Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
dari masa ke masa Gereja St.Ignatius 
Thursday, April 1, 2010, 13:16 - Sejarah Posted by Administrator
GEREJA ST. IGNATIUS MAGELANG, dari masa ke masa.



Borobudurlinks, 31 Maret 2010. Ketika tinggal di Magelang, saya tiap hari pergi-pulang sekolah melewati gereja Santo Ignatius ini. Sebuah gereja yang tergolong besar untuk kota sekecil Magelang. Sosoknya yang megah dan kokoh nampak serasi dengan lingkungannya, kompleks pasturan, yang terlihat lapang dan rindang oleh keberadaan beberapa pohon mahoni.
Bagi kami, remaja SMU, yang sering jadi bahan guyonan adalah gambar di dinding depan gereja ini, sketsa sosok pastur berkepala plontos memegang kitab bertuliskan AMDG. Secara guyonan kami mengartikan tulisan AMDG itu sebagai ‘Aku Mamerke nDas Gundul’ (Aku memamerkan kepala gundul).
Padahal AMDG itu arti sebenarnya adalah ‘Ad Maiorem Dei Gloriam’ (Demi Kemuliaan Tuhan yang Semakin Besar), yang menjadi semboyan Ordo Serikat Jesus yang didirikan Santo Ignatius, nama gereja ini. Itulah sepenggal kenangan masa remaja, yang nakal, jahil, penuh guyonan, menjadi kenangan yang tak terlupakan.
Setelah 30 tahun berlalu, gereja yang terletak di Jalan Yos Sudarso, sebelah barat Alun-alun Kota Magelang, ini masih nampak seperti dulu. Tak banyak yang berubah dari sosok gereja ini beserta lingkungannya. Gedung pasturan, Panti Mandala, serta kompleks Sekolah Pendowo, yang luas seluruhnya sekitar 13.000 m2, masih terlihat utuh, terawat, bahkan kini terlihat bersih dengan pewarnaan bernuansa cerah. Beberapa jenis pohon, terutama mahoni, yang besar dan kokoh dominan menaungi kompleks peribadatan ini.

ROMO VOOGEL SJ.

Dalam sejarah misi Katholik di Jawa, sejak tahun 1865 tercatat dua orang anak bernama Yoseph dan Sanisa dipermandikan di Magelang. Namun jangan dibayangkan kalau permandian itu dilakukan di sebuah gereja yang megah seperti gereja Ignatius sekarang ini. Sebab, baru pada tahun 1890 tanah yang kemudian menjadi komplek gereja ini dibeli oleh Romo F.VOOGEL SJ. Kebetulan di atas tanah itu sudah ada suatu bangunan yang untuk sementara dijadikan tempat peribadatan.
Pembangunan gerejanya sendiri baru tercatat dilakukan pada tanggal 31 Juli 1899. Setahun kemudian, pada 22 Agustus 1890, sudah dapat digunakan untuk mempersembahkan misa kudus. Sedangkan pemberkatan gedung secara meriah pada 30 September 1900, dalam misa konselebrasi yang dipimpin Romo Mgr LUYPEN SJ dari Batavia, denagn didampingi oleh Romo MUTZAER SJ dari Cirebon, Romo ASSELBERGS SJ dari Jogya, Romo FISHER dan ROMO HEUVEL dari Magelang. Sedangkan Romo VOOGEL justru tidak bisa hadir, karena sakit dan harus kembali ke Belanda.
Selain itu juga hadir Residen Kedu, petinggi militer Belanda di antaranya Kolonel Van der DUSSEN, tokoh-tokoh masyarakat Cina, dan tokoh-tokoh pribumi lainnya. Sedemikian meriahnya untuk ukuran saat itu, sehingga pemberkatan itu memancing kekaguman masyarakat Magelang tidak terbatas pada umat Katholik saja.
Saat bersejarah terjadi pada 27 Juni 1913, ketika seorang anak Jawa bernama Soewini (14) dipermandikan dengan nama Margaretha. Kemudian menyusul Maria Moerjati, dan sejanjutnya disusul lagi oleh 12 siswa HIS (kini SDK Pendowo). Bertambahnya masyarakat Jawa memeluk agama Katholik ini merupakan buah kerja keras para misionaris yang namanya pantas ditorehkan dengan tinta emas, di antaranya Romo VAN LITIH SJ dan Romo JJ HOWENAARS MA SJ.



Perkembangan yang menggembirakan itu memunculkan pemikiran untuk memperluas gereja. Pada tanggal 15 Agustus 1926, perluasan dimulai dengan menambah dua sayap di kanan kiri induk bangunan, masing-masing selebar 3,5 meter. Keluarga ORIE yang kala itu tinggal di Belanda, menyumbang permadani untuk memperindah tampilan gereja.
Mulai tahun 1933, setiap hari minggu seusai misa siang, ada khotbah dan pelajaran agama yang disampaikan dalam bahasa Jawa oleh para Katekis. Sebagian besar para Katekis itu adalah siswa-siswa Perguruan Muntilan, hasil didikan Romo VAN LITIH SJ.


BENTURAN-BENTURAN PADA MASA REVOLUSI FISIK.

Perang Asia Timur Raya yang disulut oleh Jepang berdampak pilu bagi kehidupan Gereja, khususnya di Magelang. Pastur-pastur berkebangsaan Belanda banyak yang ditangkap dan dijebloskan ke dalam kamp interniran. Penggunaan bahasa Belanda dilarang. Kehidupan gereja semakin dirundung sendu dengan meninggalnya Rama SONDAAL SJ.
Walaupun Jepang tidak lama berkuasa di Indonesia, dan Republik Indonesia yang merdeka pada 1945 diakui kedaulatannya, namun nasib baik belum berpihak kepada Gereja. Pada 30 Oktober 1945, tentara Gurkha datang dan menduduki gedung Susteran Fransiskan, dan digunakan sebagai markas mereka. Keesokkan harinya, 1 Nopember 1945, sebuah drama berdarah berbau fitnah menimpa seluruh keluarga Pasturan Magelang. Lima orang Romo, dua Frater, dua Bruder, dan seorang koster diculik oleh segerombolan orang yang memancing di air keruh. Sepuluh orang ini dibawa dan dibunuh di komplek kuburan Giriloyo, Magelang. Tiga tahun kemudian peristiwa pembunuhan kembali terjadi. Romo SANDJAJA , yang saat itu dipercaya menggembala umat di Magelang, bersama Romo H BOUWENS diculik dan dibunuh di desa Patosan, Sedan, Muntilan.

BENAH LANGKAH MENUJU HARI CERAH.

Warna kehidupan umat Katolik dalam berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan masyarakat sekitar juga menunjukkan perkembangan yang baik. Khusus di Magelang, hal ini tak lepas dari upaya gigih Romo TH HARDJOWASITO PR dan Romo VAN HEUSDEN SJ, yang berhasil men¬jalin hubungan yang baik antara gereja dengan masyarakat umum. Saat itu masyarakat Kampung Kauman dan sekitarnya, tak seorang pun yang tidak mengenal kedua Romo ini. Mereka menganggap dan merasa Gereja Ignatius Magelang merupakan salah satu bagian kehidupan mereka.


Nuansa keterbukaan dan keakraban ini semakin mekar berkembang setelah era Konsili Vatikan II. Justru ketika suasana panas melanda kehidupan masyarakat Indonesia menjelang dan setelah peristiwa Pengkhianatan G-30-S/PKI meletus, rasa persatuan umat Katolik dengan orang-orang Kampung Kauman semakin mengkristal. Dalam suasana kehidupan yang diwarnai saling curiga terhadap pihak-pihak yang tak sealiran, umat Islam dan Katolik, yang terwakili oleh Pemuda Kauman dan Angkatan Muda Katolik Magelang, lebih mengencangkan hubungan dengan baik. Demi menjaga keamanan, gedung AMKRI Magelang dijadikan "posko" bersama. Dalam suasana yang semakin kondusif, umat katholik Magelang bersama hierarki mulai memikirkan sarana peribadatan agar semakin memadai, salah satunya adalah renovasi gedung Gereja. Pada tanggal 1 Agustus 1962, dimulailah renovasi gereja dengan perencana dan pelaksananya dari kota Semarang.
Gedung yang semula bergaya Gothik dirombak total menjadi gaya yang sama sekali baru. Bebe¬rapa dari bagian gedung lama masih difungsikan sampai sekarang, di antaranya : jendela-jendela mozaik, tangga melingkar untuk naik ke balkon, dan lonceng gereja. Dana pembangunan dipero¬leh dari Keuskupan Agung Semarang, dari para donatur dan partisipasi umat melalui kolekte, dan juga uang saku pribadi Romo VAN HEUSDEN SJ. Pembangunan renovasi gereja selesai dalam waktu se¬kitar tiga tahun.

KEMBANG MEKAR DI TANGAN TUHAN

Renovasi bagi banyak orang yang menyatakan diri ingin dibaptis. Menyikapi hal ini, diadakan kursus katekis untuk mempersiapkan guru-guru agama dan karya pewartaan lainnya. Demikian pula pelayanan dalam pendidikan formal dengan mendirikan SDK Prontakan, serta sekolah-sekolah yang dikelola oleh suster-suster Tarekat Santa Perawan Maria di Dekil Magelang Utara.
Upaya ini semakin menambah jumlah umat yang untuk sementara berkembang secara kuantitatif. Perlu pemikiran untuk lebih memberi warna kualitatif lewat penggembalaan yang lebih baik. Pemikiran ini membuahkan keputusan untuk memecah Paroki St. Ignatius menjadi dua wilayah besar. Ini terjadi pada 1 Oktober 1971, dimana umat di wilayah Kecamatan Magelang Utara mandiri sebagai paroki dengan nama Paroki Santa Maria Fatima. Romo A. MARTADIHARDJA SJ, yang saat itu menjadi pastur Paroki St. Ignatius Magelang, sangat berperan dalam upaya pemekaran ini.
Kembang mekar selanjutnya juga terjadi di Paroki St. Ignatius sendiri, yang sampai dengan tahun 1983 dibagi menjadi tujuh wilayah penggembalaan : Magelang, Panjang, Rejowinangun, Tidar, Jurangombo, Kemirirejo, dan Cacaban. Semakin kecil dan sempitnya wilayah pastoral ini bukannya berarti juga memperkecil nyali dan mempersempit pola pandang umat dalam pengembangan iman. Justru semakin banyak umat yang tersapa lewat pelayanan dalam segala aspek. Demikian pula semakin banyak tumbuh benih-benih unggul yang sebetulnya berpotensi, namun belum sempat unjuk diri dalam partisipasi menggereja.
Upaya pemekaran ini semakin menyeruak seiring pemekaran wilayah pemerintahan dengan munculnya kelurahan-kelurahan baru. Kini Paroki St. Ignatius Magelang terbagi menjadi 13 wilayah penggembalaan. Penggembalaan semakin diefektifkan dengan membagi 13 Wilayah dalam 36 Lingkungan. Pembagian tersebut di luar stasi-stasi yang ada di lereng Gunung Sumbing, yang terdiri dariDampit, Kajoran, Kaliangkrik. (Disarikan oleh Mualim M Sukethi, dari buku ‘Merangkai Kisah, Kenangan 100 Tahun Gereja Katolik St. Ignatius Magelang/bolinks@2010).


SEKOLAH POETRI MENDOET 
Wednesday, March 31, 2010, 16:32 - Inspirasi Posted by Administrator
SEKOLAH MENDOET dan Sejarah Pemberdayaan Perempuan.

Borobudurlinks, 30 maret 2010. Pada awal misi katholik di Jawa, layanan pendidikan lewat ‘Sekolah Guru Muntilan’ masih dikhususkan bagi kaum laki-laki. Berdasarkan pemikiran yang lebih luas dan demi perkembangan yang sempurna dalam kehidupan masyarakat, dipertimbangkan perlunya upaya pendidikan bagi kaum perempuan. Dalam hal ini suster-suster Tarekat Santo Fransiskus mendapatkan kepercayaan menanganinya. Hal ini wajar karena sampai saat itu terekat ini sudah menunjukkan karyanya di bidang yang sama di Semarang dan Magelang.

KETRAMPILAN TANGAN.

Pada tanggal 14 Januari 1908, datanglah di Mendut, sebuah desa di barat Muntilan kearah Borobudur, lima orang suster Fransiskanes untuk memulai karya mereka mengantar dan mengangkat harkat kaum perempuan lewat pelayanan pendidikan. Sebuah rumah kecil yang diberi nama ‘Nazareth’ dijadikan tempat tinggal para suster. Sarana yang serba sederhana tidak menjadi kendala dan mengecilkan semangat mereka.
Mulai tanggal 14 Februari 1908, para suster mulai memberikan pelajaran ketrampilan tangan kepada beberapa gadis Jawa. Dalam waktu singkat jumlah siswi semakin meningkat, bahkan beberapa datang dari jauh. Di antaranya berasal dari keluarga bangsawan: anak wedana Muntilan, dan dua putri dari Pura Pakualaman Jogyakarta.
Menyikapi perkembangan ini diperlukan pembenahan sarana, termasuk asrama bagi para siswi. Setahap demi setahap, asrama yang pada bulan Mei tahun 1908 hanya mampu menampung 2 siswi, pada bulan oktober tahun itu pula sudah bisa menampung hingga 10 siswi, dan pada tahun 1912 meningkat jadi 55 siswi. Para pejabat pemerintah mulai tertarik melihat perkembangan ‘Sekolah Mendut’, bahkan Gubernur Jenderal dari Jakarta sempat mengunjungi sekolah yang letaknya hanya 50 meter dari candi Mendut itu.
Minat memasukkan putri-putrinya di Sekolah Mendut ternyata datang tak hanya dari kalangan kaum Katholik saja. Mereka yang selama ini antipati terhadap Katholik, banyak yang mencoba memasukkan anak-anak mereka ke sekolah itu. Kemudian, dari mereka banyak yang, atas kemauan sendiri, menyatakan ingin menjadi Katholik. Pada 10 April 1908, bertepatan dengan perayaan paskah, ada 9 siswi yang dipermandikan.
Sekolah ‘formal’ yang kemudian dibuka adalah Sekolah Rakyat (SR) berbahasa Jawa dan Melayu, dan kemudian berkembang menggunakan pengantar bahasa Belanda. Dari SR ini dipersiapkan siswi yang akan mengikuti ujian sekolah guru Belanda (Kweekschool). Pada 26 Oktober 1913, diadakan ujian kweekelling (ujian guru) di Ungaran. Dari peserta sejumlah 236 orang, hanya diikuti 6 orang perempuan, semuanya berasal dari Sekolah Mendut.

Dari semua peserta ujian yang dinyatakan lulus 17 orang, 2 orang adalah siswi Mendut. Sebuah prestasi membanggakan. Pemerintah pun menghargai prestasi itu, dan kemudian tidak ragu-ragu memberikan subsidi untuk membangun sekolah baru. Kweekschool Mendut, yang merupakan kweekschool putri pertama di Indonesia, pun dibuka.
Perkembangan Kweekschool Mendut membuat pemerintah cemas dan takut menjadi saingan kweekschool yang dikelola pemerintah. Maka pemerintah minta agar Kweekschool Mendut diubah menjadi Noormaalschool (Sekolah Umum) dengan janji akan diberi tambahan subsidi. Anjuran ini justru diterima sebagai pemacu lajunya karya pendidikan di Mendut.
Selain Kweekschool dan Noormaalschool, dalam kurun lima windu, sekolah yang pernah didirikan suster-suster tarekat SOF di Mendut, antara lain: Frobel School (TK), HIS, HCS, Huishoudschool (SKKP), Mulo, HICK (Hollands Indische Chinee Kweekschool). Seiring dengan dibangunnya gedung-gedung aekolah juga dibangun dan diberkati rumah biara yang baru.
Kompleks Mendut eksis sebagai ‘kota di tengah desa’ dengan fasilitas lengkap untuk ukuran saat itu: listrik, air minum, Fransiscus Tuin (taman Fransiskus), mesin cuci raksasa, periuk yang dapat menanak nasi untuk 1500 porsi sekaligus, dll. Mendut juga menjadi tempat berkumpulnya putrid-putri dari seluruh Indonesia. Mereka datang dari Sumatera, Flores, Makasar, Ambon Menado, Sunda, dan daerah lainnya.

TRAGEDI.

Menjelang akhir tahun 1942, Jepang menyulut api peperangan di Asia Timur. Para suster ditawan dan Sekolah Mendut ditutup. Siswi-siswinya dipulangkan ke daerah asal. Sejarah bergulir hingga datanglah tragedy yang meluluh-lantakkan karya tarekat di Mendut.
Tahun 1948, sekelompok masyarakat melakukan bumi hangus dan menjarah kompleks pendidikan Mendut. Kemegahan kompleks pendidikan itu lenyap. Tak ada lagi Juffrow van Kesteren yang mendampingi ‘tuyul-tuyul’ berkecimpung ria di gemercik arus kali Elo. Gedung-gedung lenyap tanpa sisa, kecuali pintu gerbang yang menjadi saksi bisu kejayaan sekaligus kehancuran kompleks Sekolah Mendut.
Meski semua berlalu bersama tragedy sejarah, tapi api ‘semangat Mendut’ tak kunjung padam. Ikatan emosi para bekas siswi diwujudkan dalam temu kangen ‘Reuni Eks Siswi Mendut’, yang diadakan setiap dua tahun sekali. Majalah ‘Hallo Mendut’, yang tahun 1921 terbit dalam bahasa Belanda, dihidupkan kembali.
Tanggal 15 Juli 1995, para siswi eks Mendut mempersembahkan bangunan kapel yang didirikan di atas puing kapel di masa jaya Sekolah Mendut. Kapel yang dirancang Romo YB Mangunwidjaja itu diberi nama ‘Gereja Santa Maria Sapta Duka’.

Aan de over van de Elo
Staat het klooster van Mendoet
Daar zijn veel Javaanse meisjes
Door de zuster opgevoed……
(di pinggiran sungai Elo
Terletak asrama Mendoet
Di sana banyak gadis Jawa
Yang dididik para biarawati).

Lagu merdu kenangan kejayaan masa lalu itu kini tak terdengar lagi, namun api semangatnya terus berkobar membakar jiwa untuk senantiasa berkarya dan terus berkarya, karena teguhnya rasa percaya ‘Deus Providebit, Tuhan akan menyelenggarakan…’. (Disarikan oleh Mualim M Sukethi, dari buku ‘Bunga-Bunga Doa: 105 Tahun Paroki St.Ignatius Magelang’/bolinks@2010).

BARNABAS SARIKROMO 
Tuesday, March 30, 2010, 13:29 - Inspirasi Posted by Administrator
BARNABAS SARIKROMO, KATEKIS PERTAMA DI BUMI NUSANTARA.



Borobudurlinks, 29 Maret 2010. Sejarah keberadaan Sendangsono tak bisa dilepaskan dari sosok bernama Barnabas Sarikromo. Keberadaan pribumi Jawa yang dianggap sebagai katekis pertama itu nampak pada kuburannya yang terletak paling menonjol di komplek kuburan yang menyatu di peziarahan itu.

Siapakah Sarikromo, dan apa peranannya dalam sejarah misi Katholik di pulau Jawa itu?

PERTAPA YANG TEKUN.

Akhir abad 19, di dusun Kajoran, Desa Semagung, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Propinsi Daerah Istimewa Jogyakarta, tersebutlah seorang tokoh pertapa sakti bernama Sarikromo. Sebagai seorang abangan (tidak menganut ajaran salah satu agama) Sarikromo gemar berguru kepada banyak orang pintar untuk menimba Ilmu kebatinan, yang mengarah pada sejatining urip (hidup sejati) menurut versi dan pengertian masyarakat desa saat itu. Salah satu cara yang ditempuh untuk mencapai kesempurnaan ilmu tersebut, dilakukan dengan cara laku tapa (bersamadi) di tempat-tempat sepi yang oleh kebanyakan orang dianggap wingit (angker).
Salah satu tempat favorit Sarikromo bertapa adalah sebuah gua yang terletak di desa Semagung. Gua itu diapit dua pohon sono (keling), dengan sebuah sendhang (mata air dengan telaga kecil) tepat dibawah salah satu pohon tersebut. Dipercaya bahwa gua itu adalah kediaman mahluk halus yang bernama Raden Bagus Samijo dan ibunya Dewi Lantamsari. Kecuali untuk bertapa, tempat tersebut juga sering disinggahi oleh para Bikhu Budha yang tengah menempuh perjalanan ke/menuju Borobudur.
Suatu ketika Sarikromo didera sakit kudis yang tak kunjung sembuh. Bahkan hingga menyerang lapisan daging dan menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Berbagai usaha penyembuhan telah diupayakan, dengan jampi-jampi dan obat tradisional, serta tak lupa dengan semadi yang semakin intens.
Hingga suatu ketika, dalam suatu kesempatan bersamadhi, ayah dari sembilan anak ini meneriima wangsit yang menyuruh mencari kesembuhan kepada orang tinggi besar berpakaian putih. Dalam wangsit juga disebutkan, Sarikromo hendaknya berjalan menuju arah ngalor-ngetan (timur laut). Percaya pada bisikan gaib yang bernada menyuruh tersebut, Sarikromo pun melaksanakannya.
Karena kondisi kakinya yang tidak dapat digunakan untuk berjalan, maka perjalanan yang berjarak tempuh lebih kurang 15 kilometer itu terpaksa dilakukan dengan digendong dan sesekali harus mbrangkang (merangkak) dalam arti kata yang sebenarnya. Ketika perjalanan sampai di Muntilan, Sarikromo melihat seorang Belanda dengan postur tubuh tinggi besar yang mengenakan jubah putih. Naluri Sarikromo mengatakan bahwa itulah orang yang dimaksud dalam wangsit yang diterimanya.
Orang Belanda tersebut tak lain adalah Broeder Kersten, yang dalam karya misi pelayanannya membantu Pastur Van Lith membuka Rumah Sakit di Muntilan. Dengan hati mantap Sarikromo memberanikan diri meminta kesembuhan atas penyakitnya. Selama proses penyembuhan yang mengharuskan sering pulang¬pergi dari desanya ke Muntilan, Sarikromo melihat orang-orang beribadat di Gereja dan mendengar lagu-lagu pujian.
Keinginannya tergugah untuk tahu lebih banyak. Dengan perantaraan Broeder Kersten, Sarikromo dipertemukan dengan Kyai Landa yang memimpin ibadat di Gereja, yang tak lain adalah Pastur Van Lith. Perjumpaan pertama itu disusul dengan perjumpaan-perjumpaan berikutnya. Setelah mendapatkan perawatan dan pengobatan, Sarikromo dinyatakan sembuh dari penyakitnya dan dapat kembali berjalan seperti semula.
Walau sudah dinyatakan sembuh dan tidak sakit lagi, namun hati Sarikromo telah terlanjur terpikat pada pribadi dan penampilan Kyai Landa berjubah putih itu. Ini membuat Sarikromo justru semakin sering datang ke Muntilan. Suatu saat dia minta izin untuk dipebolehkan melihat-lihat suasana sekitar kompleks Gereja. Banyak benda asing dan sama sekali baru yang dilihatnya, dan itu semua ditanyakan kepada Pastur van Lith. Semua pertanyaan itu didengarkan dan dijawab dengan senyum penuh kesabaran oleh Pastur Van Lith, termasuk ketika Sarikromo terhenyak memandangi patung Yesus.
Dengan penuh kesopanan, Pastur van Lith menjawab, "Manawi panjenengan kepingin priksa langkung kathah, mangke kula caosi kitab ingkang njlentrehaken ngengingi Tiyang punika." (kalau 'kamu ingin tahu lebih banyak, nanti saya beri buku yang menceritakan tentang Orang ini). Lalu Pastur van Lith memberikan kepadanya sebuah Buku Babad Suci (Kitab Suci Perjanjian Baru berbahasa Jawa).
Dibekali Buku Babad Suci tersebut, Sarikromo pulang ke Semagung. Setiba di rumah, dengan penuh rasa bangga dipamerkannya buku pemberian Kyai Landa itu kepaca kaum kerabat dan tetangganya. Didorong rasa ingin tahu, mereka minta agar Sarikromo membacakan isinya untuk didengar bersama. Namun permintaan ini tidak segera dipenuhi. Ada rasa takut, jangan-jangan hal ini tidak berkenan dalam hati Kyai Landa di Muntilan.
Maka Sarikromo kembali menghadap Pastur van Lith di Muntilan, hanya sekedar bertanya, apakah diperkenankan membacakan isi kitab tersebut kepada kaum kerabatnya. Dengan senyum yang menyiratkan harapan, Pastur van Lith mengijinkan, bahkan menegaskan bukan hanya untuk kaum kerabat dan keluarganya, tetapi kepada siapa saja.
Saat itulah Sarikromo teringat akan nadarnya ketika kakinya disembuhkan oleh Broeder Kersten, "Bertahun-tahun nyenyeh di kakiku tan kunjung sembuh. Tuhan yang membuat aku dapat berjalan lagi, maka sekarang kakiku akan kupergunakan untuk kehendak Tuhan." Sejak saat itulah Sarikromo mulai berkatekisasi , yang dimulai dari lingkup keluarga terdekat dengan membacakan isi Kitab Suci tersebut.
Tentu saja pada awalnya mereka yang mendengarkan merasa sangat asing dengan isi cerita dan nama-nama tokoh yang disebut dalam kitab itu, namun hati mereka tergerak oleh inti pewartaan yang tersirat di dalamnya. Demikianlah, setelah melalui proses yang cukup lama Sarikromo dibaptis oleh Romo van Lith, dan diberi tambahan nama Barnabas.

KATEKIS PERTAMA.

lukisan: yswitopr


Setelah itu, Sarikromo menepati nadarnya. Ia menjadi katekis pertama di wilayah itu, yang berarti sebagai katekis pertama di Pulau Jawa, atau bahkan di seluruh Indonesia. Karena saat itu memang belum ada katekis pribumi di seluruh wilayah kepulauan Nusantara.
Sarikromo menjalankan tugasnya dengan sungguh-sungguh. Ia tak mengenal lelah menghadapi medan yang terjal di seluruh wilayah pegunungan Menorah. Desa-desa Wonolelo, Kawitan, Jamblangan, di Kecamatan kalibawang, dengan setia dikunjungi untuk mengajar agama.
Ia juga tak gentar menghadapi cemoohan yang tidak senonoh tentang agama Katholik. Berkat kegigihan dan ketekunan Sarikromo, banyak orang yang hatinya terbuka, percaya dan menerima Tuhan Yesus dalam hidupnya. Maka pada tanggal 14 December 1904 sebanyak 173 orang dibaptis oleh Pastur van Lith di Semagung, dengan menggunakan air sendhang yang diapit oleh dua pohon sono.
Peristiwa tersebut kini diabadikan dalam bentuk relief diorama di salah satu dinding kompleks peziarahan Sendangsono. Semangat Sarikromo dalam menebar benih iman tetap menyala, dan atas berkat Tuhan, semakin banyak jiwa yang diselamatkan.
Tahta Suci di Roma sangat menghargai perjuangan dan jasa Sarikromo. Maka pada tahun 1928, dalam kesempatan Yubileum Perak Misi Jawa, Paus Pius XI berkenan menganugerahkan bintang ‘Pro Ecciesia et Pontifice’ kepada Barnabas Sarikromo. Dialah orang Indonesia pertama yang mendapatkan penghargaan tinggi dari Paus.
Meski banyak jiwa yang telah diselamatkan lewat perjuangan Sarikromo, namun dia masih ingin lebih banyak lagi berbuat untuk karya ilahi itu. Tetapi kiranya Tuhan memandang telah cukup, dan ingin memberikan istirahat panjang baginya. Tahun 1942 "Paulusnya orang Jawa" itu jatuh sakit.
Di bawah pengawasan Sr. Colletta, Sarikromo dirawat di Rumah Sakit St. Yusuf, Boro, Kalibawang. Indra keenam Barnabas membisikkan bahwa tak lama lagi dia akan meninggalkan kehidupan fang di dunia ini. Kepaca anaknya, Januarius Mertosari, Sarikromo minta didoakan Salam Maria. Ketika doa selesai, Sarikromo memberi pesan, "Kalau berdoa itu jangan terlalu cepat, harus betul-betul dirasakan. Lebih-lebih kalau berkata doakanlah kami, harus pelan dan jelas”.
Tak lama setelah selesai berdoa, dan pesan tentang kesungguhan dalam berdoa diamanatkan, Sarikromo berkata, "Aku mau menghadap Ibu”. Menurut perkiraan Mertosari, bapaknya ingin bertemu Suster Colleta, maka dia bergegas menemui suster, memberitahukan keadaan ayahnya. Ternyata sebelum Mertosari kembali ke ruangan perawatan, orang gunung yang sederhana penerima anugerah bintang Pro Ecclesia et Pontifice itu telah menghadap Bunda Surgawinya, untuk dihantar memasuki kemuliaan abadi.
Oleh ibunya, Mertosari disuruh segera pulang mengabarkan kepergian Sarikromo ini kepada kaum kerabat di Semagung, sedangkan Suster Colleta segera menghubungi Pastur Prennthaler di Muntilan. Dari Muntilan pastur mengirimkan sebuah peti kayu jati utuh untuk kelengkapan pemakaman jenasah Sarikromo.
Semula pihak keluarga menghendaki jenasah katekis yang tekun itu dimakamkan di makam keluarga di dusun Kajoran, namun atas prakarsa Pastur Prennthaler diputuskan untuk dimakamkan di kompleks Gua Maria Lourdes, Sendangsono. Bersama jenazah ikut disertakan pula medali illahi yang dianugerahkan Tahta Suci. Karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan atas medali itu (karena terbuat dari emas), selama empatpuluh hari empatpuluh malam, makam Barnabas Sarikromo dijaga oleh pemuda-pemuda desa setempat.
Namun ternyata kecemasan atas hal ini tidak pernah terjadi. Bintang jasa ‘Pro Ecclesia et Pontofice’ tetap ada dalam diri Sarikromo setiap nama sosok ini disebut. Kini katekis awam itu telah tiada, namun semangat kerasulannya senantiasa memberi inspirasi dalam upaya pewartaan kabar gembira demi datang dan terwujudnya kerajaan damai di dunia ini. Semuanya sesuai dengan makna anugerah Tahta Suci yang memang pantas disandang Barnabas Sarikromo : Pro Ecclesia et Pontifice. (Disarikan oleh Mualim M Sukethi, dari buku “Bunga-Bunga Doa: 105 Tahun Paroki ST Ignatius Magelang”/bolinks@ 2010)


KETOPRAK MUDIKA 
Sunday, March 21, 2010, 01:05 - BERITA Posted by Administrator


<<First <Back | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang