tujuan jangka pendek yang hendak dicapai selama tahun tahun 2011. Dengan segala kemampuan yang ada, para peserta berjuang untuk sampai pada rumusan capaian atau tujuan. Rumusan capaian inilah yang nantinya akan menjadi dasar bagi tim-tim kerja dalam membuat program kerja tahun 2011.

Meski pun belum sempurna, namun antusiasme para peserta patut mendapat acungan jempol. Para peserta demikian bersemangat untuk mengikuti proses dan mencapai hasil yang diinginkan.

pada bagian akhir, Romo Krisno Handoyo menyampaikan dasar-dasar pastoral di paroki Ignatius. Romo Krisno menjelaskan Arah Dasar KAS tahun 2011-2015. Romo KRisno juga menjelaskan kembali Visi dan Misi Paroki yang telah dirumuskan oleh paroki Ignatius. Tak lupa, aneka kebijakan pastoral yan gakan dilakukan pada tahun 2011 juga disosialisakan. Harapannya umat semakin terbuka dan terus berani berubah dan merubah.


saah satu gambaran keseriusan peserta dalam raker 2010


Yang patut dicatat pada raker ini adalah banyaknya anggota dewan yang mau meluangkan waktu mengikuti raker. Raker tahun ini adalah rekor terbaru paroki ignatius karena jumlah peseta yang mencapai 127. Ada sekitar 14 orang yang sudah mendaftar namun berhalangan hadir. Keseriusan para peserta pun patut diacungi jempol.

Selamat
Merapi Masih Mengintai 
Thursday, December 9, 2010, 21:58 Posted by Administrator

Erupsi Merapi telah berhenti. Masyarakat telah sedikit bernafas lega. Status Merapi pun telah diturunkan menjadi siaga. Namun, Merapi masih mengancam. Jutaan meter kubik lahar dingin yang berada di puncak Merapi siap mengancam kapan pun. Masyarakat, terutama yang berada di sekitar sungai yang berhulu di Merapi harus selalu siap sedia. Bahaya selalu mengancam kapan pun.

Pasar Jumoyo Lumpuh

Setelah lahar dingin memutuskan lalu lintas Jogja-Magelang hari minggu siang kemarin, banjir lahar dingin kembali terjadi. Rabu sore, Sungai Putih yang membelah Desa Gulon kembali meluap. Banjir ini merendam Jembatan Jumoyo, Kecamatan Salam, Magelang. Akibatnya lalu lintas Jogja-Semarang terputus. Antrian panjang kendaraan tak bisa dihindari.



Banjir lahar dingin Kali Putih ini juga merendam pemukiman warga dan pasar Jumoyo. Ada sekitar 30 rumah yang terendam pasir bercampur lumpur. Ketinggian yang menutupi rumah-rumah warga berkisar 1 meter lebih. Sementara kompleks pasar Jumoyo telah luluh lantak di terjang banjir lahar dingin Kali Putih. Toko-toko yang berada di kompleks pasar Jumoyo terendam pasir bercampur lumpur setebal 1-2 meter.

Banjir lahar dingin yang menerjang Kali Putih ini disebabkan oleh jebolnya bendungan penahan di Kecamatan Srumbung. Akibatnya, arus Kali Putih langsung menerjang pasar dan perumahan penduduk. Bongkahan batu-batu besar terbawa arus air. Lahar dingin langsung menerjang ke arah pasar karena terjadi pembelokan Kali Putih persis di belakang pasar. Besarnya arus lahar dingin tidak mampu dibelokkan oleh kali sehingga arus tersebut langsung menerjang pasar dan perumahan warga.



Semalam-malaman para petugas gabungan berusaha mengevakuasi lahar dingin yang menutupi jalan. Aparat kepolisian, TNI, dan Tim SAR bekerja maksimal supaya jalan utama yang menghubungkan Jogjakarta –Magelang ini segera dapat dilalui. Alat-alat berat diturunkan untuk membersihkan pasir yang menutupi ruas jalan. Ada sedikit kendala dalam proses evakuasi ini karena ada 2 alat berat yang telah disiagakan di tempat ini ikut tertimbun pasir bercampur lumpur. Akibatnya, proses evakuasi sedikit tersendat. Hingga tadi siang, para petugas masih berupaya mengevakuasi 2 buah begho sehingga dapat segera beroperasi.

Selama proses evakuasi, lalu lintas Jogja-Semarang dialihkan melalui jalur alternatif untuk menghindari jembatan Jumoyo. Jalur alternatif ini menempuh waktu yang lebih lama. Jalan kembali dapat dilalui pagi tadi sekitar pukul 04.00. Meski demikian, antrian panjang masih terjadi. Hal ini disebabkan proses evakuasi yang belum rampung. Hingga siang ini, puluhan truk pengangkut pasir masih hilir mudik mengangkut pasir dari kompleks pasar Jumoyo. Arus lalu lintas dari arah Semarang mengalami kemacetan mulai dari Jembatan Kali Blongkeng.

Luberan Lahar dingin di Kali Putih ternyata juga membawa berkah. “Lumayan, Mas. Tidak perlu bersusah-susah mencari pasir di sungai. Tinggal mengambil pasir di tempat ini” ujar salah satu sopir truk sambil tertawa. Banjir lahar dingin yang membawa material pasir ini di satu sisi memang merugikan warga. Namun di sisi lain membawa keberuntungan bagi para penambang pasir. Yanto, salah seorang sopir truk pengangkut pasir, telah puluhan kali mengangkut pasir dari hasil luberan Kali Putih ini. Meski telah diangkut puluhan truk, namun material pasir yang menumpuk di sekitar Jembatan Jumoyo ini tetap menggunung.

Ditemukan Korban Meninggal

Selain menghancurkan perkampungan penduduk dan pasar Jumoyo, banjir lahar dingin di Kali Putih ini juga memakan korban. Tadi pagi, TIM SAR menemukan sesosok mayat di Kali Putih. Mulanya, sosok mayat ini dikira mayat binatang yang hanyut terbawa arus Kali Putih. Namun setelah di teliti, ternyata sosok yang terdampar di Kali putih itu adalah sesosok manusia. Setelah dievakuasi, ternyata sosok tersebut adalah seorang perempuan remaja berusia belasan tahun.

“Ketika Tim melakukan evakuasi, tidak ditemukan identitas para perempuan remaja itu. Seluruh badannya telah hancur dan sulit dikenali. Hingga siang ini pun belum ada laporan dari warga yang merasa kehilangan anggota keluarganya” jelas salah seorang anggota Tim SAR yang ikut mengevakuasi korban. Kini korban telah di larikan ke RSUD Muntilah untuk divisum.



Tidak adanya identitas dari perempuan remaja tersebut menjadikan bahan kasak-kusuk di antara warga yang kebetulan berada di sekitar lokasi. Ada yang melihat korban meninggal tersebut sebagai korban bajir lahar dingin. Ada juga warga yang melihat korban sebagai korban pembunuhan. Untuk menghilangkan jejak, korban dibuang ke Kali Putih untuk menghilngkan jejak. “Ga mungkinlah anak seusia begitu terpeleset ke sungai. Apalagi tidak ada identitas. Lagian, hingga sekarang belum ada warga yang melaporkan telah kehilangan anggota keluarganya. Jangan-jangan, anak ini menjadi korban pembunuhan” bisik salah satu warga kepada orang di sampingnya.

Tahun Baru Jawa: Menjaga Harmoni Kosmos 
Thursday, December 9, 2010, 21:48 - Inspirasi Posted by Administrator

foto oleh yswitopr


7 Desember 2010 adalah awal bulan Sura dalam penanggalan Jawa. Tanggal ini sekaligus menandai tahun baru dalam tradisi tersebut. Bagi pemegang tradisi Jawa bulan Sura merupakan bulan sakral. Keyakinan semacam ini masih banyak diyakini dan dianut oleh sebagian masyarakat Jawa. Mungkin kita akan tertawa atau mentertawakan keyakinan seperti ini. “Hari gini masih percaya hal-hal yang tidak masuk nalar?” Pertanyaan ini bisa mewakili pikiran dan perasaan kita.

Bagi yang memiliki talenta sensitifitas indera keenam bulan Sura memiliki makna tersendiri. Aura mistis dari alam gaib begitu kental. Rasa perasaan inilah yang seringkali ditangkap dan dimaknasi secara berbeda. Masyarakat modern sering memandang secara negatif: Sura dikaitkan dengan paham syirik dan kemusrikan. Anggapan seperti itu timbul karena disebabkan kurangnya pemahaman sebagian masyarakat akan makna yang mendalam di baliknya. Rasa saya, soal musrik atau syirik sangat berkaitan dengan cara pandang batiniah dan suara hati. Dalam kerangka inilah, teramat sulit untuk memberikan penilaian. Apakah sah jika penilaian ini hanya dilandasi dengan melihat manifestasi perbuatannya saja?

Memang menjadi persoalan ketika melihat manifestasi dari perbuatan. Pada bulan Sura banyak orang melakukan ritual-ritual tertentu: siraman atau mandi pada malam sura, tapa mbisu atau tidak berbicara, melakukan sesaji bunga setaman, dan jamasan pusaka. Dari sudut pandang agama, ritual ini jelas sebentuk sinkretisme. Namun, apakah kita pernah melihat ritual-ritual ini dalam makna yang terkandung di dalamnya?

Masyarakat Jawa mempunyai kesadaran makrokosmos. Dalam kesadaran ini diamini bahwa Tuhan menciptakan kehidupan di alam semesta ini mencakup berbagai dimensi yang fisik (wadag) maupun metafisik (gaib). Kedua dunia ini saling berinteraksi. Interaksi antara dimensi alam fisik dengan dimensi metafisik merupakan interaksi yang saling mengisi mewujudkan keselarasan dan keharmonisan alam semesta.

Selain kesadaran makrokosmos, sebaliknya di sisi lain kesadaran mikrokosmos. Manusia merupakan bagian dari mikrokosmos itu. Manusia sebagai bagian dari mikrokosmos memiliki peranan besar dalam menjaga keseimbangan makrokosmos karena manusia dikarunia akal budi. Kesadaran akan makrokosmos membawa kesadaran lain bahwa manusia bukanlah segalanya di hadapan Yang Maha Tinggi, dan dibanding mahluk lainnya. Manusia tidak seyogyanya mentang-mentang mengklaim dirinya sendiri sebagai mahluk paling sempurna dan mulia, hanya karena akal-budinya. Akal budi adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, manusia dapat mencapai kepenuhan karena akal budinya. Di sisi lain, manusia bisa terpuruk dan tersesat juga karena akal budinya.

Berdasarkan dua dimensi kesadaran itu, tradisi Jawa memiliki prinsip hidup yakni pentingnya untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian alam semesta agar supaya kelestarian alam tetap terjaga sepanjang masa. Menjaga kelestarian alam merupakan perwujudan syukur tertinggi umat manusia kepada Sang Hyang Murbeng Dumadi. Cara pandang tersebut membuat masyarakat Jawa memiliki tradisi yang unik dibanding dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Sebagai bagian makrokosmos, manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan kosmos. Keseimbangan kosmos itu tidak hanya sebatas apa yang dapat dilihat dilihat menurut mata telanjang manusia. Kosmos memiliki dua dimensi, yakni fana/wadag atau fisik, dan lingkungan dimensi gaib atau metafisik. Kepekaan batin adalah kunci untuk mengerti dan memahami dimensi metafisik.

Harmoni alam merupakan cita-cita manusia. Untuk menggapai harmoni alam itulah, sebagian masyarakat Jawa melakukan ritual-ritual tertentu. Seringkali orang salah memberikan penilaian karena hanya melihat sebatas yang terlihat dan memberikan penilaian seturut norma atau nilai yang dianutnya. Padahal jika kita mau masuk ke dalamnya, kita akan menemukan nilai yang melebihi dan melampaui keimanan kita sendiri. Ritual yang dibuat merupakan kristalisasi dari kesadaran manusia akan keseimbangan kosmos. Dalam ritual-ritual yang dibuat, terkandung nilai-nilai yang luar biasa mendalam. Pertama, keyakinan dasar akan Sang Hyang Murbeng Jagad. Dalam melaksanakan ritual, hati manusia tetap teguh pada keyakinan bahwa Tuhan adalah Maha Tunggal, dan tetap mengimani bahwa Tuhan Maha Kuasa menjadi satu-satunya penentu kodrat. Persoalan utama adalah soal bahasa. Masyarakat Jawa kuno yang mewariskan nilai-nilai itu hingga sekarang tentu memiliki kosakata tersendiri untuk menyebut Tuhan. Meskipun masyarakat Jawa kuno tidak memiliki kata Tuhan, namun mereka memiliki keyakinan akan kekuatan dari luar diri mereka yang memiliki kuasa mutlak atas hidup manusia.

Kedua, nilai filosofi. Ritual-ritual yang dibuat selama bulan Sura merupakan simbol kesadaran makrokosmos yang bersifat horisontal, yakni penghargaan manusia terhadap alam. Disadari bahwa alam semesta merupakan sumber penghidupan manusia. Oleh karena itu, kosmos harus dijaga demi kelangsungan kehidupan generasi penerus atau anak turun kita. Kelestarian alam merupakan warisan paling berharga untuk generasi penerus. Nilai inilah yang makin hari makin luntur. Alam dieksploitasi sedemikian rupa sehingga kesimbangan alam terganggu: banjir bandang, tanah longsor, dan aneka peristiwa alam yang menunjukkan terganggunya harmoni kosmos. Aneka ritual bulan Sura merupakan bentuk interaksi harmonis antara manusia dengan seluruh unsur alam semesta. Disadari pula bahwa manusia hidup di dunia berada di tengah-tengah lingkungan jagad fisik maupun jagad metafisik. Kedua dimensi jagad tersebut saling bertetanggaan, dan keadaannya pun sangat kompleks. Manusia dan seluruh makhluk ciptaan Tuhan seyogyanya menjaga keharmonisan dalam bertetangga, sama-sama menjalani kehidupan sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Sebaliknya, bilamana dalam hubungan bertetangga (dengan alam) tidak harmonis, akan mengakibatkan situasi dan kondisi yang destruktif dan merugikan semua pihak. Maka seyogyanya jalinan keharmonisan sampai kapanpun tetap harus dijaga.

Ada nilai luhur dan agung dalam aneka bentuk ritual yang dibuat selama bulan Sura. Tahun baru Jawa mengajak kita bermenung tentang peran manusia mengemban titah Sang Hyang Murbeng Jagad untuk menjaga keseimbangan alam. Tatanan alam perlu dijaga demi keberlangsungan hidup manusia itu sendiri.


<<First <Back | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang